
****
Kembali ke masa kini, Djordan, Carlos duduk saling berhadapan dengan Ira yang duduk di sofa dekat jendela. "Bagaimana dengan sekolahmu?," Tanya Ira pada Carlos.
"Ah! Saya baik-baik saja, berkat bantuan yang anda berikan saya mendapat perlakuan baik dari para guru dan murid diakademi," jawabnya bersemangat.
Aku tersenyum. "Bagus, aku tidak sabar untuk melihat hasil kerja kerasmu di masadepan."
Mungkin semua orang akan menganggap kalian hanyalah karakter remah tetapi bagiku kalian adalah karakter paling penting kedua setelah protagonis, batinku.
Dari novel, dua karakter didepanku memiliki peran pendukung penting seperti yang aku katakan sebelumnya. Sang Ayah memiliki peranan penyedia kuda terbaik dikala perang, sosok pria yang menyediakan 1000 kuda jantan untuk berperang. Sedangkan sang anak memiliki peran yang cukup penting disebalah toko utama pria kedua yang merupakan kakak dari protagonis wanita.
Carlos Del Podo, anak jenius yang memiliki kemampuan penyembuhan paling hebat di masa peperangan yang akan datang. Selama berperang Carlos banyak memberikan kontribusi sebagai penyihir kelas atas yang menjadi incaran negara-negara yang sedang berperang karena kekuatan penyembuhannya yang dikatakan mampu menyatukan kembali tubuh yang terputus sekalipun.
"...."
"Apa ada yang ingin anda sampaikan?," Tanya Carlos pelan.
"Nahhh...."
Anak ini nantinya akan menjadi ahli sihir penyembuhan terhebat tapi kenapa dia malah sakit-sakitan dan juga.... Aku melirik Djordan disebalah Carlos. Bajingan ini juga mau bunuh diri tapi kenapa dia masih hidup sampai akhir cerita?.
"Hemm...."
"Glupp...."
Djordan dan Carlos menelan ludah mereka sama-sama karena merasa gugup ketika Ira diam lagi.
"Djordan."
"YAH!."
"Alasan aku datang kemari adalah karena aku akan membantumu untuk mempersiapkan kuda untuk perang."
"Hum? Apakah akan ada perang?."
"Apa kamu tidak dengar kabar akhir-akhir ini?," Tanyaku sambil menaikan alis.
"Umm... Saya tidak kekota akhir-akhir ini jadi tidak tahu apa yang terjadi," jawbanya.
"HAhhh...." Aku bernafas berat. Bagaimana bisa dia tidak tahu kalau akan ada perang ketika dia adalah penyedia kuda khusus berperang. Aku kembali melihat mereka dalam diam, menatap tajam kearah Djordan seolah akan menelannya.
"S-SAYA PUNYA ALASAN AKAN HAL ITU!, SAYA TIDAK BISA KEKOTA KARENA...."
"Karena?."
"KARENA AKHIR-AKHIR INI ADA SEGEROMBOLAN SERIGALA YANG MEMANGSA KUDA!!!."
"Serigala?."
"Benar yang Ayah katakan!, Anda tahukan tentang Serigala Langit!, Mereka telah menampakan diri dihutan dan mengincar kuda-kuda kita setiap hari makanya Ayah selalu berjaga di sini sampai Ayah hampir dimangsa oleh hewan itu!," Kata Carlos menjelaskan situasi.
"Benar juga!." Djordan membuka bajunya, menampakan tubuh besar berotot yang diselubungi bulu lebat. "Apakah anda melihat ini!." Tunjuknya pada luka cakar besar dibagian pinggang. "Mahluk itu hampir membunuhku saat berusaha merebut kuda yang dia tangkap."
Melihat luka dipingganhnya aku jadi teringat bagian dalam novel. "Serigala Langit...," Gumamku.
Dari yang kuingat dalam novel hanya ada beberapa mahluk yang dideskripsikan dan salah satunya adalah Serigala Langit ini, mahluk mistis yang suka hidup didaerah pegunungan. Serigala Langit Alpha dapat tumbuh 2 meter dengan bulu berwarna abu-abu yang menyatu dengan kabut mungkin itulah sebabnya Djordan yang tubuhnya lebih besar dari pria normal bisa sampai terluka.
"Baiklah aku mengerti," kataku berdiri dari sofa lalu bertanya lagi bertanya lagi. "Apa hanya itu saja luka yang kamu punya?."
"Iya... Terima kasih pada putraku lukanya tidak sampai fatal dan sudah membaik sekarang, berkat bakatnya yang hebat seperti ibunya aku akhirnya masih hidup sampai sekarang HAHAHAHA..."
"Ayah...." Wajah Carlos memerah saat ayahnya memuji kemampuannya. "Aku tidak melakukan banyak hal!," Ucapnya malu-malu.
"Kalau begitu-."
DBRAKCKRAKKKK-
BRAK... BRAK... BRAK...
"Suara apa itu?."
"AYAH KANDANGNYA!," Teriak Carlos.
"AKHIRHYA DAPAT!."
Djordan bergegas lari keluar dari rumah, meninggalkan kami didalam.
"Apa yang didapat?," Tanyaku.
"Ah itu... Ayah membuat perangkap untuk menangkap serigal yang kemarin memangsa Ayamnya makanya Ayah pasti sangat senang sekarang!." Setelah mengatakan itu, Carlos segera keluar menuju ayahnya.
"Hahh... Seharusnya aku sudah beristirahat sekarang." Meski begitu aku memutuskan untuk keluar melihat apa yang didapat karena juga penasaran dengan penampakan serigala langit yang ditakuti banyak orang. "Hemm... Sekalian melihat Nagngina juga."
Aku berjalan menunju kandang kuda yang luas disebelah rumah dimana ada seribu lebih ekor kuda disatukan dalam tempat yang sama. Kandang kuda berukuran sangat besar seperti stadion sepak bola yang terbuat dari papan kayu dengan banyak papan pemisah didalamnya. Ada lima kuda dalam setiap pembatas ketika aku melihatnya sering kali aku berfikir. "Aku masih penasaran bagaimana dia memberi makan seribu kuda ini."
Ketika aku berjalan mencari keduanya kakiku berhenti disalah satu pembatas paling sudut kandang. Disana ada satu ekor kuda jantan hitam legam berukuran sangat besar.
Aku tersenyum. "Apa kabar Nagngina?, Sepertinya kamu semakin besar saja dari terakhir kali aku melihatmu."
Mata kuda jantan itu bertemu dengan mataku yang melihatnya dari jarak 5 meter kemudian. Tiba-tiba kuda berteriak lalu menendang pintu penutup hingga melayang terpelanting kebelakang.
BRAK.
Pintu penutup terjatuh tepat 10 meter dari tempatku berdiri lalu hancur berkeping-keping.
"Hahaha... Kamu selalu bersemangat," kataku sambil gemetaran. Untung saja dia tidak menendang ku, batinku.
Kuda hitam keluar dari kandang. Lalu berjalan menuju arahku, kuda itu berputar dia kali lalu menjilat pipiku, menarik rambut kepangku kebelakang lalu melepaskannya. "Tsk, anak ini." Aku memberikan sentuhan pada keningnya lalu memeluk lehernya erat. "Aku merindukanmu juga...." Kataku manja.
Kuda hitam didepanku adalah jenis kuda hutan yang kutemukan didalam hutan Maroko ketika pertama kali mengunjungi peternakan Podo, kuda hitam yang dulunya hampir membunuhku kini menjadi jinak seperti anjing setiap kali melihatku datang.
"Nagi... Apakah kamu makan dengan benar? Apa mereka memperlakukanmu dengan baik?, Apa mereka merawat bayiku dengan baik.... Muuu-." Aku memberikan hujan ciuman pada wajah kuda yang mengibaskan ekornya.
"Cup cup cup... Anaknya Mama sudah besar uuluulu.... Mama bawa manisan untuk Nagi yang hitam manis...."
"Emp-."
Ketika aku akan mencium mulut kuda itu Carlos yang masuk kedalam kandang menatap kearahku dengan pandangan gemetar. "Ma-maaf karena mengganggu waktu berharga anda," katanya yang mundur selangkah.
"Ehem...." Aku memperbaiki posisiku. "Apa yang membuatmu kemari," tanyaku.
Carlos berhenti lalu berbalik melihatku. "Ayah menyuruhku untuk memanggil anda makanya aku kema...ri... Ma-maaf jika aku mengganggu waktu an...da...."
"Nahh... Tunjukan dimana kurungannya," kataku sambil menyembunyikan rasa malu. Sial, hampir saja aku kelepasan, batinku.
Kami berjalan melewati beberapa pembatas kandang kuda dan dari banyak pembatas ada satu tempat yang dipenuhi oleh darah yang masih terlihat segar. "Apa kuda yang ada dikandang ini yang dimakan?," Tanyaku.
"Benar, itu kuda nomor seratus lima belas, dan seratus empat belas, karena kandangnya paling dekat dengan pintu dibelakang hutan makanya diserang duluan."
"Apa Ayahmu masih menyusun kuda berdasarkan tingkat kelemahan."
"Iya," jawabnya tenang.
Aku menghela nafas pelan, berjalan menuju pintu keluar bersama kuda hitam besar yang mengikuti dari belakang. "Buang-buang waktu saja."