How Are You?

How Are You?
Aku Sudah Sembuh



Pagi hari yang harusnya terasa damai berubah menjadi mengerikan ketika seorang wanita masuk ke dalam kamar Ayra. Membangunkan Ayra dengan tidak manusiawinya diikuti seorang pria di belakangnya.


"Ayra bangun! Mama perlu bicara sekarang!" seru wanita itu.


"Cam'one Mama, ini masih pagi dan kau sudah membuat keributan di apartemenku? Are you crazy?" ucap Ayra dengan tatapan tajam di manik emeraldnya. Bukannya terlihat mengerikan dan angkuh, Ayra justru terlihat manis apalagi dengan raut wajah bantalnya.


"Kau tampak sangat panas, Ra!" celetus pria berambut pirang dengan mata safir yang mengerling menggoda ke arah lingear merah yang sebelumnya sempat gagal Ayra kenakan akibat keberadaan Alex.


"Kau sebaiknya keluar Levi!" perintah wanita itu pada pria yang ia panggil Levi.


"Baik, Madam!"


"Anak itu!" senggut wanita itu kesal akan tingkah tangan kanannya. Ingin sekali ia menjahit bibir pedas itu namun apalah daya bila putrinya amat menyayangi pria sialan itu.


"Jadi ada apa Mama datang sepagi ini?" tanya Ayra dengan kepala yang ia sandarkan pada kepala ranjang. Jujur saja ia masih lelah sebab kepadatan jadwalnya beberapa hari ini, beruntung hari ini hari minggu jadi ia bisa sedikit bersantai dan istirahat.


"Katakan pada Mama bahwa bukan kau yang melakukan hal itu!" ucap wanita itu dengan mata yang menatap serius sang putri.


Raut wajah Ayra seketika berubh datar, "Apa hanya itu?" ujar Ayra.


"Sayang, Mam...


"Demi tuhan Ma, kau tahu sendiri bahwa aku sudah sembuh. Aku sudah sembuh!" ucap Ayra dengan penekanan di setiap ucapannya.


Mendengar hal itu mau tak mau wanita itu duduk di ranjang putrinya, tepat di samping Ayra.


"Maafkan Mama, Mama hanya cemas!" ucap wanita itu. Wanita yang berstatus ibu kandung Ayra, Agatta Willian Alexsa. Putri tunggal dari keluarga Willian dan satu-satunya menantu di keluarga Zeoneva.


Walaupun sudah tak muda lagi, Agatta tetap terlihat cantik dengan rambut pirang serta mata emerald miliknya yang serupa dengan yang Ayra miliki.


"Haah~sudahlah Mama sebaiknya keluar dulu, aku ingin membersihkan diri!" ucap Ayra sebelum masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Agatta sendirian.


Sepeninggalan Ayra, Agatta tak lantas pergi. Ia lebih memilih menuju balkon milik putrinya. Dari sini ia bisa melihat garis kuning milik polisi yang terpasang di sebuah kamar apartemen di sebrang sana.


Helanan nafas meluncur dari bibirnya. Rasa-rasanya ia hanya terlalu mencemaskan keadaan putrinya, hingga melupakan bahwa Ayra sudah sembuh sejak beberapa tahun yang lalu sebelum usianya menginjak dua puluh lima tahun.


Dengan langkah yang anggun ia berjalan keluar kamar Ayra, yang akan ia lakukan saat ini adalah memasak sarapan untuk putrinya itu.


"Levi, sebaiknya kau bantu aku memasak sarapan untuk Ayra!"


Awalnya Levi enggan menuruti ucapan majikannya tersebut sebelum nama Ayra turut di bawa olehnya. Dengan semangat pria itu membantu majikannya memasak, ia adalah pria dengan segudang kemampuan di balik nama Levianza Bernald. Satu-satunya tangan kanan keluara Zeoneva yang amat di sayangi sang tuan putri.


°°°


Kini baik Ayra, Agatta maupun Levi tengah menyantap hidangan yang ada di atas meja makan dengan tenang. Satu yang menjadi kesamaan ketiganya dalam makanan, ketiganya tak suka bila harus makan dengan suara berisik.


"Hari ini kau mau ke mana, Ra?" tanya Alex setelah mereka membereskan semua sisa makanan mereka.


"Mungkin di apartemen saja atau mungkin bila aku tak malas, Taman bermain di sore hari tak buruk," jawab Ayra dengan jus tomat di genggamannya. Satu yang harus di ketahui, Ayra akan selalu meminum jus tomat setelah ia selesai makan atau paling tidak ia harus mengonsumsi dua tomat utuh.


"Apa Mama perlu menemanimu?" tanya Agatta. Sebuah ingatan kembali muncul di pikiran Agatta, ia takut putrinya ini akan melakukan hal yang dulu selalu mengisi dikala ia tengah bosan.


"Tap...


"Aku lelah dan Mama sebaiknya pulang jika memang tak percaya kalau aku sudah sembuh maka biarkan Levi tinggal!"


Ini bukan soal bagaimana Ayra mengintimidasi Agatta tetapi bagaimana Ayra memanipulasi pikiran Agatta untuk memilih pilihan yang ia inginkan. Cara sederhana yang biasa ia lakukan semasa ia masih remaja.


"Baiklah Mama akan pulang, bersama Levi tentunya," putus Agatta begitu melihat Levi yang hendak melangkah mendekati Ayra. Ia sempat berpikir bagaimana mungkin bawahannya ini bisa dengan begitu tanpa malu dan sungkannya bermanja-manja pada Ayra tanpa tahu ada sebuah hubungan yang kedunya jalin di belakangnya. Sebuah hubungan yang jauh dari kata kekasih dan sejenisnya.


Sepeninggalan Agatta, Ayra memilih pergi ke ruang kerjanya yang terletak di lantai dua. Ingat apartemen yang ia tinggali adalah apartemen untuk kalangan elit.


"Jadi, apa yang akan ku lakukan?" ujar Ayra begitu sampai di ruang kerjanya. Tumpukan dokumen yang harus ia periksa sudah ia periksa, tak ada dokumen yang dapat ia kerjakkan. Mengelola perusahaan di usia dua puluh lima tahun bukaan hal yang mudah apalagi ia seorang gadis, banyak pihak yang akan dengan mudah menjatuhkannya. Namun sejak ia memegang perusahaan tepat setelah kelulusan sekolah menengah atas, belum ada yang dapat menggeser bahkan mencelakainya sebagai CEO dari Zeon Grup yang seharusnya bukan dirinya yang memegangnya.


"Ah, bagaimana kalau sedikit mengorek informasi tentang Alex?" seru Ayra dengan senyum miring di bibirnya. Tampaknya ia akan menggunakan kembali kemampuan yang sempat ia tinggalkan, sebab sudah ada orang lain yang menggantikannya melakukan hal itu.


Suara ketika keyboard laptop terdengar memecah keheningan di dalam ruangan itu. Sama seperti ketika Ayra makan, ia suka melakukan pekerjaannya dalam diam. Baginya kesunyian adalah surga. 


Sebuah dengusan meluncur dari bibir kissable milik Ayra, "Putra kedua dari dua bersaudara, ck tak ku sangka ia adik pria itu dan juga anaknya!" ujar Ayra dengan mata yang terus menelusuri tulisan yang terpampang di layar laptopnya.


Sebenarnya Ayra tengah melakukan sebuah kejahatan yang tergolong sedang baginya, besar bagi orang lain. Katakanlah ia nekat sebab berani membobol data milik perusahaan Loyer Grup, tapi mau bagaimana lagi ia penasaran akan data tentang Alex dan lagi ia tak akan berada dalam masalah sebab pria itu tak akan membiarkan dirinya berada dalam masalah apalagi dari orang-orangnya.


"Maaf, Mama. Ayra memang sudah sembuh tapi kebiasaan lainnya tak bisa Ayra tinggalkan!" guman Ayra dengan mata yang sarat akan rasa bersalah sebelum berubah berkilap misterius.


Ayra larut dalam kesenangannya tanpa tahu bahwa apa yang ia lakukan tengah menggemparkan tim IT dari perusahaan Loyer.


"Apa yang terjadi?" tanya seorang pria berwajah dewasa dengan mata hitam serta rambut yang berwarna hitam pula, melihat perawakannya ia tampak mirip seseorang.


"Maaf Tuan. Sepertinya ada yang membobol data pribadi pemegang saham di perusahaan kita," jelas salah satu dari tim IT, membuat geraman meluncur dari bibir pria itu.


"Kirim hacker itu virus!" perinth pria itu yang langsung di kerjakan oleh mereka, tak hanya satu virus system yang mereka berikan tapi dua cukup untuk membuat laptop rusak dan mati total dalam semenit setelah pengiriman.


"Aw, aku ketahuan rupanya!" seru Ayra begitu melihat pemberitahuan dari leptopnya bahwa ia menerima dua kiriman virus. Dengan wajah yang tenang dan santai Ayra mengotak atik laptopnya dan berhasil, dua virus itu lenyap dalam sekejab.


"Sedikit hadiah tak masalahkan?" tanya Ayra entah pada siapa.


Beberapa ketikan ia lakukan sebelum mematikan laptopnya dengan senyum geli di bibirnya. Bisa ia jamin, Loyer akan gempar setelah menerima hadiahnya.


Benar saja tim IT Loyer di buat melongo dengan apa yang tampil di layar leptom mereka. Sebuah potret seorang anak laki-laki yang tengah tertidur dengan sebuah bando kelinci di kepala dan juga beberapa riasan di wajahnya. Semua yang ada di sana tahu betul siapa anak laki-laki itu, ia adalah pria yang menjadi atasan mereka yang saat ini juga tengah melihat potret dirinya dengan rahang yang mengeras.


"Kau suka hadiahku nee soeur¹?"


Begitulah pesan singkat di ujung potret memalukan itu, membuat pria itu tahu siapa dalang di balik penghackkeran yang baru saja terjadi.


"Ck, lagi-lagi bertingkah seenaknya!" gerutu pria itu sebelum melangkah meninggalkan ruangan dengan tatapan penuh ancaman yang sempat ia layangkan pada seluruh tim IT. Lihat saja ia akan membalas kelakuan nakal gadisnya itu.


°°°


Soeur \= Kakak dalam bahasa Prancis