
Bosan duduk sendirian Ayra memilih menghubungi Levi dan juga Azka guna menemuinya di cafe yang ia singgahi saat ini. Butuh waktu sekitar lima belas menit untuknya bersabar menunggu dua pria yang ia sayangi itu.
Tak berapa lama suara pekikan dan juga seruan manja sampai di telinga Ayra yang tengah duduk menikmati jus tomat dan semangkuk ramen³ yang akhirnya ia pesan dengan pelayan yang berbeda. Merasa terganggu dengan kebisingan itu akhirnya Ayra memilih melihat pelaku dari keributan itu. Seketika raut wajahnya yang awalnya terlihat kesal berubah menjadi datar, sedatar kaca jendela di sampingnya.
Bagaimana tidak, ketika retinanya menangkap wujud Levi dan juga Azka yang tengah tebar pesona dengan cara menyugar rambutnya. Terlihat tampan dan mempesona namun tanpa mereka sadari, kedua pria yang mereka kagumi bak perwujudan dewa itu adalah iblis bertopeng malaikat. Malang sekali nasib perempuan-perempuan kurang belaian itu, pikir Ayra.
"Kau tahu ku rasa cafe ini sedikit ramai untuk kita bertiga," celetuk Levi begitu ia sudah mendudukkan pantatnya di atas kursi yang ada di meja Ayra.
Azka yang melihat sudah tidak ada kursi yang dapat ia duduki, memilih menyahhut dengan acak kursi di meja lain. Dengan tampang tak bersalah ia menduduki kursi itu, mengabaikan delikan protes Levi yang tampak enggan duduk semeja dengan Azka.
"Aku setuju, bagaimana kalau kita pindah ke tempat yang lebih sepi?" ucap Azka dengan tatapan menggoda yang ia layangkan pada Ayra.
"Persetanan," umpat Ayra sebagai tanggapan dari apa yang keduanya ucapkan.
Senyum kecut terpaksa hadir di bibir keduanya. Niat hati ingin melaksanakan reuni akan kenangan masalalu terpaksa kandas begitu umpatan tadi meluncur bebas di bibir Ayra.
"Terserah,"
"Jadi kenapa kau memanggil kami ke sini?" tanya Levi begitu melihat Azka yang tampaknya tak ada niatan untuk mengajukan pertanyaan, pria merah itu tampak asik memandangi Ayra yang tengah lahap memakan ramennya.
"Biarkan aku menghabiskan ramenku baru kita bicara," jeda Ayra menenggak jus miliknya, "Dan ku harap kalian dapat mengkondusifkan keadaan, kalian paham bukan!" lanjut Ayra dengan mata yang menatap tajam keduanya, namun berbeda dengan bibirnya yang justru menyunggingkan senyuman.
Dengan susah payah keduanya menelan salivah mereka, rasa-rasanya tatapan Ayra saat ini dapat membunuh keduanya. Tak ada pilihan lain bagi mereka selain melemparkan tatapan tajam nan membunuh ke penjuru cafe seolah-olah memberi semua perempuan berisik itu untuk diam.
Nyaris tujuh menit Ayra butuhkan untuk menghabiskan semangkuk ramen jumbo yang ia pesan. Setelah menghabiskannya Ayra tampak memanggil pelayan guna membereskan meja mereka. Dengan sigap salah satu pelayan di sana membereskan meja Ayra serta memberikan bil pesanan Ayra.
Levi dan juga Azka memilih mengamati semuanya dalam diam. Setelah memastikan Ayra selesai dengan semua acara makannya, keduanya kembali mengajukan pertanyaan yang sama.
"Haah~tidak ada aku hanya bosan duduk di sini sendirian," jawab Ayra santai, membuat Levi dan Azka seketika cengoh.
Keduanya merasa di permainkan, bagaimana tidak bila mereka yang awalnya berpikir Ayra dalam kesulitan sehingga menyuruh mereka datang dengan cepat namun apa? Hanya bosan. What the **** man.
Saat sedang asik berbincang cafe kembali di buat bising oleh suara perempuan-perempun yang kurang kerjaan dan belaian itu. Mereka tampak meneriaki seorang pria yang datang dengan seorang wanita cantik berpakaian sexsy.
"Bukankah itu Putra kedua dari Loyer Grup?" tanya Levi begitu mengenali wajah pria yang membuat keributan, sama seperti saat keduanya datang.
Kerutan samar terlihat di kening Ayra. "Ya, sedang apa ia di sini?" ucap Ayra dengan pandangan yang menelisik ke arah Alex yang tampaknya tak menyadari kehadirannya.
Ketiganya tampak mengamati Alex dan wanita pirang yang kini duduk di meja yang terletak jauh dari mereka, membuat mereka tak dapat mendengar apa yang tengah keduanya bicarakan.
Semuanya berjalan biasa saja hingga wanita pirang itu memilih beranjak menuju ke arah toilet, yang anehnya adalah ketika Alex juga ikut beranjak dari duduknya dan berjalan menyusul wanita pirang itu. Memang tidak ada yang salah dan aneh hanya saja lain lagi ceritanya jika Ayra sempat melihat kilatan pendar dari saku celana bahan yang Alex kenakan.
"Damn!" umpat Aura sebelum berlalu menuju toilet meninggalkan Levi dan Azka yang menatap bingung Ayra.
"Apa Ayra baru saja mengumpat?" tanya Azka pada Levi.
"Kurasa iya, but why?" ucap Levi dengan kerutan di keningnya. Ayra tak mungkin mengumpat tanpa sebab, pikir Levi.
Sedangkan di toilet, tanpa yang lainnya sadari tengah terjadi sebuah peristiwa yang sangat menyeramkan sekaligus menyenangkan. Di sana, Alex tengah menusuk kedua tangan dan juga kaki wanita yang tadi duduk bersamanya di pintu salah satu bilik yang ada di dalam toilet.
Alex tampak menikmati acara penyiksaannya tanpa menyadari bahwa Ayra tengah mengamatinya dari balik pintu yang tak tertutup rapat.
"Hei, Sayang. Kau mau bagian mana lagi yang ku tusuk ehh?" ucap Alex pada wanita yang sudah menangis pilu, namun sayang suaranya harus teredam oleh sapu tangan yang menyumpal mulutnya.
Gelengan panik dan juga tatapan ketakutan wanita itu berikan pada Alex. Ah, andai Ayra yang ada di posisi wanita itu jelas saja ia tak akan melakukan dua hal yang paling di sukai seseorang seperti Alex.
Hampir saja Alex menusuk kedua mata wanita itu menggunakan pisau lipat, sebelum sebuah tangan menghentikan ayunan tangannya. Segera Alex berbalik guna melihat siapa orang yang sudah berani menghentikan kegiatannya.
Deg
"Ayra!" kaget Alex.
Keduanya saling menatap dan membisu sebelum Alex merubah tatapannya menjadi penuh akan kemarahan, membuat Ayra mengernyitkan alisnya bingung.
Brukk
Dengan sekali dorong Ayra terhimpit oleh Alex, membuat ia terjebak di antara Alex dan dinding toilet. Manik emerald Ayra menatap was-was Alex yang kini tengah menatap intens wajahnya.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" tanya Alex tepat di dekat cuping Ayra, membuatnya dapat merasakan panas nafas Alex di sana. Bulu kuduknya meremang begitu tangan kiri Alex merambat menuju pinggang rampingnya. Memberikan sengatan aneh di tubuhnya yang seketika menegang, membuat Alex menyeringai.
"Kau mengghancurkan kesenanganku dan juga kau sudah membuatku merasakan rasa sakit yang paling ku benci!" ujar Alex dengan tangan kanan yang menarik rok span yang Ayra kenakan ke atas.
Tangan Ayra yang hendak menghentikan gerakan Alex langsung Alex cekal di atas kepala Ayra, membuat Ayra tak dapat melawan banyak atau justru pura-pura tak melawan.
"Aku marah karna kau memilih pergi bersama kekasihmu!" geram Alex.
Rasa dingin tiba-tiba hinggap di paha Ayra, membuat sang empu mengerutkan keningnya. Namun sedetik kemudian kedua manik emerald itu membulat begitu merasakan rasa perih dari pahanya yang terkoyak benda tajam yang bisa ia pastikan adalah pisau.
"Akhh!" rintih Ayra begitu Alex menekan semakin dalam pisau di paha Ayra, membuat darah semakin deras mengalir menelusuri kaki jenjang Ayra.
"Hemm, darahmu manis!" ucap Alex setelah menjilat habis darah Ayyra yang menempel di pisau miliknya.
Tanpa Alex sadari sebuah seringai hadir di bibir kissanle milik Ayra. Rasa perih yang menghantam seluruh syaraf tubuhnya ia nikmati begitu dalam. Jantungnya berdetak tak normal, bukan karna rasa sakit yang membuat dirinya takut atau cemas melainkan sebaliknya.
"Kau melukaiku," bisik Ayra dengan kepala yang tertunduk membuat Alex tak tahu ekspresi macam apa yang tengah Ayra tampilkan di wajah ayunya.
"Ka...
Brakk
Pintu toilet terbuka begitu saja setelah mendapat dobrakan dari luar membuat suara gaduh yang anehnya tak mengganggu para pengunjung lainnya yang ada di cafe kembali terdengar. Apa toilet ini kedap suara, pikir Ayra.
Di depan pintu toilet, Azka dan Levi berdiri dengan mata yang menatap tajam dan membunuh ke arah Alex yang masing mengunci pergerakan Ayra. Rahang keduanya mengeras begitu melihat darah yang mengalir di kaki Ayra.
"Apa yang kau lakukan sialan!" teriak Azka murkah. Dengan tanpa banyak bicara Azka segera berlari ke arah Alex, menyerang putra kedua Loyer dengan berutal.
Melihat hal itu Levi segera berlari mendekat ke arah Ayra, membantunya dengan cara menggendong Ayra dengan gaya bridstayl.
"Azka!"
Seruan Levi barusan menghentikan gerakan Azka yang hendak melayangkan tinjuan ke arah Alex.
"Kita pergi!" ucap Levi sambil melirik ke arah Ayra, memberi kode lewat mata bahwa mereka harus mengurus Ayra terlebih dahulu.
Dengusan kasar Azka luncurkan sebelum pergi meninggalkan toilet dan juga Alex beserta mayat wanita pirang yang masih tergantung di bilik tanpa berniat menolong.
Dengan santai ketiganya keluar dari toilet sebelum merapikan penampilan Ayra dan juga Azka agar tak ada yang curiga. Urusan wanita pirang itu jelas saja Alex yang harus menanggungnya, toh ia yang membunuh wanita itu.
Beruntung para pelayan tengah istirahat dan para pelanggan mulai sepi, dengan begitu ketiganya bisa keluar tanpa hambatan. Kabar baiknya cafe ini tak memiliki satupun cctv.
Sedangkan di toilet, Alex masih terdiam mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Begitu sadar apa yang telah ia lakukan terhadap Ayra, rasa bersalah yang sudah ia bunuh bertahun-tahun kini kembali hidup dan singgah di hatinya.
"Apa yang sudah ku lakukan?" guman Alex sebelum meninggalkan toilet cafe yang menjadi saksi bisu pembunuhan yang ia lakukan serta saksi akan kesalahan yang ia lakukan terhadap Ayra.
Sebelum benar-benar pergi, Alex menyempatkan diri guna menghubungi anak buahnya untuk membereskan apa yang sudah ia lakukan. Holkai mah bebas, membuat masalah? Tenang, ada anak buah yang akan membereskannya. Ck ck ck, hidup sesimpel dan sebercanda itu bagi orang beruang.
°°°
Ramen \= Makanan mie dari jepang yang banyak di gemari, salah satu contonya bisa di lihat di film Naruto Shimpuden. Ramen adalah makanan favorit Naruto.