
Di sebuah bangunan tua yang terbengkalai terdengar suara lolongan kesakitan yang memilukan, memecah kesunyian malam. Cahaya yang remang-remang menambah kesan mencekam membuat bulu kuduk siapapun merinding disko di buatnya.
Srekk Srekk
Terdengar suara menyerupai gesekan antara dua buah benda yang terbuat dari tembaga atau justru besi yang di susul dengan teriakan bernada tinggi dari salah satu lantai gedung berlantai empat itu.
"A-ampun!" lirih seorang wanita berambut merah pada sosok berbaju hitam yang tengah berdiri di hadapannya, di dalam kegelapan dengan kerudung hodi yang menutupi sosoknya.
"Na na na na~" senandung sosok lain yang juga tampak mengenakan baju hitam hanya saja ia mengenakan topeng. Sosok di balik topeng joker itu tampaknya seorang perempuan, terlihat dari suara dan postur tubuhnya yang lebih kecil dari tiga sosok lain yang juga berbaju hitam termasuk sosok di hadapan wanita berambut merah itu.
"Menurutmu bagian mana lagi yang harus kita gores?" ujar sosok berbaju hitam dengan sebuah topi menutupi rambutnya. Sosok itu tampak duduk santai di jendela lantai empat gedung itu, sedangkan sosok lainnya berada di hadapan wanita merah yang mereka gantung di sebuah tiang dengan posisi menyilang(x).
"Aku ingin menjahit bibirnya," celetus sosok yang berdiri menyandar di tiang kanan tempat wanita itu di gantung.
"Ia terlalu berisik," lanjut sosok itu santai dengan tangan yang mulai menjahit bibir wanita itu.
"Akh!!" pekik wanita itu begitu jarum yang di gunakan sosok misterius bermasker menembus kulit bagian bibirnya.
Lelehan darah bercampur salivah dan air mata wanita itu mengalir jatuh, membasahi lantai berdebu di ruang yang gelap nan dingin itu. Pakaian yang compang camping dengan rembesan darah membuat wanita itu tampak menyedihkan.
"Selesai!" seru sosok itu terdengar senang. Mata delimanya menatap intens hasil karya yang ia aplikasikan di bibir wanita merah yang ia temui beberapa saat yang lalu.
Tubuh wanita itu tampak lemas sebab darahnya yang keluar terlalu banyak dan juga beberapa urat dan ototnya yang sudah di potong oleh keempat sosok ibis di hadapannya.
Tak pernah wanita itu kira bahwa ia akan berakhir begini, dengan keadaan teragis.
Seandainya ia tak memikih pulang larut dan sendirian semua ini tak akan terjadi padanya. Semua berawal ketika ia tengah mengendarai mobilnya di jalan yang tampak sepi sebab jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Semua berjalan baik-baik saja, namun ketika ia tak sengaja melihat seekor kucing yang menyebbrang di depannya, ia langsung menginjak rem. Karna terlalu syok ia tak menyadari kehadiran salah satu dari keempat sosok yang tengah menyiksanya saat itu. Tak butuh waktu lama sosok itu langsunng membuka pintu mobilnya yanng memang tak terkunci dan langsung membiusnya menggunakan sapu tangan. Ketika ia sadar ia trlah berada di trmpat terkutuk ini dengan posisi di ikat di tiang. Berbagaai macam rontaan telah ia lakukan namun hasilnya nihil¹ ia justru mendapat siksaan dari keempatnya.
Ada nada yang terdengar kesal begitu pertanyaan ambigu itu terucap oleh sosok itu.
"Sudahlah, ayo akhiri semua ini."
Tak lama setelah sosok yang berada di jendela itu menyelesaikan ucapannya, suara erangan memilukan terdengar untuk yanng ke sekian kalinya dari lantai itu.
Kini, wanita berambut merah itu sudah tak lagi bernyawa. Kedua tangan dan kakinya di buat terpisah dalam satu tebasan serentak yang di lakukan oleh pria yang duduk di jendela dan yang telah menjahit bibirnya. Tak cukup sampai di situ, bagian perut bawah dan atasnya pun terpisah ulah perempuan bertopeng itu dan yang terakhir adalah kepala wanita itu yang terpenggal oleh pedang pria yang sejak tadi berdiri di hadapannya.
Sungguh mengenaskan kondisi jasad wanita berambut merah itu. Secara logika, apa yang keempat sosok itu lakukan amat sangat tidak manusiawi dan mengerikan. Namun satu hal yang harus di ingat, tak kan ada asap bila tak ada api. Jadi, pasti ada alasan di balik kebiadapan yang keempatnya lakukan.
Sebelum pergi meninggalkan jasad wanita itu, keempatnya tampak mengukir sebuah angka empat dengan masing-masing sisi yang di beri inisial. A untuk ujung segitiga teratas, Z untuk sisi kiri sudut miring, L untuk sisi sudut siku-siku dan P untuk garis yang sejajar dengan A yang berada di paling bawah sebagai alas angka empat.
"Tenang saja, aku sudah memesankan sebidang tanah neraka atas namamu," guman sosok bertopeng joker sebelum berlalu lebih dulu meninggalkan tempat yang menjadi saksi bisu kekejaman dan kebrutalan mereka.
"Pelajaran untukmu, jangan suka mencari masalah dengan orang yang belum kau kenal sebab kau tak akan tahu ia malaikat atau... Iblis!" tukas sosok berbaju hitam dengan topi di kepalanya kemudian berlalu pergi.
Kini giliran pria berhodi yang mendekat ke arah jasad wanita malang yang mengusik luna³ mereka.
"Give and Take, bukankah menyenangkan?" celetus pria itu dengan seringai di bibirnya. Manik ambernya menatap rendah kepala wanita yang baru saja mereka bunuh.
"Maafkan sisi iblis kami nee," ucap sosok bermasker sebelum menendang kepala wanita itu, membuatnya menggelinding mendekati jendela yang sempat salah satu dari mereka duduki.
"Ups, aku sengaja!" serunya sebelum berlari mengejar langkah yang lainnya di ikuti dengan derai tawa yang pecah dari bibir pria berambut pirang itu.