
Oleh: Ajeng Karunia Utami
Ting!
Notifikasi pesan muncul di gawaiku. Kubuka dengan malas karena rasa kantuk yang sudah menyerang.
[Aku belum mati, Lina. Kau tak boleh bersama orang lain.]
Gila! Andre rupanya tak terima dengan keputusanku.
[Iya, aku tau kau belum mati. Lantas?] balasku dengan malas pernyataan konyolnya.
[Apa kau mau mencoba mati?] balasnya.
[KAU GILA?! BERHENTILAH BERMAIN-MAIN! KITA TELAH USAI, ANDRE!]
Kubalas dengan kesal pesan darinya. Aku mulai takut karena aku tahu Andre adalah orang yang nekat.
[Tidak sebelum maut memisahkan]
[Kau milikku]
[Jika bukan bersamamu, maka orang lain juga tak akan memilikimu]
Pesan spam masuk darinya tak kuhiraukan dan memilih tidur dan tetap mencoba tenang.
Andre adalah manusia paling aneh yang pernah aku kenal. Manusia ******** yang kadang memperlakukanku keterlaluan. Pernah suatu kali dia memarahiku habis-habisan, karena aku berbicara dan bercanda dengan teman laki-lakiku di jam istirahat sekolah.
Katanya, aku hanya miliknya. Hanya dia yang boleh membuatku tertawa.
Perempuan mana yang tak betah dengan lelaki seegois dia coba? Bahkan, waktu pacaran dulu semua aktivitas di aplikasi pesanku selalu diawasinya. Dia bahkan memboklir seluruh laki-laki yang mengirimkan pesan kepadaku, tak peduli apa tujuannya. Terpasti, di otaknya kala itu tak boleh ada yang mendekatiku selain dia.
"Lina ...."
Itu seperti ... astaga! Itu suara Andre. Tidak-tidak, ini cuma ilusi. Aku hanya sedang ketakutan.
"Apa kau di kamar, Sayang?"
Sialan. Itu memang suara Andre. Astaga, bagaimana bisa dia di rumahku?
"Sayang, aku di depan kamarmu, nih. Buka pintunya."
Aku terduduk di tempat tidur dengan tubuh yang gemetar serta keringat yang bercucuran.
"Sayang, ayo buka pintunya."
Aku masih bergeming di tempat. Berharap-harap cemas semoga saja dia tidak berhasil membobol pintu.
"Sayang, buka pintunya!" Kali ini dia membentak. Aku semakin takut dan mulai menangis.
Pintu berhasil dibobol. Andre yang memakai kemeja hitam, mendekat ke arahku dan langsung menjambak. Tangisku pecah, aku tahu dia pasti akan membunuhku. Oh Tuhan, selamatkan aku.
Andre mengikat tangan dan kakiku di tempat tidur. Aku berontak. Namun, percuma tenaganya bagai singa yang menerkam mangsa.
"Kau mau apa? Lepaskan aku!" berontakku. Namun, hanya dibalas dengan telunjuk di bibir.
Andre mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Apa itu? Jarum? Atau apa? Terlihat tajam.
Tanpa aba-aba dia menusuk sesuatu yang tajam itu ke sela-sela kuku jempol kakiku yang sudah diikat.
"Argh! Andre apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!" tangisku.
Dia memasukkannya lebih dalam, sangat dalam hingga menciptakan rasa sakit teramat sangat.
Aku menjerit sejadi-jadinya dan mencoba berontak, tapi sia-sia. Semakin aku bergerak semakin sakit di kakiku. Darah segar yang keluar menambah perih luka.
Setelah itu Andre keluar dari kamar.
Jarum di sela kuku jempol kananku masih menciptakan nyeri yang teramat sangat. Aku mencoba tenang. Kulihat ikatan di tangan kiri yang mengikat di antara pilar ranjang sedikit longgar. Namun, percuma … aku tak bisa menarik salah satu talinya agar terlepas.
“Apa kau masih mau meninggalkanku, Lina?” Suara itu tiba-tiba bergema, bersamaan dengan dia yang masuk kembali, dan kali ini ia membawa … jeruk nipis.
“Ayolah, Andre. Hentikan!” teriakku saat dia melangkahkan kakinya.
“Hanya jika kamu mau kembali menjadi pacarku.”
Aku terdiam bercucuran keringat. Menjadi pacarnya jauh lebih meyeramkan daripada ini. Aku putus darinya seminggu yang lalu, karena tidak tahan dengan sikapnya yang buruk dan posesif itu. Tak ada penyesalan atau air mata kecewa, aku hanya bersyukur lepas darinya. Namun, kali ini dia malah menerorku.
Melihat reaksiku yang hanya diam saja, dia mendekat dan dengan terampil diperasnya jeruk nipis itu diatas lukaku hingga kurasakan perih yang teramat sangat ketika merasakan air jeruk nipis itu meresap ke dalam luka.
“Ahh!” pekikku saat tiba-tiba dicabutnya perlahan benda tajam itu dari kuku kakiku yang menambah sensasi perih bercampur sakit.
Pelan, tapi pasti diarahkan sisa jeruk nipis itu ke arah bola mataku. Seketika aku terbelakak dan spontan menutup mata.
Tangan kasarnya membuka paksa mataku. Aku langsung berontak dan tiba-tiba ....
Tes!
Kurasakan perih di mataku begitu ditetesi air jeruk nipis. Tangisku makin menjadi-jadi. Tak cukup satu mata, kali ini ia melakukan yang lebih.
Dialihkannya benda tajam yang ternyata paku itu ke arah mata ku yang sebelahnya. Bisa dibayangkan, paku itu barusan dipakai untuk menusuk kuku kakiku, bahkan masih ada darah disana.
Mata bulat elangnya menatapku senang. Dengan tangan kasar yang memaksa mataku terbuka, ditancapkannya paku itu ke arah bola mataku. Rasa sakitnya bukan main, kurasa mati lebih baik daripada ini.
Rasa sakit luar biasa aku rasakan di kedua mataku. Belum sempat sirna rasa sakit ini, aku rasakan cairan pedih masuk ke rongga mataku yang tertusuk paku.
Tes!
Andre meneteskan lagi dan lagi air jeruk nipis di mataku. Sedangkan aku hanya bisa menahan sakit dengan mulut menganga tanpa suara, tapi nyawa masih melekat di raga.
"Inilah hukuman untuk mata yang berani melirik pria lain di belakangku," bisik Andre tepat di telingaku.
Akhirnya berhenti. Tetesan jeruk nipis itu tak lagi menhujani. Hanya saja dia berdiri tepat di sebelah ranjangku; tepat di sebelahku yang tengah menatapnya samar dan buram, karena jeruk nipis sialan tadi membuat mataku benar-benar perih.
Samar, kulihat dia mengeluarkan benda putih tajam. Aku tak terlalu jelas melihatnya, hanya saja dia mendekati dan secara paksa merobek piyama putih yang kugunakan.
“Jika aku tak boleh memilikimu, maka orang lain juga tidak.”
Rasa sakitku rupanya belum berakhir, sejurus kemudian benda tajam itu berhasil merobek bagian dada hingga ke perutku.
“Arghhh!”
Terasa sesuatu masuk ke perut dan mengobok-obok isinya dengan gembira.
"Ketemu!" ujarnya. "Ini lambungmu, kan? Disini tempat semua makanan yang pernah kubelikan untukmu dicerna," sambungnya.
Ditusuknya sesuatu yang disebutnya lambung tadi dengan benda yang kuyakin itu pisau.
Sret!
Asam lambung seketika mengalir ke semua isi perut dan seolah menghancurkannya. Kalian tahu, ‘kan apa jadinya bila asam lambung mengenai organ lain? Ibarat air keras mengenai kulit mulus kalian. Benar-benar sakit tak terkira.
Ia masih merogoh sakunya, dan kudapati sebuah paku. Diarahkannya ke dada yang dibelah tadi.
"Jantung ini seharusnya berdetak untukku, bukan untuk yang lain, Lina."
Entah bagaimana, aku tak lagi merasakan apa-apa. Sakitnya sudah berteman.
Berkali-kali jantungku yang masih berdetak pelan ini dihujamkan paku. Darah segar langsung mengucur memeriahkan darah-darah yang sudah lebih dahulu membasahi sprai.
Aku masih hidup untuk merasakan semua penderitaan ini. Sangat sesak dan sakit mengelilingi tubuh. Namun, tiba-tiba aku tersentak dengan napas memburu. Keringat dingin membanjiri wajah dan leher. Ternyata aku cuma mimpi, tapi rasanya seperti nyata.
Ting!
Notifikasi pesan masuk.
[Apa kau mau mencoba mati?]
Tertera nama pengirimnya, Andre.
Selesai.