
Waktu itu situasi keuangan keluargaku benar-benar hancur setelah istri tercinta meninggal dunia karen penyakit misterius yang bahkan tabib terhebat dikotapun tidak bisa menyembuhkannya. "Sayang...."
"Aku minta maaf Podo." tanganku yang menggenggam tangannya terasa mati rasa setelah melihat dia menutup matanya untuk selama-lamanya.
Beberapa hari berlalu setelah kematian istri tercintaku hariku benar-benar tidak baik-baik saja.
Uang yang selama ini kutabung terbuang sia-sia untuk biaya pengobatan istri tercintaku. "Aaah... Bagaimana sekarang." Rasanya begitu sakit dikepala setiap kali mengingat perjuangan yang tidak membuahkan hasil dan berakhir sia-sia dengan kepergiannya.
Sebagai warga yang tinggal di pelosok desa aku sangat kesulitan untuk mencari uang, peternakan kuda yang telah keluargaku jalanaku selama 7 generasi telah diambang kebangkrutan. Tidak adanya dana untuk memasok pakan kuda hampir membuat jumlah kuda yang ada berkurang secara drastis.
Selama waktu itu aku begitu sters ditambah lagi putraku yang tiba-tiba saja sakit, kemunculan seekor buaya berukuran besar didanau, petugas penagih pajak yang datang terus-menerus.... "Oh Tuhan... Mengapa engkau memberiku cobaan hidup yang begitu besar disaat aku masih berduka," ucapku dalam doa ketika menyentuh kening putraku yang terbaring sakit dikamar.
Aku sangat lelah, aku sangat jenuh, hampir gila
setiap saat, selalu khawatir setiap kali menutup mata disebelah putraku yang terbujur lemah. "Hikss... Carlos...." Tangisku semakin pecah ketika kabar dari seorang tabib yang dulu merawat istriku datang.
"Sepertinya putra anda tertular penyakit dari mendiang istri anda." Tabib mendiaknosa bahwa putraku menginap penyakit langka yang sama yang merenggut nyawa istri tercintaku. "Tidak... Ini Tidak Mungkin... Snif... Jika Putraku Terkena Penyakit Itu KENAPA AKU TIDAK!..," Ucapku frustasi.
"Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi, aku turut berduka atas masalah yang menimpamu Djordan." Tabib mengemas peralatan medisnya lalu pergi meninggalkan beberapa butir obat.
"Ayah... Hah... Hah...." Carlos membuka mata.
"Apa aku sakit sangat parah Ayah?."
"Heheh... Tentu saja tidak, kamu akan segera sembuh." Mata putraku terus memandangku lama rasanya, setiap kali aku mengingat matanya, wajah mendiang istriku terlintas. Senyuman indahnya, suara lembutnya, helayan lembut kasihnya seakan baru kemarin aku rasakan. "Snif Carlos..., Apapun yang terjadi jangan meninggalkan Ayah sendirian," ucapku lirih sambil menangis.
Beberapa hari berlalu sejak saat itu, kondisi Carlos semakin memburuk, para penagih pajak datang dan membawa paksa kuda-kuda yang aku miliki. Mereka mengambil semuanya termasuk Ayam-ayamku yang berharga.
"Jika tidak punya uang jangan membuat hutang pajak kebanyakan bodoh." Petugas penagih pajak datang membawa beberapa pereman dari desa untuk memukuliku.
Semunya hancur sudah, tidak ada harapan lagi bagiku. Frustasi yang terus datang menghampiri telah mencuci otakku membuat diriku secara tidak sadar mengambil senapan untuk mengakhiri semuanya. Aku minta maaf Carlos... Aku Ayah yang buruk.... Senapan Laras panjang itu kuarahkan pada putraku yang terbaring lemah dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Tanganku gemetar, saat menarik pelatuk untuk melepaskan anak peluru. "HAHH... HAHH...." Air mata jatuh dari kedua mataku.
"Aku-."
Melihat wajahnya yang mengerut menahan sakit rasanya hatiku semakin terbakar. Aku menarik lagi senjataku lalu bergegas keluar sambil menangis menjadi-jadi ditengah malam.
"HAAAAAAARG- KENAPA...!!! KENAPA AKU...!!! KENAPAAAAAA-," teriakku. Aku menangis selama 30 menit diluar, menyesali diri yang hendak membunuh putra tersayangku yang merupakan peninggalan dari istri tercantik didunia. "Seharusnya aku yang mati ..... Yah! Jika sudah seperti ini seharusnya aku mati saja sekalian bersama putraku."
Isi kepalaku menjadi gelap. Senapan yang kupegang perlahan kuarahkan ketengorokanku. "Ayo mati bersama nak..., Kita temui Ibumu yang ada di surga," kataku setengah gila. Aku menutup mataku perlahan, air mata masih mengalir kebawah dan jantung yang berdeyut kencang.
Degdegdeg...
Klik.
Ketika aku akan menekan pelatuk tiba-tiba suara dari belakangku menghentikan tindakanku seketika. "Tidakkah kamu terlalu besar untuk berfikir bunuh diri diusiamu yang masih muda?." Berkat suara yang tidak kukenal aku mengentikan tindakanku untuk menekan pelatuk/tuas senapan. "Siapa???."
Ketika aku membalikan badan, sosok wanita berambut hitam berdiri dibelakangku, memandangku dengan arogan seolah-olah aku ini adalah mahluk yang sangat rendah.
"Menjengkelkan, aku datang kemari bukan untuk melihatmu bunuh diri." Wanita yang kulihat itu seperti langit malam tanpa bintang. Suaranya begitu tenang namun terasa tajam dipendengaran, tatapannya sekali lagi mengingatkanku pada air danau yang tenang dimalam hari.
Setiap kali kalimat terucap dari bibirnya yang semerah buah apel akan membuat jantungku berdetak kencang karena gugup.
"Jika kamu tahu siapa aku apakah kamu akan berhenti mengakhiri hidupmu?," Tanyanya dengan nada rendah.
"Saya tidak tahu."
Dia terdiam, lalu berbicara lagi. "Aku lelah, siapkan tempat untukku beristirahat," ucapnya.
"Apa?????."
"Aku bilang aku lelah, jadi siapkan tempat untukku beristirahat." Ekspresinya masih belum berubah ketika mengatakan itu.
"Saya tidak menerima orang asing begitu saja." Aku melihat wanita didepanku terdiam lagi lalu kemudian dia berjalan satu langkah kedepan, berjongkok tepat didepanku yang sedang terduduk atas pasir kotor.
Suaranya yang merdu kembali terdengar di telingaku namun kali ini suaranya berhasil membuat duniaku terguncang lebih keras lagi dari sebelumnya. "Aku ini bangsawan dari keluarga Emersyn.... Jika kau tidak mau mati dengan menyedihkan cepat siapkan apa yang aku perintahkan."
"!!!"
Keluarga Emersyn.... Sejak dulu, keluargaku telah mengajarkan padaku untuk selalu bersikap sangat sopan dihadapan beberapa orang khsusu terutama para bangsawan yang datang untuk memilih kuda kepeternakan kami. Keluargaku benar-benar mendidik kami sangat keras dalam hal itu dan juga tidak lupa, aku masih ingat ketika Ayahku yang merupakan generasi ke 6 memperingatiku sangat keras akan satu keluarga bangsawan yang sangat terkenal dikerajaan Harper yaitu Emersyn.
"Ketika kamu melihat salah satu diantara mereka menunduklah!, Jangan sampai kamu menatap mata mereka atau akibatnya kita akan dilenyapkan." Saat itu aku menganggap bahwa perkataan Ayahku hanya gertakan semata untuk membuatku tidak bertindak semena-mena dihadapan bangsawan tetapi sekarang aku mengerti apa yang dulu ayahku sampaikan adalah kebenarannya.
Karena saat ini tanpa sadar aku menundukkan kepalaku serendah mungkin dihadapan sosok wanita muda. "Aku... Aku-." Nafasku menjadi sesak, tubuhku gemetar hebat dan penglihatanku bergetar. "Aku... Aku-."
"Cukup basa-basinya siapakan saja ruanganya."
"AH! IYA... IYA... IYA... AKU AKAN SIAPAKAN." Tubuhku jatuh beberapa kali ketika berusaha untuk berdiri, sejenak stersku terlupakan digantikan oleh teror dari sosok wanita muda.
"Mari masuk!." Aku membuka pintu selebar mungkin untuk menjamunya masuk kedalam rumah. Segala macam benda-benda yang menghalangi jalan reflesk kusingkirkan. "Du-duduk saja disini." Tunjukku pada kursi kayu tempatku biasa duduk bekerja karena hanya itu kursi terbaik yang aku miliki.
Ekspresi wajahnya masih belum berubah seperti sebelumnya ketika duduk diatas kursi kayu. Aku melihat dia menyilangkan kakinya lalu menyentuh rambut kepang panjangnya seperti seorang bos yang duduk berhadapan dengan bawahannya. "Ini kursi terbaik yang saya miliki saya harap anda menyukainya."
"..., Dimana putramu."
"Yah???."
"Aku dengar kamu memiliki putra yang sedang sakit."
"Itu- itu, dia ada di...kamar...nya," kataku ragu.
"...."
Wanita Emersyn itu terdiam lagi. Apa Yang Harus Aku Lakukan, Aku Tidak Tahu Mengapa Dia Datang Kemari Dan Tahu Kondisi Putraku, Aku Tidak Tahu Apa Yang Dia Pikirkan Bagaimana Ini...! Teriak batinku.
"Lalu dimana aku akan tidur?."
"Huh??? Apa anda akan menginap???."
"Tentu saja, kau pikir aku datang kemari susah payah dan akan pergi begitu saja?."
"S-saya minta maaf," kataku takut lagi.