
"APA-APAAN INI!!! MEREKA MENGIRIM BARANGNYA SANGAT LAMA DAN SEKARANG MEMINTAKU UNTUK DATANG LANGSUNG?." Suara keras orang berteriak terdengar dari dalam rumah berpapan kayu.
BRAK-.
Pintu dibuka kasar.
"BAJINGAN!- BERANI SEKALI KAU-."
"...." Aku menatap pria besar yang juga menatapku dari depan pintu.
"A!-anda!."
Dia adalah Djordan Del Podo, usianya masih 45 tahun, pria bertubuh kekar seperti atlet gulat dengan janggut panjang diwajah dan botak ditengah kepala. Rambutnya pirang seperti tembaga dan bergelombang namun tidak terlalu keriting. Mau bagaimanapun aku melihat Ayah dan Anak ini, mereka terlihat seperti tidak memiliki hubungan darah, batinku.
Pria yang baru saja muncul adalah salah satu dari karakter sampingan dalam novel yang memiliki peran penting sebagai penyuplai kuda untuk peperangan dimasa depan didalam novel.
"Kapan anda datang?!." Djordan mengabaikan kusir kuda dan mendatangiku segera dengan wajah yang pucat.
"Aku baru tiba bersamaan dengan paman baik ini," jawabku singkat.
"Huh??? Heinz kau tidak melakukan apapun padanyakan?."
"Tentu saja tidak, kau pikir aku ini pria macam apa?," Gerutu kusir kuda. "Mana bayaranku, aku harus mengantar banyak barangmu lagi jadi berikan uangku segera!," Katanya tidak sabar.
"Bajingan ini...." Djordan melirik Ira sebentar.
"Hahh... Aku akan ambilkan uang, tunggu disini seben-."
"Paman kira-kira berapa biaya untuk gandum ini dan seluruh gandum yang akan diantar?," tanyaku sebelum kusir berbicara.
"Nona anda tidak perlu-."
"Satu keping koin Silver dan Empat koin Perunggu Nona," jawab kusir kuda.
"HEI KAU-!."
"Sudah-sudah...." Aku merogoh saku celanaku untuk mengambil dompet kecil tipis yang didalamnya berisi jutaan keping koin; koin Emas, koin Silver, koin Perak, koin Perunggu, dan juga beberapa ribu biji emas seperti butiran biji jagung dengan nilai yang sangat rendah.
"Aku akan memberikan tiga koin emas karena telah mengantarku dengan selamat."
"Benarkah?!! Saya sangat berterima kasih Nonaaaa..!," Ucapnya bahagia.
"Nona itu kebanyakan-."
"Uang-uangku apa yang kau khawatirkan," kataku jengkel.
"Umm... Maafkan saya," ucapnya menunduk.
Melihat itu aku menghela nafas. "Huhh... Apa kau tidak akan menawariku masuk?," Tanyaku.
"Ah! Maafkan Saya!, Carlos! Cepat Bawa Nona Ira Masuk Kedalam," katanya panik pada putranya.
"Hahaha... Santai saja, aku bisa masuk sendiri. Kalau begitu sampai bertemu lagi paman," kataku sopan pada kusir kuda yang masih kagum melihat 3 keping koin emas ditangannya.
"... Kalau begitu aku masuk duluan." Merasa jengkel karena diabaikan aku langsung masuk kedalam rumah, melewati pemilik peternakan dan putranya lalu duduk di sofa empuk didekat jendela yang mengarah langsung pada kandang kuda disebelahnya.
Tak berapa lama berlangsung Djordan dan putranya Carlos masuk bersamaan. Djordan duduk didepan sofa sambil membawa dokumen yang sempat dia ambil di meja kerjanya. "Saya tidak tahu anda akan datang jadi saya belum menyelesaikan semua laporan saya minta maaf!," Ucapnya menyesal.
"Santai saja, lagi pula aku yang salah karena datang ketempat ini tanpa bilang-bilang sebelumnya."
Djordan menarik nafasnya dalam-dalam, rasa gugupnya perlahan mulai redah setelah mendapat jawaban yang pasti.
"Ayah siapa nona muda ini?," Tanya Carlos binggung.
"Apa! Kau tidak mengenalnya?!."
Carlos mengelengkan kepalanya. "Aku tidak kenal, siapa dia Ayah?."
"Pppft- putramu masih sama seperti dulu, dia tidak peka," kataku.
"Nak... Kamu bisa melupakan banyak hal tapi!... Melupakan Nona Yang Sudah Memberimu Surat Masuk Keakademi Sihir Adalah Tindakan Yang Sangat Tidak Sopan!!!," Ucapnya tegas lalu menundukkan kepala dilantai kearahku. "Saya minta maaf atas perbuatan lancang putra saya nona Ira Emersyn," katanya mengumandangkan nama belakang Ira.
"!!!!!!!!"
Carlos yang mendengar nama Emersyn menjadi merinding disekujur tubuh. Dia mengikuti Ayahnya untuk menundukkan kepala diatas lantai sambil berkata. "TOLONG MAAFKAN KEBODOHAN SAYA... SAYA SANGAT BODOH KARENA MELUPAKAN ORANG YANG BEGITU BAIK PADA SAYA!!!," Teriaknya.
"Kalian terlalu berlebihan," kataku santai, kemudian menyilahkan kaki sambil bersandar. "Bukan salahmu tidak mengenaliku karena penyamaranku selalu berubah-ubah."
"Tapi tetap saja-."
"Lupakan itu dan santai saja... Aku kemari untuk berlibur."
"Berlibur?." Djordan mengangkat kepalanya lalu berlutut melihat Ira. "Apa anda akan berada disini cukup lama?."
"Begitulah..., Ada sesuatu yang harus aku lakukan... Libur hanyalah alasanku untuk datang kesini dan... Cepat berdiri dan duduk yang normal, sangat tidak nyaman melihat kalian berdua seperti itu."
Djordan dan putranya Carlos berdiri lalu duduk di sofa berdampingan. "Ayah... Aku gugup!," bisik Carlos. "Aku juga sama nak."
"Bagaimana dengan sekolahmu," tanyaku pada Carlos.
"Ahhh! Saya baik-baik saja...! Saya bekerja sangat keras sehingga saya tidak akan mempermalukan anda dan keluarga Emersyn!."
".... Bagus... Lalu bagaimana denganmu, apakah kamu melakukan pekerjaan dengan baik?," Tanyaku pada Djordan. "Saya melakukan yang terbaik!," Jawabnya singkat seperti yang kuduga.
"Bagaimana dengan Croco?."
"Croco???."
"Croco?."
"Yah, bagaimana dengan Crocoku?."
"Emmp... Croco....?."
"Huhh... Buaya yang ada disugai didepan rumahmu."
"OOOHH!, JADI ITU CROCOO... Buaya itu baik-baik saja, tapi aku mendapat sedikit masalah karena dia."
"Masalah apa?."
"Buaya itu sering memangsa Ayam-ayamku dan menyerang beberapa orang yang ingin mengambil ikan, dia bahkan hampir menerkam kakiku saat memandikan kuda." Ada rasa tertekan dan amarah dalam ekspresi Djordan saat mengatakan itu.
"Hemm... Sejak awal dia memang bukan buaya yang jinak pada kalian jadi wajar saja dia akan menyerang manusia lain termasuk kamu."
"Jadi begitu...." Mengenang masalalu Djordan mengingat bagaimana semua hal terbalik 180 derajat ketika dia pertama kali bertemu dengan Ira Elyse Emersyn.