
Delilla muncul kembali setelah Duchess meninggal dunia akibat penyakitnya. Dia muncul seorang diri dengan sepucuk surat digenggamnya yang ditunjukan kepada Duke Eldorado. Awalnya semua orang tidak percaya tetapi setelah mengetahui kebenaranya dari mulut Duke sendiri semua orang langsung setuju akan keputusan sepihak itu.
Berkat kecantikan, kebaikan hati, dukungan dari keluarganya. Delilla masuk kedunia sosial dan diterima oleh semua orang tak terkecuali. Namun masi begitu banyak putri bangsawan yang memusuhinya karena dianggap sebagai saingan yang telah menghancurkan debut anak-anak gadis muda ketika Duke menunjukannya diacara debut para bangsawan.
Dia yang memiliki darah pelayan begitu hina bagi gadis-gadis yang telah lahir dari darah murni orang tua mereka yang sudah bangsawan sejak lahir. "Hemp... Hanya Karen dia gadis yang memiliki wajah cantik dan berasal dari keluarga kuat bukan berarti dia sederajat dengan kita." Begitulah anak-anak bangsawan mengatainya.
Sangat sulit bagi Delilla untuk diterima di dunia sosial bahkan dengan bantuan Ayahnya yang berkuasa karena semua anak perempuan sudah mulai memusuhinya dan juga dianggap sebagai perebut tunangan.
Alasannya kembali kepada kecantikannya yang lembut seperti mentari. Setiap pria yang matanya bertatapan dengan Delilla walau hanya 5 detik akan langsung melihat surga instan, membuat mereka tidak punya pilihan lain selain jatuh cinta padanya sehingga membatalkan pertunangan dengan tunangan mereka masing-masing demi mendapatkan cinta dari Delilla.
"Huhhh... Aku lelah." Delilla kembali kenyataan. Kini dia telah tiba dikantor tempat Ayahnya yang merupakan seorang Duke bekerja.
Toktoktok...
"Ayah... Apakah aku boleh masuk?."
"Tentu," kata suara dari dalam ruangan. Perlahan Delilla membuka pintu, disana seorang Duke duduk dimeja sambil mengerjakan dokumen wilayah yang dia kelola.
Delilla duduk di sofa nyaman disebalah meja kerja berwarna merah. Dia melihat Ayahnya sampai selesai bekerja dengan matanyanya yang indah. "Aku sudah selesai." Duke menyusun dokumen rapih lalu berjalan untuk duduk disebalah pitrunya.
"Sayang... Ayah ada berita buruk untukmu." Eldorado menggenggam tangan putrinya dengan penuh kasih sayang. Wajahnya yang dipenuhi keriput terlihat muram takut akan kalimat yang akan keluar dari mulutnya akan menyakiti hati putri tersayangnya itu. "Aku minta maaf." Duke memeluk putrinya ketika setetes air mata jatuh dari kelopak matanya.
"Ayah.... Ada apa?." Delilla mengelus pundak ayahnya pelan, dia tahu bahwa saat ini Duke telah menangis. "Ayah...? Coba katakan padaku, aku akan mendengarkannya untuk Ayah."
"...." Eldorado menutup matanya, dia mengigit bibirnya berharap bahwa dia lebih baik membisu tetapi tidak bisa, karena tatapan putrinya menatap hingga menembus lubuk hatinya. "Hiks... sayangku yang malang...."
"Ayah???."
"Sniff... Sniff... Putra Mahkota memutuskan untuk menunda pengumuman pertunangan kalian... Hiks."
"Kenapa?," Suara Delilla mulai bergetar.
"Apakah Putra Mahkota marah denganku!." Ada kebingungan dalam nadanya, ekspresinya mulai terganggu. "Apakah aku membuat kesalahan Ayah?!." Matanya yang indah mulai basah oleh air mata.
"TIDAK!, tentu saja tidak sayang!," Eldorado menyeka air mata dari wajah putrinya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi!- ayah yakin putra mahkota memiliki alasan kuat untuk menunda pertunangan kalian!."
"Hiks... Apakah kakak tahu akan hal ini juga?."
Eldorado menutup matanya kembali, kali ini mulutnya terasa keluh tapi tetap memberanikan diri untuk berbicara. "Benar, kakakmu mengetahui akan hal ini dan juga...."
"Dan juga?."
"APA!!!," Delilla mulai berteriak.
"BAGAIMANA BISA?!, KENAPA KAKAK MELAKULAN HAL ITU?!." Meski Delilla berteriak pada Ayahnya tetap saja kecantikanya tidak luntur sekalipun. "APA KAKAK SUDAH GILA??? KENAPA DIA MELAKULAN HAL ITU TANPA MEMBERI TAHU AKU TERLEBIH DAHULU!."
"Ini semua karena peperangan sayang."
"PEPERANGAN?, APA URUSANNYA ITU DENGAN PERTUNAGANKU?. Hiks... Kakak sudah tidak mencintaiku lagi... Hiks... HUAAAA... Kakak jahat.... Kakak jahat... Dia menghasut kekasihku.... HUAAAA....."
"S-sayang! Jangan Menangis Jangan Menangis Sayang!!!." Duke memeluk putrinya dan mencium keningnya untuk menenangkan amarahnya.
Eldorado sangat tahu betapa besarnya rasa cinta yang dimiliki putrinya pada putra mahkota yang telah berjanji untuk menjadikannya sebagai permaisuri dikekaisaran Harper. Gadis polos yang masih kekurangan kasih sayang dari semua orang rentan akan hal-hal buruk yang dapat menyakiti hatinya yang lemah lembut, seperti itulah yang dipikirkan oleh Duke Eldorado.
"HUAAAA.... KAKAK JAHAT AYAH.... MENGAPA? MENGAPA DIA MEMBUAT KEKASIHKU MEMBATALKAN PERTUNANGANKU...."
"Bukan membatalkan tapi menunda, coba pikirkan sejenak." Edorado menyeka air mata yang jatuh dipipi Delilla. "Rakyat tidak akan menerima pertunangan kalian disaat isu peperangan sedang marak sayang!.
"Dan juga kamu tahukan bahwa Putra Mahkota sedang berselisi dengan keluarga kekaisaran yang lain akibat batalnya pertunagan dengan keluarga Emersyn."
"Hiks... Kalau begitu- snif... Jika memang Emersyn masalahnya kenapa Ayah tidak mengambil tindakan! Hahh... Hah... Ayahkan... Orang yang ku—."
"Delilla...."
Dalam sekejap Delilla merasakan merinding disekujur tubuhnya untuk pertama kalinya. Ini pertama kalinya Ayah melihatku seperti itu. Ayah yang selalu dia lihat sebagai sosok baik hati sejak dia datang ke kediaman Rabatra kini terlihat menyeramkan dimatanya.
"Ayah bisa menghancurkan keluarga bangsawan manapun jika Ayah mau tapi tidak bisa untuk Emersyn."
"Hiks... Kenapa...? Ayahkan sangat kuat, hiks... Hiks... Ayah... Tolonglah kekasihku, karena mereka putra mahkota jadi sulit-."
"Karena itulah kamu harus mendengarkan arahan dari putra mahkota terlebih dahulu.... Emersyn itu berbeda dari keluarga bangsawan lainnya!." Eldorado menutup matanya erat.
Siapa yang tidak tahu akan kekuatan Emersyn dikekaisaran. Keluarga yang telah ada sejak kekaisaran didirikan terkenal bukan karena kekuatan politiknya tetapi karena kekuatan garis keturunan mereka yang telah berevolusi dari generasi ke generasi dan tidak pernah mengalami kecacatan sedikitpun.
Sial... Aku tidak bisa melakukan apa-aoa dengan itu. Semua rencana yang telah dia rencankan bersama putra mahkota telah hancur berantakan setelah putri kedua Emersyn memutuskan pertunangan secara sepihak dan tentu saja tidak ada yang berani menentang keputusan mutlak itu bahkan kaisar sendiri tidak bisa berkata apa-apa pada calon pemimpin Emersyn dimasa depan.
Sial. Eldorado mengepalkan tanganya hingga kuku carinya menusuk kekulit tangan. Semuanya tidak berjalan sesuai rencanaku, jika begini terus maka keluarga sialan itu akan terus berada diatas kami. Sejak dulu, Eldorado menaruh dendam terselubung pada keluarga Emersyn yang keberadaan mereka sendiri setara dengan satu armada perang kekaisaran Harper.
Eldorado dan Putra Mahkota sebelumnya telah merencanakan sebuah skema dimana ketika putra mahkota telah duduk diatas tahta kaisar melalui bantuan Emersyn maka saat itu juga kelurga Rabatra akan menginjak-injak seluruh Emersyn diatas kaki mereka berdua.
Eldorado yang mengetahi bahwa putri dari kelurga Emersyn tergila-gila pada putra mahkota yang mencintai putri haramnya tidak bisa tidak serakah akan secercah cahaya yang mampu membawanya menuju balas dendam yang manis. Seharusnya semuanya sudah ada digenggaman ku sekarang.