
Aku pasti sudah gila. Dan memang beberapa menit kemudian dia melihat Ira didapur rumah mereka sedang menyembeli kalkun dan daging domba yang mereka simpan untuk musim dingin. Carlos ingin membantu tetapi ditolak mentah-mentah oleh Ira. "Kamu hanya akan mengganguku jadi pergilah bermain diluar."
"Hahh... Memangnya aku ini anak-anak? ... Aku tidak mengerti jalan pikir wanita itu, dia kejam dan baik disaat yang bersamaan." Ketika Carlos bergumam diluar Djordan datang untuk memanggilnya masuk kedalam rumah.
"Simpan ini ditempat penyimpanan."
"Baik ayah...."
"Ada apa?."
"Ayah, bukankah tadi pagi kakak itu hampir membunuh Ayah, apakah ayah lupa akan hal itu sehingga masih berani untuk menyuruhnya memasak untuk kita."
Djordan masih diam lalu menundukkan pandangannya. "Kamu akan mengerti nanti, sifatnya memang seperti itu, Ayah sudah bersama denganya beberapankali ketika kamu belajar diakademi, bulan sekali dua kali dia menunjukan niat membunuh itu pada Ayah."
"Lalu kenapa Ayah-."
"Tidak perlu khawatir, dia tidak akan membunuh kita."
"Bagaimana ayah begitu yakin akan hal itu?."
"Karena dia menyelamatkanmu."
"Hanya itu?."
"Yah." Djordan menatap tepi danau yang memantulkan cahaya bulan dari langit sehingga membuat danau besar itu tampak berkilau dimalam hari.
"Dibandingkan dengan bangsawan lain nona Ira telah begitu baik pada kita, meski ayah berbicara kasar dia hanya menunjukan toleransi sederhana dan tidak menghukum mati ayahmu ini.
"Jika itu bangsawan lain maka ayah pasti sudah dihukum mati karena tidak sopan pada bangsawan."
"...."
Djordan menepuk pundak putranya untuk menghilangkan semua kekhawatiran didalam hatinya. "Jangan dipikirkan lagi, lagi pula kita menerima bantuan yang cukup besar darinya... Meski ayah masih belum tahu apa motif wanita itu tapi yang pasti kita tidak akan menerima banyak kerugian jika mengikutinya."
"Baik Ayah, aku akan percaya pada-."
"Berapa lama lagi aku harus menunggu kalian disana." Suara bernada rendah dari arah punggung mereka memecah suasana hangat antara anak dan ayah.
"Aku bilang untuk menyediakan meja bukan ngobrol hangat diluar." Ira muncul dalam penampilan rumahan dimana dia sedang mengunakan apron dan rambut yang diikat kuncir kuda kearas.
Matanya terlihat angkuh saat melihat kedua orang didepannya yang masih duduk terdiam. "Aku akan memberikan waktu limat menit, segera siapkan semuanya atau semua makanan yang aku masak akan kuberikan pada Croco."
"TIDAK! KAMI AKAN SEGERA MENYIAPKAN MEJANYA!," Kata Djordan panik, dia segera bergegas masuk kedalam melewati Ira untuk menyiapkan meja makan.
"...."
Melihat.
Mata Carlos bertemu dengan mata Ira.
"Apa kau tidak masuk?."
"Ah... Iya, aku akan masuk sebentar lagi."
"Tidak ada sebentar lagi, masuk."
"Baik."
Carlos patuh masuk kedalam rumah dalam posisi menundukkan kepalanya untuk membantu ayahnya yang sedang menyiapkan meja makan kayu besar.
Ira yang berada didepan pintu menarik perlahan kenopnya tapi berhenti sesaat kemudian setelah melihat air dari danau yang disinari bulan menunjukan gelombang yang mengarah ke darat.
Dia tersenyum lalu menutup pintu rapat-rapat. "Mungkin aku akan keluar sebentar setelah selesai makan." Dan kemudian setelah itu Ira, Djordan, dan Carlos duduk dan menyantap hidangan sedap yang dimasak oleh Ira malam itu.
***
"Kemana anda akan pergi?," Tanya Djordan yang mengangkat piring kotor dari atas meja.
"Aku akan keluar untuk menemui Croco."
"Ah... Saya mengerti, aku akan memerintahkan putraku untuk menyiapkan kamar untuk anda."
"Hemm... Lakukan sesukamu," kataku yang keluar dari rumah menuju tepi danau. Suasana malam cukup sunyi ditemani bunyi serangga malam dari hutan dan air.
Seperti yang kuduga mahluk besar berwarna hijau tua bersisik keras tengah bertengger ditepi danau, membuka rahangnya yang besar kearas.
"Selamat malam Croco... Sudah lama kita tidak bertemu," kataku berjalan kearah buaya besar itu. Kakiku berhenti tepat dimuncungnya yang terbuka lebar, tanpa takut aku mengelus muncung bagian atas untuk menunjukan keberadaanku padanya.
Gggr-
Biaya besar itu bergerak ketika muncungnya bersentuhan dengan tanganku. Dia mulai bergerak merayap kearahku yang duduk diatas pasir didepannya.
Buaya itu tidak menyerangku melainkan dan aku tidak takut akan serangan darinya. "Kamu sudah lebih besar dari terakhir kali aku melihatmu." Buaya itu seperti memeluk tubuhku, muncungnya disandarkan kebahu ketika aku memeluknya tubuhnya yang bersisik.
Croco adalah buaya lagendaris Maroko dari dunia novel yang kutemukan didalam danau pergerakan Podo beberapa hari setelah aku tiba disana. Mahluk besar yang dulu hampir menyeret ku kedalam air kini telah kujinakan dengan sempurna seperti hewan peliharaan sendiri.
"Berat badanmu naik pesat, kamu tidak memakan kudakitakan." Aku mengelus kulitnya yang bersisik sambil mencium moncongnya manja seperti memeluk anjing cantik yang jinak. "Uulululu... Crocoku yang manisss...."
Aku sangat gemas denganya sama seperti yang aku lakukan pada Nagngina aku menciumnya tanpa henti. Sejak dulu aku sangat suka dengan hewan-hewan liar baik itu dibumi atau disini aku selalu memperlakukan hewan buas lebih spesial dari pada hewan rumahan lainnya.
Tanganku membuka mulut bergigi tajam itu lalu memasukan sepotong daging mentah besar yang aku bawa dari rumah. "Kamu belum makan?... Aku pikir begitu... Makanlah... Aku akan memanjkaanmu selama tiga bulan ini... AHahaha...." Kataku sambil tertawa bahagia.
Dari dalam rumah Carlos mengintip interaksimu dengan buaya didanau dan seketika merinding. "Ap-apa yang dia lakukan!?, Bagaimana bisa buaya besar itu tidak menyerangnya?!."
"Nak." Djordan menepuk pundak putranya dan menutup jendela. "Jangan melihat hal-hal yang berbahaya, mulai sekarang, apapun yang kamu lihat darinya anggap saja hal wajar." Ekspresi diwajah Djordan terlihat lelah seolah-olah dia telah terbiasa melihat Ira melakukan hal itu.
"Baik Ayah." Carlos menganggukan kepalanya lalu berjalan menuju kamar untuk beristirahat. "Seharusnya aku tidak berlibur dan tetap diakademi saja."
***
Keesokan harinya aku terbangun dari tidurku tepat pukul 8 pagi. Suara gemericik pohon dari hutan cukup terdengar dari rumah, kuda-kuda yang dilepaskan dari kandang dan juga suara ayam-ayam Djordan terdengar ramai dilingkungan peternakan Podo.
"Ahhh... Aku suka tempat ini." Aku bangkit dari tempat tidur, memakai cincin penyamaran lalu keluar dari kamar. "Selamat pagi," kataku menyapa Carlos.
"P-pagi nona Ira...."
"Dimana Ayahmu?."
"Ayah sedang keluar, dia memberi makan serigala langit."
"Oh, ternyata dia memutuskan untuk mengikuti saranku."
"Iya hahaha...." Carlos tertawa canggung.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu pulang kemari, bukankah akademi sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan ujian?."
"Itu... Aku mengambil izin cuti untuk membantu Ayah memeriksa kesehatan kuda, tidak ada tabib ahli hewan yang mau masuk kehutan jadi aku memutuskan untuk memeriksanya sendiri."
"Jadi begitu." Aku mengelus kepala anak muda itu lalu memujinya. "Kamu telah bekerja keras, tidak sia-sia aku mensponsorimu masuk kesana."
"Ah iya... Terima kasih untuk it-."
"Berterim kasilah dengan hasil, aku hanya melihat hasil bukan ucapan saja."
"Saya mengerti."
"Kalau begitu aku keluar." Aku mengambil satu roti yang dibawa Carlos dipiringnya, memasukannya kedalam mulutku lalu keluar dari rumah.