
Pagi ini Ayra sudah disibukkan dengan berbagai macam dokumen baru yang harus ia baca dan ia tanda tangani. Bisa saja ia menyuruh sekretarisnya melakukan semua pekerjaannya ini hanya saja ia tak suka bila ada yang tak sesuai dengan apa yang ia inginkan dan lagi tanda tangan miliknya haruslah asli. Jadilah ia harus bergelut dengan tumpukan kertas tak bernyawa namun mampu membunuhnya dalam beberapa minggu.
Raut wajah lelah masih terlihat melekat di wajah Ayra, masih segar di ingatannya akan apa yang baru saja ia alami ketika terbangun dari tidurnya.
Flasback on
Kicau burung dan suara bising dari luar gedung tampaknya tak mengusik tidur nyenyak Ayra, namun semua itu tak bertahan lama ketika ia merasakan deru nafas di tengkuk dan sebuah lengan yang dengan lancang membelit pinggang rampingnya. Tanpa banyak berfikir Ayra langsung saja menendang tubuh di balik punggungnya. Seketika terdengar suara mengaduh sekaligus erangan dari bawah ranjang.
"Shit. Apa yang kau lakukan, Honey?" seru seseorang dari lantai. Mendengar suara itu Ayra segera menuju tepi ranjang guna memastikan bahwa yang baru saja ia tendang bukanlah sosok yang semalam telah Levi aniaya secara tidak lansung.
"Azka Novaleo Frankline?" panggil Ayra begitu melihat rambut merah dan wajah babyface serta mata amber yang menyambut indra penglihatannya.
"Kau kenapa?" tanya pria itu yang tak lain adalah Azka.
"Haah~ku pikir dia," guman Ayra dengan helanan nafas yang terdengar lega.
"Kalau memang ini aku bagaimana?" sahut Azka dengan kilatan emas di manik ambernya, membuat kedua mata emerald Ayra melebar terkejut.
"Kau!" berang Ayra dengan jari telunjuk yang teracung di depan hidung Azka.
"Tenang lah, aku hanya merindukanmu, Lovely!" pungkas pria itu dengan jemari yang menarik jari telunjuk Ayra, membawanya pada bibir miliknya yang tengah menyeringai. Satu kecupan ia sematkan di telunjuk Ayra berlanjut ke telapak tangan Ayra.
Seolah terhipnotis akan keindahan manik amber itu, Ayra membiarkan pria itu menciumi tangannya hingga suara dobrakan menghentikan apa yang sedang pria itu lakukan pada Ayra.
"Sialan apa yang kau lakukan pada Adikku!" teriak seseorang dari pintu membuat Ayra tersadar dan segera melihat ke arah pintu.
Di sana Levi tengah berdiri, menatap berang keduanya lebih tepatnya pada pria yang kini justru mengukir senyum simpul di bibirnya.
"Ah, kau mengganggu ku nee, Levi!" ledek Azka memancing emosi Levi.
Dengan hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan, Levi segera berjalan menghampiri Azka yang justru masih duduk dengan santai di atas lantai.
Sebelum hal buruk menimpa senin paginya, Ayra segera bangkit guna menghentikan dua pria itu. Tanpa banyak bicara Ayra lebih dulu menyeret Levi menuju kamar mandinya.
Ceklek
Bunyi pintu yang di kunci membuat Levi mengerutkan keningnya bingung. Apa Ayra sedang menggoda atau bahkan sedang nafsu pada tubuh toplesnya, pikir Levi.
"Jangan berpikir macam-macam!" hardik Ayra ketika melihat wajah mesum yang Levi pasang.
Alis Levi terangkat sebelah. Ayolah, apa Ayra baru saja mengatainya mesum? Come on siapa yang tak akan berpikir demikian begitu melihat penampilan Ayra yang menggoda, dengan lingear serta rambut yang berantakan. Ayra tampak seperti racun bagi pria saat ini.
"Lebih baik kau mandi, aku akan menyiapkan bajumu!" ucap Ayra sebelum keluar dari kamar mandi, meninggalkan Levi yang mendengus kesal akan keputusan yang Ayra buat.
"Mandi? Di jam segini, kau pasti bercanda Ra!" teriak Levi dari kamar mandi.
Sedangkan Ayra hanya mampu merotasikan kedua matanya jengah akan tingkah laku Levi yang tak pernah berubah sejak bertahun-tahun yang lalu. Rasanya menyesal ia mengenal Levi sejak lama, tapi apa mau dikata ia juga menyayangi pria menyebalkan itu.
Satu masalah selesai tinggal satu lagi.
"Kenapa masih di sini?" ujar Ayra begitu mendapati Azka masih terbaring di ranjangnya.
"Aku hanya istirahat sebentar, butuh banyak tenaga untuk menarik kembaran Athena kembali kesinggah sananya!" keluh Azka. Ah, ia baru sadar kalau kini tak ada kilau keemasan di mata amber itu.
"Ayra!"
Seruan dari luar kamar membuat Ayra memijat kepalanya. Rasanya paginya yang indah menjadi kacau akibat keberadaan keempat orang itu di apartemennya.
Flasback off
Kini Ayra hanya berharap tak akan ada yang mampu membuat harinya menjadi semakin buruk. Sudah cukup keributan di pagi hari dan tumpukan dokumen di hadapannya yang mengacaukan paginya, tidak lagi untuk yang lainnya.
Saat sedang seriusnya membaca dokumen perjanjian antara perusahaannya dengan perusahaan Loyer, Ayra harus menahan jantungnya agar tak copot begitu mendengar suara dobrakan dari pintu ruangannya. Beruntung pintu itu pintu kayu bagaimana jadinya kalau pintu itu terbuat dari kaca, sudah pasti ambyar.
"Bedebah sialan!" umpat Ayra sepontan tanpa melihat siapa yang menjadi pelaku pendobrakan pintu ruangannya sebab ia masih sibuk menetralkan detak jantungnya yang menggila.
Senyum manis sosok itu tarik, "Wah, bibirmu manis sekali Sayang!" sindir sosok itu membuat Ayra mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Tak butuh hitungan menit kedua manik emerald itu di buat memicing tajam.
"Hei, aku hanya bercanda."
"Dengan taruhan nyawaku? Wah wah wah kau memang sudah tak sayang akan nyawamu lagi ehh?" cibir Ayra dengan senyum miring di wajah datarnya. Tatapan matanya menatap lurus dan juga polos ke arah sosok itu, membuatnya seketika merinding di tatap sebegitunya dengan Ayra.
"Ba-bagaimana kalau ki-kita bicara di cafe?" tawar sosok itu dengan suara yang terbatah. Demi tuhan, ia akan sering-sering bersedekah asalkan Ayra mau berhenti menatap dirinya begitu.
"Hn."
Hanya sebuah gumanan yang sosok itu dapat, namun melihat Ayra yang bangkit dari kursinya membuat sosok itu tersenyum. Tanpa di tanya pun ia sudah tahu pasti bahwa Ayra mau pergi bersamanya.
Keduanya akhirnya keluar dari ruangan Ayra dengan beriringan. Begitu sampai di depan lift, Ayra tak langsung masuk ke dalan lift melainkan menyambangi meja resepsionis yang ada di lantai ruangannya.
"Akira," panggil Ayra pada wanitaa yang menjadi resepsionisnya.
"Ya, Nona?" sahuta Akira menatap Ayra sopan, membuat senyum tipis terukir di bibir Ayra.
"Aku akan keluar sebenatar dengan perwakilan Loyer Grup, jadi bila ada yang mencariku suruh ia menunggu dan beritahukan Piter untuk membereskan ruanganku!" jelas Ayra sebelum melangkah masuk ke dalam lift meninggalkan Akira yang langsung menghubungi Piter selaku sekretaris Ayra.
°°°
Cafe yang terletak tak jauh dari perusahaan Zeon menjadi pilihan keduanya. Dengan menggunakan mobil pria itu, keduanya menuju cafe. Jam yang masih pagi, membuat jalan terasa lenggang sebab jam kerja dan sekolah sedang berlangsung.
Begitu sampai di parkiran cafe, Ayra dan pria itu segera keluar dari mobil lamborghini berwarna putih yang mereka tumpangi tadi. Keduanya kembali berjalan beriringan masuk ke dalam cafe. Dentingan lonceng saat mereka masuk menyambut indra pendengaran mereka.
Meja di pojok dekat dengan jendela cafe menjadi pilihan Ayra, sebab ia tak terlalu suka bila harus berada di keramaian apalagi sampai menarik perhatian. Ia sangat membenci hal itu.
Tak berapa lama setelah keduanya duduk salah seorang pelayan cafe datang menghampiri keduanya berniat mencatat pesanan keduanya. Namun ketika ia sudah berada di hadapan keduanya, pelayan itu di buat tersipu malu saat bertemu tatap dengan pria di hadapan Ayra.
Tatapan genit dan gestur penuh godaan pelayan wanita itu lontarkan pada pria di hadapan Ayra. Bukannya tergoda pria itu hanya terlihat acuh berbeda dengan Ayra yang terlihat sangat tidak nyaman.
"Jika kau ingin menggoda kekasihku, ku sarankan untuk menari telanjang di sini sekarang juga!" sarkas Ayra membuat para pengunjung dan pelayan cafe lainnya terkejut sedangkan pelayan yang ada di hadapan Ayra seketika menegang dengan kedua pipi yang merah padam menahan kekesalan dan malu.
"Ma-af!" seru pelyan itu dengan tubuh yang ia bungkukkan. Entah sengaja atau tidak pelayan itu memperlihatkan dadanya ke arah pria yang Ayra akui sebagai kekasihnya.
"Ck, pergi dari sini sebelum ku congkel kedua matamu dan mengoyak habis ususmu!" tukas Ayra dengan mata yang memicing tajam ke arah prlayan itu.
"Haah~lebih baik kau pergi karna aku tak akan menghentikan apapun yang akan kekasihku lakukan padamu dan satu lagi, aku tak akan tertarik pada godaan murahan seperti itu sebab kekasihku jauh lebih dari kata menarik," ucap pria itu menatap malas pelayan yang kini tengah menatapnya dengan kedua mata yang berkaca.
Hawa membunuh jelas terasa di meja itu, merasakan hal itu dengan segera pelayan itu pergi sebelum ia mati di buat kekasih pria tampan itu.
Tatapan tajam Ayra masih mengikuti kemana perginya pelayan itu. Rasa-rasanya ia sangat ingin memutilasi pelayan kurang ajar itu, berani sekali ia menggoda pria di hadapannya. Ck, cari mati namanya.
"Kekasih eh?" ejek pria di hadapannya membuat satu alis Ayra terangkat.
"Masih untung ku akui kekasih tahu begini ku katakan saja kalau kau adalah babu ku," balas Ayra dengan sudut bibir yang terangkat membentuk senyum miring yang mengejek pria di hadapannya.
"Ck, Adik tak punya akhlak. Kalian berdua sama saja," celetuk pria itu dengan raut wajah yang kusut, namun tak melunturkan ketampanannya apalagi di tambah dengan jas hitam mahal itu.
"Sudahlah ke intinya saja, kau mau membicarakan apa?" ujar Ayra tanpa mau repot-repot memesan makanan sebab ia sudah tak memiliki selera untuk makan.
Dengusan terdengar jelas dari bibir pria di hadapan Ayra. Sempat pria itu berpikir kenapa ayah dan kakeknya mau mengangkat perempuan menyebalkan ini menjadi anak dan cucu mereka?
"Dia berulah dan aku menyesal menemuinya!" curhat pria itu dengan raut wajah kesal. Bisa Ayra pastikan ada kejadian tak mengenkan ketika pria itu pergi menuruti pesannya.
"Sudahlah aku malas membahasnya. Aku mau pulang saja, bermanja ria dengan kue buatan Mama," ucap pria itu sebelum bangkit dari duduknya dengan mata yang masih menatap Ayra.
"Apa? Kau pikir aku akan merengek meminta kue buatan Mama?" jeda Ayra, "Tanpa ku minta Mama akan mengirimkannya ke perusahaan," lanjut Ayra dengan senyum pongah di wajahnya. Toh memang benar, tanpa ia minta kue itu akaj berada di atas meja kerjanya ketika ia kembali ke perusahaan.
"Dasar Adik sialan!" guman pria itu sebelum berbalik pergi meninggalkan cafe dan juga Ayra.
"Pria itu, lihat saja akan ku adukan umpatannya barusan pada Kakek!" senggut Ayra kesal.
Ayra tampaknya masih enggan meninggalkan cafe, ia tampak tengah memikirkan sesuatu. Matanya yang tajam terus menatap jendela kaca di sampingnya. Tak pernah ia pikirkan bahwa ia akan secepat itu bertemu dengan sosok yang selama ini menjadi adik angkatnya. Berharap bertemu dengan kesan yang baik dan menyenangkan, ia justru di sambut dengan adegan yang terlupakan di memorinya.