
Suara rintihan dan juga erangan terdengar dari salah satu ruangan yanng ada di apartemen Ayra, lebih tepatnya di kamar tidurnya. Darah tampak berceceran di atas seprai putih milik Ayra, bantal dan selimun yang awalnya tersusun rapi tampak sudah berantakan.
"Akh!" rintih Ayra begitu benda tajam yang Levi pegang menembus kulit di sekitar luka bekas tusukan Alex.
Seharusnya Azka dan Levi membawa Ayra ke rumah sakit guna menjahit luka itu, hanya saja mereka tak bisa melakukan hal itu. Bisa-bisa mereka bertiga akan ada dalam masalah. Akhirnya mereka putuskan bahwa akan melakukan oprasi kecil di apartemen Ayra dengan Levi sebagai dokternya.
Keringat tampak bercucuran dari tubuh Ayra dan Levi, sedangkan Azka ia memilih menunggu di luar dengan harap-harap cemas. Sebenarnya ia tak mau keluar takut Levi mengambil kesempatan dalam kesempitan pada Ayra, tapi apa mau di kata ini demi kebaikan Ayra.
"Selesai!" seru Levi sembari melepas sarung tangan berbahan karet yang ia kenakan saat menjahit luka Ayra. Keringat di dahinya mengucut deras, membuatnya terpaksa menggunakkan tangannya untuk mengelapnya.
Sedangkan Ayra, ia hanya terbaring di ranjang dengan keringat yang sama banyak. Raut kesakitan jelas tergambar di wajah Ayra, bagaimana tidak ia harus menahan perih ketika luka itu di basahi dengan cairan alkohol lalu ia harus menahan jeritannya ketika jarum tajam itu menjahit kulitnya. Tetapi untuk saja semua itu berlalu dan beruntung Levi sangat berpengalaman dalam hal ini.
"Masih sakit?" tanya Levi lembut pada Ayra. Rasa bersalah dan juga menyesal menyentil hati Levi. Andai saja ia dapat membaca situasi lebih cepat pasti Alex tak akan sempat melukai Ayra. Andai saja mereka membawa Ayra ke rumah sakit pastilah ia tak akan merasakan sakit, paling tidak obat bius dapat meringankan sakit yang Ayra rasa saat ini.
Senyum manis nan sayu Ayra berikan pada Alex. Ia tahu betul bahwa pria pirang itu tengah di rundung rasa bersalah dan khawatir.
"Kemarilah," bisik Ayra lemah. Sebenarnya sakit pada luka itu tak terlalu mempengaruhinya, hanya saja darahnya yang sudah banyak keluar membuat ia merasa lemas.
Mengerti apa yang Ayra maksud, segera saja Levi menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Ayra. Setitih air mata mengalir di pipi Levi. Ingat seorang pria hanya menangis ketika melihat orang yang ia sayangi tersakiti atau ia merasakan sakit yang luar biasa. Kini ia menangis untuk alasan pertama.
Melihat Levi yang menangis, secuil rasa bersalah menghantui Ayra. Seharusnya ia tak ceroboh dengan membiarkan Alex melukainya hanya untuk menetralkan emosi Alex tanpa memikirkan akibatnya. Ia akui kali ini ia ceroboh.
"Sudahlah, aku tak apa," bisik Ayra dengan tangan kanan yang mengelus kepala Levi yang menyusup di antara cekungan leher dan bahunya, sedangkan tangan kirinya memberikan tepukan di lengan kokok Levi yang tengah memeluknya.
"Maaf, andai saja aku lebih cepat kau tidak ak..."
"Hei, apa yang kau bicarakan? Kau tak bersalah oke, ini semua karna diriku yang kurang hati-hati," potong Ayra dengan kedua tangan yang menangkup wajah Levi. Ayra dapat melihat jejak-jejak air mata yang membekas di wajah Levi.
Bibir Levi terbuka hendak mengatakan sesuatu sebelum suara bantingan dari pintu kamar Ayra membuat keduanya melarikan pandangan mereka ke arah pintu.
"Katakan bahwa kau bukan pelakunya Ayra Agatta Zeoneva!" seru seorang pria paru baya dari pintu, membuat jantung Ayra dan Levi berdetak kencang. Bagaimana bisa pria itu ada di sini, pikir keduanya.
"A-ayah!" kaget Ayra.
Segera setelah melihat sosok kepala keluarga Zeoneva, Levi bangkit dari posisinya yang masih memeluk Ayra. Dengan sedikit kikuk ia membenarkan letak selimut guna menutupi luka jahitan Ayra yang sudah tertangkat mata pria itu.
'******,' batin Levi.
"Jawab Ayra!" tukas sang ayah yang kini tengah melangkah mendekat pada ranjang yang Ayra tempati. Manik amber itu tampak menelisik ke seluruh ruangan yang tampak kacau seperti kamar seseorang yang habis bercinta bak binatang.
"Berapa kali aku harus bilang pada kalian kalau aku sudah sembuh!" lirih Ayra dengan ekspresi yang kosong.
"Lalu bagaimana kau menjelaskan tentang keberadaanmu dan luka sialan itu hah!" bentak pria itu membuat Levi berjengit kaget. Ia harus segera melakukan sesuatu sebelum hal buruk terjadi.
"Maaf Tuan, Nona Ayra memang ada di sana untuk makan siang bersama kami tetapi Nona memang bukan pelakunya," Levi tampak memberi jeda pada ucapannya, "Dan soal luka di kaki Nona, itu karna Nona ingin menolong wanita yang ada di toilet itu," lanjut Levi dengan wajah serius berusaha meyakinkan Tuan besarnya dengan raut wajahnya itu.
"Ceh, berarti kau tahu siapa pelakunya bukan?" ujar pria itu masih mencoba menyudutkan Ayra, membuat Levi geram bukan main.
"Entahlah, mungkin pria yang sama dengan yang beberapa hari lalu membunuh di sebrang apartemen," jawab Ayra santai, justru ia kelewat santai begitu mengatakannya.
Alis pria itu terangkat begitu mendengar jawaban yang putrinya lontarkan.
"Kau tahu dari mana?" tanya pria itu lagi.
"Menebak," singkat Ayra.
"Aztonio Zeoneva!" teriak Agatta meneriaki nama sang suami, membuat Azton berbalik menatap Agatta yang tengah menatap berang dirinya.
Raut wajah Azton tampak bingung, seingatnya ia tak mengajak atau menghubungi istrinya itu tentang keadaan Ayra. Lantas bagaimana bisa istrinya itu ada di sini, meneriaki namanya dengan lantang.
"Putrimu sedang terluka dan kau malah mengintrogasinya!" sembur Agatta pada Azton.
"Sedang apa kau di sini Sayang?"
Bukannya menjawab pertanyaan yang Agatta lontarkan, Azka justru balik melontarkan pertanyaan pada Agatta.
Belum sempat Agatta menjawab pertanyaan yang menjadi perwakilan dari rasa penasaran Azton, kemunculan seorang pria berambut merah dengan mata yang serupa dengan miliknya membuat rasa penasaran Azton terjawab sudah.
"Azka," dengus Azton begitu melihat pria itu di balik punggung sang istri. Tatapan tajam ia berikan pada Azka, namun Azka tampak acuh seolah tak takut sama sekali.
"Ku congkel matamu berani menatap tajam Putraku!" seru Agatta begitu menangkap basah Azton yang sedang melotot ke arah Azka.
Levi dan juga Ayra hanya dapat diam dan menonton serta menanti kapan drama receh di hadapan mereka berakhir.
"Cam'on, Honey sedang sakit dan kalian masih mau berdebat? Ck, enyah sajalah!" sarkas Azka mendapat delikan dari Agatta.
'Tuhan, kenapa semua anak-anakku tak ada yang dapat mengerti ibunya ini!' batin Agatta nelangsa. Seingatnya dulu ia tak mengidam hal aneh saat hamil kedua, lantas kenapa tingkah Azka dan Ayra tak ada yang benar.
"Levi," panggil Ayra lirih, namun entah kenapa dapat Azka dan yang lainnya dengar.
Mendengar namanya di sebut, Levi langsung berjalan mendekat ke arah Ayra.
"Ada apa?" tanya Levi lembut dengan jemari yang menggenggam tangan Ayra, membuat tiga orang lainnya menatap tak percaya ke arah keduanya.
"I love you," bisik Ayra sebelum manik emerald itu tertutup, menyisahkan sebuah senyum di bibir Ayra.
"W-what!!" seru ketiganya kaget sedangkan Levi ia tampak biasa saja.
"I love you too," balas Levi menyematkan kecupan di punggung tangan Ayra yang masih ia genggam.
Setelah memastikan Ayra benar-benar terlelap, Levi segera melepaskan tautan jemari keduanya. Ia benarkan lagi selimut yang membungkus Ayra saat ini.
Entah kenapa secara tiba-tiba Levi merasakan hawa yang sangat mencekam di balik punggungnya belum lagi ia dapat merasakan bahwa tatapan seseorang seolah menembus punggungnya.
'Apa malaikat mau ada di belakangku?' batin Levi bermonolog.
Benar saja, tepat ketika ia membalikkan tubuhnya menghadap ke belakang ia langsung di hadiahi tatapan tajam lagi menbunuh dari Azka, Agatta, dan Azton, ketiga tuannya.
"Ada apa?" tanya Levi dengan kedua mata yang ia kerjapkan polos. Ingin rasanya ketiganya menghancurkan wajah sok imut itu.
"Ada hubungan apa kau dan Ayra?" bisik Azka menahan geraman yang nyaris keluar jika saja ia tak ingat bahwa Ayra tengah tertidur saat ini.
Sebuah seringai terukir di bibir Levi, membuat Azka, Agatta dan Azton di buat bingun dan juga was-was saat ini. Azka jelas tahu apa arti seringai yang Levi tampilkan saat ini.
"She ia my life," bisik Levi begitu melewati ketiganya guna keluar dari kamar Ayra.
Tubuh ketiganya di buat menegang kaku. Sebenarnya seberapa dekat Ayra dan Levi? Apa maksud ucapan Ayra dan Azka tadi? Hubungan apa yanng keduanya jalin di belakang mereka? Apa, apa dan apa?