
Hari senin menjadi hari yang paling Ayra benci, sebab ia harus kembali mengurusi masalah perusahaan. Seperti hari ini, padahal matahari baru saja naik dan jam baru saja menunjukkan pukul delapan pagi tetapi ia harus menyiapkan keperluan untuk rapat dengan perusahaan Loyer guna membahas pembanguna hotel yang tengah mereka kerjakan saat ini.
Beruntung berkat bantuan dari Azka, Piter dan juga Levi mood Ayra yang sempat jatuh bisa sedikit membaik. Ingatannya kembali pada malam tadi saat ia harus meladeni ketiga pria absur yang dengan seenaknya menyusul dirinya yang saat itu baru saja pulang dari perjalanan bisnis di benua eropa, pengecualian untuk Piter yang memang sengaja ia perintahkan untuk datang ke apartemennya.
Sebuah seringai tampak terukir di bibir Ayra begitu mengingat sebuah kejadian yang benar-benar menyenangkan hatinya, sekali lagi dengan berkat bantuan ketiganya. Rasanya seperti menemukan sebuah lautan di tengah gurun pasir yang gersang, terdengar lebai memang hanya saja ia benar-benar merasa puas sebab apa yang selama ini ia inginkan terpenuhi setelah lama tak ia dapatkan.
"... Ra!"
"Ayra!!" teriakan Piter barusan menyadarkan Ayra dari kenangannya. Delikan protes Ayra berikan pada Piter.
"Apa yang kau lakukan sialan!" seru Ayra kesal. Dengan tanpa pikir panjang Ayra melempar sebuah pena yang kebetulan ada di atas meja kerjanya ke arah Piter. Nyaris saja pena itu mengenai Piter tepat di jantungnya, andai saja Piter tak cepat mengelak entah apa yang akan terjadi dengan kemeja merahnya.
"Kau mau membunuhku ya!" kesal Piter.
"Ayolah, itu hanya sebuah pena tak akan membunuhmu," ucap Ayra dengan gelagat yang hendak kembali berbicara.
"Kecuali itu bisa berubah menjadi pedang seperti milik Persy Jackson putra Posaidone," lanjut Ayra enteng.
Manik merah milik Piter tampak berotasi begitu mendengar ucapan penuh bualan yang keluar dari bibir Ayra. Kalaupun benar pena itu bisa berubah menjadi pedang makan ia akan membuat kemejanya berubah menjadi baju zirah sama seperti yang Katnes lakukan dalam film The Hunger Game. Ck, bukankah mereka berdua tampak konyol?
"Ka—"
Ceklek
"Maaf, Nona perwakilan Zeon Grup telah sampai," ujar Akira sebagai pelaku pembukaan pintu ruangannya dan juga pemotongan apa yang akan Piter ucapkan padanya.
"Baiklah," jawab Ayra.
Setelah menyampaikan hal itu, Akira segera kembali ke mejanya. Sedangkan Ayra dan juga Piter, keduanya tampak bersiap-siap menuju ruang rapat ya g ada di lantai tiga puluh sembilan.
Ceklek
Pintu ruang rapat terbuka oleh Piter. Melalui gestur tubuh, Piter mempersilahkan Ayra masuk lebih dulu. Ruang rapat itu terdapat sebuah infokus yang di letakkan di atas meja kecil tak jauh dari meja panjang dengan enam buah kursi yang sudah terisi oleh beberapa orang pria kecuali dua kursi yang ada di dekat pintu masuk, untuk Ayra dan Piter.
"Selamat pagi!" sapa Ayra sebagai formalitas semata. Dengan langkah yang tegas lagi anggun, Ayra melangkah menuju kursi yang tersisah mengabaikan tatapan penuh selidik dan juga intens dari sosok pria yang duduk di kursi kedua bagian kanan tepat di sebelah Piter duduk saat ini.
"Hari yang cerah ehh Nona CEO," celetus seorang pria yang duduk di kursi pertama bagian kiri Ayra. Pria itu tampak mirip dengan dua pria lainnya walaupun berbeda usia, satu paru baya dan satu lebih muda beberapa tahun darinya.
Kedipan nakal pria itu layangkan pada Ayra, membuat Piter serasa menahan muntah yang tengah mendesak keluar. Tak hanya Piter, sosok pria paru baya itu pun di buat jengah akan tingkah laku sosok itu.
"Apakah kau buta Tuan? Bahkan saya bisa melihat awan kumbolonimbus itu siap menjatuhkan amunisinya," sarkas Ayra menatap sinis pria itu, membuat dengusan keras melunncur dari bibir pria itu.
"Bisakah kau berhenti mengganggu Ayra, Rei?" ucap pria pruh baya itu memperingatkan Rei, putra sulungnya.
Benar sekali, sosok yang saat ini tengah menghadiri rapat dengan Ayra adalah kepala keluarga Loyer, Shin D Loyer dan kedua anaknya Reizel D Loyer dan Allexsander D Loyer.
Kehadiran ketiganya sebenarnya membuat Ayra terkejut sekaligus bingung. Sempat terlintas di pikirannya, apa yang ketiganya lakukan disini? Ia tahu, amat sangat tahu bahwa mereka akan membahas tentang jalannya pembangunan hotel di pinggir kota hanya saja apa perlu ketiga CEO masing-masing cabang dan induk perusahaan Loyer datang.
"Cukup basa basinya, sebaiknya kita langsung saja memulai rapatnya!" ucap Alex setelah cukup lama menjadi pendengar dan pengamat. Manik jelaganya tak lepas memandang Ayra saat ini.
"Baiklah," sahut Piter sebelum menyiapkan bahan presentasi yang akan Ayra sampaikan.
Tak lama kemudian ruang rapat yang awalnya tampak tenang berubah menjadi serius dan hening, semuanyaa mendengarkan dan mencatat apa saja yang Ayra jelaskan.
Tatapan kagum jelas tak bisa Alex sembunyikan, begitu melihat bagaimana Ayra menjelaskan kepada mereka apa saja yang akan mereka peroleh sebagai kendala dan apa apa saja yang akan mereka dapat setelah hotel ini selesai di bangun.
Sesekali mereka tampak berbagi pendapat dan juga pertanyaan ketika Ayra menyelesaikan presentasinya. Dengan cepat dan pintar Ayra menjawab semua pertanyaan, di mulai dari rentan waktu penyelesaian sampai persentase kegagalan. Hal itu membuat Alex semakin tertarik pada sosok Ayra, sosok misterius yang mempesonanya.
Hampir satu jam mereka gunakan untuk berdiskusi. Merasa sudah tak ada yang perlu di sampaikann lagi, Ayra hendak menutup jalannya rapat kali ini sebelum sebuah dobrakan mengalihkan perhatian semua yang ada di dalam ruangan.
"Ayra!" seru si pendobrak dengan nada yang terdengar sangat marah. Manik amber sosok itu tampak menatap tajam ke arah Ayra, mengabaikan sosok lain di dalam ruangan itu.
Langkah kaki Azton tampak tergesa-gesa dan juga cepat, menandakan bahwa ia tengah emosi. Tetapi kenapa, pikir Ayra
Begitu sampai di hadapan Ayra, tanpa aba-aba Azton melayangkan satu tamparan keras di pipi kanan Ayra. Sontak saja hal itu membuat semua yang ada di sana terkejut tak terkecuali Ayra. Kerasanya tamparan Azton membuat Ayra harus memalingkan wajahnya, ditambah dengan sudut bibirnya yang sobek mengeluarkan darah.
Manik emerald Ayra menatap tak percaya ke arah sang ayah yang kini berdiri menjulang di hadapannya dengan tangan kanan yang memerah. Hatinya mencelok begitu mendapati tatapan kecewa di manik amber sang ayah.
"Azton apa yang kau lakukan!" seru Shin dengan manik jelaga yang menatap marah dan tak percaya ke arah Azton. Ia bahkan sampai berdiri dari kursi yang ia duduki.
Tampaknya seruan Shin tak Azton dengarkan, ia masih tetap memandang Ayra.
Kertas-kertas itu berserakan di bawah kaki Ayra. Kerutan samar seketika timbul di kening Ayra, wajahnya tampak terlihat kebingungan dan juga heran. Namun sedetik kemudian ia paham akan apa yang sebenarnya tengah terjadi.
"Aku bahkan berada di hotel Hilten sejak pukul delapan malam," ucap Ayra dengan pandangan datar yang menyorot manik amber Azton.
Serasa deja vu, Ayra ingat kejadian beberapa minggu yang lalu saat Azton mendatangi apartemennya dengan raut wajah yang terlihat sangat marah.
"Bagaimana aku bisa percaya? Kau bahkan bisa melakukan apapun di belakang kami, Ayra!" tukas Azton masih ragu. Tidak, bukan ia tak percaya pada putrinya itu hanya saja ia masih meragu sebab ia tahu siapa putrinya itu.
"Ak—"
"Jujur pada Ayah, Ayra!" tekan Azton lagi. Kali ini ia gunakan kedua tangannya guna meraih bahu Ayra, mencoba mengintimidasi Ayra.
"Kenapa kalian selalu tak percaya padaku? Aku benar-benar ada di hotel bersama Piter, Levi dan Azka," kesal Ayra.
Dengan sekali sentak, Ayra dapat melepaskan diri dari Azton. Manik e. Emeraldnya balik menatap tajam Azton, ia tak takut sebab memang bukan dirinya yang melakukan hal itu.
"Lalu ini apa?" tanya Azton menyodorkan sebuah gelang berbandul kipas berwarna merah ddan putih persis seperti lambang klan Uchiha dalam serial Naruto Shimpuden.
Kedua mata Ayra membulat terkejut. Seingatnya ia telah kehilangan gelang itu beberapa minggu yang lalu, lebih tepatnya pagi hari setelah ia dan sang ayah bertengkar membahas pembunuhan di gang dekat taman bermain. Tak hanya Ayra, Piter pun di buat terkejut sebab seingatnya Ayra tidak mengenakan gelang itu semalam. Sedangkan Shin, Rei dan juga Alex hanya mampu terdiam mencoba memahami apa yang tengah terjadi, namun sedetik kemudian manik jelaga ketiganya membulat terkejut dan juga sedikit cemas untuk Alex. Ada apa?
"Di mana Ayah menemukannya?" tanya Ayra mengambil gelang itu dari genggaman Azton.
Ayra tampak memandangi kalung itu dengan intens. Tampaknya kalung itu sangat berarti bagi Ayra, pikir semua yang ada di sana kecuali Piter.
Bagi Ayra, kalung itu sama saja seperti bagian dari dirinya. Kalung itu adalah penghubung antara dirinya dan ketiga pria kesayangannya.
"Tak jauh dari jasad wanita pirang itu," jawab Azton masih dengan nada suara yang tak bersahabat pada Ayra.
Ayra tahu bila sudah begini tak akan mudah membuat ayahnya itu percaya pada apa yang ia ucapkan. Hanya sebuah bukti yang dapat membuat Azton percaya dan Ayra memilikinya.
"Aku sudah kehilangan gelang ini Ayah," ucap Ayra dengan raut wajah serius.
Ia tak bohong, ia memang kehilangan kalung itu bahkan Levipun tahu bahwa kalung itu hilanng sejak malam di mana ia kedatangan tam-tunggu. Segera Ayra larikan pandangannya ke arah Alex, ia tatap pria itu dengan berbagai arti.
"Kau," ujar Ayra dengan tangan kanan yang terangkat, menunjuk Alex yang tampaknya tahu akan sesuatu.
Tindakan Ayra saat ini membuat semua yang ada di sana menatap ke arah Alex, termasuk Azton.
"Kau pelakunya!" seru Ayra masih menatap Alex.
"Apa maks—"
"Gelang ini hilang malam itu, malam di mana kau datang. Aku baru menyadarinya saat pagi hari bahwa gelang itu sudah tak ada di meja nakas. Kau, kau yang mengambilnya Alex!" ucap Ayra memotong protesan yang hendak Rei layangkan.
"Cukup Ayra! Ayah mau kau membereskan semua kekacauan ini dan satu lagi, kau harus pulang ke mansio tak hanya kau Levi dan juga kau Piter, kalian harus pulang ke mansio!" perintah Azton sebelum berlalu meninggalkan ruang rapat.
Rasa panas di dada Ayra terasa menyiksa, membuat sesak nafasnya. Kelopak mata itu tertutup sejenak, menyembunyikan manik sewarna padang rumput yang luas. Hembusan nafasnya terdengar berat, hampir tercekat.
Tanpa komando kelopak mata itu terbuka, menampilkan manik emerald yang terasa berbeda, dingin dan juga gelap. Sosok itu tak lagi sama, tak ada kehangatan hanya tersisa kehampaan dan kedinginan.
Brakk
Hancur, persis seperti jiwanya saat ini. Pijakan yang bertahun-tahun ia bangun seketika runtuh, membuatnya jatuh kembali kedalam kubangan kebinasaan.
"Khhh, baiklah kalau memang tak percaya bagaimana kalau ku lakukan saja apa yang kau tuduhkn!" ucap Ayra dengan kekehan yang terdengar mengerikan, penuh ambisi dan kebencian.
Tubuh Shin, Piter dan juga Rei di buat menegang kaku begitu sadar akan siapa yang tengah berdiri di hadapan mereka saat ini. Lain halnya dengan Alex yang justru menatap bingung dan juga terkejut ke arah Ayra yang tampak berbeda, belum lagi melihat apa yang baru saja Ayra lakukan. Dengan mudahnya Ayra membanting kursi yang sempat ia duduki ke arah sudut ruangan lebih tepatnya tak jauh dari posisi Alex saat ini.
"Ah, Alex," panggil Ayra dengan nada yang terdengar aneh, mendayu namun menyayat kalbu membuat bulu kuduk Alex meremang.
"Kau akan membayar semua ini. Khhh, bukan uang tapi—" jeda Ayra, "Nyawa~" lanjut Ayra di ikuti sebuaj seringai di bibirnya.
Bukankah ini bagus? Semua orang selalu menuduhnya, selalu taak percaya padanya? Jadi, sekarang ia putuskan akan menjadi apa yang mereka tuduhkan. Menjadi sesuatu yang amat tak pernah mau mereka bayangkan. Bukan, bukan seorang ****** maupun pembunuh bayaran. Keduanya terlalu murahan dan rendahan untuk orang sekelas Ayra Agatta Zeoneva. Ia lebih menyukai sesuatu yang berkelas dan jug menantang.
"Well come in my life, Baby!" seru Ayra menatap membunuh ke arah Alex.
Ini semua salah Alex, kenapa ia harus membawa Ayra kedalam masalahnya.