
Waktu yang berlalu tidak bisa terulang kembali, kecuali kau memiliki mesin waktu yang ada di laci meja belajar Nobita dalam film Doraemon. Rasa menyesal itu dengan lancangnya hadir di hati seorang gadis, membuat ia merutuki kembali kebiasaannya yang masih membekas walau sudah tak terlalu kentara.
Tubuhnya bahkan tak bergerak seinci pun ketika melihat kejadian di sebrang apartemennya. Matanya justru terpaku mengawasi semua yang pria itu lakukan pada korbannya, walaupun wajah itu tertutup topeng dan topi ia masihlah dapat melihat bahwa ia seorang pria.
Dua buah pisau yang pria itu tancapkan di mata korbannya menjadi penutup kegiatan pria itu. Entah sebuah kesialan atau yang lainnya, pria itu mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang terbuka memperlihatkan gadis itu yang tengah terpaku menatap ke arahnya dengan wajah datar.
Geraman meluncur dari bibir pria itu bak hewan buas. Ia angkat jemari berlumur darahnya sejajar dengan wajahnya, jemari itu tampak berganti seiring dengan degup jantung gadis itu yang menggila. Katakan bahwa pria itu tak tengah melakukan apa yang ada di pikirannya.
Jemari pria itu berhenti dengan jari jempol dan telunjuk yang ia biarkan berdiri sedangkan yang lainnya ia tekuk. Tujuh, hanya angka itu yang melintas di pikirannya.
"Apa yang dia lakukan?" guman gadis itu yang dengan bodohnya masih berdiri di balkon apartemennya tanpa berniat pergi bahkan ketika pria itu pergi meninggalkan si korban yang jelas saja sudah tak bernyawa, ia jelas tahu akan hal itu bahkan lebih dari tahu.
Semerbak bau tanah sehabis hujan menyapu indra penciumannya. Selain bau vinus ia juga menyukai bauu tanah yang basah dan satu lagi bau yang pernah ia gilai, melebihi apapun. Sesuatu yang di benci semua orang, namun ia justru menyukainya.
"Aku harus mandi!" ujar gadis itu sebelum berjalan masuk ke dalam apartemennya setelah menutup pintu balkon tak lupa dengan tirai putihnya juga.
Suara gemericik terdengar dari kamar mandi, menandakan bahwa gadis pemilik apartemen itu tengah melaksanakan ritual mandi sorenya. Tidak butuh waktu lama, gadis itu telah menyelesaikan mandinya.
Dengan hanya menggunakan sebuah jubah mandi gadis itu berjalan keluar menuju walkinclose yang berada di samping kamar mandi. Karna ruang apartemen itu yang luas membuat ia dapat membuat beberapa ruangan baru selain kamar, dapur dan ruang lainnya.
Tanpa ia sadari seseorang tengah merengsek masuk ke dalam apartemennya, menyusup secara diam-diam.
Tap
Gadis itu segera menghentikan kegiatannya dalam memilih lingear begitu mendengar suara langkah yang teramat pelan namun masih terdengar di telinganya.
Berbagai dugaan-dugaan hadir di kepala gadis itu, masih dengan jubah mandinya yang berwarna putih hampir teransparan ia melangkah santai keluar dari walkinclose. Berniat melihat siapa orang yang dengan lancangnya masuk ke dalam wilayah kekuasaannya.
Tap
"Ah, siapa?" tanya gadis itu pada sosok yang tengah berdiri di depan jendela balkon kamarnya.
Setelah lancang membobol passwoard apartemennya kini sosok itu dengan lancangnya masuk ke dalam kamarnya, kamar tidurnya.
"Kau melihat semuanya?" ujar sosok itu tanpa mau repot-repot membalik tubuhnya.
Mendengar hal itu seketika gadis itu paham siapa kiranya sosok di hadapannya ini. Pasti sosok ini adalah pria yang ia lihat di sebrang apartemennya beberapa menit yang lalu.
"Oh, ku kira siapa. Ternyata anda!" jaawab gadis itu santai membuat pria itu tertarik melihat lebih dekat sosok gadis yang ia lihat dari jendela apartemen korbannya barusan.
Ketika pria itu berbalik kedua mata itu bertemu, hitam dan emerald. Keduanya tampak terdiam kaku, seolah terpesona dengan bola mata masing-masing.
Pria itu tak menyangka bila gadis yang ia lihat begitu cantik dan menawan dengan rambut pink panjang, mata emerald bulat, bulu mata lentik, pipi tirus, bibir kissable, kulit putih mulus dan satu lagi yang terus menarik matanya kakinya yang jenjang dan leher jenjangnya. Benar-benar sempurna.
Sedangkan gadis itu tampak terpukau dengan mata hitam sekelam langit malam dengan bulu mata lentik, rahang tegas, bibir yang menggoda dan tubuh yang kokoh membuat gadis itu berpikir apakah pria di hadapannya ini seorang dewa? Sebab wajahnya yang adonis yang tak terhalang topeng yang sempat ia lihat tadi. Mengingat soal topeng, gadis itu kembali sadar akan keberadaan pria itu di dalam apartemennya.
"Mau minum kopi, teh atau bir?" tanya gadis itu berjalan menuju mini bar yang ada di sudut ruangan tak jauh dari pintu masuk ke kamar.
Kerutan samar terlihat di kening pria itu, apa gadis di hadapannya ini tak tahu bahwa ia tengah berada dalam bahaya? Atau gadis itu tengah mencoba menggodanya menilai dari penampilan gadis itu yang hanya mengenakan jubah mandi yang hampir tipis dan tampak kecil di tubuhnya, membuat beberapa bagian menonjol.
Semerbak bau apel dan cerry mengusik penciumannya, ia yang membenci hal yang berbau manis justru merasa kecanduan akan harum gadis di kurungannya itu.
"Akan lebih baik kalau kau melepas ku terlebih dulu, aku harus membuat minuman!" ucap gadis itu berbalik menatap pria di hadapannya. Dengan jarak sedekat ini ia dapat dengan jelas menatap wajah tampan pria itu sama halnya dengan pria itu yang kini tersihir akan kecantikan gadis di hadapannya ini.
"Bir," ucap pria itu sebelum berlalu menuju balkon kamar gadis itu setelah melepas hodi dan topi yaang ia kenakan. Membiarkan gadis itu meracik minuman mereka.
Setelah selesai dengan racikannya, gadis itu segera menyajikannya di meja yng ada di balkon. Setelah menaruh minuman mereka, gadis itu tak segera duduk ia memilih menuju walkinclose untuk mengenakan pakaiaannya. Ia masihlah punya sopan santun untuk berpakaian dengan pantas di hadapan tamunya.
"Jadi?" ujar gadis itu setelah mengenakan pakaiannya. Ia tahu, amat sangat tahu tipe orang seperti pria itu tak suka bila harus menunggu kecuali saat melakukan 'kesenangan' mereka.
Dengusan kasaar pria itu lakukan, "Kau tak takut?" tanya pria itu.
"Takut? Pada apa, kau atau kejadian di apartemen sebrang?" tanya gadis itu dengan bibir yang menyesap nikmatnya bir yang ia racik. Rasa yang selalu membuat dirinya melayang.
"Kita tahu apa yang ku lakukan bukan hal yang kecil," ujar pria itu dengan mata yang menatap tajam ke arah gadis di hadapannya ini.
Sebuah seringai ia tarik di bibirnya. Tak pernah terbayang di pikirannya kalau ia akan bertemu dengan gadis yang menarik ini. Rasanya ia harus mengucapkan terimakasih pada pria yang membuat masalah dengannya itu.
"Ya aku tahu dan ku harap kau membersihkan dengan rapi semua jejakmu!" acuh gadis itu menatap ke bawah tepat pada segerombolan orang dan juga beberapa mobil polisi yang terparkir di sebrang apartemennya.
Tidak perlu susah-susah berpikir ia sudah jelas tahu apa yang menjadi penyebab hal itu. Jelas saja perbuatan pria di hadapannya ini yang menjadi alasan datangnya polisi-polisi itu. Bukannya merasa cemas atau takut pria itu malah tersenyum puas dengan jemari panjang yang menyugar rambutnya. Memukau dan juga panas.
"Tentu saja sudah!" jawab pria itu dengan seringai yang lagi-lagi hadir di bibir pria itu. Baru kali ini ia bisa berbicara bahkan minum santai dengan orang yang menjadi saksi dari kejahatannya.
"Bagus," jawab gadis itu dengn senyum puas di bibirnya. Satu poin ia berikan pada pria itu selain wajahnya yang tampan ia juga memiliki otak yang pintar. Ah, ia lupa setiap oarang yang menggeluti hal itu tentu saja harus punya otak yang pintar, seperti sosok yang ia kenal betul.
"Kau, siapa namamu?" ucap pria itu tiba-tiba membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.
"Ayra Agatta Zeoneva, kau?" jawab Ayra tanpa beban.
"Ah, Ayra, ya. Aku Alexsander D Loyer. Kau bisa memanggilu Alex," ucap Alex dengan kedua bahu yang ia angkat.
Keduanya larut dalam perbincangan yang entah apa itu, hingga keduanya tak sadar akan tujuan Alex datang menemuinya.
"Jadi kau tadi tengah menghitung aku berada di lantai berapa?" tanya Ayra begitu mengingat apa yang Alex lakukan sebelum menghilang dari pandangannya.
"Jawabanmu benar,"
"Ah, sudah ku duga. Baiklah sepertinya kau harus pergi karna aku tak suka ada orang lain di apartemenku, apalagi kita baru saja berkenalan dengan kesal pertama yang sangat menyenangkan. Bukan begitu Alex?" ujar Ayra bangkit dari duduknya, mengkode Alex untuk segera meninggalkan apartemennya.
"Kau benar. Baiklah aku akan pergi, kau beruntung biasanya aku akan membunuh siapapun yang menjadi saksi, tapi entah kenapa aku tak melakukannya padamu!" ucap Alex yang tampaknya tak tersindir dengan usiran Ayra barusan.
"Kalaupun kau melakukannya kau tak akan bisa menyentuhku!" ujar Ayra sebelum menutup pintu apartemennya setelah Alex keluar dengan membawa topi dan juga hodi miliknya.
Tanpa keduanya sadari sebuah benang takdir tengah mengikat jari kelingking keduanya. Menyatukan mereka dalam perjalanan takdir yang tak mudah.