
Malam pertama bertugas di IGD kabarnya adalah saat yang tak akan terlupakan dan pengalaman yang sering dihindari karena pasti akan kurang istirahat dan bantuan minim dari dokter senior karena kebanyakan dokter senior sudah tutup praktek di tengah malam.
Dokter magang selalu memanjatkan doa mulianya dengan penuh kesungguhan dan ketulusan supaya di waktu jaga mereka tidak ada yang sakit semua sehat supaya kondisi IGD tetap kondusif.
Calvin Adam melewati pintu rumah sakit yang otomatis terbuka karena memiliki sensor. Kali pertama Calvin Adam melewati pintu otomatis tersebut dia sempat berusaha keras untuk menyembunyikan keterkejutannya dan mencoba bersikap netral seperti Oscar dan Lydia yang kala itu juga bersamanya.
Berbekal ilmu dasar yang diajarkan Oscar secara singkat tentang Kakek Pintar Google, akhirnya kini Calvin Adam sudah mengurangi pertanyaan sederhana dan mendasar mengenai kehidupan Earth 23 pada orang terdekatnya karena Kakek Pintar sudah menjadi solusi terbaik dan tercepat yang segera menjawab tanpa bertanya.
Untuk pintu otomatis pun Calvin Adam segera mempelajari dengan bertanya dengan Kakek Pintar sehingga sekarang sebagai dokter magang yang sering keluar masuk rumah sakit dan melewati pintu otomati, dia sudah tak lagi merasa aneh atau heran.
Setelah memperkenalkan diri pada perawat, staf serta ke empat dokter magang lainnya, Calvin Adam meletakkan baju ganti, perlengkapan mandi, dan bekal makan Mom Delia di ruang transit yang berfungsi sebagai tempat dokter dapat beristirahat sejenak.
Di Rumah Sakit HC (Health Care), tersedia dua ruang transit khusus untuk wanita dan pria yang di dalamnya masing-masing terdapat sepasang ranjang susun jadi hanya memungkinkan maximal empat dokter merebahkan punggungnya. Terdapat dua meja sederhana, satu lemari dan satu kamar mandi yang dilengkapi dengan wastafel, closet, dan shower.
“Hai Calvin Adam, perkenalkan aku Harrington.. ijinkan aku berbicara santai denganmu. Meskipun aku dua tahun di bawahmu tapi setidaknya sekarang ini kita memiliki level setara sebagai dokter internsip di rumah sakit ini,” ucap seorang rekan dokter magang yang berjalan di belakang Calvin Adam dan turut memasuki ruang transit. Sepintas Harrington tampak seperti pria baik dengan wajah goodlooking dan tampilan fisik metrosexual.
Calvin Adam hanya menanggapi seadanya karena menurutnya level manusia tetaplah tak dapat menyaingi dirinya yang adalah Asklepios dari Chronos 299.
“Terserah kau saja, Harrington.”
Sebelum Calvin Adam meletakkan bekal makan di salah satu meja, Harrington sudah terlebih dahulu meletakkan tas jinjing bermerk di atas meja yang sama,
“Sorry meja ini akan ku gunakan, mungkin kotak bekalmu bisa di letakkan di sebelah sana.”
Calvin Adam hanya mendengus dan berusaha bersabar karena sebulan terakhir dia semakin menyadari bahwa penghuni Earth 23 adalah masyarakat yang sangat kompleks dengan tingkat Emotional Quotient (EQ) yang sangat rendah jika dibandingkan dengan masyarakat Chronos 299.
Manusa Earth23 dapat dengan cepat merasa marah, tersinggung, emosi, egois, bahkan menjual kejujuran demi mendapatkan yang dia inginkan. Bagi Calvin Adam hal tersebut sangat menjijikan karena di Chronos 299 meskipun terkadang terdapat pertengkaran dan lebih individualis namun jarang didapati iri hati ataupun kebohongan yang berlandaskan alas an untuk kebaikan.
Sebulan terakhir Calvin Adam menimbang-nimbang apakah dia harus segera menyelesaikan misi menemukan wanita yang sudah ditentukan Zeus agar dia dapat segera kembali ke Chronos 299 dan melanjutkan menemani petualangan Bibi Artemis, atau tetap berada di Earth 23 dan menikmati kebersamaan dengan Mom Delia yang juga adalah Coronis, Ibu dari Asklepios.
Ternyata sifat dan sikap manusia di Earth 23 membuat Calvin Adam memutuskan untuk tetap berusaha menyelesaikan misi dan kembali menjadi Asklepios di Chronos 299. Kedamaian pada Chronos 299 tak tergantikan juga kerinduannya pada Bibi Artemis.
“Aku meletakkan krim perawatan wajah di sini dan kuharap kau tak coba-coba untuk memakainya. Kalau kau berminat dan ingin memiliki wajah terawat sepertiku, aku bisa berbagi nama klinik dimana aku membelinya,” kalau tak mendengar suara bariton Harrington pasti Calvin Adam tak akan percaya bahwa kalimat itu diungkapkan oleh seorang pria.
Calvin Adam tak sabar ingin segera keluar dari tempat itu dan menghindari Harrington yang semakin aneh di matanya, “No thank you, Harrington” ucapan itu dikatakan sambal berjalan keluar dari ruang transit.
“Kau mau kembali ke IGD?” tanya Nana salah satu dokter magang yang mala mini bertugas dengannya berjalan menjajari langkah Calvin Adam.
“Ya, bukankah itu alasan kenapa kita berada disini?” jawab Calvin Adam terkesan ketus karena muak jika Nana juga tipe manusia seperti Harrington.
Nana hanya tersenyum, “Kau benar Dr Calvin Adam, semoga malam ini dapat terlewati dengan baik. Tapi kau tahu, aku senang bahwa hari pertamaku bertugas dapat bertemu denganmu. Aku mendengar tentang anda Dr Calvin Adam. Calon dokter genius yang sempat ingin menjadi mahasiswa abadi namun sekarang kembali pada panggilannya.”
Gelak tawa renyah dari Nana mengisi kesunyian lorong yang mereka lewati, “Tentu saja Dokter, aku orang yang apa adanya jika kau ingin tahu dan aku akan meminta maaf kalau ke depan mungkin ada kata-kata ku yang membuatmu tersinggung tapi aku tipe orang yang jujur apa adanya dan tak pandai berbasa-basi.”
Calvin Adam hanya tersenyum dan menilai kata-kata yang terlontar sejak dari keluar ruang transit hingga masuk ruang IGD bukanlah basa-basi tapi perkenalan.
“Syukurlah anda berdua datang Dokter,” ucap seorang perawat yang malam itu menjadi coordinator IGD, “dua dokter magang sedang beradu argument mengenai tindakan yang harus segera diambil untuk pasien darurat yang baru saja masuk. Anak kecil usia 12 tahun dengan keluhan nyeri diperut bagian kiri. Dokter A mendiagnosis untuk segera dilakukan operasi karena diagnosis beliau adalah apendisitis (usus buntu) dan dokter B melarang tindakan tersebut dan meminta untuk menunggu pasien buang air kecil agar dapat dilakukan pengecekan karena ada kemungkinan gangguan ginjal kiri.”
Koordinator perawat memberikan copy berkas dan menunjukkan lokasi dua dokter magang berdebat.
“Kalian memang Dokter hebat, paling tidak kuhargai kalian tidak berdebat di depan pasien,” ucap Calvin Adam mendapatkan perhatian kedua dokter yang berdebat.
“Apakah kalian sudah melakukan USG pada abdomen (perut-ruang tubuh antara thorak dan panggul).”
Kedua dokter terdiam dan Calvin Adam hanya meninggalkan mereka. Dokter Nana yang melihat segera mengekor di belakang Calvin Adam karena yakin akan ada banyak ilmu yang dia dapat peroleh dari Calvin Adam si calon dokter genius.
Tirai tempat pasien berada di buka oleh suster dan nampak wali pasien menemani pasien dengan khawatir. Pasien tampak kesakitan dan bulir keringat dingin bercucuran.
“Selamat malam Ibu, saya cek kembali kondisi putrinya ya,” Ibu mengangguk dan anak di hadapannya hanya meringis kesakitan saat Calvin Adam menekan area perutnya.
“Apa anak Ibu sempat demam? Sudah berapa lama anak Ibu terlihat sakit?”
Sang Ibu mengingat-ingat dan menggelengkan kepala,”Valentine tidak sempat demam Dokter, dan baru mengeluh sakit dua hari terakhir. Saya terpaksa membawa ke rumah sakit malam ini karena Valentine terlihat sangat kesakitan.”
Calvin Adam mengangguk dan mengarahkan stetoskop mendengarkan kondisi perut pasiennya setelah sebelumnya memeriksa dan perut dirasakan sedikit keras.
“Suster, beri Valentine antasida dan coba cek kondisinya tiga jam ke depan. Kalau sudah ada keluhan dan sumber masalah sudah keluar, pasien boleh pulang.”
Suster yang mendengarnya terkaget dan tersenyum paham. Wali pasien masih tak menyangka bahwa tak diperlukan operasi atau cek urin seperti dua dokter yang sebelumnya memeriksa secara berturut-turut.
“Kau yakin itu Dokter Calvin? Tidak perlu melakukan USG untuk memastikan diagnosis?” tanya Dokter Nana tak percaya.
“Nyeri di perut bagian bawah memang dapat menjadi salah satu indikasi adanya radang pada usus ataupun ginjal, tapi dari pemeriksaan yang tadi kulakukan justru gas yang terlalu banyak di perutnya yang menjadi biang masalah. Harusnya kau coba dengarkan bunyi perutnya seperti ada water pomp di dalam sana.”
Melihat Dokter Nana yang masih tidak percaya akan diagnosis Calvin Adam yang terdengar terlalu remeh, maka Calvin Adam mencoba meyakinkan dengan senyum penuh arti, “Kalau kau ragu dengan diagnosisku, tunggu lah sekitar satu jam atau maksimal tiga jam setelah pasien mengkonsumsi antasida. Jangan kaget kalau di kesunyian malam IGD ini akan terdengar suara gas yang tentunya kita tahu keluar dari mana.”
Calvin Adam berjalan meninggalkan Dokter Nana yang masih memandang koordinator suster mempersiapkan obat. Calvin Adam memegang stateskop yang tergantung di leher dan memindahkannya di kantung jas putihnya.
Di Chronos 299 peralatan stateskop tidak diperlukan karena bagi pemilik kekuatan pengobatan dan penyembuh, syaraf telapak tangannya sangat sensitive dan seolah memiliki gendang resonansi maka saat telapak tangan di tempelkan pada bagian tubuh tertentu akan terdengar suara di dalamnya. Dari kasus Valentine, sebelum Calvin Adam memeriksa dengan stateskop sebenarnya telapak tangannya sudah merasakan ada kelebihan gas dalam perut pasiennya.
Langkah Calvin Adam terhenti mendengar suara yang ternyata keluar lebih cepat dari dugaannya membuat Dokter Nana dan dua dokter magang lainnya melotot kaget dan saling berpandangan. Koordinator suster hanya menahan senyum dan segera menginformasikan untuk pasien bisa mempersiapkan diri pulang serta memberikan resep yang sebelumnya diberikan oleh Calvin Adam.