I Change The Genre From Romance To Fantasy

I Change The Genre From Romance To Fantasy
Episode 7



...Jangan Lupa Like Sebelum Baca!!!...


***


Keesokan harinya adalah hari keberangkatan yang telah kutentukan selama beberapa bulan terkahir. Hari ini adalah hari Selasa Bunga Ketiga, dimana para petani akan memulai upacara doa diseluruh ladang pertanian kerajaan Harper. "Hari ini cocok untukku karena semua orang sibuk."


Aku yang tidak memiliki pekerjaan lain memutuskan untuk turun keruang makan dimana keluarga besar Emersyn berkumpul untuk sarapan pagi setiap jam 8 pagi walau pada akhirnya aku tidak akan pernah duduk bersama mereka. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh Antagonis sebelumnya. Dari isi novel yang kuingat Ira tidak pernah sekalipun duduk dimeja makan bersama keluarganya untuk sarapan pagi, dikatakan bahwa Ira membenci tindakan membuang-buang waktu yang setiap hari dilakukan keluarganya.


"Selamat Pagi Nona Muda." Sapa setiap para pelayan yang kulewati.


Semua orang menunduk hormat padaku tetapi aku tahu betul bahwa mereka melakukan itu bukan karena menghormati Ira tapi karen takut padanya."Hemp."


Sesampainya aku didepan pintu, penjaga yang mengawasi ruang makan membuka pintu dengan gugup. "Selamat Pagi Nona Mu-da...."


Mereka langsung diam ketika pandangan kami bertemu, aku hanya melirik penjaga itu sejenak lalu masuk kedalam sambil berkata. "Jangan tutup pintunya."


"S-saya mengerti!." Sesuai intruksiku pintu tidak ditutup ketika aku masuk kedalam. Diruang makan aku bisa melihat seluruh keluarga Emersyn duduk saling berhadapan didepan meja makan oval raksasa. Ada dua puluh orang di tempat ini.


Mereka yang melihatku datang lantas menunjukan minat pada apa yang akan aku lakukan. "Ini pertama kalinya aku melihatmu di ruang makan keponakanku," kata bibi Ella Emersyn, adik perempuan dari pemimpin keluarga.


"...."


Aku masih diam dan tidak menjawab, mataku melirik setiap orang didalam ruangan itu, dalam otakku aku menghitung total keseluruhan mereka yang hadir. "Jadi semuanya disini," kataku puas.


"Hei keponakan, kenapa kamu tidak duduk bersama kami dan sarapan pagi yang nikmat." Istri dari paman kedua menunjukan piring berisikan roti selai madu yang diangkat setinggi dagu.


"Tidak terima kasih," jawabku singkat.


Ketika aku mengatakan itu mataku tertuju pada Patriak rumah tangga Emersyn. Jameson Kyle Emersyn. Pria berperawakan tampan seperti anak muda berusia 27 tahun dengan rambut pendek berwarna hitam legam, iris matanya berwana merah gelap seperti darah kental berbada dari dua anaknya yang lain.


*Sedikit info, keluarga Emersyn memiliki ciri khas berambut hitam yang dimana didunia itu sangat sedikit orang yang memiliki rambut hitam sama halnya dengan orang berambut merah.


Iris mata mereka juga unik, berwarna merah yang cukup terang tetapi ada satu rahasia yang hanya diketahui oleh kepala rumah tangga Emersyn yaitu jika semakin gelap waran merah pada iris mata maka bisa dipastikan bahwa kekuatan sihir yang dimiliki oleh orang itu sangat kuat.


Seperti halnya Jameson yang menjadi Patriak rumah tangga karena warna merah gelap pada iris matanya dan juga memiliki kekuatannya yang melampaui Patriak sebelumnya.


Kembali pada bagian novel karakter Ira Elyse Emersyn adalah puncak dari karakter terkuat dari generasi Emersyn dimana rambutnya begitu hitam dan warna iris matanya lebih didominasi hitam dari pada merah trasparan sehingga orang-orang sering melihat warna pada matanya sebagai hitam.


"Ira... Ada keperluan apa kamu datang kemari." Pemimpin rumah tangga mulai berbicara dengan nada datar namun berat jika didengar oleh orang yang tidak terbiasa dengan pengucapan nadanya.


"Sudah hampir duapuluh tahun lamanya kamu tidak pernah menunjukan wajahmu ditempat ini...." Jameson meletakan garpunya disebelah piring pelan lalu melihat Ira dari jarak yang cukup jauh. "Apa yang kau inginkan."


"Tidak ada." Jawabku seketika. "Aku hanya melihat-lihat sebentar." Kakiku penahan mundur perlahan kebelakang sampai keluar dari pintu masuk. "Sampai jumpa." Begitu aku menyelesaikan kalimatku para penjaga yang mengawas menutup pintu. "Kerja bagus," kataku lalu berjalan menuju pintu keluar.


Semuanya telah selesai aku siapkan. Perlahan aku berjalan menuruni anak tangga teras kastil untuk menuju kereta kencana yang telah disiapkan oleh Gilbert secepat mungkin.


Setibanya aku didepan tempat kereta kuda terparkir, Gilbert menyambutku dengan sopan. "Saya telah menyiapkan kereta an-."


"Tidak perlu diperjelas...." Aku masuk dari pintu yang dibuka lalu duduk kursi penumpang. Aku sudah izin untuk pergi sebelumnya jadi tidak akan terlalu banyak masalah nantinyakan?.


"Hei," Kataku memanggil Gilbert.


"Ya Nona."


"Singkirkan semua serangga yang mengikutiku nanti."


"Baik Nona."


"Bagus, sekarang cepat jalan," perintaku pada kusir kuda.


Setibanya di ibu kota yang jauh dari kediaman Emersyn, aku memerintahkan kusir kuda untuk berhenti disebuah toko minum teh khusus bangsawan. "Segera kembali kekediaman."


"Eh? Tapi saya diperintahkan untuk menghantar anda hingga kastil Oval-."


"Ikuti saja perintahku."


"Baik Nona." Kusir kuda menunduk dan membawa gerbong kuda kembali kekediaman Emersyn. "Fyuhh... Susah sekali untuk mendapat privasi akhir-akhir ini." Aku masuk kedalam toko dan disambut oleh pelayan wanita dengan sangat ramah. "Selamat pagi nona apa ada yang bisa saya ban-."


"Berikan aku ruangan pribadi yang mengarah kealun-alun kota paling sudut."


"Baik Nona." Pelayan menunduk lalu membawa Ira menuju ruangan khusus tamu bangsawan. Pelayan telah menkonfirmasi identiras Ira sejak dia berada di luar sehingga secara pribadi datang untuk melayaninya. "Disini Nona." Tunjuknya pada ruangan besar berbalkon yang memberi pemandangan kota dari atasnya.


Karena puas dengan tempatnya, aku memberikan pelayan tip dua keping koin emas lalu memerintahkannya untuk menjauh dari ruanganku. "Jangan biarkan siapapun masuk kedalam dan... Satu jam lagi aku akan pergi sendiri jadi kamu bisa membersihkan."


"Saya mengerti Nona," kata pelayan lalu pergi.


Aku tetap diam lalu masuk kedalam ketika pelayan membantu untuk menutup pintu ruangan. "Huhh...." Segera aku menuju balkon dan melihat kebawah. Jarak dari atas ketanah hanya 8 meter di tambah ada balkon lantai 2 dibawahku jadi tidak akan ada masalah kalau lompat.


Aku merasa sangat resah karena sudah sejak dari tadi orang-orang dari pihak Emersyn mengikuti sepanjang perjalanan. "Sekarang mari bermain sejenak," gumamku sambil menuggu hidangan yang kupesan datang.


Ketika pesanan datang aku langsung mengambil kue bolu dengan rasa straubery, mengambil sisi kue mengunakan garpu lalu memaknnya perlahan sampai habis.


"Lumayan," kataku yang kemudian meneguk teh susu dengan aroma mawar sampai habis.


Tik... Tik... Tik...


Suara jarum jam didinding.


[ 10.30.01 ]


Menjilat lidah.


"Sekarang saatnya." Ketika situasi terasa aman, aku menompat dari atas balkon kelantai dua yang berada dibawah ruanganku.


CLDUK.


Aku mendarat tepat diatas meja kosong dalam ruangan itu. "Untung tidak ada orangnya."


Sambil turun kebawah aku merogoh saku kiriku untuk mengambil sebuah cincin emas, lalu memakaikannya kejari tengahku.


"Here you go...." Cincin yang kugunakan langsung mengaktifkan sihir penyamaran dimana suaraku berubah, warna rambutku yang sebelumnya hitam menjadi pirang, wajahku juga akan dilihat berbeda oleh orang lain mulai sekarang, semuanya menjadi sedikit berubah kecuali warna mata yang tetapi sama. "Hemm... Mungkin karena ini ciri khas keluarga Emersyn makanya tetap sama walaupun mengunakan item berharga."


"HEI!!! APA YANG KAMU LAKUKAN DISINI!." Teriak seorang pelayan yang masuk kedalam setelah mendengar suara dari dalam ruangan.


"PENJAGA! PENJAGA!!!." Pelayan mulai berteriak keras.


"Tsk, aku akan segera pergi."


Karena persiapan telah selesai aku lakukan orang-orang diatas mungkin akan mulai berada disekitar pintu, mari kita kabur lagi.


"Sampai bertemu lagi," kataku yang melompat lagi dari balkon lantai dua dan mendarat ditaman. "Hpla...." Aku segera berlari menjauh dari toko minum bangsawan itu setelah para penjaga dibawah mulai naik keatas, aku juga bisa melihat dua orang berpenampilan tertutup lekas masuk kedalam. "Itu mereka."


Aku tersenyum. "Pffft- lihat saja ruangan kosong itu," kataku yang masuk kedalam gang-gang sempit perumahan warga. Aku melompat dari tangga-tangga disekitar untuk menghemat waktu. "AAAAH-! Tubuh Yang Hebattt...!," Teriakku senang.


...Bersambung....ComentYah.......