I Change The Genre From Romance To Fantasy

I Change The Genre From Romance To Fantasy
Episode 9



"Anda sangat kecil jadi duduk saja dimanapun anda suka."


Aku mengangguk. "Lebih baik rumah kecil tapi aman dari pada rumah besar tapi berbahaya," kataku singkat.


"Anda bisa saja." Wanita paru baya itu mengambil secangkir air dari Periuk besinya lalu memberikannya padaku. "Ini minumlah."


"Terima kasih," balasku sambil meneguk habis air putih. "Ahh... Rasanya seperti surga."


"Apa anda berpergia tanpa membawa perbekalan?."


"Naahh... Saya membawa beberapa tapi sudah habis diperjalanan." Memang betul, semua perbekalan yang kubawa dari ibukota telah habis kugunakan diperjalanan menuju Maroko dan didalam hutan.


"Ngomong-ngomong apakah-."


"Kamu bisa memanggilku kakak."


"Ah... Yah, ngomong-ngomong apakah kakak tinggal sendirian." Itu adalah kalimat yang selalu aku tanyakan dalam setiap penyamaranku ketika berkunjung ke Maroko.


"Kenapa kamu bertanya?."


"Saya hanya penasaran karena anda sela- maksudku anda membiarkan orang asing masuk begitu saja kekediaman anda dengan mudah."


"...." Dia terdiam sejenak lalu tersenyum. "Saya tidak sendirian, suami dan anak-anak saya selalu bersama dengan saya disini," ucapnya dengan nada tenang dan lembut.


Tanpa sadar aku langsung melihat karangan bungga didepan ruang tamu, disana ada baju orang dewasa dan mainan anak-anak tersusun rapi. Aku sudah tahu apa itu bahkan tanpa berfikir lama tapi tetap saja aku harus melakukan itu untuk menyempurnakan penyamaranku.


"Sepertinya saya tidak memiliki kesempatan lagi untuk melihat mereka," kataku singkat.


"Hahaha... Mungkin dilain waktu, kalau begitu kamu istirahat saja, anggaplah ini rumah sendiri."


"Apakah anda tidak khawatir dengan apa yang akan saya lakukan?," Tanyaku.


Naira berhenti lalu berkata. "Tidak ada barang berharga dirumah ini selain kenangan milik keluargaku dan juga...." Dia melirik kearahku. "Kenapa aku harus khawatir pada tamu yang telah mampir ke rumahku selama beberapa kali," katanya singkat lalu keluar dari pintu rumah.


Aku tersenyum. "Ppffft- sepertinya aku sudah ketahuan olehnya." Entah mengapa hatiku merasa lega mengetahui hal itu sehingga aku berbaring di karpet yang terlentang diatas lantai tanah begitu saja, memejamkan mata lalu tertidur pulas dilantai tanah seperti mayat.


****


[ 09.12.00 ]


Menguap.


"Huaaaaam....... Rasanya begitu nikmat...," Kataku sambil merentangkan tubuh.


Berkat tubuhku yang kelelahan semalaman aku tertidur sangat lama dan terbangun jam 7 pagi , selama 16 jam penuh aku tidur seperti mayat sampai-sampai Naira yang membiarkanku menginap dirumahnya menjadi khawatir.


"Aku pikir kamu benar-benar mati tadi karena tidak menjawab saat aku bangunkan!." Ada kekawatiran terlukis diwajahnya ketika mengatakan hal itu padaku. "Uunghhh... Huh... Jangan khawatir, aku memang akan seperti mayat jika tertidur dalam keadaan kelelahan," jawabku untuk menghilangkan kekawatiran diwajahnya.


"Benarkah! Syukurlah...."


Saat ini kami sedang mengupas umbi tanaman yang menjadi makanan Naira sehari-hari karena suaminya sudah meninggal, biaya hidupnya begitu sulit sehingga Naira yang sebatang kara harus pergi kehutan untuk mencari umbi-umbian dan makanan lainnya.


"Kakak... Jika kamu mau kamu bisa pergi kepeternakan Paman Podo, aku yakin disana kamu akan hidup lebih baik."


"Kamu selalu mengatakan hal itu setiap kali berkunjung..., Kamu tahu, aku tidak suka menjadi beban bagi orang lain....


"Pemilik peternakan pasti sedang kesulitan disana karena masalah gosip peperangan yang akan segera terjadi jadi aku tidak mau menjadi beban baginya."


"Perang... Yah...."


Naira melirik Ira dengan penasaran lalu bertanya. "Apa selama ini kamu datang ketempat pemilik peternakan?."


"Begitulah, aku juga kesana untuk mengurus seusatu yang penting."


"Benarkah, aku harap itu bukan sesuatu yang berbahaya."


"Memang bukan..., Jadi jika kakak suatu saat berubah pikiran datang saja ketempat itu dan katakan kepada pemilik peternakan kalau Ira mengirim anda kesana untuk bekerja."


".... Aku akan mengingat itu," katanya sambil tersenyum lembut.


[ JumAt, pukul 09.25.12 ]


"Kakak aku pergi dulu."


"Baiklah hati-hati yah...," Lambainya padaku.


"Ingat! Jika Berubah Pikiran...."


"Iya aku akan ingat!."


"Hemp... Anak itu, dia membuatku khawatir."


Setibanya didesa aku memilih kereta kuda yang membawa banyak gandunm. "Apakah anda akan membawa gandunm ini kepeternakan Podo?," Tanyaku.


"Benar, apa kamu butuh tumpangan."


"Bisakah?."


"Naiklah, aku akan mengantarmu kesana."


"Terima kasih paman."


Orang-orang di desa ini cukup ramah sehingga terkadang aku tidak mengerti bagaimana bisa mereka mengasingkan Naira yang ramah.


Aku diam sejenak. "Nahh... Setiap wilayah memiliki kepercayaan masing-masing."


"Apa anda mengatakan sesuatu."


"Aku hanya bergumam pada diriku, jadi jangan diperdulikan."


"Kamu gadis yang aneh.... HIAAAAT-."


Cambuk yang menyentuh kulit kuda pelan membuat kuda berjalan membawa gerobak terbuka yang berisikan gandum. Sepanjang perjalanan kusir kuda bersenandung pelan, aku tidak mengganggunya melakukan itu karena memutuskan untuk diam dibelakang diantara tumpukan gandum.


"Gadis muda apa yang akan kamu lakukan diperternakan Podo?," Tanya kusir kuda.


"Tidak banyak yang akan saya lakukan disana, saya hanya berlibur."


"Jadi begitu." Kusir kuda berhenti bertanya setelah mendapatkan jawaban singkat sedangkan aku memilih untuk membuka buku catatan khusus bertuliskan.


[ 'Kumpulan Rencana Yang Harus Aku Lakukan Saat Berlibur' . ] Aku mulai membaca tulisan yang sangat kecil itu mengunakan sihir pembesar. Aku sengaja membuat tulisan didalam kertas dalam bahasa Prancis, bahasa yang hanya aku seorang yang akan mengetahuinya didunia ini. "Mari lihat apa ysaja yang akan kita lakukan di Podoo...."


[ Jadwal 1.


°Mempersiapkan kuda-kuda untuk perang.


°Mengunjungi pasar gelap di Maroko.


°Melatih Nagngina / Mencari partner.


°Melihat Croco


°Menyusun Laporan.


°.....


Dan Sebagainya.


Berhenti.


Kereta kuda tanpa atap berhenti didepan pintu gerbang kayu didepan hamparan rumput savana.


"Kita sudah sampai Nona muda, jangan sampai ada barang anda yang tertinggal," kata kusir kuda.


"Oke...."


Kereta kuda masuk kedalam kawasan rumput hijau nanmenyegarkan. Jalan yang kami lewati bahkan sangat halus tanpa batu-batu besar yang menghalangi, ditengah hamparan rumput hijau itu ada sebuah rumah yang terbuat dari kayu.


Disebelahnya ada bangunan besar seperti gudang yang kupastikan sebagai tempat untuk menyimpan kuda-kuda berkualitas.


Klatk... Kltak...


Setibanya didepan rumah kayu, seorang anak muda berkacamata yang sangat tampan, berwajah pucat dengan rambut hijau muda sepanjang bahu menyambut kami dengan senyuman hangat.


"Anda sudah sampai..., Ayah saya sudah tidak sabar untuk menerima gandum ini, kenapa lama sekali pengirimannya?," Tanya anak muda itu.


"Oi nak... Tenanglah, kamu pikir aku mau berlama-lama? Karena festival banyak petani yang sibuk untuk acara panen sehingga hanya butuh waktu lama untuk mendapatkan ini," gerutu kusir kuda.


"Tapikan!-."


"Ahahh... Sudah, pangilkan saja Ayahmu dan suruh dia menghitung ini... Aku masih punya banyak barang yang harus aku antar," katanya cetus.


"B-baik-lah." Dari belakang aku melihat pemuda itu masuk kedalam rumah terburu-buru. "Bukankah anda terlalu kasar pada anak itu," kataku.


"Nahh... Gaya bicaraku memang seperti ini."


"...."


Padahal dia tidak berbicara seperti itu padaku tadi. Aku turun dari atas kereta lalu berdiri disamping untuk menunggu pemilik peternakan keluar.