How Are You?

How Are You?
Kali Kedua dan Taman Bermain



Pernahkah kau berpikir bahwa apa yang kau alami seolah-olah tak terjadi secara kebetulan tetapi terasa seperti benar-benar di setting sedemikian rupa.


Dua kali. Dua kali ia berada di situasi yang sama tetapi dengan waktu dan latar tempat yang berbeda. Niat hati ingin jalan-jalan mencari udara segar, namun nyatanya bukan udara segar yang ia dapat melainkan sebuah tontonan yang menggiurkan dari dalam gang sempit di antara dua bangunan tinggi di kanan-kirinya.


Jeritan penuh kesakitan, raungan bahkan lolongan tak mampu menarik perhatian orang lain selain Ayra. Dengan bodohnya ia justru mendekati asal suara dengan tubuh bergetar. Bukan bergetar takut tetapi bergetar menahan sesuatu yang bergejolak.


"Well mampir sebentar bukan masalah kan?" guman Ayra terus berjalan semakin jauh ke dalam gang.


Tap


Ayra menghentikan langkah kakinya tepat beberapa langkah dari seorang pria yang tengah memotong lidah seorang wanita yang wajahnya sudah berlumur darah.


Rintihan pelan Ayraa dengar dari wanita itu, air mata yang mengering menjadi saksi bisu seberapa sakit yang ia rasa. Namun tak ada sedikitpun niat di hati Ayra untuk membantu, justru ia lebih terlihat sedang menikmati semuanya seperti menonton sebuah film.


"Akh! To-l-o-ng!" guman wanita itu pelan begitu menangkap siluet seseorang di dalam kegelapan.


Melihat hal itu, pria yang sedang asik menyiksanya menghentikan kegiatannya dan menatap ke Ayra.


Deg


Topeng dan juga topi yang pria itu kenakan tampak seperti milik Alex yang ia lihat kemarin. Jangan bilang kalau pria di hadapan Ayra ini adalah Alex?


"Wah wah wah, tampaknya ada yang ingin bergabung?" ujar pria itu dengan girang. Suaranya terdengar berat sama seperti Alex.


"Kemari lah Non..


"Alex!" seru Ayra memotong ucapan Alex.


Mendengar seruan Ayra, pria itu langsung terdiam. Dengan langkah lebar pria itu mendekati Ayra. Jemarinya yang berlumur darah menggapai lengan cardigan milik Ayra, meninggalkan noda merah di sana.


"Siapa kau?" geram Alex. Ia tak tahu bagaimana perempuan di hadapannya ini tahu akan namanya. Tak ada satupun yang tahu akan sosoknya dalam balutan topeng ini, kecuali satu orang.


"Ayra!" guman Alex melafalkan nama Ayra tepat di samping telinga Ayra. Deru nafas Alex terdengar memburu di telinga Gak Ayra.


"Ikut aku dan biarkan ia mati kehabisan darah," ujar Ayra memberikan sebotol aqua yang sengaja ia beli saat dalam perjalanan.


"Bagaimana kalau ia berhasil hidup?" tanya Alex dengan kedua tangan yang ia basu menggunakan air aqua yang Ayra berikan. Matanya melirik ke arah wanita yang kini tampak mengenaskan.


Srekk


Dengan tanpa permisi, Ayra mengambil sebuah pisau lipat yang tersimpan di balik hodi Alex. Seringai bengis Ayra ukur ketika kilatan pantulan cahaya dan pisau itu beradu.


Sringg


Bak sudah profesional Ayra melempar pisau itu, membuat Alex sedikit terkejut melihat apa yang naru saja Ayra lakukan. Dengan efek slow motion mata Alex mengikuti pisau yang sekarang tengah berputar ke arah korbannya.


Jleb


"Akh!" pekik wanita itu lemah ketika sebuah pisau menancap di jantungnya.


Kedua mata Alex membola terkejut. Di pandanginya raut wajah Ayra yang nampak biasa saja, seolah-olah apa yang baru saja ia lempar adalah panah mainan yang menancap di target.


"Kau!"


"Sudahkan? Sekarang kau ikut denganku," ucap Ayra tak memperdulikan raut wajah terkejut Alex dan juga seruannya.


Dengan tanpa rasa bersalah Ayra melepaskan topeng dan hodi yang Alex kenakan hingga membuat Alex terpaksa hanya mengenakan kaos hitam dengan celana levis panjang di padu sepatu vila berwarna merah, tampak serasi dengan dres yang Ayra kenakan. Ayrra juga tak lupa melepas cardigannya yang sudah kotor akibat darah dari jemari Alex.


"Kita ke Taman bermain sekarang!" seru Ayra menarik Alex ke luar gang, meninggalkan jasad wanita yang menjadi korban keduanya serta hodi, cardigan dan topeng Alex di dalam tong sampah.


Tak ada penolakan berarti dari Alex, ia justru tertarik mengikuti apa yang akan Ayra lakukan. Firasatnya mengatakan bahwa ia tak akan menyesal mengikuti ke mana Ayra akan pergi.


Mereka berdua berjalan dengan tangan yaang saling bertautan mengabaikan tatapan iri para pejalan kaki lainnya yang terpesona akan rupa keduanya yang teramat elok. Ayra tak terlalu menanggapi semua tatapan dan bisikan itu sebab ia sudah tak sabar untuk segera sampai di taman bermain, berbeda dengan Alex yang semakin lama semakin tak nyaman.


Menyadari rasa tak nyaman itu, Ayra terpaksa menghentikan laju langkah kakinya. Membuat Alex menarik sebelah alisnya pertanda bahwa pria itu tengah bingung.


"Kenapa terus melihat ke arah kami? Ingin ku congkel mata kalian keluar dari tempatnya, hah?" seru Ayra mencibir mereka secara terang-terangan membuat yang mendengar teriakannya segera berlalu pergi tanpa ada niat kembali bergunjing tentang keduanya. Apalagi setelah mengetahui siapa yang mereka gunjing, putri keluarga Zeoneva pewaris Zeon Grup. 


"Ck, dasar sampah masyarakat!" gerutu Ayra kesal, tanpa menyadari Alex yang menatap intens apa yang sudah ia lakukan.


"Apa?" tanya Ayra ketika berbalik ke arah Alex dan mendapati pria itu tengah manatap intens dirinya. Bukannya merasa malu, Ayra justru tampak biasa saja.


"Kau menarik!" bisik Alex tepat di atas bibir Ayra. Bukannya menjauh atau mendorong mundur Alex, Ayra justru semakin merapatkan tubuhnya pada Alex. Membuat seringai yang awalnya Alex ukir lebar seketika hilang, lenyap di telan debaran yang menggila di dadanya.


"Aku tau," balas Ayra berbisik dengan suara yang rendah. Bukan bisikan yang Alex tangkap melainkan desahan menggoda yang kembali membangkitkan nafsu lain dalam dirinya.


Melihat Alex yang tak lagi dapat berkutik, Ayra semakin melebarkan seringainya. Rasanya tak terlalu buruk bila dirinya sedikit bermain dengan adik pria itu.


"Kakak beradik yang malang!" batin Ayra begitu mengingat apa yang ia lakukan tadi pagi pada data perusahaan loyer. Ah, ia jadi berpikir apa ia akan mendapat kunjungaan setelah ini.


"Cepatlah, aku ingin bermain banyak wahana!" seru Ayra yang telah berada beberapa langkah di depan Alex.


°°°


"Apa kau tidak lelah?" tanya Alex begitu mereka turun dari wahana rolecoster yang membuat perutnya terasa teraduk-aduk, berbeda dengan Ayra yang tampaknya masih ingin melanjutkan acara bermainnya.


"Sekarang kita naik bianglala!" seru Ayra kembali menarik paksa tangan Alex.


Rasa nyaman tiba-tiba hinggap di hati Alex. Seumur hidupnya dari ia berada di bangku sekolah menengah atas hingga kini belum pernah ia merasakan rasa ingin memiliki dan menjaga sebesar ini. Sebelum ia bertemu Ayra, hanya ada rasa ingin menghancurkan dan membunuh.


"Ayo, Alex!"  seru Ayra dari dalam bianglala yang hanya di buat untuk dua orang saja.


Dengan langkah yang lebar namun tegas, Alex melangkah menuju Ayra.


Tepat setelah Alex masuk, bianglala mulai bergerak membawa mereka kepuncaknya. Terlalu asik dengan berbagai wahana membuat keduanya tak sadar waktu, hingga mereka nyaris menghabiskan waktu seharian bersama.


Kerlap kerlip lampu yang mulai di nyalakan menambah cantik pemandangan dari atas bianglala. Keduanya hampir sampai di puncak bianglala.


"Semoga berhenti di atas!" guman Ayra tanpa mengalihkan pandangannya dari gemilau cahaya lampu.


Pemandangan yang Ayra katakan indah tampaknya tak mampu mengalihkan perhatian Alex dari dirinya. Alex tanpa ragu mengulurkan jemarinya untuk menyentuh rambut pink Ayra yang berkibar di terpa angin.


Merasakan sebuah belaian di rambutnya, membuat Ayra menoleh ke arah Alex. Kedua mata itu saling mengunci, mengagumi satu sama lain, menyelam dalam keindahan yang terlihat abadi.


Tanpa komando Alex memajukan wajahnya mendekat ke arah Ayra. Seakan terhipnotis, Ayra justru menutup kedua matanya. Tepat setelah kedua bibir itu bertemu, bianglala yang mereka naiki berhenti di puncaknya.


Tangan kanan Alex tampak merambat menuju tengkuk Ayra, mencoba memperdalam ciuman mereka. Lumatan itu terkesan lambat, lembut namun mengandung nafsu. Hingga keduanya harus melepas pangutan mereka akibat stok udara yang semakin menipis di paru-paru mereka.


"Kau...cantik!" bisik Alex yang menjatuhkan kepalanya di perpotongan leher Ayra. Menyembunyikan wajahnya yang memanas akibat ulahnya sendiri.


"Apa Alex sedang tersipu?" batin Ayra.


Tidak ada satupun dari keduanya yang mau bersuara bahkan ketika bianglala yang mereka naiki berhenti, membuat mereka harus turun sebab putaran mereka sudah habis.


"Ah, senangnya!" cerus Ayra begitu mereka sudah berada jauh dari wahana bianglala.


Dengan senyum merekah, Ayra berdiri di hadapan Alex yang menatap dirinya dalam. Mencoba mengabaikan tatapan itu, Ayra dengan berani mengacak rambut Alex dengan sedikit berjinjit sebab perbedaan tinggi yang memaksa.


Mendapat lerlakuan manis tersebut membuat janntung Alex berdetak tak beraturan. Rasanya aada letupan aneh di dadanya, ketika aroma apel tercium dari tubuh Ayra yang terlalu dekat dengannya.


"Terimakasih sudah mau menemaniku!" tutur Ayra mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.


"Hn."


Bibir kissable Ayra di buat menipis begitu mendengar gumanan Alex dalam merespon ucapannya barusan. Hei, kata terimakasih itu adalah hal yang limited dari Ayra.


"Baiklah, aku akan pulang," seru Ayra berbalik memunggungi Alex. Belum sempat ia melangkah menjauhi Alex sebuah tangan menghentikan Langkahnya.


"Pulang bersamaku?" tawar Alex dengan suara yang terdengar lembut. Andai yang kini berada di hadapan Aex gadis lain, sudah pasti ia akan tersipu malu lain halnya dengan Ayra yang justru menatap was-was kepada Alex.


Bibir Ayra terbuka, siap melontarkan kalimat penolakan sebelum dering ponsel di tasnya berbunyi. Tanpa sadar Ayra menghelan nafas dengan pelan, ingatkan ia untuk berterimakasih pada orang yang tengah menelphonnya kini.


Deg


Bolehkah ia tarik kembali ucapannya barusan? Bukannya bersyukur rasanya Ayra justru merasa tertimpa kesialan lainnya.


"Halo," sapa Ayra begitu telah mengangkat sambungan telphon dengan mata yang meliki ke arah Alex yang tampak penasaran.


"Kau di mana honey?" seru suara di sebrang telphon. Suaranya yang berat dan juga serak membuat tubuh Ayra seketika lemas.


"Ak-u sedang di taman bermain," jawab Ayra dengan suara yang nyaris seperti gumanan. Perasaan tak enak mulai menyambangi Ayra dengan lancangnya.


"Dengan?" tanya pria di sebrang sana.


"Sendiri," jawab Ayra cepat tanpa tahu Alex tengah mendengar pembicaraannya.


Geraman tertahan jelaas terdengar dari bibir Alex. Ada rasa tak terima dan juga marah ketika mendengar ucapan Ayra barusan. Rasa yang membakar hati, membuat ia merasakan perih.


"Baiklah, I love you."


Entah sudah berapa lama Alex bergelut dengan pikirannya hingga ia tak sadar bahwa Ayra sudah selesai dengan perbincangannya di ponsel.


"Alex aku harus pulang," ujar Ayra dengan raut wajah yang sedikit panik, namun terlihat tengah berseri-seri di mata Alex.


"Dengan siapa?" desis Alex ddengan kepala yang tertunduk.


"Maaf?" ulang Ayra sebab ia tak mendengar jelas ucapan Alex


"Ku tanya kau pulang dengan siapa hingga menolak ajakanku, hah?" bentak Alex membuat beberapa pengunjung lain menoleeh ke arah mereka sebelum kembali melanjutkan kegiatan mereka atau ber isik dengan mata yang sesekali menatap mereka.


Raut wajah Ayra yang awalnya terlihat panik berubah datar begitu melihat respon Alex.


"Kekasihku!" ucap Ayra datar sebelum berlalu pergi meninggalkan Alex yang tengah menahan mati-matian emosinya.


"Tak akan ada yang bisa memilikimu, Ra. Tak akan ada yang bisa, kecuali Alexsander D Loyer!" geram Alex sebelum menyusul kemana Ayra pergi.


Sedangkan di sisi Ayra ia tengah di liputi kekesalan yang teramat dalam. Ia benci bila seseorang yang baru saja ia kenal sudah berani memerintah dirinya apalagi membentaknya.


Tanpa ia sadari bahwa orang yang menjadi biang kekesalannya tengah berjalan beberapa langkah dari dirinya hingga...


"Honey!" teriakan barusan menghentikan langkah Ayra. Membuat ia yang awalnya menundukkan kepala langsung mendongakkan kepalanya guna melihat apakah benar pria yang tengah ia tunggu adalah pria yang berteriak itu?


"Ka..


Cup


"I miss you!" bisik pria itu setelah menyelipkan satu ciuman di bibir Ayra, membuat kedua mata Ayra dan juga Alex membola terkejut.