
***
Kelatk... kelatk... Keletk...
"AYOOO... YANG INGIN MENUJU WILAYAH MAROKO! INI KERETA TERAKHIR!!," Jerit kusir kuda.
"Permisi."
"Yah? Eh! Nona Ira, apa anda akan kemaroko lagi setelah sekian lama?."
"Yah, begitulah." Dia adalah kusir kuda yang aku kenal dan juga kusir kuda langananku setiap kali menuju Maroko. *Bukan negara Maroko oke*.
Aku langung naik tanpa pikir panjang, didalam ada beberapa orang yang duduk bersebelahan denganku, aku tidak keberatan karena itu juga akan membantuku untuk disamarkan dan juga berkat penampilanku yang berbeda masalah kecurigaan sudah teratasi. "Fyuhh... Sekarang jadi semakin ketat saja," gumamku melepas penutup kepala.
"Apa anda juga mendapat kendala keberangkatan?," Tanya seorang ibu muda yang sedang mengendong bayinya.
"Yah... Akhir-akhir ini pihak wilayah memperketat izin warganya untuk keluar wilayah," kataku pura-pura cemberut.
"Aku melihat...."
"Itu tidak terlalu berlebihan menurutku," seorang kakek tua yang duduk didepanku berbicara. "Kita semua tahukan kalau akhir-akhir ini desas-desus perang semakin marak."
"Ahh... Aku juga dengar itu."
"Pemilik wilayah melarang warga diwilayahnya untuk keluar kota hanya semata untuk melindungi kita, menurutku itu adalah hal yang baik karena kita memiliki pemimpin wilayah yang perduli."
"Anda ada benarnya... Sangat bersyukur pemimpin wilayah kita adalah Patriak Emersyn walau terkadang mereka menyeramkan!."
"Assist- kamu tidak bisa menyebutkan nama keluarga bangsawan begitu saja," tegur laki-laki parubbaya disebelah ibu muda.
"...."
Melihat mereka berbicara aku mengingat kembali isi novel dimana posisi bagian yang saat ini adalah bagian awal peperangan yang akan segera terjadi. Perang masih belum terjadi tapi keluarga Emersyn sudah melakukan persiapan lebih dulu rupanya... Kalau dipikir-pikir perang didalam novel dikatakan sangat lama karena banyaknya kerajaan yang berpartisipasi dalam perang.
"Tsk, inikan buka battle game," gumamku.
"Apa anda mengatakan sesuatu?."
"Tidak ada," kataku sambil tersenyum.
****
Klotka... Klotak.... Klotak...
Setelah Dua Minggu perjalanan akhirnya kami tiba di wilayah Maroko, wilayah Maroko termasuk kedalam wilayah yang diawasi oleh Duke Rabatra karena itu. Setelah aku membeli tanah raksasa diwilayah Maroko, aku mulai beberapa kali mampir ketempat ini untuk bertemu dengan seseorang yang aku pekerjakan.
"Kita sudah sampai Nona Ira."
"Bagus...." Didalam kereta kuda hanya ada aku saja karena penumpang yang lainnya sudah turun duluan sebelum mencapai wilayah Maroko, untung saja kusir kuda yang aku kenal adalah orang asli asal Maroko yang tinggal di desa. "Turunkan aku disini saja."
Kereta kuda berhenti disebuah ladang savana yang luas, dengan danau biru luas terbentang ratusan kilometer. "Huhh... Segar sekali."
"Sepertinya anda akan kepeternakan... Apa anda yakin tidak mau saya antar?."
"Nah... Terakhir kali kamu mengantarku kesana kereta kudamu hampir jatuh kejurang."
"Hehehe... Itu karena saya tidak hati-hati dulu."
"Alasanmu saja." Aku mengeluarkan sekantung yang perunggu lalu memberikannya aoada kusir kuda. "Ini biaya perjalanan."
"Ini terlalu banyak nona." Kusir yang melihat tumpukan uang merasa tidak nyaman.
"Apa? Kebanyakan..?," Wajahku menyelidik kearah kusir kuda yang bibirnya sedikit terangkat keatas. "Selama ini aku selalu memberimu dengan jumlah itu dan tidak pernah mengeluh tapi kenapa hari ini kau mengeluh," kataku jengkel.
"Hehehe... Saya hanya bercanda... Bercanda...," Katanya sambil tertawa.
Bajingan ini... Dia tidak akan bisa tertawa seperti ini jika tahu siapa aku ini... Aku memutuskan untuk tidak mengatakan identitasku padanya karena menganggap itu akan merepotkan.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Aku melambaikan tanganku ketika kereta kuda pergi menjauh dari daerah hutan. Tempat yang akan kutuju adalah wilayah pedalaman Maroko dimana dibelakang hutan yang sangat lebat ada sebuah peternakan kuda yang aku danai sejak aku mengambil alih bisnis Ira yang lama.
Aku menghela nafas melihat hutan lebat itu untuk yang kelima kalinya. "Hahh... Jarak yang kubutuhkan untuk mengunakan gelang masih belum memadai." Aku tidak mengunakan kekuatan dari gelang teleportasi saat ini bukan karena jarak yang belum memadai, tapi karena merasa sayang jika mengunakannya untuk mempersingkat jarak tempuh. "Gelang ini memiliki masa pakai jadi aku harus mengunakannya hati-hati."
Aku mulai berjalan masuk kedalam hutan yang semakin penuh dengan serangga, hewan melata dan hewan buas. "Sialan, walau sudah beberapa kali lewat tetap saja tempat ini masih menjengkelkan." Kakiku yang melangkah beberapa meter tiba-tiba tersangkut di dalam lumpur. "Uungh-, aku lupa dengan lumpur ini," gerutuku.
[ 01.08.24. ]
"AAAARG- F@ck!, ini menjengkelkann...," teriakku frustasi. Hampir satu jam lamanya aku sejak aku masuk kedalam hutan belantara yang dipenuhi ranjau alam disegela penjuru hutan. "Sial... Aku lelah." Kakiku telah mencapai batasnya sehingga aku terpaksa duduk disebelah pohon raksasa. "Uhg- aku ingin sekali mengunakan gelang ini tapi nanti akan mubazir... Negara MIral tidak memproduksi barang ini sembarangan."
Setelah satu jam istirahat aku memutuskan untuk berjalan lagi, walau berat dan penuh rintangan aku tidak menyerah hingga akhirnya ketika matahari akan terbenam aku berhasil keluar dari hutan. "Sialan.... Butuh 4 jamm... Huhh... Untung saja mental bajaku sudah terlatih dikehidupan lama, kalau tidak aku pasti sudah menyerah dan mengunakan gelang karena malas."
Meski sudah keluar dari hutan nyatanya dibutuh setengah jam lagi bagiku untuk sampai ketempat tujuan tapi untungnya dari sini aku sudah bisa bernafas dengan lega karena sebuah desa tersembunyi sudah ada didepan mataku. "Aku... Akan beristirahat sejenak untuk mengembalikan tenagaku."
Meski tubuhku memiliki energi sihir yang kuat, aku memutuskan untuk menabung energi sihir sebanyak mungkin karena duniaku sekarang sangat berbeda dengan dibumi. Jika dibumi aku masih bisa mendapat bantuan dari ramuan penambah energi tapi disini hal semacam itu tidak ada karena segalanya masih sangat klasik.
Aku yang telah terbiasa menerima hal instan dibumi setelah evolusi manusia dapat dipastikan sudah tidak terbiasa lagi dengan hal-hal manual didunia novel ini. "Permisi," sapaku pada seorang wanita paru baya cantik yang sedang mengambil kain dijemuran.
"Yah?."
"Apakah aku bisa menginap malam ini dirumah anda?," tanyaku.
"Apakah anda orang luar?."
"Begitulah..., Saya sudah sangat kelelahan karena berjalan selama berjam-jam... Kaki saya rasanya hampir patah!."
"Hahaha... Sepertinya anda memang orang luar, yah, memang hari ini tidak akan ada kusir kuda yang lewat dari hutan karena festival... Anda sangat kasihan mari mampir sejenak dirumahku." Wanita paru baya itu sangat ramah dia cukup ramah untuk menolongku yang merupakan orang asing. "Aku mengucapkan terima kasih duluan pada anda."
"Tidak masalah...," Katanya sambil tersenyum.
Wanita didepanku saat ini adalah Naira Agata seorang janda baik hati yang telah bertemu dengan penampilanku yang berbeda setiap kali berkunjung ke Maroko.
Karena dia sangat baik makanya aku selalu berhenti sejenak ditempatnya untuk beristirahat beberapa kali hingga cukup percaya bahwa dia tidak akan melukaiku.