
Lain halnya dengan Ayra dan juga Piter yang sibuk dengan urusan perusahaan, Azka lebih suka menghabiskan harinya di galeri lukis miliknya. Bukan, dirinya bukan seorang pelukis. Ia hanya suka mengoleksi goresan-goresan tinta di atas kanvas yang diberi bingkai bercat plitur itu. Untuk soal melukis di atas kanvas, ia hanya bisa sedikit tetapi jika melukis di atas kanvas nyata tentu saja Azka bisa. Sangat, sangat bisa bahkan lebih dari itu.
Seperti saat ini, Azka tampak sibuk dengan kuas di tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang kaleng cat. Weit kaleng cat, for what? Ya, ia memang melukis hanya saja cat yang ia kenakan tampak aneh dan berbeda, sedikit kental dan juga berbau menyengat di tambah dengan warna merah darah.
Dengan raut wajah santai, Azka mulai menggores kanvas putih bersih di hadapannya. Seketika goresan-goresan abstrak terbentuk di atas kanvas itu, menciptakan keindahan yang hanya dapat di lihat oleh orang yang benar-benar mencintai sebuah seni.
Hampir satu jam Azka lewati dalam keheningannya melukis. Raut wajahnya tampak puas ketika ia menyelesaikan lukisannya itu. Sebuah senyum lebar merekah di bibir tipisnya, membuat ia tampak bak dewa Apollo. Bersinar dan menawan.
"Ah, tak sia-sia ternyata cairan merah dari wanita itu," ujar Azka dengan raut wajah yang terlihat aneh, tak ada lagi senyum lebar di bibirnya yang tersisa hanya sebuah seringai lebar di bibirnya.
"Jam berapa ini?" tanya Azka sambil menutup kanvas yang baru saja ia lukis dengan kain putih yang memang sudah ia sediakan. Mata ambernya meneliti ruangan lukisnya yang ada di galeri guna mencari letak jam yang ia gantung.
Manik amber itu berhenti di sudut kanan ruanga tepatnya di atas perapian, di sana jam dinding berbentuk bulat berukira tergantung apik. Jarum jamnya menunjukkan pukul satu siang, tepat saat jam makan siang berdentang.
"Ck, apa masih sempat?" guman Azka melangkah menuju kamar mandi yang memang ada di ruangan itu.
Tangan kanan Azka tampak menyalakan keran yang ada di watshafel membuat air seketika mengalir dari sana. Dengan cepat Azka menggunakan kedua tangannya guna membasuh wajahnya. Tetesan air tampak berjatuhan dari dagu dan juga beberapa helai rambut Azka yang tak sengaja terkena aliran air watshafel.
Manik amber itu tampak menatap serius pantulan wajahnya di cermin yang ada di atas watshafel. Kerutan samar tampak membentang di kening Azka sebelum sebuah seringai timbul di bibir Azka.
Bught
"Apa yang kau mau sialan!" umpat Azka pada sosok di hadapannya. Manik ambernya menatap nyala sosok bermanik keemasan itu. Rahangnya mengeras begitu mendengar kekehan meluncur dari bibir sosok yang paling ia benci.
"Azka, Azka Khhh, apa yang ku lakukan tak ada hubungannya denganmu," ujar sosok itu menatap remeh Azka.
Kepalan tangan Azka tampak mengerat membuat darah semakin mengalir mengotori lantai kamar mandi.
"Ku peringatkan padamu Ares untuk jangan macam-macam dengan Ayra!" seru Azka menatap tajam sosok Ares di hadapannya.
Sosok itu tak bergeming sedikitpun begitu mendengar peringatan yang Azka layangkan pada dirinya, Ares terkesan tak perduli.
"Tidak, aku hanya akan melakukan satu macam, yaitu memiliki Ayra seutuhnya!" tukas Ares dengan seringai di bibirnya, membuat kemarahan Azka semakin menjadi.
"Kau!" bentak Azka sebelum kembali melayangkan pukulan pada sosok yang berdiri di hadapannya.
Prang
Kaca itu pecah, retak tak berbentuk, menjalar memenuhi permukaan bening itu. Mata amber itu tampak menatap tajam bayangannya yang tak terlihat jelas di cermin. Api amarah berkobar di rongga dada Azka.
"Selama aku masih hidup maka kau tak akan bisa mendapatkan Ayra, sekalipun dengan menjadi diriku!" bisik Azka menyerukan janjinya. Janji seumur hidup yang akan ia pegang dan jaga.