High School Fantasy

High School Fantasy
Bab 0.3 (Penindasan?)



Cerita ini adalah cerita original Fiksi belaka,jika ada kesamaan nama karakter atau tempat mungkin itu hanyalah kebetulan semata,mohon dukungan dan partisipasinya :).


______________________________________________


"Yo murid baru..." sapa kaka tingkat yang tak lain adalah Byukazu Kiseki.


Aku menarik nafasku sedalam mungkin hingga mengenai ujung dari paru-paru,aku pura-pura tidak menghiraukannya.


"Lebih baik aku tetap berjalan saja," pikirku dalam hati.


"Woi bocah!! apakah kau tuli!!?" bentak senior Byukazu dengan nada yang cukup keras.


"A-ahh...ternyata senior rupanya hehe," sahutku dengan wajah yang merasa tidak enak.


"Ada yang bisa saya bantu senior?" tanyaku dengan serius.


"Akhirnya kau menjawab panggilanku tadi bocah," ujar senior Byukazu.


"Aku memanggilmu yaitu untuk bertanding!!" jelaskan senior Byukazu


"Bertanding?" tanyaku kebingungan.


"Aku ingin menyik—memeriksa,apakah kau memang pantas masuk ke dalam sekolah ternama ini." jelaskan senior Byukazu.


"Baiklah jika itu mau senior,akan saya terima dengan senang hati." jawabku dengan tenang.


Apakah ada maksud tersembunyi di balik tantangan ini? apakah senior adalah orang yang licik? mungkin saja! sebab,dengan melihat wajahnya saja aku sudah mengetahui sifat aslinya yang licik tersebut bersembunyi dari balik wajahnya.


Aku dan senior Byukazu langsung menuju tempat latih tanding yang berada tepat di sebelah ruang ujian test masuk ku tadi.


"Baiklah,peraturannya cukup mudah."


Peraturan yang diberikan oleh senior Byukazu yaitu boleh menggunakan sihir apa pun,namun tidak boleh sampai merusak properti yang ada di sekitarnya. Siapa duluan yang mengucap menyerah maka pihak lawan akan memenangkan pertandingan.


Cukup mudah bukan? namun aku masih tidak percaya kepada senior Byukazu dengan apa yang dia lakukan kepadaku ini.


Dengan anak buah senior Byukazu yang menjadi wasit dalam latih tanding ini,


"Baiklah,latih tanding dimulai!!" perintah wasit.


Dashh...!!!


"Apa!!?" seru ku terkejut.


"Strom fire!! serang senior Byukazu.


Protecto alisa" rafal ku sebuah pelindung yang berkekuatan sihir tingkat menengah.


Persaingan terlalu ketat,tak ada yang mau mengalah di antara kami berdua. Pertahanan semakin terkikis,nafas mulai goyah.


"Boleh juga kau murid baru," puji senior Byukazu.


"Senior pun juga tidak kalah hebatnya." puji balik ku untuk menambah semangat.


"Hebat,sungguh hebat!!" seru dalam hati kegirangan.


Pasalnya sudah lama aku tidak bertanding selama ini di atas arena. Mungkin aku akhiri saja ya,karna hari sudah semakin gelap,nanti aku tidak sempat makan malam lagi.


"Dark Bullet!! Hiyaaa!!!" serang ke senior dengan jurus andalanku ketika latih tanding.


Dengan mengeluarkan sebuah peluru hitam dari telapak tanganku menggunakan sihir tingkat menegah,ku bentuk semua peluru itu seperti jarum.


Setelah itu,langsung saja ju serang senior Byukazu dengan cepat.


Seeetttt!!


"Tidak mungkin!!" seru ku kaget


Dengan sangat lihainya,senior Byukazu menghindari semua Dark Bullet ku yang tajam itu. Sebenarnya tidak ada yang pernah lolos dari kejaran peluru itu.


"Sepuluh peringkat atas memang berbeda." puji ku dalam hati.


Rencana terakhirku cuma ada satu,yaitu berubah ke mode tempur,namun karna ini adalah latih tanding,untuk itu aku tidak menggunakannya sesuka hati.


"Begini saja kah,kemampuan mu anak baru!!" ejek senior Byukazu seraih menghindari serangan Dark bullet ku


"Sisanya biarkan takdir yang menentukan,karna aku tidak bisa mengeluarkan mode tempur."


"Hiiiyaaa!!"


2 jam berlalu....


"Senior,aku menyerah huh..." ucapku seraih terengh-engah.


"Apa!! segini saja kah?" sahut senior Byukazu dengan lantang.


"Tenaga ku sudah mulai habis senior," jawab ku terengah-engah.


"Ahh...tidak apa-apa,aku juga merasa senang..." ujar senior Byukazu.


"Senang?" tanya ku kebingungan.


"Sudah lama aku tidak sesenang ini dalam pertandingan di atas arena,jiwa ku mulai bergejolak kembali,seakan ingin terbang bebas di udara." jelaskan senior Byukazu.


"Oh begitu...aku pun juga sama senangnya dengan senior," jawab ku.


Setelah itu,kami pun bubar dan pulang ke rumah masing-masing dengan rasa lelah serta rasa senang. Aku hidup sebatang kara di dalam rumah,ayah dan ibu ku sudah meninggal ketika aku masih kecil.


Sungguh kasihan bukan? setelah aku di tinggalkan oleh kedua orang tua ku,aku diasuh oleh master dari perguruan yang terkenal di kota Shirtyfarm,tempat tinggal ku ketika masih bersama orang tua.


Master dengan tulus mengasuhku,seakan-akan aku adalah anak kandung dari master itu sendiri. Master mempunyai istri,namun istrinya tidak bisa membuahi seorang anak,oleh sebab itu aku langsung di angkat oleh beliau menjadi anaknya.


Aktivitas ku ketika berada di dalam rumah ialah,seperti ibu rumah tangga. yang membersihkan pakaian sendiri,memasak makan malam dan keperluan lainnya.


Untuk keperluan sehari-hari,aku bekerja di rumah makan siap saji yang bernama micky sonal. dengan gajih yang cukup untuk keperluanku,aku merasa sudah bisa membiayai kebutuhan hidupku.


"Hari ini masak apa ya...?" pikir ku seraih melihat bahan makanan yang ada di dalam kulkas.


Ku ambil sebutir telur dengan sedikit mentega,dan ku buatlah sebuah makanan yang bernama omelet.


"Selamat makan!!" ucap ku sebelum makan.


Sederhana bukan? inilah makanan ku sehari-hari. Namun jika ada uang yang berlebih,aku akan membeli pasta instan sebagai penambah rasa.


Setelah makan,aku latihan bela diri di dalam rumah. Dengan dilengkapi sebuah samsak gantung,aku mulai mempraktikan ilmu yang sudah di ajarkan oleh master atau ayah angkatku.


"Hiyaa!!"


**Dashhh!!


Settt..!!!


Pukulan beruntun**!!


Aku tak kenal lelah saat berlatih,itu demi membalaskan budi seorang master dan mencari keberadaan pembunuh yang sudah mengambil seseorang yang berharga bagiku.


Keesokan harinya,seperti biasa sebelum berangkat ke sekolah. Aku lari santai di sekitar perumahan yang aku tinggali.


Kebiasaan ini terus ku lakukan untuk memperkuat otot-otot kaki ku yang mulai melemah ketika bangun dari tidur.


"Selamat pagi Kakegiri..." sapa seorang wanita tua yang sedang menyapu halaman rumahnya ketika aku lewat.


Aku berhenti sejenak dan membalas sapaannya, "Selamat pagi nek," sahutku dengan sebuah senyuman.


"Masih pagi kau sudah bangun saja Kakegiri" ucap wanita tua itu.


Wajar saja beliau berkata begitu,karna waktu menunjukan pukul 4:15 pagi. Mungkin terlalu pagi untuk seorang anak muda bangun pada era ini,karna teknologi sudah semakin canggih. Kita bisa berolah raga di dalam rumah dengan menggunakan alat lari yang bisa di ukur kecepatan kita berlari.


Yah mau bagaimana lagi,aku tidak sekaya dan se-tajir mereka yang hidup serba berkecukupan. Sedangkan aku saja masih mencari pekerjaan yang sesuai dengan umurku saat ini


Bersambung...


______________________________________


*Hallo!! ini adalah novel pertamaku,dengan judul high school fantasy. Aku harap bisa menghibur para pembaca sekalian!! mohon dukungannya!! :)


Nantikan update selanjutnya,dan jangan lupa klik tombol favoritnya agar tidak ketinggal update.


Byeee... :)