
Waktu seolah berhenti sepersekian detik ketika pria bermata amber itu menyelipkan sebuah ciuman di bibir Ayra. Tak sampai di situ, Ayra harus kembali di buat terkejut dengan kalimat yang pria itu lontarkan.
"I miss you, Honey!" bisik pria itu dengan mata amber yang menatap sayu Ayra. Tatapannya terlihat sangat dalam dengan sejuta kerinduan dan rasa memuja yang amat kentara.
"A-ap..."
"Kita pulang, ya!" potong pria itu dengan tangan kanan yang merangkul mesra Ayra. Entah dengan sengaja atau tidak pria itu menyematkan satu ciuman di perpotongan leher Ayra, membuat dirinya memekik.
Pekikan Ayra barusan mengalihkan perhatian semua yang ada di sana termasuk pria bermanik jelaga yang sejak tadi mengawasi keduanya. Kedua tangannya mengepal dengan rahang yang mengeras.
"Ki-kita pulang, oke?" ujar Ayra tampak panik, namun bagi yang melihatnya pastilah Ayra tampak tengah tersipu dengan pipi yang memerah.
Dengan segera Ayra menarik tangan pria bermata amber itu guna menuju mobil miliik pria itu yang sudah jelas Ayra hafal.
Tanpa keduanya sadari seorang pria berambut pirang tengah mengawasi gerak gerik keduanya sejak adegan ciuman itu. Helanan nafas meluncur begitu berat dari bibir pria itu.
"Haruskah ku beritahukan ini pada Madam?" guman pria itu menatap sebuah foto yang baru saja ia ambil menggunakan kameranya. Sebuah foto yang tentu saja akan membuat sang tuan naik darah seketika.
"Haah~ terkutuklah kau sialan jika membuat Ayra berada dalam masalah!" umpat pria itu dengan tangan yang menunjuk-nunjuk potret pria yang dengan lancang mencium putri majikannya, tuan yang paling menyayanginya.
Lain lagi dengan Alex yang justru memilih meninggalkan tempat yang entah kenapa membuat ia merasakan debaran yang sama dengan yang ia rasakan ketika bersama Ayra, namun debaran kali ini terasa menyakitkan bukan menyenangkan.
"Kuso!²" umpat Alex dalam bahasa jepang dengan raut dan nada suara yang terdengar sangat kesal.
°°°
Kini Ayra dan pria bermata amber itu tengah duduk di atas meja makan setelah melewati perjalanan yang amat sangat lambat bagi Ayra, sebab pria itu sengaja memelankan laju mobil ferari miliknya.
"Kau hanya akan makan sup tomat itu?" tanya pria itu begitu melihat Ayra yang tak menyentuh hidangan lain yang ia hidangkan di atas meja.
"Hmm," guman Ayra mengiyakan ucapan pria di hadapannya.
Gelengan penuh kekesalaan dan juga keheranan Ayra dapat dari pria itu. Pria yang sudah sejak lama tak ia temui, terlalu banyak perubahan drastis yang terjadi. Tubuhnya yang tak lagi pendek, rahangnya yang lebih tegas, hidung yang bengis, tubuh kekar dengan perut sispek jangan lupakan mata amber yang indah dan rambut merahnya yang tertata berantakan memberikan kesan panas dan juga nakal.
Namun di antara semua itu hanya satu yang benar-benar menarik perhatian Ayra selain wajah babyface milik pria itu. Sesuatu yang entah sejak kapan ada di lengan kekar pria itu, sebuah tato tribal yang tergambar dari siku hingga bahu bagian kanan pria bermata amber itu.
Menyadari kemana perginya pandangan gadis di hadapannya, pria itu lantas segera memberikan jus tomat yang sempat ia buat ke hadapan gadis itu.
"Jangan terus menatapku, kau akan jatuh cinta lagi dan aku tak bisa bertanggung jawab!" seru pria itu melemparkan lelucon pada gadis di hadapannya.
"Cih, kapan kau kembali?" ujar Ayra dengan tangan kanan yang dengan lancangnya mengambil gelas berisikan air minum milik pria itu dan meminumnya tanpa terganggu dengan tatapan protes yang dilayangkan manik amber itu.
"Hei, itu minumku!" seru pria itu.
"Kenapa? Bukankah kita biasa melakukan hal ini bahkan lebih," jawab Ayra dengan acuh tanpa tahu bahwa ucapannya barusan membuat pria bermata amber itu tersedak dengan air minum.
"Uhuk uhuk... Kau mau membunuhku ya?" teriak pria itu mengelap sudut bibirnya yang basak akibat air sedakannya.
Bukannya merasa bersalah, Ayra justru melemparkan tisu bekas ke arah pria itu.
"Ayra!" seru pria itu benar-benar di buat kesal dengan tingkah Ayra. Tak pernah ia bayangkan akan melihat Ayra dalam sosok dewasa, rasanya baru kemarin ia melihat Ayra menangis akibat di juluki dewi Athena olehnya. Padahal Athena adalah putri Zeus yang paling berbakat dan menawan, bahkan ia termasuk dalam sepuluh dewa penghuni tahta di gunung Olymphus.
"Kau masih gadis atau sudah menjadi wanita?"
Kali ini gantian Ayra yang harus merasakan sakit pada bagian tenggorokannya akibat tersedak jus tomat yang sedang ia minum.
Kedua manik emerald itu memicing tajam, "Apa kau bercanda?" ujar Ayra kesal.
"Aku serius," balas pria bermata amber itu.
"Aku bukan wanita di luar sana yang rela mengangkangkan kakinya untuk sembarang pria, sialan!" sembur Ayra sarkas. Jelas saja ia masihlah gadis, banyak orang yang salah dalam menggunakan penggunaan kata 'gadis' dan 'wanita'.
Bagi Ayra kata gadis hanya dapat di sematkan pada perempuan yang masih suci alias perawan tetapi julukan wanita lebih pantas di sematkan pada perempuan yang sudah bersuami atau sudah tidak perawan.
"Jadi kau masih perawan," goda pria itu dengan kedua alis yang ia mainkan. Bibirnya mengukir seringai menggoda, membuat Ayra tak dapat menahan kedua pipinya untuk tak bersemu.
'Ayolah, ingat siapa ******** tengik ini, Ra!' batin Ayra mencoba mengalihkan perhatiannya, namun sayang manik amber serta seringai itu tak dapat ia acuhkan apalagi dengan tato tribal yang dengan lancangnya menampakkan diri. Terkutuklah jelmaan dewa Ares di hadapannya ini.
"Kenapa kau menciumku?" tanya Ayra dengan tatapan mata yang sarat akan keseriusan. Keduanya saling berpandangan dengan mata yang menatap lurus satu sama lain. Andai saja ini medan perang, sudah pasti semua yang ada di hadapan keduanya akan luluh lanta. Ingat Athena dan Ares adalah dua bersaudara yang mentahtai segala kemenangan dalam peperangan?
"Ah, kau tahu ada pria yang mengikutimu," jawab pria itu dengan tubuh yang ia senderkan di kursi, bahunya tampak merosot sedikit lebih santai.
Kerutan samar terlihat di kening Ayra, "Pria?" tanya Ayra bingung.
"Bermata hitam dengan rambut hitsm atau raven entahlah aku tak terlalu memperhatikan," jelas pria itu dengan acuh tanpa tahu bahwa jawabannya barusan membuat tubuh Ayra menegang. Ia jelas tahu siapa pria yang tengah mereka bicarakan saat ini.
"Shit!" umpat Ayra yang langsung bergegas mencari di mana ia menaruh ponselnya membuat ujung lingear hitam miliknya sobek.
Tak mengindahkan lingear itu, Ayra langsung mengirim pesan pada seseorang. Raut wajahnya yang terlihat sedikit panik menarik atensi pria itu.
Srekk
Dengan sekali tarik Ayra sudah berada di dalam kurungan pria bermata amber itu. Posisinya yang berada di antara sofa dan pria itu membuat dirinya tibaa-tiba saja merasa cemas. Mata amber itu menatap Ayra dengan kilatan lain, setitih kilau keemasan terpendar dari mata amber itu.
"Kau," seru Ayra begitu sadar akan siapa yang ada di hadapannya saat ini. Alaram di dalam benaknya langsung berbunyi ketika menyadari kilau keemasan di manik mata pria itu.
"Hai, Lovely sudah lama aku tak melihatmu," seru pria itu dengan aksen yang berbeda dari yang sebelumnya, terasa lebih berat dan menggoda.
"Lepas!" ucap Ayra begitu merasakan kedua tangannya yang di satukan di atas kepalanya dengan cekalan tangan kanan pria itu.
Seringai lebar terpatri di bibir pria itu. Maniknya yang awalnya terasa lembut kini berubah penuh ambisi. Dengan lancang pria itu menyelusupkan kepalanya di antar perpotongan leher Ayra, menghirup aroma yang sudah lama ia rindukan.
Hampir saja kepala itu bergerak menyururi perpotongan leher Ayra sebelum sebuah rasa sakit mendera pria itu, membuat ia jatuh tak sadarkan diri di atas tubuh Ayra yang tampak tengah bernafas lega.
"Kau datang di waktu yang tepat, Levi!" ucap Ayra pada pelaku pemukulan tengkuk pria amber itu barusan. Dengan sekali dorong, Levi membuat pria itu terjatuh. Mengabaikan seruan protes dan marah Ayra, Levi justru memilih duduk di sofa single milik Ayar menunggu sang tuan datang dengan bom di mulutnya.
"Ayra!!" teriak seseorang dari pintu apartemen membuat Ayra memijit pelipisnya sebelum mengangkat tubuh pria amber itu naik ke atas sofa, mengabaikan delikan tak terima yang Levi layangkan secara diam-diam padanya.
"Ma, tolong pelankan suaramu. Ini sudah malam!" ucap Ayra duduk di samping pria bermata amber yang kini tak sadarkan diri akibat ulang Levi yang kini tengah menatap tajam pria di sampingnya.
"Kenapa ia ada di sini?" tanya Agatta begitu ia sudah duduk di kursi lain yang letakkan berhadapan dengan sang putri.
Kedua mata Agatta tiba-tiba saja melotot hampir keluar dari rongganya begitu kembali melihat pakaian kurang bahan yang dikenakan putrinya apalagi begitu melihat satu bercak merah keunguan menghiasi leher jenjang sang putri.
"Apa ia kumat lagi?" tanya Agatta dengan kerutan di keningnya, tangan lentik milik Agatta tampak mengurut pangkal hidungnya berulang kali.
Kenapa ia harus menghadapi hal ini. Untung saja dirinya yang datang bagaimana jadinya kalau suaminya itu benar-benar ikut bersamaanya tadi, sudah ia pastikan bahwa pria yang tengah tak sadarkan diri di samping Ayra akan di buat berakhir di ugd sebab berani menyentuh putrinya ini. Sekalipun dia juga sosok yang amat suaminya dan dirinya sayangi.
"Sedikit. Tapi Mama jangan salah paham, ia melakukan ini untuk menolongku!" seru Ayra begitu menyadari arah pandang Agatta. Ia tahu gigitan tadi sore pastilah meninggalkan jejak.
"Lalu apa ini juga untuk menolongmu?" celetuk Levi dengan sebuah foto berukuran 3×4 yang pria itu sodorkan padanya.
"Ya," jawab Ayra datar.
Seakan sadar akan sesuatu, Agatta segera menjelaskan bahwa dirinya hanya khawatir pada keadaan sang putri. Terkutuklah mulut ember milik Levi.
Helanan nafas terpaksa Ayra luncurkan begitu merasakan rasa pening yang semakin mendera kepalanya. Pikirannya terpecah menjadi beberapa bagian, semua masalah datang dalam satu waktu.
"Levi bawa ia kekamar tamu!" ujar Ayra pada Levi yang menatap dirinya tak rela. Ia jelas tahu betul bahwa pria pirang itu memiliki dendam pribadi pada pemilik manik amber itu. Tapi, toh biarkan saja ia tahu Levi tak akan berani membunuh pria itu.
"Kalau Mama, ingin tinggal. Mama bisa tidur di kamar lainnya, aku lelah ingin tidur," jeda Ayra sambil memberikan ciuman selamat malam pada sang mama.
"Selamat malam," ucap Ayra menyempatkan memberikan satu belaian pada rahang Levi dan ciuman di kening pada pria bermata amber yang masih tak sadarkan diri.
Sepeninggalan Ayra, tak ada satupun yang bersuara sebelum Agatta memutuskan bangkit dan menuju kamar tamu yang biasa ia gunakan ketika menginap.
"Jika kau berani membuat kulitnya lecet barang sedikit saja, ku bunuh kau Levi!" seru Agatta sebelum tubuhnya lenyap di balik pintu kamar, meninggalkan Levi yang mendelik tak terima.
"Kau benar-benar sialan!" senggut Levi kesal. Namun walaupun ia sedang kesal dengan pria bermata amber itu, ia tetap memapah pria itu ke dalam kamar.
°°°
Di sebuah ruangan lebih tepatnya di sebuah bilik terlihat seorang pria tengah membersihkan sisah-sisah noda darah di atas pisaunya. Raut wajahnya tetap datar ketika jelaganya tak sengaja menatap tubuh seorang wanita yang sudah tercabik tak menentu. Dengan santai ia meninggalkan bilik itu dengan sepatu yang menginjak genangan darah yang memenuhi lantai.
Tap Tap Tap
"Alex!" teriak seseorang dari luar bilik ketika pria itu sudah menampakkan diri dari sela rak buku sebagai pemisah antara kamar dan juga bilik. Tampaknya bilik tadi adalah ruang rahasia terbukti dari letak pintu penghubungnya yang berada di antara dua rak buku.
"Kau, kau tidak habis membunuhkan!" ucap sosok yang terlihat mirip dengan Alex hanya saja prawakannya lebih dewasa.
Dengan acuh Alex berlalu meninggalkan pria itu. Delikan tak terima pria itu layangkan pada Alex.
"Sopanlah sedikit pada Kakak mu ini, Alex!" seru pria itu yang tak lain adalah kakak Alex. Pria itu tak habis pikir bagaimana mungkin ia bisa memiliki adik yang tak memiliki akhlak padanya, beruntung adik perempuannya yang satu itu masih memiliki sopan santun walau ia sangat merepotkan.
"Sebaiknya kau pulang, Rai!" seru Alex dengan tanpa rasa bersalah menyembut nama sang kakak tanpa embel-embel apapun di awal nama sang kakak.
Bila dalam manga ataupun komik pasti sudah ada sudut siku-siku yang membentuk perempatan di kening pria itu. Raizel D Loyer, putra tertua keluarga Loyer memiliki adik perempuan dan laki-laki. Tetapi kenapa publik hanya mengetahui dua putra keluarga Loyer?
Mendengar perkataan sang adik, tiba-tiba saja rasa menyesal hinggap di hati Rai sebab sudah mau menuruti permintaan satu-satunya adik perempuan yang ia punya.
Temui Alex, ku rasa ia sedang dalam suasana hati yang buruk. Aku takut ia membunuh sembaraang orang!
Pesan itu masih melekat jelas di pikiran Rai. Ia segera bergegas datang ke apartemen Alex guna memastikan bahwa adiknya itu baik-baik saja, namun apa yang ia dapat atas kekhawatiran dan pelanggaran lalu lintas yang sempat ia lakukan? Pengusiran. Dasar adik tak berakhlak, pikir Rai.
"Terserah, menyesal kami berdua mengkhawatirkan mu!" sarkas Rai sebelum pergi meninggalkan apartemen Alex. Menyisakan kesunyian dan tanda tanya bagi Alex.
"Memangnya siapa lagi yang mengkhawatirkan ku?" guman Alex sebelum menghubungi anak buahnya guna mengurus jasat wanita yang kini masih bersemayam di dalam bilik miliknya.
°°°
Kuso \= Menyebalkan/Sialan dalam bahasa Jepang. Biasanya digunakan pada saat seseorang merasa kesal atau marah.