I Change The Genre From Romance To Fantasy

I Change The Genre From Romance To Fantasy
Episode 17.



***


SeNin 14 September.


[06.14.19]


"Hemm...." Pagi ini aku terbangun dalam perasaan tidak nyaman. Sejak tadi malam suara kuda didalam kandang sudah hampir membuatku gila dan sekarang dihadapanku mayat kuda betina berwarna abu-abu mengambang diperairan danau dalam keadaan tidak utuh.


"Uugh- lagi-lagi buaya sialan ini memangsa kudaku...." Djordan duduk ditepi danau dengan air mata membasahi wajahnya. Dia menangis melihat bangkai kuda betina yang mengambang itu.


"Ayah tenanglah...." Carlos sejak tadi sudah berusaha untuk menenangkan Ayahnya yang hampir menembakkan peluru berbahan sihir peledak kearah buaya yang berkeliaran didanau besar yang tenang itu.


"Hiks... Kuda-kudaku yang malang." Kepalanya yang botak memantulkan cahaya matahari pagi ketika dia menangis ditepi danau. "Jika saja dia bukan peliharaan... Grakshsyendh-," gerutnya kasar.


"Huh..., Sepertinya buaya ini sedang dalam masa birahi."


"Huh???."


"Siapkan gerobak besar, aku akan membawanya kehutan."


"Apa yang anda maksud?."


"Akan merepotkan jika Croco tetap ada disini, bisa-bisa semua kuda kita dilahapnya habis-habisan...." Dan juga dia ini jenis buaya langka dari dunia novel yang termasuk satu dari binatang yang dapat berevolusi menjadi bentuk yang luar biasa...


"Aku tidak tahu akan berapa lama dia terus seperti ini jadi lebih baik aku membawanya jauh dari peternakan untuk sementara."


"Apakah anda butuh bantuan."


"Naahh... Kamu disini saja dengan anakmu, aku melihat ada beberapa kuda yang terluka jadi bantu ayahmu," kataku pada Carlos.


Carlos menganggukan kepalanya begitu pandangan kami bertemu. "Saya akan melakukan yang terbaik."


"Djirdan siapkan gerobak atau apalah yang bisa mengangkut mahluk ini."


"Aku punya, akan aku bawakan... Semoga saja bajingan ini tidak pernah kembali," gerutunya kesal. Djordan berdoa dalam hatinya siapa biaya besar yang selama ini menghantui peternakannya hilang ketika dibawa oleh Ira.


Aku melihat buaya besar didanau yang dengan ganas melahap isi perut kuda seperti kerasukan.


GGGGRRG-


SPLASSSS... SPLASSSH...


WWOOOO....


Serigala abu-abu dalam kurungan juga mengaung ditengah keributan yang ada.


"Hhaiss... Ini masih pagi dan aku sudah disuguhi pekerjaan merepotkan." Aku memeriksa buku catatan ku, melihat hari dalam kelender kecil untuk memastikan apakah aku masih memiliki waktu luang sebelum mempersiapkan kuda perang.


"Sekarang masih tanggal empat belasĀ  september aku masih punya cukup waktu untuk bermain-main sebelum perang."


Tangal merah yang kulingkari adalah hari dimana awal peperangan dan itu masih jauh dari hari ini. "Oke, mari kita urus hewan-hewan eksotisku dulu baru kemudian memikirkan masalah perang kemudian.


Aku membuka jaket tipisku lalu masuk kedalam danau untuk menarik ekor buaya hang masih memakan bangkai kuda. "Yo... Croco, mari kita naik kedarat terlebih dahulu." Aku mengunakan sihir yang dapat mperkuat pegangan ditangani sehingga menarik buaya berukuran besar menjadi muda bagiku. "Kamu membuat pemilik peternakan menjadi susah saja."


GARRRR...


SPLASH...


"Aku tidak ingin membuang-buang sedikitpun Manaku tapi...." Aku meluruskan tangan kananku kedepan lalu menyalurkan energi padat dari jari-jariku. " 'HEE' ." Satu kalimat mantra terucap dari mulutku mengakibatkan tubuh buaya melayang diudara.


SRASSS-.


Buaya berukuran besar itu mengambang diudara, dia ditarik paksa keluar dari air kehadapan Ira yang brjalan keluar dari air danau.


Gggrrrr-


"Diam, kamu membuatku mengeluarkan mana yang sudah kutabung untuk hal menarik nanti." Buaya berukuran besar itu melayang terbang secara kasar saat aku mengarahkanya pada gerobak besar yang dibawa oleh Djordan.


Baek.


"Apa???."


"Mulai dari sini aku akan membawanya."


Tanpa pikir panjang lagi aku memangil Nagi yang berlari kearahku, memakaikan pelana pada tubuh kuda hitam itu lalu mengaitkannya digerobak besar yang membawa buaya besar. "Aku akan kehutan untuk beberapa hari, jadi tidak aku tidak akan langsung pulang.


"Kemdian, mereka yang akan memesan kuda akan datang lagi jadi kamu layani mereka seperti yang aku katakan."


"Baik Nona."


Setelah memberi pesan singkat itu aku mengarahkan kuda untuk berlari cepat masuk kedalam hutan. Kuda hitam yang besar berlari cepat melewati rimbunan Padang rumput hingga memasuki hutan yang lebat.


BRAK.... BRAK... BRAK.


Batu kecil atau kayu yang menghalangi jalanya dihantam, meski membuatku sedikit mengalami kesulitan nyatanya aku masih bisa mengabaikannya. Karena ada alasan khusus bagiku untuk segera menyelesaikan siklus birahi dari buaya penghuni danau peternakan Podo.


Dari informasi buku novel yang kubaca dan alasan besar kenapa aku mengambil buaya dan serigala langit adalah karena kedua mahluk ini dikatakan memiliki peran yang sangat besar bersamaan dengan kemunculan Naga yang nantinya akan dijinakan oleh protagonis wanita.


Buaya didanau memang terlihat seperti buaya biasa pada umumnya seperti yang kulihat dibumi tetapi setelah usia dari mahluk itu mencapai tahap yang diperlukan bentuk sesungguhnya akan terungkap. Sama halnya dengan serigala langit yang nantinya akan menjadi mahluk paling ditakuti dihutan setelah keberadaan 'Elerga' muncul untuk pertama kalinya.


Protagonis kedua yang merupakan kakak dari Delilla tercatat menjadi satu-satunya pemimpin peperangan yang nantinya akan membawa mahluk-mahluk buas ini kemedan peperangan berkat bantuan dari protagonis wanita yang terpilih sebagai Saint utusan dewa.


"... Pffft- sayang sekali karena kali ini ceritanya akan berbeda." Aku menertawalan isi cerita yang nantinya akan aku jungkir balikan. Aku memiliki pemikiran untuk mengunakan mahluk-mahluk luar biasa itu untuk kesenanganku sendiri bukan untuk membantu peperangan yang akan datang dikemudian hari yang tak lama lagi akan segera terjadi.


Tatapan mataku begitu segar, tubuhku mulai memanas akan sensasi semangat membara. "Ayo kita lihat akan sepeti apa wajah Delilla setelah semua yang akan menjadi miliknya kuambil duluan sebelum dia menyadari bahwa mereka adalah miliknya."


***


"...."


Di pagi hari disebuah kastil cantik bergaya Eropa klasik. Sosok wanita cantik bergaun coklat yang dihiasi permata hijau berdiri didepan sebuah jendela yang mengarah langsung ketaman kediamannya.


"Putri Delilla, tuan Duke memanggil anda."


Tersenyum.


"Apa Ayah memanggilku sekarang?." Senyumannya begitu indah bagai air anggur yang memabukkan namun membuat seseorang tidak bisa berhenti untuk menikmatinya. "Ini pertama kalinya ayah memanggilku duluan...."


Pelayan yang baru saja memangilnya segera mendapatkan kesadarannya kembali, kemudian melihat kearah Delilla dengan penuh rasa hormat. "Perlukah saya bertanya kepada tuan Duke terlebih dahulu putri?."


"Tidak perlu... Aku akan datang sendiri." Delilla bangkit dari kursinya yang nyaman, meletakan cangkir teh yang telah kosong dimeja lalu keluar dengan anggun dari pintu yang dibuka oleh penjaga.


Sosoknya sangat cantik... Sangat cantik sampai-sampai para pelayan berlomba-lomba untuk melihatnya dengan alasan menyapa. Putri haram Duke Eldorado Rabatra yang muncul tiga tahun yang lalu, merupakan anak haram Duke dengan pelayannya yang melarikan diri demi melindungi buah hatinya dari amarah Duchess Irka Rabatra.