
"Delillaku sayang." Eldorado menatap mata putrinya lekat." Ayah berjanji akan memberikan kebahagiaan sempurna padamu."
"Ayah janji?." Mata Delilla terlihat bercahaya, dan wajahnya mulai berseri-seri.
"Tentu saja sayangku." Eldorado mengkecup kening Delilla lembut.
"Apakah itu akan berhasil?, Para bangsawan mungkin akan beralih dukungan pada Caunt Austin!."
"Karena itulah aku ingin kamu mempersiapkan Delilla."
"Apa??? Kenapa Delilla???"
"Duke sendiri bilang bahwa Delilla memiliki kekuatan sihir suci yang cukup kuat untuk membuat kuil dewa perlindungan memujinyakan jadi....
"Aku ingin Duke Rabatra menjadikan Delilla sebagai seorang Saint, dengan begitu kita bisa mendapat kepercayaan dari masyarakat sekaligus bangsawan yang lain.
"Kemudian kita bisa mendorong Emersyn kebelakang dengan bantuan dari Delilla yang merupakan utusan dewa... Mau sekuat apapun mereka, jika dewa sudah berkehendak maka tidak ada yang bisa dibantah."
"OHHH! JADI BEGITU... SAYA MENGERTI PUTRA MAHKOTA!."
"Bagus, jika kamu sudah mengerti segera pergi dan lakukan apa yang aku perintahkan, dan untuk sementara jangan menghubungiku dulu, Caunt Austin benar-benar mengangguku sekarang." Dalam pandangan Eldorado putra mahkota juga sama depresinya dengan dirinya.
Kantung mata yang terlihat, rambut yang tidak disisir rapi, pakaian yang kusut seperti tidak diganti selama beberapa hari seperti menjadi saksi dari perjuangan putra mahkota yang ditekan dari segala arah namun tetap berjuang untuk berdiri setelah kehilangan bantuan dari sang kaisar.
"Yang Mulia tolong perhatikan penampilan dan kesehatan anda, tidak ada yang ingin melihat kondisi anda mulai saat ini selain diri anda sendiri."
"Kalau begitu aku akan mengingatnya, sekarang pergilah." Setelah percakapan mereka berakhir, putra mahkota kembali pada rutinitasnya yang brutal, dimana dia harus menyelesaikan ribuan dokumen dari penjuru Harper setiap harinya tanpa bantuan dari siapapun lagi.
"Kamu boleh kembali keruanganmu, besok kamu harus pergi ke kuil dewa perlindungan untuk memperdalam ilmu sihir suci disana."
Delilla Mengangguk.
"Baik Ayah, aku mengerti." Delilla yang tampak begitu polos segera jatuh dalam tipu daya ayahnya sehingga dengan mudahnya melakukan apapun yang diperintahkan. "Kalau begitu aku akan bersiap-siap ayah...."
"Bagus." Setelah melihat kepergian Delilla, Eldorado langsung mengutuk dalam-dalam semua ucapan manis yang dia ucapkan. "Betapa menjijikannya aku... Hahh... Aku harus bersabar, ini semua demi kebaikan Rabatra."
Toktok...
"Masuk." Seorang pelayan yang mengetuk pintu masuk sambil membawa sepucuk surat berwarna hitam bergaris merah. "Surat dari Adipati muda ElRian telah tiba tuan Duke."
"Bagus." Eldorado mengambil surat itu lalu membaca isinya.
[ Ayah ini aku, persiapan untuk peperangan sudah kuatasi kiranya ayah bersabar sedikit lagi untuk menerima kabar lebih lanjut dariku.
^^^ElRian Rabatra. ]^^^
SRAK SRAK SRAK....
Surat langsung dikoyak begitu selesai dibaca.
"Anak tidak berguna ini juga begitu menjengkelkan." Setelah Eldorado menerima kabar peperangan dari putra mahkota dia segera bergegas mempersiapkan diri untuk memakan apapun yang tersisa bahkan jika itu akan membunuh putra sulungnya dimedan perang yang belum dia ketahui akan separah apa.
Sehingga, membuat Eldorado sangat benci akan kenaifan putranya yang jujur dan berniat untuk mengambil keuntung apapun dari peperangan walau putranya harus tewas.
Sebenarnya akan lebih baik jika anak itu mati saja. Eldorado tidak mentoleri kesalahan apapun lagi setelah semua rencana untuk meletakan Emersyn dikaki mereka gagal total. Jika dia mati maka aku akan tetap jadi pemimpin Rabatra. Senyum jahat keluar dari bibir Eldorado yang kusut.
"Seharusnya aku melakukan ini sejak awal." Eldorado mengambil sebatang cerutu dari sakunya lalu menghisap setelah menyalakan sumbu. "Situasi ini tidak buruk juga untukku.... Mari kita lihat, apa saja yang bisa kuambil dari situasi ini."
Tali pengekang yang mengikat Putra Mahkota sudah ada di tanganku, sekarang yang aku butuhkan hanya satu hal lagi maka semuanya akan sempurna. Eldorado lagi-lagi membayangkan bagaimana keluarga Emersyn berlutut sambil menangis darah dibawah kakinya. Aku menantikan hari itu.
...***...
Tak terasa waktu telah berjalan lama. Tiga hari sudah Ira tiba dipertengahan hutan maroko, diamana ada rawa yang cukup besar disana. Selama 3 hari pula dia mendirikan tenda didekat rawa yang berbahaya itu untuk menunggu masa birahi dari buaya peliharaanya selesai.
"Tsk... Banyak nyamuk disini."
Tap.
Menginap dihutan bukanlah jadi masalah baginya tetapi, mahluk dalam hutan yang menjadi sedikit batu kerikil dikakinya. Monster lain seperti goblin, kelelawar raksasa, Serangga pemangsa dan buaya lain disekitar rawa cukup membuatnya repot untuk tidur dimalam hari.
"HUAAAAAM.... Kira-kira apakah ElRian akan datang kepeternakan lagi hari ini...."
GGGGRRRR-
Buaya berukuran besar naik keatas darat setelah 3 hari 3 malam berada didalam air bersama buaya betina.
"Apakah kamu puas?, Selamat sudah jadi buaya jantan sempurna sekarang," kataku mengelus muncung yang terbuka itu.
"Baiklah, karena masalah kita sudah selesai dan sekarang hari sudah menjelang sore ada baiknya kamu segera naik kegerobak...." Ira mengiring buaya itu masuk kedalam gerobak lalu mengaitkan lagi pelana pada punggung kuda tetapi.
NEIIGN—
Setelah buaya besar dinaikan kedalam gerobak, kuda hitam itu segera berlari meninggalkan Ira yang masih dijalan.
"Eh???... NAGIII! TUNGGU...! AKU BELUM NAIK," teriakku sekencang mungkin.
Kuda itu segera hilang dari pandanganku karena larinya yang cepat. "Sial... Aku pikir akan bermasalah jika dia dibawa ke medan perang nanti," kataku yang memutuskan untuk berjalan kaki menyusul.
"Nagi... Anak nakal itu, aku akan memperbaiki sikap bodohnya itu setelah tiba dipeternakan Podo." Selama dua jam aku berjalan kaki, aku masih tidak ingin mengunakan gelang teleportasi untuk menghemat kekuatan didalamnya.
"Huhhf... Huhhf... Semakin sesak disini." Jalanan yang lembab menyebabkan oksigen menjadi sulit masuk keparu-paruku ditambah kabut tebal yang mulai turun dari gunung telah menutupi jalan. "Aaark-." Kakiku tersandung ranting dan batu bahkan setelah berjalan cukup hati-hati.
NEIGNNNN-.
Dari arah kejauhan telingaku menangkap suara yang familiar. "Nagi!." Aku segera bergegas menuju arah suara kuda yang tak jauh dari jarakku. "Glup... Huhhff... HUHFF... Nagi dasar kuda na- ... Siapa?."
Tatapanku berhenti pada sosok asing yang berdiri didepan kuda. Aku melihat itu adalah bentuk tubuh pria yang masih muda dengan jubah putih ditubuhnya. Pria muda itu menyentuh wajah kuda lalu mengelusnya pelan. Apa dia tidak takut dengan buaya di atas gerobak. Aku ingin mengatakan beberapa hal sampai sebuah ingatan melintas dikepalaku.
Ingatan sebelum evolusi bumi dimana saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu ibuku pernah berkata padaku disore hari. "Jika kamu ingin membedakan antara hantu dan manusia maka lihatlah melalui selangkanganmu."