
Setelah kejadian malam itu, baik Ayra maupun Alex tampaknya tak kembali bertatap muka. Tak ada lagi yang namanya kebetulan bertemu. Semua yang ada di kehidupan Ayra kembali berjalan normal seperti sedia kala. Bersyukur sejak perdebatannya dengan Azton, kini semua keluarganya percaya bahwa dirinya sudah sembuh.
Ayra saat ini tengah di sibukkan dengan persiapan pembangunan hotel baru atas dasar perjanjian kerjasama antara perusahaan Zeon dengan perusahaan Loyer. Awalnya Ayra ingin menolak kerjasama ini, hanya saja setelah ia pikir-pikir kembali ia tak seharusnya bersikap seperti itu, ia harus profesional. Akhirnya Ayra putuskan untuk menyetujui proposal pengajuan kerjasama di bidang properti ini. Toh, keuntungan yang akan ia dapat lumayan menggiurkan.
"Piter jam berapa kita berangkat ke lokasi?" tanya Ayra pada seorang pria yang sedang sibuk dengan leptopnya. Pria itu tampak menggunakan kemeja putih dengan celana bahan berearna hitam, terlalu santai untuk pakaian seorang sekretaris CEO sebuah perusahaan besar.
"Lima belas menit lagi kita berangkat, Ra," jawab Piter menatap Ayra sebentar sebelum kembali memeriksa laporan dari difisi lain sebelum di berikan pada CEO mereka, Ayra.
"Baiklah," jawab Ayra seadanya. Ia juga tampak tak mempermasalahkan panggilan Piter padanya.
Sebenarnya banyak pegawai yang merasa iri dengan Piter, why? Karna Piter di perlakukan bukan seperti pegawai oleh Ayra melainkan seperti sahabat. Terkadang para pegawai lain berpikir kalau ada sebuah affair di antara keduanya, tetapi hal itu di bantah keras oleh Piter. Selain karna tingkah perlakuaan Ayra pada Piter, letak ruangan dan kebebasan Piter juga memancing rasa iri lainnya. Piter berada dalam satu ruangan dengan Ayra walaupun ada kaca transparan sebagai sekat pemisah keduanya, selain itu Piter di bebaskan mengenakan pakaian apapun walaupun tetap dalam konteks sopan dan rapi.
Ruang yang keduanya huni tampak senyap, hanya terdengar suara ketikan keyboard dan kertas yang di bolak balik serta suara detak jam yang memenuhi ruangan itu.
Lima belas menit terlewat dalam kesunyian. Sadar bahwa sudah waktunya mereka pergi, keduanya langsung membereskan semua yang ada di atas meja sebelum meninggalkan ruangan.
Tanpa banyak bicara keduanya melangkah meninggalkan satu-satunya ruangan yang ada di lantai empat puluh dari perusahaan Zeon Grup, dengan menaiki lift yang memang khusus untuk keduanya dan beberapa orang penting lainnya sedangkan untuk pegawai biasa mereka menggunakan lift dengan pintu silfer sedangkan Ayra dengan pintu gold.
Ting
Pintu lift terbuka di lantai dua, tempat lobi berada sedangkan lantai satu adalah besment, tempat kendaraan di parkirkan.
Keduanya berjalan beriringan mengabaikan seluruh pandangan yang terarah pada keduanya. Toh, tak ada yang salah dengan pakaian yanng keduanya kenakan, hanya sebuah rok span lima centi di atas lutut, sebuah kemeja merah dengan blezer hitam untuk Ayra dan sebuah jas silfer sebagai tambahan untuk Piter. Keduanya tampak mempesona dengan aura kharismatik Piter dan diktator Ayra.
Sebuah mobil sport keluaran lamborghini terparkir di pelataran depan lobi, pertanda bahwa anak buah Ayra sudah menyiapkan kendaraannya dan Piter.
"Kau yang menyetir Piter, aku sedang malas!" ucap Ayra sebelum masuk ke dalam mobil melalui pintu kiri yang sudah di buka oleh salah seorang anak buahnya, meninggalkan Piter yang tampak menghelan nafas.
"Always my," guman Piter dengan tangan kanan yang menyugar rambut silvernya membuat beberapa pegawai perempuan memekik spontan. Melihat hal itu, Piter di buat bingung.
Entah karna Piter terlalu lama berpikir atau apa akhirnya Ayra memilih menekan klakson mobil dengan kencang, membuat semua yang ada di sana berjengit kaget termasuk Piter.
"Piter masuk atau ku hancurkan wajah sok tampanmu itu!" seru Ayra dari jendela mobil. Mata emeraldnya menatap tajam ke arah Piter, lalu tatapan tajam itu bergulir ke arah para perempuan yang masih menatap keduanya.
"Ku congkel bola mata kalian bila berani menatap lapar Piter, aku tak main-main dengan ucapanku!" tukas Ayra membuat para perempuan itu segera berlari membubarkan diri, sedangkan Piter hanya menggedikkan bahunya acuh. Ck, dasar tak bertanggung jawab.
Akhirnya Piter memilih segera masuk ke mobil sebelum ia berada dalam masalah. Tak berapa lama mobil lamborghini itu melaju meninggalkan pelataran kantor menuju lokasi pembangunan yang akan keduanya survei.
°°°
Panas terik dari matahari yang menyengat kulit tak Ayra perdulikan, ia tampak terus berjalan menyusuri lokasi pembangunan hotel yang sedang mereka bangun. Letaknya yang strategis membuat Ayra yakin bahwa hotel ini akan membuahkan hasil yang tak sedikit.
Dengan ditemani Piter, Ayra mengamati semuanya. Sesekali ia akan menghampiri anggota divisi yang menangani pembangunan di lokasi, seperti saat ini ia tengah berbicara dengan Arsitek yang membuat desain hotel mereka, Andriano Galies.
"Ubah sedikit letak taman dan kolam renangnya!" ucap Ayra begitu melihat cetak biru dari desai yang Gali buat. Mendengar hal itu, Gali segera mencatat apa yang Ayra katakan.
Tak berapa lama setelah Gali meninggalkan Ayra dan Piter, sebuah sedan hitam tampak memasuki lokasi pembangunan. Melihat hal itu keduanya tampak saling bertukar pandangan, seingat Ayra ia tak memerintahkan pegawai lain guna menyusul keduanya. Lantas mobil sedan milik siapa?
Pintu mobil sedan buka, memperlihatkan dua orang pria bersteylan kantor dengan kaca mata hitam di hidung mereka lalu di ikuti dengan kemunculan seooraang wanita berambut merah dengan pakaian yang terlampai minim.
'Apa ia akan ke bar?' batin Ayra ddaan Piter mengomentari pakaian wanita berambut merah itu.
Tiga sosok yang baru saja menginjakkan kaki mereka di tempat itu tampak berajalan menghampiri Ayra dan Piter yang masih memandang keduanya dengan kacamata yang juga membingkai masing-masing mata mereka.
"Perwakilan dari Loyer ehh?" ucap Ayra begitu mengetahui siapa yang tengah berdiri di hadapannya saat ini.
Dengusan samar terlihat meluncur bebas dari pria yang tampak lebih dewasa dari pria yang kini tengah menatap intens ke arah Ayra.
"Ya," jawab pria itu.
"Kenapa kita harus menghampiri mereka Alex?" tukas wanita berambut merah yang sejak tadi menatap tak suka ke arah Ayra, sedangkan Ayra hanya menatap datar dari balik kaca mata hitamnya.
"Diamlah Vanesa," ucap pria yang sejak tadi menatap intens Ayra dari balik kaca matanya. Ternyata sosok itu adalah Alexsander D Loyer.
Mendapat teguran dari Alex tak membuat wanita berambut merah, Vanesa itu diam. Ia terus saja merengek akan panasnya sengatan mata hari atau debu yang menempel di kulitnya, membuat keempatnya merasa pengang akan suara Vanesa.
"Maaf Tuan, bisa anda menyuruh Nona merah itu diam?" celetus Ayra tiba-tiba. Sungguh rasanya telinganya akan sakit bila wanita merah itu tak segera di hentikan dan juga konsentrasin terganggu saat ini.
"Siapa kau berani memerintahku dan apa-apaan panggilan mu itu!" seru Vanesa tak terima akan ucapan Ayra barusan.
"Lalu?" ucap Ayra dengan dengusan yang meluncur keras, membuat Vanesa kesal bukan main. Ia merasa di remehkan.
"Aku bisa saja membuatmu di pecat, bukankah kau pegawai di Zeon Grup!" ucap Vanesa dengan raut wajah kesal.
Alex, Piter dan pria dewasa itu tampaknya tak mau ikut campur dalam perdebatan keduanya. Mereka terlalu malas berurusan dengan para perempuan yang sedang bertengkar. Toh mereka tahu Ayra tak akan diam saja.
"Pegawai? Khhhh, jangan membual Nona!"
Mendengar hinaan secara tak langsung tersebut membuat Vanesa geram bukan main. Bagaimana bisa ia di rendahkan begitu oleh seorang pegawai biasa?
"Vanesa cukup!" lerai pria dewasa yang sejak tadi memilih diam. Ia rasa Vanesa sudah kelewatan.
"Kenapa Kak Rei membelanya?" kesal Vanesa. Ia yang terbiasa di manja dan di hormati merasa amat marah begitu ada pegawai biasa yang membuat ia malu.
"Kau akan menyesal begitu tahu siapa dia Vanesa," ucap Rei santai.
Merasa sudah tak ada yang perlu di urus lagi Ayra memilih kembali ke perusahaan. Lagi pula ia ada janji makan siang dengan kliennya yang lain.
"Piter kita pergi."
Mendengar ucapan bosnya, langsung saja Piter mengikuti langkah kaki Ayra yang perlahan menjauh dari Alex, Rei dan Vanesa.
"******! Aku belum selesai!" teriak Vanesa membuat beberapa orang yang ada di sekitar mereka menoleh ke arahnya. Wajah Vanesa tampak memerah menahan kekesalan yang mencapai ubun-ubun.
Langkah Ayra sontak berhenti begitu mendengar hinaan yang Vanesa layangkan padanya. ******? Tidak salah. Tak hanya Ayra, Piter yang biasanya acuh pun ikut berhenti dengan rahang yang mengeras. Begitu pula dengan Alex dan Rei yang melayangkan tatapan tajam nan mematikan pada Vanesa, yang wanita merah itu tak sadari. Ah, kau salah pilih lawan Nona.
"Ulangin sekali lagi ucapanmu, Nona!" tukas Ayra dengan tangan kanan yang meraih kaca mata yang masih bertengger di hidung mancungnya. Kaca maata itu terbuka secara perlahan, menampilkan manii emerad yang menyejukkan dan juga menawan.
Secara serentak Alex dan Rei di buat menahan nafas mereka, begitu melihat mata Ayra yang tampak menyejukkan sekaligus mematikan begitu melihat secercah emosi di dalamnya.
"******!" teriak Vanesa lagi dengan lantang, tanpa tahu bahwa ia tengh dalam masalah yang anat serius saat ini.
"Ah, terimakasih ats undangannya. Aku akan datang secepatnya, jadi tunggulah!" ucap Ayra dengan senyum manis di bibirnya membuat kedua matanya melengkung bak bulan sabit.
Bagi sebagian orang yang melihat Ayra saat ini tentu saja akaj berpikir kalau Ayra sangat cantik, manis dan juga memukau tapi apakah ada yang tahu arti lengkungan yang terbentuk di bibir pink Ayra?
Apa yang Ayra katakan barusan membuat Vanesa dan juga Alex bingung. Perasaan mereka, Vanesa tak memberikan undangan apapun pada Ayra. Lantas undangan apa yang Ayra maksud.
"Ah, Levi akan senang bila mendengar apa yang wanita itu ucapkan barusan," guman Ayra dengan mata yang menatap tajam lagi sinis ke depan. Kedua kakinya melangkah dengan anggun lagi angkuh meninggalkan tempat yang menjadi awal undangannya.
"Ck ck ck, jangan bilang kalau kau akan datang sebagai tamu tak di undang lagi, Ra?" tanya atau lebih tepatnya pernyataan Piter begitu tahu apa yang ada di dalam pikiran Ayra.
"Khhh, kau akan tahu nanti Piter," ucap Ayra sebelum masuk ke dalam mobil meninggalkan Piter yang tampak menghelan nafas melihat tingkah bosnya itu.
Senyum sinis seketika terukir di bibir Piter, "Ah, sayang sekali Nona merah, kau harus mendapatkan tamu sejenis Ayra. Ck ck ck, ****** yang malang!" guman Piter sebelum masuk ke dalam mobil dan meninggalkan lokasi pembangunan.
Sedangkan di sisi Rei. Ia tampak tengah mengelus dadanya begitu melihat Ayra yang dengan telah pergi. Namun itu tak bertahan lama begitu ia mengingat apa yang Ayra katakan sebelum pergi, apalagi dengan senyuman yang ia jelas tahu apa artinya.
"Kau akan dalam masalah besar, Vanesa!" seru Rei dengan nada yang terdengar kesal dan juga marah. Menyesal ia mengizinkan wanita merah itu ikut bersamanya dan Alex menuju lokasi pembanguna.
"Kenapa kau mengatakan hal itu, Rei?" ucap Alex setelah lama terdiam. Masih segar di ingatannya bagaimana lengkungan kurva bernama senyuman itu terukir di bibir Ayra. Membuat debaran itu kembali hadir di dadanya, hanya saja kali ini terasa sangat menyenangkan.
"Karna ia salah mencari lawan!" ketus Rei berlalu meninggakan sepasang kekasih itu.
"Sayang~" panggil Vanesa manja. Dengan tanpa malu ia bergelayut manja di lengan Alex, membuat Alex seketika merasa risih.
"Lepas!" ucap Alex datar.
"Tidak mau," rengek Vanesa dengan wajah yang ia buat seimut mungkin namun justru terasa sangat menggelikan di mata Alex.
"Ku bilang lepas!" seru Alex menyentak kasar tangan Vanesa, membuat kedua manik merah itu berkaca-kaca namun Alex acuhkan.
Muak dengan tingkah Vanesa, Alex segera menyusul sang kakak guna meninjau lokasi pembangunan. Meninggalkan Vabesa yang kesal bukan main.
"Sialan!" umpat Vanesa kesal. Dengan kak yang ia hentakkan, Vanesa meninggalkan tempat itu. Lihat saja ia akan membuat Alex berlutut di hadapannya, pikir Vanesa.
Bukankah mereka sepasang kekasih? Sebenarnya apa yang terjadi?