
Hari sudah beranjak malam ketika Azka, Agatta, Levi dan juga Azton memutuskan pulang, meninggalkan Ayra sendirian di apartemen. Awalnya Azka dan Levi bersikeras untuk tinggal, hanya saja begitu mendapat jeweran maut ala Agatta keduanya akhirnya memutuskan untuk pulang.
Apartemen yang luas itu terasa sangat sunyi dan menyeramkan, hampir semua lampu di setiap ruangan mati kecuali kamar Ayra. Beruntung Agatta sempat membereskan dan juga mengganti seprei yang sudah kotor akibat bercak darah Ayra.
Kini Ayra tampak tengah berbaring di ranjangnya dengan sebuah buku sastra di pegangannya. Ia tampak menikmati bacaannya apalagi dengan suasan yang tenang. Bahkan sangking terhanyutnya Ayra dalam bacaannya, ia tak menyadari bahwa lagi dan lagi ada yang dengan lancangnya menyusup masuk ke dalam apartemennya.
Seolah sudah paham akan letak ruangan di apartemen Ayra, sosok penyusup itu dengan mudah menemukan kamar Ayra. Dengan perlahan ia membuka pintu kamar Ayra. Dapat sosok itu lihat bahwa pemilik kamar itu tengah larut dalam bacaannya hingga tak tahu bahwa ia tengah melangkah masuk ke kamarnya.
"Ayra," panggil sosok itu membuat Ayra seketika tersentak bangun.
Karna gerakan Ayra yang begitu tiba-tiba, luka di pahanya mendadak berdenyut perih membuat ia reflek menjatuhkan dirinya di lantai. Melihat hal itu, sosok itu langsung menghampiri Ayra. Dengan hati-hati sosok itu membantu Ayra untuk kembali naik ke atas ranjang.
Mata emerald Ayra tak lepas memandang sosok yang tengah membantunya saat ini. Sosok yang menjadi alasan kenapa ia harus meringis sakit akibat luka di pahanya. Sosok yang kembali lancang memasuki apartemennya.
"Mau apa?" tanya Ayra menatap mata hitam sosok yang kini tengah duduk di atas ranjang yang sama dengan dirinya. Raut wajah Ayra tampak datar ketika melontarkan pertanyaan itu.
Riak wajah sosok itu langsung berubah drastis dari yang khawatir menjadi iba dan bersalah.
"Maaf!"
Hanya itu yang keluar dari bibir sosok yang kini tengah menatap sayu Ayra, menatap dengan ribuan rasa yang sulit di jabarkan dalam kata baik lisan maupun tulisan.
Mendengar hal itu tentu saja memancing kebingungan pada diri Ayra. Terlintas di pikirannya apa sosok itu tengah merasa bersalah akan kejadian hari ini?
"For what?" tanya Ayra masih dengan wajah yang datar. Hal itu seketika membuat sosok itu bertanya tanya apa semenyebalkan ini bila ia tengah berbicara dan berwajah datar?
"Aku hanya merasa marah karna kau sudah memiliki kekasih dan aku benci ketika denyutan menyebalkan itu hadir di dadaku. Rasanya sakit!" jelas sosok yang kini dengan lancangnya memeluk Ayra kedalam dekapan yang harus Ayra akui terasa hangat dan nyaman.
Terbesit pemikiran untuk mendorong sosok itu, namun apalah daya bila tubuh dan pikirannya tengah tak sejala. Pikirannya boleh menolak, tetapi tubuhnya seolah menerima pelukan itu.
"Aaa," guman Ayra ambigu. Ia terlalu bingung hendak menjawab apa.
"Putuskan kekasih pirangmu itu, Ayra!"
Ucapan sosok itu barusan membuat Ayra langsung mendorong sosok itu menjauh. Apa ia tak salah dengar? Memutuskan? Kekasih pirang? What happen?
"Apa maksudmu, Alex?" tanya Ayra dengan raut wajah bingung pada sosok yang ternyata adalah Alex. Pria yang baru saja mengacaukan hari seninnya.
"Ku bilang putuskan kekasih pirangmu atau..." ujar Alex. Ia tampak memberikan jeda pada ucapannya.
Dengan wajah yang ia dekatkan ke arah Ayra, Alex tampak menyentuh rambut pink lurus milik Ayra, jemarinya bergerak dengan pelan menyusuri helaian rambut Ayra, gerakan berputar ia lakukan ketika sampai di ujung rambut pink itu.
"Ku bunuh kekasihmu itu!" bisik Alex pelan sebelum berlalu meninggalkan Ayra yang terdiam kaku begitu mendapat ancaman dari Alex.
Begitu pintu kamar Ayra tertutup barulah ia sadar bahwa Alex sudah pergi meninggalkan dirinya sendirian.
"Sial!" umpat Ayra begitu menyadari bahwa Alex baru saja melakukan teknik seduction⁴ pada dirinya. Hal itu membuat Ayra terpaku beberapa menit dengan pikiran yang teralihkan.
"Ck, ternyata kau ingin bermain-main denganku eh Alex?" guman Ayra.
"Ah, tampaknya Levi harus kemari," ujar Ayra begitu melihat darah merembes keluar dari perban yang membalut luka di pahanya itu dan sialnya mengotori gaun tidurnya yang berwarna crem.
Beruntung ponselnya ada di samping nakas tempat tidur, jadilah ia tidak perlu repot-repot untuk bangkit dari ranjang. Setelah mendapatkak ponselnya ia langsung mengirim pesan ke nomor Levi.
For : Levi
Datang ke apartemen sekarang! Telat sedikit ku hukum!
Kira-kira begitulah isi pesan yang Ayra kirim pada Levi. Tinggal menunggu beberapa saat maka pria pirang itu akan ada di sini, di sisinya.
Benar saja tak kurang dari dua puluh menit Levi sampai di apartemen Ayra dengan hanya mengenakan kaos hitam berbalut jaket putih lalu celana levis selutut serta sepatu kets putih membalut kakinya. Celana levis yang pendek membuat Ayra dapat melihat betapa kokoh kaki Levi. Pasti akan kuat bila di ajak bercinta dengan posisi berdiri, pikir Ayra bejat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Levi dengan kecemasan yang bisa di pastikan berada di tingkat 99%.
"Pffttt,"
Bukannya menjawab pertanyaan Levi, Ayra justru tampak menahaan tawanya membuta Levi mengerutkan dahinya bingung.
'Apa Ayra sedang kerasukan?' batin Levi bergidik ngeri. Lebih baik ia menghadapi Ayra yang dulu ketimbang Ayra yang kerasukan, sebab ia tak punya ilmu melawan setan yang merasuki Ayra.
"Lukaku terbuka," ujar Ayra setelah dapat mengendalikan dirinya untuk tak tertawa. Sebenarnya apa yang lucu?
Dengusan meluncur dari bibir Levi. "Apa yang kau lakukan hingga lukamu kembali berdarah hah?" seru Levi tampak kesal.
"Tadi ada tamu tak di undang," jawab Ayra enteng. Mata emeraldnya tampak mengamati Levi yang tengah membersihkan dan mengganti perbsan di kakinya dengan telaten dan serius.
Satu senyum manis nan lebar Ayra berikan pada Levi begitu pria itu selesai mengganti perban di kakinya. Kerutan samar terlihat di kening Levi.
"Jangan tersenyum begitu, aku takut jantungku tak kuat lalu aku mati," celetus Levi dengan tangan kanan yang ia gunakan untuk menutupi matanya sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menyangga tubuhnya yang terduduk di ranjang Ayra.
Melihat itu, Ayra langsung menarik Levi ke arahnya membuat Levi terbaring di samping Ayra. Baru saja Levi hendak protes sebuah pelukan menghentikannya.
"I love you," bisik Ayra sebelum menenggelamkan wajahnya di dada Levi.
Seruan Ayra barusan membuat Levi kaget dan juga bingung. Ia berpikir apa tebakannya tentang Ayra yang kerasukan itu benar?
"Me too," balas Levi sebelum merengkuh tubuh Ayra dalam dekapannya.
Melihat dari bahu Ayra yang sudah tampak betnafas dengan teratur, bisa Levi pastikan bahwa Ayra telah menuju alam mimpi. Menyadari hal itu, akhirnya Levi memutuskan untuk menyusul Ayra.
Kedua anak Adam itu tampak terlelap dengan posisi saling berpelukan. Tanpa keduanya tahu, sebuah takdir tengah berjalan di antara mereka. Sebuah takdir yang tak pernah mereka bayangkan. Takdir yang membawa kebahagian dan juga kesedihan.
°°°
Seduction \= Salah satu dari sekian banyak pelajaran atau ilmu dalamm bidang psikolog. Biasanya digunakan untuk mengalihkan perhatian.