
Earth Time 23.15 hampir tak ada waktu untuk bisa duduk tenang sekedar menikmati secangkir kopi karena pasien datang silih berganti. Beberapa diantaranya mengalami ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan lainnya beragam dari masalah pencernaan dan satu korban tabrak lari.
Dokter Nana menghampiri Calvin Adam, menyodorkan paper cup berisi café latte, “Untukmu Dokter, kenapa anda begitu antusias dan bersemangat sekali? Silahkan anda istirahat dulu dan biarkan Dokter A atau Dokter Harrington yang menggantikan anda.”
Calvin Adam menerima minuman penambah caffeine sambal berdiri di depan meja perawat dan memeriksa daftar pasien yang masuk sejak sore hari serta status dan diagnosisnya.
“Thankyou Dokter Nana, Bagaimana denganmu? Kau juga mau menggantikanku untuk menangani pasien? Menurutku anda lebih berkompeten dibanding tiga rekan kita lainnya.”
Dokter Nana tersipu mendengar pujian yang terlontar secara jujur dari Calvin Adam karena memang Dokter Nana tipe wanita yang sangat teliti dan jeli meskipun sedikit bermasalah dengan kecepatan kerja. Diagnosis memerlukan waktu kurang lebih lima menit sejak pemeriksaan akhir dilakukan bahkan Calvin Adam sempat melihat
Dokter Nana membuka tablet dan membandingkan gejala sederhana dengan jurnal doctoral mengenai penyakit serius. Namun sepanjang mala mini tidak ada diagnosis Dokter Nana yang salah.
“Aku merasa berpartner denganmu malam ini Dokter, maksudku di IGD ini jadi kalau kau beristirahat maka aku juga akan mengambil waktu untuk mencari ketenangan sejenak. Biar mereka saja yang bertugas supaya Suster Bety juga bisa lepas dari tawanan tatapan mata keranjang mereka.”
Calvin Adam hanya tersenyum mendengar penjabaran Dokter Nana yang sangat jujur. Berjarak kurang dari sepuluh meter terlihat Suster Bety yang memiliki badan sintal berisi di kerubuti tiga lalat seolah beterbangan mengikuti dan menunjukkan senyum atau perhatian berlebihan.
“Baiklah Dokter Nana jika itu yang terbaik menurut anda. Kupikir anda juga perlu beristirahat sejenak masih ada enam jam sebelum jadwal jaga kita selesai,” ucap Calvin Adam sambal melangkah pergi menjauhi Dokter Nana namun terhambat karena jas putihnya ditarik dari belakang.
Dokter Nana membalas tatapan Calvin Adam yang nampak kebingungan dengan senyum penuh arti, “Dokter Calvin, apakah mungkin kau tidak terlalu formal kepadaku? Sebutan ‘anda’ terasa sangat membatasi hubungan, sepertinya tak masalah kalau kita menggunakan ‘aku – kamu’ atau panggil saja aku Nana”
Calvin Adam melepas cengkeraman tangan Dokter Nana pada jasnya, “Baiklah Dokter Nana, kita bisa ber’aku-kamu’ tapi untuk memanggil nama saja menurutku kita belum sedekat itu. Baik aku permisi dulu ke ruang transit.”
“Pria menarik,”
Dokter Nana mengamati Calvin Adam yang berjalan menjauh menuju ruang transit tanpa menghiraukan atau merayu Dokter Nana untuk bersamanya. Calvin Adam adalah pria pertama yang menatap Nana tanpa minat untuk lebih dekat bukan karena Nana kurang menarik sebagai seorang dokter justru sebaliknya Dokter Nana memiliki daya pikat yang sangat spesial.
Kalau bukan karena Dokter Nana sudah berkata ketus dan secara terus terang meminta tiga dokter koas lain termasuk Dokter Harrington untuk menjauhinya, mungkin saat ini Suster Bety masih memiliki kebebasan dan Dokter Nana lah yang akan merasakan menjadi bunga yang selalu di kelilingi lebah saat bertugas di IGD malam ini.
Ruang transit terasa sunyi, beberapa sudut sudah berisi ransel dan koper milik dokter koas lain. Calvin Adam membuka bekal yang sudah disiapkan oleh Mom Delia untuk makan malamnya. Meskipun sudah sangat terlambat untuk santap malam tapi perutnya sudah tak dapat ditahan lagi ditambah aroma masakan yang menyeruak bersamaan dengan tutup kotak makan yang dibuka.
Sembari mengunyah, Calvin Adam menerawang teringat akan Chronos 299 buah dan sayuran segar juga kue embun yang sangat lembut, halus, bahkan terkadang dingin namun menyegarkan.
Tidak ada rasa manis, pahit, asin, asam, umami di Chronos 299. Sempat suatu kali Calvin Adam mengenal rasa manis yang dahulu dia tidak mengetahui deskripsi untuk rasa itu.
Kesempatan itu adalah saat dia bersama Bibi Artemis pergi berpetualang dan mendapatkan serangan dari kaum bar-bar. Bibi Artemis yang melindungi Asklepios terluka oleh pedang yang menembus pada bahu kirinya. Setelah pemberontak dapat diusir pergi, Asklepios melihat tidak ada hembusan napas pada Bibi Artemis.
Berbekal pada insting seorang penyembuh, Asklepios menekan dada Bibi Artemis pada ritme tertentu dan menghembuskan napas pada bibir mungil indah Bibinya.
Jantung Asklepios kala itu berdetak sangat kencang perpaduan antara rasa tak ingin kehilangan Bibi Artemis juga karena rasa asing yang menyenangkan saat bibirnya bersentuhan dengan bibir sang Bibi. Ketika detak jantung sudah di rasakan kembali, Asklepios masih mencoba memberikan hembusan napas terakhir dengan menyelipkan lidahnya sekilas sebelum mata Bibi Artemis terbuka.
Calvin Adam mengunyah potongan chicken grill dengan tersenyum menyadari bahwa dirinya memang sangat memanfaatkan kesempatan saat itu, “Ah Bibi…aku merindukanmu. Senyumanmu, amarahmu, pesonamu, kelincahanmu, suaramu, aku merindukan semuanya…”
Seringkali kerinduan menggantikan ingatan akan misi sebenarnya yang harus dia lakukan di Earth 23. Mencari wanita yang ditakdirkan menjadi pasangan abadinya dan dapat kembali pada Chronos 299. Tapi tak ada petunjuk apapun tentang wanita yang dimaksud. Calvin Adam mencoba berspekulasi,
“Apakah mungkin Lydia adalah wanita yang dimaksud oleh Zeus? Barangkali dia juga berasal dari Chronos 299, perpaduan Rosemary, Marigold, dan Dandelion di taman rumahnya seakan dia menyukai perpaduan itu untuk mengingatkan suasana padang lapang di Chronos 299. Atau mungkinkah Dokter Nana? Kalau wanita itu Dokter Nana akan sulit untukku meyakinkan hati menyayanginya, wanita itu terlihat terlalu dominan dan agresif jelas sekali bukan hal menyenangkan menghadapi wanita agresif dan dominan. Lalu mungkinkan Suster Bety? Barangkali setelah ini aku bisa mendekatinya dan mencari tahu apakah dia dari Chronos 299…”
Kotak bekal dihadapannya sudah bersih tak bersisa mempersilahkan untuk lambungnya mencerna dan mengolahnya menjadi energi. Mata Calvin Adam seolah terbebani dengan setiap suap yang dia masukkan ke dalam mulut membuat matanya berat.
Setelah membereskan perbekalannya, Calvin Adam mengkondisikan ruangan pada mode lampu yang temaram untuk mempersilahkan netranya beristirahat barang sekejap. Dipilihnya ranjang terdekat di bagian bawah agar mempercepat tubuhnya untuk menyentuh empuknya kasur yang sudah tersedia.
“Andai saja Bibi Artemis bisa mendengar suaraku, mungkin dia bisa membantuku menemukan wanita yang dimaksud oleh Kakek. Bahkan wanita di Earth 23 sepertinya lebih banyak dibandingkan Chronos 299 dan aku hanya memiliki kekuatan untuk mengobati, jadi akan berapa lama waktu yang ku perlukan untuk menyelesaikan misi ini?!!” hembusan napas Calvin Adam diikuti oleh aliran angin dingin yang bertiup dari arah jendela yang tertutup.
Wuuuzzz…
Calvin Adam hanya terdiam menyadari bahwa saat ini dia sudah tidak sendiri lagi. Rencananya untuk terlelap barang sekejap agaknya terlalu mewah dan tak mungkin untuk dilakukan.