
"Huhh...." Wanita itu menghela nafas. "Apa penyakit putramu adalah penyebab kamu ingin bunuh diri?," Tanyanya.
"...."
"Sepertinya begitu, dasar bodoh. Sebagai orang tua kamu seharusnya tidak melakukan hal menyedihkan seperti itu ketika putramu sedang membutuhkanmu, ada dimana istrimu?."
"Di-dia sudah meninggal."
"Istrimu sudah meninggal dan kamu bertingkah menyedihkan...? Sungguh kekanak-kanakan."
Aku yang tidak tahan mendengar tegurannya menjadi marah. "LALU APA YANG HARUS AKU LAKUKAN?, HANYA KARENA ANDA SEORANG BANGSAWAN ANDA BEBAS MENGATAKAN OMONG KOSONG BEGITU SAJA....
"PUTRAKU... PUTRAKU MENGIDAP PENYAKIT MEMATIKA YANG SAMA DENGAN PENYAKIT YANG MERENGGUT NYAWA ISTRIKU, DAN ANDA PIKIR SAYA AKAN BERFIKIR JERNI AKAN HAL ITU?." Teriakku padanya menuangkan seluruh isi hatiku yang telah kutahan sangat lama.
"Hidupku hancur!, Para penagih pajak itu tidak mau mengerti situasiku... Mereka mengambil semuanya KUDAKU.... Snif... Seluruh kudaku...." Aku memberanikan diri untuk menatap wanita itu. "Aku tidak punya apa-apa lagi untuk menyelamatkan putraku ... Semuanya sudah lenyap, dan sebentar lagi dia akan pergi juga... JADI UNTUK APA AKU BERHARAP!."
"Dasar bodoh."
"Aku Memang Bodoh Karena Tidak Berpendidikan Seperti Anda," balasku kesal.
"Tsk, aku anggap apa yang kau katakan padaku saat ini hanya kilaf semata."
"Apa?."
"Kau seharusnya tahu meskipun kau sedang dalam keadaan mental buruk perilakumu terhadap bangsawan sepertiku akan dianggap sebagai kejahatan."
"Aku Tidak Perduli Lagi Dengan BANGSAWAN-BANGSAWANAN BODOH ITU."
Lagi-lagi wanita didepanku diam dan tidak berbicara. Apa Aku Terlalu Kasar? !!! Gila! Djordan! Seharusnya Kau Tidak Pernah Mengatakan Itu Walau Keadaan Sedang Tidak Baik-baik Saja! Bagaimana Nanti Jika Dia Memutuskan Untuk Mengincar Carlos Dari Pada Aku!. Mataku terbuka lebar, pikiranku menjadi jerni.
"M-MAAFKAN SAYA! MAAFKAN AKU!!! TOLONG JANGAN MENGHUKUM PUTRA SAYA, HUKUM SAJA AKU SEBAGAI GANTINYA!," Kataku panik.
"Tenang saja aku tidak tertarik dengan putramu tapi sebagai gantinya aku menginginkan sesuatu yang lain darimu."
"Huhh???."
Dia tersenyum dan tubuhku langsung merinding. "Aku ingin peternakan ini menjadi miliku."
"... ITU TIDAK BISA!." Jawabku. "Aku tidak bisa melakukan itu!."
"Kenapa? Bukankah tempat ini juga hampir bangkrut?."
"Ini Adalah Rumah Leluhur Kami Dari Generasi Ke Generasi Jadi Saya Tidak Akan Menjual Tempat Ini Pada Siapapun Sampai Saya Mati!." Kataku tegas.
"Apakah kamu yakin?."
"Benar."
"Apa kamu tidak akan menyerahkan tempat ini bahkan jika aku menyembuhkan jika aku meminta itu sebagai imbalan menyembuhkan Putramu?."
"Ya Aku tidak akan-! ... Apa?."
"Aku bilang bahkan jika aku menyembuhkan penyakit putramu?."
"Huh???? Anda bisa menyembuhkan penyakit putraku?."
"Tentu saja bisa, dan itu sangat mudah bagiku."
Aku berhenti berbicara kemudian. "Ja-JANGAN BERBOHONG! JANGAN MEMBERI HARAPAN PALSU PADA SAYA!," Kataku panik.
"Kau pikir aku berbohong?." Tiba-tiba aura disekeliling wanita muda itu berubah derastis menjadi setajam pisau dikulitku. "Kita tidak sedekat itu sampai aku harus berbohong pada orang rendahan sepertimu." Ucapannya begitu kejam ditelingaku tetapi juga menjernihkan isi kepalaku yang sempat tertutup kabut.
Dia ada benarnya, lagi pula sejak awal dia tidak akan datang ketempat ini jika bukan karena ingin memiliki peternakan kami tapi, mengapa? Mengapa dia sampai seperti itu? Tabib sendiri mengatakan padaku bahwa penyakit putraku tidak bisa disembuhkan lagi.
Aku melirik kearahnya dengan pandangan curiga ketika dia juga melihatku dengan wajah tanpa eskpresi. "Jika kamu mau berfikir maka lakuakn diluar, aku akan memberimu waktu untuk itu."
"Tidak perlu...." Aku mengigit bibirku dan mencengkram celanaku yang kusam. "Aku akan memberikan peternakan ini padamu jadi tolong sembuhkan putraku," kataku sambil menangis. Nyawa putraku lebih penting dari apapun saat ini jadi aku akan melakukan apapun suapaya dia sehat.
"Tolong... Hiks... Tolong sembuhkan putraku... Hiks... Dia satu-satunya harataku yang paling berharga."
"Bagus, tunjukan aku dimana dia."
Aku membawanya kedalam kamar putraku yang berada dilantai dua rumah. Disana putraku masih tertidur dalam balutan keringat disekujur tubuhnya. "Nak...." Putraku tidak menjawab panggilanku.
"Apa itu putramu?."
"Benar."
"Yahh... Sniff... Banyak orang mengatakan hal itu, dia sangat mirip dengan ibunya sehingga aku tidak punya pilihan lain selain menerima kenyataan pahit itu."
"Well, ini sama persis seperti yang novel deskripsikan."
"Maaf???."
Aku tidak mengerti apa yang dia katakan barusan, batinku.
"Mundurlah aku akan mengobatinya."
"Apakah anda yakin anda bisa? Para tabib yang datang mengatakan bahwa tidak ada obat yang dapat menyembuhkan sakitnya."
"Memang benar tidak ada obatnya."
"Lalu?!, Bagaimana anda akan menyembuhkannya? Apa anda berbo-."
Mataku terbuka lebar ketika melihat wanita muda itu mengeluarkan botol cairan berwarna biru dari sakunya. "Apa itu??!." Botol biru itu memancarkan cahaya samar ketika dipegang olehnya.
"Ini minyak Putri Duyung."
"AP-!!!." Rasanya jantungku hampir keluar dari mulut. Minyak Putri duyung adalah item yang sangat langka dimana keluarga kerajaan sekalipun sulit untuk memilikinya dan saat ini dengan mata kepalaku sendiri aku melihat minyak langka itu yang sebentar lagi akan digunakan oleh putraku.
"Apakah anda yakin memberikan putra saya minyak Putri duyung yang sangat berharga!
"Jika itu benar maka... Hanya dengan benda itu saja maka... Saya Sangat Yakin Bahwa Putra Saya Akan Sembuh!." Dari cerita yang aku dengar dulu hingga saat ini minyak yang dihasilkan dari tubuh putri duyung dikatakan memiliki khasiat penyembuh segala penyakit sehingga item itu dijadikan barang langka dan sulit untuk didapat walau memiliki segunung tumpukan koin emas. "Saya-"
"Jangan senang dulu, barang ini memanglah bagus untuk menyembuhkan segala penyakit tapi kamu tidak tahukan kalau benda ini juga akan menjadi racun yang sangat mematikan jika tidak digunakan dengan baik."
"Huh??? Ini pertama kalinya aku mendengar itu."
"Yah memang siapapun didunia ini tidak akan ada tahu akan hal itu karena hanya aku yang tahu akan kebenaran itu untuk saat ini sebelum FL mencobanya pada ML kedua."
"Saya tidak mengerti???."
"Lupakan dan menyingkirlah, aku tidak suka diganggu saat bekerja."
"Ba-baik." Sebelum keluar aku menyeka keringat dari wajah pucat putraku. "Ayah akan selalu ada disini," kataku lalu keluar dari kamar.
"Dasar banyak drama."
Setelah aku keluar dari kamar beberapa menit kemudian aku merasakan lonjakan energi sihir berputar dari dalam kamar. "APA YANG-." Tubuhku merinding merasakan aliran energi besar dari balik pintu kamar dan ketika aku menyentuh knop pintu aku merasakan sensasi pisau tajam diarahkan keleherku.
"Gluup... Aku-."
"Jangan masuk." Suara dari dalam menghentikan niatku, aku melepaskan tanganku dari knop pintu lalu mundur kebelakang untuk memantau saja.
Satu jam berlalu aura menyeramkan dari dalam kamar telah menghilang.
"Apa anakku akan baik-baik saj-."
Klik.
Pintu terbuka menampilkan sosok wanita muda berambut hitam yang keluar dengan santai dari dalam kamar.
"Aku sudah menyembuhkannya," katanya singkat kemudian. "Mari kita bicarakan detail kepemilikan tempat ini setelah kau selesai menangis." Wanita muda itu melewatiku ketika mataku hanya tertuju pada cahaya dari sisi pintu kamar yang sedikit terbuka. Tanpa sadar, kakiku berjalan selangkah demi selangkah kearah cahaya remang didalam kamar.
Deg deg deg...
Aku gugup sekaligus cemas, khawatir akan sesuatu yang aku bayangkan tidak sesuai dengan ekspetasi.
Creeek...
Pintu dibuka perlahan.
"Nak...." Panggilku dengan suara pelan.
Tidak ada suara yang menjawab tapi aku memberanikan diri untuk memanggil lagi. "Nak!."
"Ayah!."
"Hump...." Aku jatuh berlutut dibawah ketika air mata berjatuhan membasahi wajahku, wajah putraku yang pucat kurus kembali berisi seperti ketika dia masih sangat sehat. "Snif... Uuung-."