
(POV - YUNITA)
Masih ingat kemarin Edel menyumpahi Toro?
Masihkah kalian ingat kemarin Toro meninggal karena hal yang tidak wajar karena ucapannya? Oh, tentu saja, aku sebagai yang mendengar sumpah-serapah Edel yang juga sekaligus ditarik ke sana untuk menyaksikan Toro terkapar bersimbah darah, berhasil dibuat tak tidur semalaman.
Kalau aku jahat, sebagai cewek yang pernah disakiti Toro, mungkin aku akan senang atau puas melihatnya begitu.
Namun sekarang, aku baru tahu kenapa Edel adalah sosok yang seperti paku, kalau tidak digetok, tak akan berdiri untuk bergerak. Juga, alasan mengapa jika marah atau dianiaya ia selalu diam adalah karena mulutnya sendiri. Sebab jika ia kesal atau dongkol, maka sumpahan yang keluar dari mulutnya akan menjadi nyata.
Seperti cerita lama yang pernah kudengar dari nenek yang selalu tak kupercaya, tapi setelah mengenal Edel, ternyata orang seperti ini memang ada.
Aku tak ingin mengecewakannya, pikirku. Sekilas hati kecilku takut, jika suatu saat sumpahannya tumpah ke arahku, dan aku akan terkena tragedi setelahnya.
"Teh? Gak main ke rumah Edel?" kata Ibuku.
Kujawab, "Lagi gak mood, Ma. Besok aja,"
"Baik-baik, ya, sama Edel? Ajak dia jadi lebih baik. Ajak maskeran, riasin rambutnya, minta dia buat senyum, pilihin pakaiannya. Nasehatin soal sosialnya, biar Teteh bisa bawa pengaruh baik buat dia. Kalo sifat jeleknya keluar, ya, Teteh gak boleh jauhin dia. Itu tandanya dia percaya sama Teteh."
Hatiku langsung tergerak untuk menjenguk Edel, "Ya udah, Ma, Teteh mau ke rumah Edel."
"Ini sekalian bawa makanannya, biar Teteh bisa makan bareng sama dia di sana. Mama masak banyak,"
"Siap," jawabku merapihkan baju dan mengecek hape, sekarang belum jam dua belas siang.
Edel bisa dibilang terlahir di keluarga yang cukup mapan ekonominya. Rumahnya cukup megah. CCTV di mana-mana. Ayahnya seorang karyawan tetap dan ibunya adalah wanita sosialita. Dia juga anak satu-satunya yang tentunya sering ditinggal di rumah sendirian. Sering saat aku berkunjung main, keanehan soal Edel mulai perlahan kuamati, seperti saat ia sedang duduk menonton tv yang layar mati.
Makin aneh. Saat aku datang, pintu depannya terbuka, kulihat ia duduk di ruang tamu, memegang pancingan mainan dan memancing di baskom kosong dengan sorot mata yang sama kosongnya. Juga, berdiri di depan rumah, memperhatikan siapapun yang lewat dengan tatapan seperti ingin menjegat seseorang. Terkadang pula sering kupergoki sedang berbicara dan tertawa sendiri.
Kebanyakan tetangga menganggap Edel sudah tidak waras.
Tapi aku hanya menganggap Edel punya sesuatu atau lebih dari satu hal yang siapapun tidak paham tentangnya.
Tok--tok--tok!
"Edeeel?" panggilku dari luar pintu, "Ini aku Yunita,"
Ceklek--Krieet ....
Pintu terbuka sendiri di depan wajahku dengan hening, padahal tanganku masih dalam posisi mengangkat sambil mengepal tangan untuk mengetuk. Yang tadinya tertutup rapat, baru saja terbuka seperti ada yang menyambut kedatanganku, menekan gagangnya dan mempersilahkanku masuk tanpa perlu bertemu tuan rumah. Reflek kucengkeram rantang makanan di tanganku ini dan berusaha berani.
"Edel ...," panggilku melihat ruang tamu yang cukup luas itu tak ada kehadiran siapapun, "Asalamu'alaikuum?"
Aku terdiam menunggu jawaban dengan sekali dua kali lirikan mencari sosok yang datang. Namun yang kudengar adalah suara tabu dari tempat lain di rumah ini. Jantungku berdebar kencang saat suara itu makin tertangkap telinga makin jelas. Aku pernah mendengar suara semacam ini dari Edel, namun aku tak tahu di mana ia sekarang.
Suaranya seperti ....
'Wasweswoswaswosweswo ....'
Sekilas tanggapku mengira itu adalah desas-desus doa, baca mantera atau sedang bicara dengan nada berbisik pada seseorang atau apa, aku tetap tak bisa memahami apa yang sedang diucapkan. Bulu kudukku menegang semua. Kuusap tanganku dan berniat pergi. Kubalikkan badan, memakai sendal jepitku, dan ....
"Yun?"
Deg!
Aku sontak menoleh ke arah pintu dengan lirikan horor dan melihat Edel berdiri melongokkan kepala dari kamar orang tuanya, memakai baju terusan putih dan rambut yang sama kusutnya seperti terakhir aku melihatnya. Sedang apa dia di kamar orang tuanya? Apa ia tak mendengar panggilanku?
Takut sedang terjadi apa-apa, aku pun mendekatinya.
Aku berdiri di ambang pintu kamar orang tuanya langsung dengan melotot juga menutup mulut. Mata kepalaku melihat Ayahnya Edel terkapar di lantai, menatap ke arahku dengan tubuh gemetar, mata takut dan minta tolong. Kutatap bengis Edel dengan napas sesakku dan rasa sakit yang menjalar di lubuk hatiku. Anak ini benar-benar keterlaluan, aku langsung menyalahkan Edel.
Edel pun berbalik badan, membawa sebuah ponsel ke arahku dengan langkah kaki yang aneh, ekspresi merasa versalaj, dan menyodorkannya padaku. Dia bilang dengan suara pelan dan irih, "Telepon bibiku dan ambulan, dong,"
Deg!
Kusambar ponsel itu dan segera menelpon bibinya. Nada tunggu itu membuatku kesal, kujatakan dengan kalimat canggung sekaligus panik. Sementara Edel hanya berjarak selangkah di depanku, menembak pusat sadarku dengan sorot mata mengincar sambil tersenyum aneh. Sampai kupikir anak ini mungkin memang gila seperti yang dibilang semua tetangganya! Apa yang dia lakukan pada ayahnya?!
Setelah panggilan itu berakhir. Aku menatapnya dengan nanar dan memperingatkannya dengan suara mantap, "Edel. Aku paham dan tahu apa kelebihan kamu. Kamu gak perlu tunjukkin itu lagi! Aku percaya! Jadi ... stop buat kaya gini-gini lagi! Kamu mau aku bereaksi macam apa?! Kalo kamu masih gunakan mulut kamu buat memenuhi nafsu kamu, aku gak mau jadi temen kamu lagi!" kecamku keluar dengan lancar, "Otak kamu harus dipake," ujarku tak kalah tajam.
Mata Edel sontak berkaca-kaca.
Tak ragu kukatakan, sebab matanya minta ingin diyakinkan, "Kamu mau sendirian lagi? Kamu mau dianggap jadi satu-satunya yang gila di sini? Kamu mau bunuh orang tua kamu sendiri? Kamu mau jadi orang kaya apa, hah?!" gertakku.
Dia menggeleng cepat, membantah mantap hanya dengan bibir yang membentuk ekspresi sedih.
"Kamu gila?" tanyaku, "Kamu waras, kan?"
Dia mengangguk mengiyakan tanpa suara.
Tensiku turun, mereda seiring persetujuannya, "Kamu mau berubah mulai dari sekarang?" kupastikan lagi, "Kamu mau berubah jadi Edel yang lebih baik lagi, 'kan?"
Dia mengangguk, air matanya menetes dari dua matanya.
Hatiku langsung luluh melihat wajahnya basah. Satu helaan napas, kuseka air matanya, suaraku makin mereda, "Kalo begitu kamu harus berubah dan denger kata-kata aku, ya?"
Dia mengangguk lagi.
"Kamu bisa kembaliin kondisi Ayahmu lagi gak?" tanyaku jadi seperti ingin menangis juga, "Sejahat-jahatnya mereka, mereka tetap orang tua kamu, loh, Del,"
Dia menoleh ke arah Ayahnya dengan tubuh gemetar dan kembali menatapku, "Gak tau ...," lirihnya.
"Coba kamu tarik ucapan kamu, buat ayah kamu sembuh sebelum Bibimu datang. Aku belum panggil ambulan, kok,"
Ia menyeka air matanya sembari terus menahan suara tangis seperti anak kecil, menghadap Ayahnya. Ia berjalan mendekati lelaki itu sambil memainkan kukunya. Sorot mata Ayahnya seperti memberontak ingin menjauhi Edel. Namun tubuhnya terkaku tak bisa bergerak. Aku sampai berpikir keras, Edel menyumpahi apa pada ayahnya?
Edel membisikkan sesuatu ke telinga Ayahnya.
Hening.
Kemudian Ayahnya kembali bisa bergerak dan langsung bangkit duduk dengan cepat. Secara tiba-tiba aku terlonjak di tempat karena melihat ayahnya langsung memeluk Edel dengan sangat erat.
APA YANG SEBENARNYA TERJADI?!
Kupikir ... ini adalah awal dari semua kejadian gila yang tak pernah aku bahkan kalian bayangkan sebelumnya. Di mana besok, Edel akan menutup rapat-rapat semua ucapan dan sumpah serapahnya dan menggantinya dengan tindakan-tindakan berbahaya yang tak terduga. Kuharap selalu tindakan baik, tapi ... mustahil juga.
Tiba-tiba kudengar suara burung pengingat kematian, kata kepercayaanku dulu. Burung bersuara 'tit.. tit.. tiiituituit'.
Pertanda apa ini?
Apakah aku masih ingin menemui Edel besok?
BERSAMBUNG ....