
"No-nona Ira selamat pagi! Saya sedang memberi makan ayam saya."
"Aku tahu."
Dia pikir aku tidak lihat itu?. Aku memutuskan untuk tidak menakuti Djordan dengan berjalan melewatinya menuju kandang kurungan.
GRRAAAAG-
Serigala didalamnya masih mengeram kearahku, menabrakan keningnya Kedinding besi yang berkarat.
"Apa kau sudah memberinya makan?."
"Sudah, tapi dia hampir mengigitku akan ketika memberikan daging, dasar mahluk tidak tahu diri."
"Memangnya apa yang kau harapkan pada hewan liar dasar bodoh." Tanganku mengambil gumpalan daging dari ember lalu melemparkan daging kedalam.
Dalam sekejap potongan daging dilahap rakus oleh serigala itu. Hem... Jika aku bisa menjinkna mahluk ini maka kedepanya akan mudah untuk menjaga keamanan peternakan.
"Ayah...!"
"Yaa!."
"Ada yang mencarimu...."
"Nona aku pergi dulu."
"Bersihkan tubuhmu duluan, siapa tahu yang datang itu seorang penyewa."
"Baik Nona." Djordan menuruti perkataan Ira dan langsung menuju kamar mandi yang tidak jauh dari rumahnya.
Gggrrr-
Aku melirik serigala yang mengeram kearahku. "Makan perlahan, aku tidak akan merebutnya darimu." Setelah selesai memberi makan serigala dalam kurungan aku berjalan menuju tepi danau sambil membawakan ember berisikan daging.
Aku melemparkan dua sampai lima gumpalan daging kedalam danau untuk memanggil biaya besar yang belum kulihat pagi ini.
Bergelombang.
Air danau yang sangat jerni mulai bergelombang, menunjukan tubuh reptil besar berwarna hijau gelap yang perlahan muncul dari dalam air.
"Kamu disini." Sisa daging dalam ember kutuangkan ditanah. "Selamat makan croco," kataku menyaksikan buaya besar itu melahap semua daging dalam wanktu singkat.
Melirik.
Sepertinya benar-benar ada tamu didepan. Aku merasakan keberadaan yang cukup kuat dari arah rumah pemilik peternakan, itu adalah aura yang dulu pernah kurasakan ketika menghadiri acara ulang tahun Putra Mahkota Aslan.
"Pffft- jadi memang benar dia yang akan menyewa semua kudaku."
Lebih baik aku tidak ikut campur dulu dalam beberapa masalah untuk saat ini.
Dibawah kakiku buaya besar itu sedang menikmati santapannya ketika aku melihat lurus kearah danau yang tenang dan memutuskan untuk bersandar dipunggung buaya yang sedang makan itu. "Mari rehat sejenak Croco... Masih banyak waktu untuk memulai lebih awal," kataku menutup mata.
***
Didalam sebuah ruangan khusus Djordan duduk sopan dihadapan pelanggannya yang terlihat seperti bangsawan tinggi. "Eh? Anda membutuhkan Seribu Kuda untuk perang?."
"Benar, seperti yang anda tahu kuda anda selalu menjadi yang terbaik untuk Medan pertempuran jadi kali ini kami ingin seribu kuda jantan yang siap untuk berperang."
"Itu... Saya tidak bisa." Djordan menundukkan kepalanya sesopan mungkin. "Saat ini kami tidak bisa menyediakan seribu kuda seperti yang anda minta."
"Kenapa?."
"Itu karena beberapa hari yang lalu peternakan saya diserang oleh Serigala Langit yang memangsa hampir seperempat kuda yang kami miliki."
"Serigala Langit-."
"Itu situasi yang tidak baik." Pria berpakaian rapi disebelah pelayan mulai berbicara. "Jika situasinya memang begitu maka kami tidak punya pilihan selain mengambil yang tersisa."
Pria berpakaian rapi yang wajahnya tertutupi topeng putih tersenyum mengeluarkan kertas kuitansi yang diletakan diatas mejanya. "Tulis nominalnya dan kami akan mengirim seseorang untuk mengambil kudanya."
"Saya mengerti." Djordan mengambil kertas lalu menyelipkannya di bukunya.
Mereka bertiga berdiri lalu saling berjabatan tangan. "Kalau begitu kami akan tunggu kuda hebat dari anda."
"Saya mengerti tuan." Djirdan menudukan kepalanya sangat sopan pada dua orang itu lalu menyaksikan mereka keluar mengunakan kereta kuda mewah mereka.
"Apa itu utusan dari kediaman Duke Rabatra?."
"AAAARG-."
Djordan berteriak sangat keras ketika Ira tiba-tiba saja berbicara dari belakang punggungnya.
DEGDEGDEG....
"HU-HUAAAA... ANDA MENGEKUTKANKU!."
"Iya... Itu dari kediaman Duke Rabatra."
"Jadi itu mereka." Mataku tertuju pada kereta kuda mewah yang sudah jauh daru pandangan. Yang pakai topeng pasti Adipati Muda ElRian Rabatra. Aku tersenyum melihat itu, rencana yang telah aku susun berjalan sesuai dengan alur novel.
"Kamu bilang padanyakan kalau kuda kita tidak sampai seribu ekor."
"Benar, aku bilang sesuai dengan yang nona katakan."
"Bagus... Aku akan mempersiapkan lima ratus kuda jadi kamu fokus saja menyiapkan laporan administrasi gandum."
"Saya mengerti." Selesai dari situ aku kembali ketepi danau untuk berguling-guling lagi didekat buaya yang masih membuka muncungnya keatas. "Croco mari kita nikmati masa indah kita di-."
NEINGG...
Suara kuda terdengar dari arah belakang kandang.
BRAK.
Pintu besar yang menutup kandang terbuka paksa lebar-lebar ketika kuda besar berwarna hitam legam menendang mengunakan kaki belakangnya.
"Nagi?."
Kuda hitam ku yang manis datang kearahku dengan kecepatan penuh, membuat tanah berguncang dan debu beterbangan diudara.
"Nagi pelan-pelan sa-."
NEIINGG-
Kuku kakinya yang tebal menghantam tanah tempat buaya besar yang berjemur.
BRKBRAKBRAK-
Hantaman itu diarahkan pada buaya untuk mengusirnya dari sisiku.
"Hei... kamu tidak boleh seperti itu pada temanmu." Aku melihat Croco masuk kedalam air karena gertakan dari Nagi telah melukai kulitnya.
Kuda itu tidak mendengarkan dan hanya berteriak saja, setelah puas mengusir Croco, Nagi duduk di sebelahku. Kuda besar itu terlihat seperti cemburu karena tuanya memperhatikan mahluk lain selain dirinya.
"Sudah... Sudah... Jangan cemburu begitu...." Aku memberi ciuman dikenang kuda hitam dan mengelusnya supaya dia tenang.
"Huhh...." Kembali keadaan menjadi tenang aku memejamkan mataku lagi ditepi danau, mengabaikan fakta bahwa perutku sedang keroncongan. Mari kita sarapan malam nanti, batinku.
***
Di sebuah kereta kuda yang tampak mewah dua orang duduk dalam diam larut akan tugas mereka masing-masing.
"Tuan muda ElRian.... Apakah anda yakin kalau kita hanya akan mengambil setengah kuda saja."
"Begitulah."
"Mengapa?."
Pria muda bertopeng putih tersenyum itu meletakan kertas yang dia baca disebelah kanannya lalu membuka topeng putih itu.
Aura itu... Aku selalu mengenal keberadaan yang menganggu itu walau sangat samar....
"Ira Emersyn...."
"Hum?!, Kenapa anda menyebutkan nama wanita gila itu?," Merinding langsung menjalar di sekujur tubuh pelayan.
"Tidak ada, untuk penjemputan biarkan aku saja yang akan melakukannya, jangan suruh orang lain untuk melakukan itu."
"Saya mengerti tuan muda."
"...."
Aku memang tidak melihatnya tapi aku yakin dia ada dipeternakan itu sedang melihat kami... Kali ini apa yang j-Lang itu pikirkan. ElRian mencengkram topeng ditangannya hingga remuk. Dendam dalam dirinya masih menyala-nyala pada sosok wanita yang telah memberi luka besar ditubuhnya.
"HACUH- ... Ahh... Aku merindukanmu juga...," Kataku sambil menyeka hidung. WUSSS-
Udara dingin langsung menerpa rambut pirang ku yang kubiarkan tergerai ketika keluar dari rumah.
"Pagi yang segar."
Kakiku berjalan menuju tempat kurungan kandang yang berada disebalah kandang ayam dekat tepi sungai. Disana aku melihat Djordan memberi makan ayamnya dengan oenuh kasih sayang.
"Makanlah Ayam-ayamku... Cepatlah gemuk dan masuk kedalam perutk-"
"Kamu mengatakan sesuatu yang menyeramkan."
"Aaarg-." Djordan melemparkan pakan keatas sehingga pakan itu terjatuh berserakan di tanah.