
***
Setibanya di pintu belakang didekat hutan, aku melihat sebuah perangkap besi berukuran besar. "Pantas saja suaranya sampai kedengaran kerumah." Perangkap itu seperti jeruji besi berkarat.
BRAK.. BRAK... BRAK...
GGRRRRRR....
Suara benturan dan geraman terdengar dari dalam perangkap besi.
Mahluk yang ada didalam kurungan hampir memiliki tinggi yang sama dengan denganku, dengan tubuh besarnya yang terluka dan mulutnya yang dipenuhi oleh darah kuda muda yang ada dibawah kakinya.
CRAAAAARRR- GGRRR...
Serigala menunjukan taringnya kearah kami terutama kearah Djordan yang memegang senapan sihir dibahunya.
"Akhirnya persetan ini tertangkap juga."
"Apa kau memancingnya dengan mayat kuda yang baru saja mati?," Tanyaku.
"Begitulah, kuda itu mati sehari sertelah kelompok bajingan ini menyerangku." Djordan menendang kurungan dengan kakinya.
KLANG.
"Hari Ini Adalah Hari Kematianmu Bajingan Sial!!!."
"Tunggu sebentar."
"HUHH??? APA LA- Maksudku apa lagi yang anda tunggu! Kita harus membunuhnya sekarang juga sebelum kawanannya datang dan menyerang lagi."
"Itu tidak diperlukan." Aku berjalan mendekat tanpa rasa takut, melihat kedalam kurungan dimana serigala itu mengeram. Tubuhnya sangat kecil dan ada banyak bekas luak gigitan di kulitnya. Melihat itu aku mundur selangkah. "Apa ukuran serigala sebelumnya sama dengan yang ini," tunjuku.
"Tidak, ukuran bajingan ini tidak bisa dibandingkan dengan yang kemarin, dia sangat kecil dan terlihat sakit-sakitan."
"Kalau begitu ada bagusnya."
"Huh???."
"Ada bagusnya?."
Mereka bertanya apa yang aku maksud dan aku menjawab dengan santai. "Kamu bilang kawanan sebelumnya lebih besar darinya kalau begitu yang ini pasti serigala Alpha dari kelompok lain.
"Dia dikeluarkan dari kawanannya karena lemah dan sakit-sakitan makanya turun dari gunung dan terperangkap dijebakanmu."
"Serigala itu mahluk teritorial jadi pastilah alasan kelompok itu turun dari gunung karena mencium keberadaan serigala lain didaerah mereka."
"Lalu apa yang akan anda lakukan?, Meski dia sudah hampir mati tetap saja kita harus membalasnya karena membunuh kuda kita yang berharga, dan apanya yang bagus?." Djordan masih kesal dan haus akan kematian serigala didepannya.
"Nahhh... Itu tidak masalah. Satu-satunya hal bagus dari situasi ini adalah lagi serigala ini akan menjadi anjing penjaga yang baru dipeternakanmu mulai sekarang."
Djordan tertegun sesaat lalu tertawa terbahak-bahak "AHAHAH... Apakah anda bercanda?."
"Apa aku terlihat bercanda?."
Kami bertatapan untuk beberapa saat, Djordan memalingkan wajahnya kekanan, untuk menutupi kekesalannya. "Tsk."
"Aku tahu kau kesal tapi tahan itu."
"Emm... B-bagimana Anda Akan Menjadikan Serigala Langit Sebagai Anjing?, Saya Pikir Itu Tidak Mungkin Karena Mereka Hewan Sihir Liar!!!." Djordan berteriak sambil memunggungi Ira.
"Kalian ini...." Aku menyentuh keningku yang berdenyut. "Hahh... Dasar bodoh, apa artinya kalian bekerja bersama binatang jika hal dasar saja kalian tidak tahu."
"Oi, aku tidak tahu akan hal itu, biasanya istriku yang akan menangani masalah piaikis hewan-hewan in-"
"Lebih baik kau diam saja dan susun laporan pengeluaran bulan ini, aku akan memeriksanya segera," kataku menyela Djordan.
"Hahh... Baiklah." Dia membuang senjatanya begitu saja tanah dan berbalik.
"...."
"Ayah-!." Ketika Carlos mulai berteriak karena bahaya yang menghampiri Ayahnya.
BANG-
"!!!."
Djordan berbalik arah untuk melihat senapannya tetapi apa yang didapatnya cukup mengejutkan. Senjata yang awalnya berada di tanah melayang diudara, dan masih mengarah padanya. "Apa kau barusan mengeluh akan perintahku?," Ucapku dalam nada kesal.
"Uump-." Admosfir menjadi berat disekeliling kami bertiga. "Berani sekali kau membuang senjatamu didepan mataku."
Klik.
Senapan berbunyi lagi.
"Perlukah aku meledakkan otakmu keluar?."
"Ay-."
"Diam," perintahku sebelum Carlos berbicara membela ayahnya. Djordan tidak berani melihatku sehingga dia melihat putranya lalu menunduk. "M-maafkan saya... Saya hanya terlalu kesal pada mahluk itu."
"Apa itu pertanyaanku?."
"Tidak...."
"Lalu apa jawabanmu?."
"T-tolong jangan ledakan kepala saya...." Merinding ditengkuk leher Djordan semakin kuat hingga membuatnya kebas disana.
"Kalau begitu ambil senjatamu dan letakan ditempat seharusnya."
"B-baik." Dia mengambil senjata yang melayang diudara pelan tetapi masih menunduk tidak berani melakukan kontak mata denganku.
"Meski aku menyuruhmu untuk berbicara santai padaku itu bukan berarti kamu bisa memperlakukanku seperti temanmu..., ingatlah bahwa aku masih Emersyn sekaligus pemilik peternakan beserta seluruh lahan, kuda dan mahluk hidup yang masuk kewilayahku...."
"S-saya mengerti."
Djordan bodoh, beraninya kau bersikap ceroboh seperti itu didepan wanita yang memegang kendali atas hidupmu, batinnya.
"Lain kali jika kau bersikap seperti itu maka aku tidak akan meleset lagi mengerti?."
"Saya mengerti," ucapnya sambil menunduk berulang-ulang.
"Kalau begitu pergila, aku akan memindahkan mahluk ini ketepi danau."
"Baik." Djordan menggandeng tangan putranya untuk dibawa menjauh dari sekitar Ira.
Aku melihat pemandangan itu lalu beralih lagi pada kurungan perangkap. "Sekarang mari kita lihat." Tanganku menyentuh jeruji besi berkarat lalu kemudian.
Slip.
Aliran mana keluar dari tanganku, terasa asing namun nyaman ketika mengelilingi tubuhku, sesaat aku membuka mata perangkap besi dan tubuhku yang sebelumnya berada di belakang peternakan kini berada di tepi sungai dekat dengan rumah Podo.
Tersenyum.
Aku tersenyum ketika tubuhku merasakan sensasi ditarik dari segala arah walau hanya persekian detik.
"Huhh... Ini bagus." Ira tersenyum.
"Benda ini berfungsi sesuai dengan yang dideskripsikan di novel." Ira melihat antara kurungan dan danau, didalam pikiranya seekor mahluk terlintas.
"Kamu lebih baik mempersiapkan diri, karena aku..." Wajahku mendekat ke kandang dimana serigala masih mengeram disana dengn ekor yang terselip dibawah kakinya. "Akan membuatmu menjadi penguasa gunung ini," kataku sambil menyeringai.
***
Malam datang beberapa jam setelah kedatangan Ira kepeternakan Podo. Dalam rumah kayu sederhana itu, tiga orang duduk dikursi di depan meja makan besar. Hidangan lezat kalkun panggang dan daging domba, roti gandum berkualitas dan buah-buah segar tertata rapi diatas meja.
"Umm... Ini tampak enak," Djordan menelan ludahnya melihat semua makanan yang baru dia lihat untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
"Saya selalu senang setiap kali anda datang kepeternakan kami nona Ira." Mata Jordan telah tertuju pada daging beraroma sedap yang menusuk tajam kedalam penciumannya.
"Ayah itu-."
Carlos yang meletakan mangkuk didepan ayahnya merasa canggung, setelah kejadian tadi pagi segalanya menjadi sulit bagi Carlos untuk memulai komunikasi sehingga yang perlu dia lakukan saat ini adalah melihat situasi terlebih dahulu untuk menentukan mood.
Tapi sayangnya, Carlos terlihat hanya membuang-buang tenaga untuk memikirkan hal yang tidak penting karena setelah sore menjelang Ayahnya yang sejak tadi murung menghampiri Ira dan memintnya untuk membuat makan malam.
Carlos telah berfikir bahwa malam ini adalah hari terakhirnya ketika ayahnya meminta seorang Emersyn yang angkuh untuk memasak bagi mereka yang rendahan tetapi hal mengejutkan terjadi, Ira yang masih berdiri didepan perangkap Serigala Langit menganggukan kepalanya, menyuruh Djordan untuk mempersiapkan semua bahan makanan yang akan dia masak.