I Change The Genre From Romance To Fantasy

I Change The Genre From Romance To Fantasy
Episode 6



****


Beberapa minggu berlalu sejak surat dikirim dari istana kekaisaran, saat ini aku sedang duduk didepan dokumen bisnis yang sedang dikerjakan oleh Ira. "Semakin banyak aku belajar, semakin banyak pula aku menyadari bahwa wanita ini sangat jahat." Didepan mataku banyak dokumen tentang perdagangan ilegal yang harus ditandatangani. "Sial, ini tidak ada habisnya."


Sudah setahun juga lamanya Ira yang baru mengambil alih bisnis gelap miliki Ira yang lama.


Sebelumnya Ira tidak langsung menangani bisnis karena harus mengurus masalah internal yang paling beresiko terlebih dahulu dan baru 1 tahun kemudian dia mulai merapikan tugas yang lain setelah meyelesaikan apa yang perlu dia kerjakan terlebih dahulu. "Hahh ... Mengorganisirkan ini sangat membosankan." Dari yang dia ingat, sampai akhir novel tidak membahas apapaun mengenai bisnis ilegal yang dimiliki oleh Ira sampai cerita taman jadi Ira yang sekarang cukup kerepotan.


"Untung dulu aku belajar banyak hal bisnis dari Komet." Kertas yang telahku selesaikan disisipkan dibawah meja. "Uugh- aku tidak suka pekerjaan kantor," kataku leleah.


Tok tok...


"Masuk."


Butler berusia 60 tahun masuk kedalam ruang sembari membawa gelas minuman di atas meja dorong mewah. "Nona ini waktu istirahat anda, saya telah menyiapkan kopi hitam yang ada minta."


"Oh, letakan saja disana." Tunjuk pada sisi meja disebelah lembaran dokumen. Setelah cangkir kopi diletakan butler tua itu berdiri disana melihat Ira yang masih sibuk dengan lembaran dokumen, karena merasa jengkel dengan tatapannya pada akhirnya aku melihat butler itu. "Apa?,"tanyaku.


"Nona... Apakah anda berencana untuk mengambil libur panjang musim ini?," tanyanya.


"Begitulah," jawabku sambil mengoreksi laporan bisnis tambang. "Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan." Tanganku masih berkutat dengan pena hitam diatas kertas tanpa ada jeda.


Butler memiliki wajah khwatir, terlihat seperti seseorang yang cemas akan suatu hal namun tidak bisa mengungkapkannya.


Ira yang melihat itu memutuskan untuk bertanya. "Jika kamu memiliki sesuatu untuk ditanyakan katakan saja, aku sangat sibuk."


"Begini Nona, perihal...." Butler itu melipat tangannya, menatap mata Ira yang memandangnya dan berbicara raga. "Ini...."


"Apa? Katakan saja langsung jangan berbelit-belit, jangan membuatku jengkelkan." Kataku terus terang.


"Huhh...." Aku melihat pandang butler itu kembali seperti semula. "Ini perihal sikap anda yang berubah, saya tidak tahu apa yang terjadi tapi...."


Tak.


Aku meletakan pena kasar.


"Apakah aku dilarang untuk mengubah sikapku?."


"Tidak! Anda tidak dilarang untuk itu hanya saja- hanya saja, sudah hampir satu tahun anda tidak memberi saya pekerjaan."


"Hem???."


"Saya tahu bahwa anda menyembunyikan banyak kemampuan anda sejak anda tiba-tiba sakit dua tahun yang lalu."


"...." Dalam ingatanku aku memang sengaja menyembunyikan beberapa kemampuan Ira yang sesungguhnya saat diadakan uji evaluasi tingkat kemampuan untuk menyamarkan keberadaanku nantinya. "Tsk, dia orang yang tahu banyak hal," gumamku kesal. Meski sudah berhati-hati nyatanya masih ada yang memperhatikan.


Meski kesal aku membiarkan perkataan Gilbert begitu saja karena di dalam novel, pengarang juga mendeskripsikan bahwa Ira menyembunyikan banyak kekuatan hebat dalam dirinya, dikatakan bahwa dia sengaja melakukan itu untuk melindungi dirinya sendiri dari serangan tak terduga. Untuk sekarang mari berpura-pura.


"Lalu kau mau aku melakukan apa dengan itu?."


Wajah butler seketika memucat. "N-nona...!" Dia berlutut dibawah lantai dengan kepala yang menunduk kebawah. "J-jika Saya Melakukan Sebuah Kesalahan Tolong Ampuni Saya! Atau Hukum Saya Dengan Berat! Saya Tidak Masalah Asalkan Anda Tidak Membuang Saya!!!," Ucapnya panik.


"Fyuhh... Cukup menyenangkan menjadi orang jahat." Diatas balkon kamar, aku mengambil sebatang rokok khusus dari tembakau berkualitas, menyalakan api lalu menyesapnya perlahan. "Fhhaaa...."


Aku suka berada diatas balkon, selain memberikan pemandangan taman yang indah, balkon kamarku juga memberikan pemandangan pemukiman masyarakat menengah yang berkilau oleh cahaya obor dari pelaksanaan upacara yang akan segera dilaksanakan beberapa bulan lagi. "Kerajaan ini memang seperti namanya."


Tok tok tok...


Lagi-lagi pintu diketuk.


Ini dia....


"Masuk."


"Nonaa...." Gilbert masuk kedalam kamar setelah mendapat izin. Wajahnya yang berkeriput masih tampak sama seperti sebelumnya. "Kemari," perintahku.


Dia dengan patuh datang dan berdiri dibelakangku yang masih memandang cahaya pemukiman. "Jika kamu tidak ingin dibuang maka dengarkan aku baik-baik."


"Baik Nona."


Merasa puas dengan jawabnya aku membalikan tubuhku untuk menghadap kearahnya. "Selama tiga bulan kedepan..., Aku tidak akan ada berada di wilayah Emersyn."


"Kemana anda akan pergi?."


"Kamu tidak perlu tahu, yang jelas katakan pada Patriak Emersyn untuk tidak mencariku selama tiga bulan, sampaikan saja padanya bahwa aku sedang berlibur untuk menenangkan diri." Aku menyilahkan tangan didada ketika pandanganku beralih ke kanan. "Bilang pada mereka yang lain untuk tidak mencariku atau melakukan hal bodoh untuk menggangguku pada masa yang aku tentukan."


Setelah mengatakan itu pandangan tajamku kembali kuarahkan padanya. "Jangan membuatku jengkel."


Gilbert menunduk sopan. "Saya akan melakukan apa yang anda perintahkan."


"Kau boleh pergi sekarang."


"Selamat Malam Nona Emersyn," ucapnya yang kemudian keluar dari kamar.


Sampai akhirpun aku tidak membalas ucapannya. Setelah memastikan tidak ada satupun orang didekat kamarku aku kembali menatap alun-alun kota wilayah Emersyn.


"Aku akan merindukan pemandangan ini." Dari dalam sakuku, aku mengambil selembar peta khusus wilayah kerajaan, dari lapisan tipis kertas peta aliran sihir membuat gambar di dalam peta tampak hidup. "Aku suka PETA ini." Disana Ira mulai menyentuh sebuah gambar wilayah pedesaan.


Meski sudah kesana beberapa kali nayatanya, Ira masih mendapat kesulitan ketika berkunjung kesana hingga akhirnya barang yang dia tunggu-tunggu dari pasar gelap akhirnya muncul. "Hemm... Coba kita lihat Moskoo... Ah! Ini dia." Ketika Ira menyentuh nama sebuah wilayah dalam peta gambar seketika membesar.


"Ini dia." Setelah mendapatkan tempat yang ingin dituju aku melingkari wilayah itu. "Hemm... Jaraknya masih terlalu jauh untuk mengunakan gelang teleportasi." Aku melihat kedua gelang di masing-masing pergelangan tanganku. "Well... Terkadang barang baguspun memiliki kekurangan."


Setelah menutup selembar peta, aku masuk kedalam kamarku, menutup pintu balkon dan berbaring ditempat tidur. Aku sangat bersyukur memiliki memiliki gelang dari negara Mlral yang begitu luar biasa.


Menurut novel kerajaan Mlral adalah negara penghasil alat-alat sihir berkualitas terbaik. Kerajaan itu sangat kecil dan berada di pelosok bagian utara tempat yang sangat sulit dijangkau oleh manusia oleh sebab itu barang-barang yang dijual selalu bernilai jual tinggi dan sulit didapat walau sudah memesan selama bertahun-tahun.


Dan kebetukan atau takdir aku memiliki lima gelang dari negara Mlral yang memiliki berbagai fungsi yang berbeda. Satu gelang yang saat ini aku pakai sangat berbeda dengan yang lain karena memang terlihat seperti gelang batu Giok dibumi.


Gelang batu hijau itu memiliki sihir yang mampu mengenyangkan seseorang walaupun tidak mengonsumsi apapun selama berhari-hari lamanya dan barang itupula nantinya akan menjadi salah satu barang yang paling dicari didunia ketika perang berlangsung lama.


"Aku benar-benar beruntung...," Senandungku ketika melihat gelang yang satunya lagi, kali ini ditangan kiriku ada gelang emas dengan hiasan batu kecil berwarna biru bulat ditengahnya. Gelang itu memiliki kemampuan untuk berteleportasi dalam radius 1km dimanapun sesuai keinginan penggunanya selama itu masih dalam radius 1km namun memiliki batas pengunaan, setelah cukup lama melihat gelang, aku menjatuhkan tanganku terlentang dikasur empuk, menutup mata lalu terlelap dalam tidur.