
Sudah satu bulan berlalu sejak kehidupan Calvin Adam yang baru dimulai. Penyesuaian Asklepios dalam hidup dan aktifitas Calvin Adam sudah semakin baik. Support system yang dimilikinya semakin membantu menyembunyikan ketidaktahuan Asklepios akan kehidupan Calvin Adam.
Jika harus membuat peringkat manusia paling berharga untuknya maka Mom Delia, Oscar, dan Lydia akan menjadi nama terpenting bagi Calvin Adam saat ini, hingga dia sudah cukup dapat mengendalikan kerinduannya pada Bibi Artemis.
Petualangan kehidupan di Earth 23 ternyata tidak kalah seru dibandingkan dengan Chronos 299.
Calvin Adam harus menggunakan seribu akal untuk menghindari Roberto, Nick, dan Stanley teman-teman malamnya. Sebulan lamanya Calvin Adam berhasil untuk bersembunyi dari mereka dan tetap di rumah, mengabaikan umpatan yang dia terima saat bertemu trio pemabuk itu.
“Dasar pengecut, pecundang kau Calvin Adam!!! Kenapa sekarang kau tak mau ikut dengan kami lagi hah?? Biasanya kau selalu semangat. Sudah satu bulan kau tak bersama dengan kami apa kau tidak rindu?”
Roberto menghampiri Calvin Adam yang sedang duduk di taman depan rumahnya di bawah naungan pohon flamboyan yang bunganya mulai meranggas. Calvin Adam hanya menggeleng dan kembali menekuni buku serta alat praktek untuk dia berlatih merapikan mode jahitan yang belum pernah dipraktekkan saat di Chronos 299. Pria Jangkung bertato dengan badan kerempeng dan napas yang berbau alcohol tak terima dia merasa diabaikan.
Kaki Roberto yang terayun dan hampir terkena kepala Calvin Adam terhenti dengan cengkeraman kuat Calvin Adam.
“Aku sudah cukup bersabar denganmu Roberto. Jadi jangan paksa aku. Sudah berapa kali kukatakan aku sudah muak dengan kehidupan malam dan bau alcohol yang bahkan masih tercium di tubuhmu meskipun hari masih siang.”
Cengkeraman kuat tangan Calvin Adam membuat Roberto meringis kesakitan dan sedetik kemudian dia terjatuh karena hempasan yang dilakukan pada kakinya.
“Sh***t baiklah kalau memang kau merasa sudah muak dengan aroma alcohol tapi aku masih tak percaya kau bertobat secepat ini. Apa kau tak merindukan wanita-wanita yang selalu saja mengerubungimu saat kita tiba di club?? Tanpa keberadaanmu seolah meja kita tak menarik bagi wanita-wanita itu. Sepertinya kau adalah madu dan mereka lebah-lebah kelaparan yang ingin merasakan pesonamu.”
Calvin Adam hanya melirik, tak ada wanita yang lebih menarik dibandingkan Bibi Artemis,
“Aku jadi merindukan Bibi Artemis,” bisik Calvin Adam terdengar oleh Roberto yang sudah duduk disampingnya mengamati tindakan Calvin Adam.
“Apa??? Jadi ini sebab kau tak mau pergi ke club? Biartemis? Wanita seperti apa dia? Namanya sangat unik, Biartemis.”
Dengusan lelah Calvin Adam menanggapi pria asing disebelahnya, tak habis pikir kenapa Calvin Adam sebelumnya dapat berteman dengan pemabuk yang tak jelas hidupnya seperti Roberto.
“Jangan sebut nama itu sembarangan Bung… Roberto, apa kau tak ada pekerjaan atau kegiatan lain yang lebih berguna? Mabuk dan dunia malam sudah lewat untuk usia kita, mungkin kau bisa mencoba berubah seperti yang aku lakukan.”
Roberto menatap rumput pendek di hadapannya, mengambil sebatang bunga rumput di dekatnya dan menggigit-gigit untuk menjadi aktifitas tak jelasnya,
“Kau punya hal yang bisa kau lakukan Calvin, setidaknya kau cerdas dan boleh kupastikan kau memang genius meskipun kau terlambat untuk lulus menjadi dokter. Tapi, kau lihat aku… apa yang bisa ku lakukan? Aku hanya bisa menjadi pesuruh Stanley.”
Roberto bersandar pada pohon di belakangnya, “Kau tahu, aku hanya pesuruh Stanley. Dia yang paling berduit diantara kita. Aku tak punya hal yang bisa dibanggakan selain bisa berteman dan menemani Stanley di club dan menutupi setiap tindakannya. Seperti hari ini, Stanley menyuruhku untuk membujukmu ikut berkumpul lagi mengulang malam-malam indah.”
“Kalian lakukan saja sendiri!”
“Hey man… kau tak ingat… kau selalu berhasil menarik wanita untuk one night stand dan setiap wanita yang rela masuk ke kamar sewaan kita mengira bahwa mereka akan berakhir denganmu. Kami menikmati itu. Bercinta dengan lampu padam tak masalah dan saat pagi mendengar teriakan mereka karena buka kau yang ada di samping mereka…itupun tak masalah. Ada sensasi yang hilang saat kau taka da Calvin.”
Cerita dari Roberto membuat miris Calvin Adam, ada berapa banyak wanita yang berhasil dia tipu untuk memuaskan hawa napsu teman-temannya.
“Roberto, aku menjadi malu dan merasa seperti mucikari kalau kau berkata seperti itu.”
Yang mendengar hanya ternganga, “Bukankah memang seperti itu? Kau memastikan wanita itu siap dan mempersilahkan kami masuk, entahlah berapa yang kau terima dari Stanley tapi setidaknya itu bisa membantu membayar kuliahmu bukan?”
“Aku memperoleh beasiswa jadi kuliahku gratis, tak usah beralasan untuk membujukku dengan cerita konyol seperti itu.”
Roberto tertawa, “Ternyata benar rumor bahwa kau mengalami amnesia Calvin. Aku masih ingat benar saat kau mabuk dan bercerita bahwa kau akan di drop out oleh kampus karena sering tidak berkuliah dan beasiswamu di putus. Aku salut padamu, senakal-nakalnya dirimu masih memikirkan Mom. Nyatanya kau mencari cara tetap berkuliah untuk buat Mommy mu bahagia. Setidaknya kau beruntung memiliki Mom, aku sudah sebatang kara,” ocehan Roberto sangat acak dengan sesekali menunjukkan sisi sentimentilnya.
Calvin Adam beranjak dan meninggalkan Roberto dengan pesan singkat tak terbantahkan, “Tak usah temui aku lagi kalau kau hanya bertujuan mengajakku kembali menikmati kehidupan malam. Aku ingin berubah baik dan membahagiakan Mom Delia juga demi misiku di Earth 23 segera tercapai. Kuharapkan kaupun menemukan jalan hidup yang lebih baik Roberto..”
Pintu rumah terbuka dan terlihat Mom Delia yang sedang mempersiapkan menu makan malam yang tercium aroma lezatnya dari luar.
“Bukankah terlalu awal untuk menyiapkan menu makan malam Mom? Kita bahkan baru saja selesai makan siang.”
Mom Delia mengambil tempat bekal dan menatanya di atas meja, senyum cantik terpancar diantara keriput wajah ayunya.
“Sepertinya kau tak berubah Nak, bukankah malam ini kau ada tugas untuk jaga IGD?”
Calvin Adam menepok dahinya melupakan jadwal magang yang sudah dia terima, “Oh my….. Aku lupa Mom… baiklah aku harus bersiap-siap sekarang, kau memang yang terbaik mom,” Calvin Adam mengecup pipi Mom Delia sebelum berlari beranjak masuk dalam kamar dan mempersiapkan kebutuhannya untuk hari pertamanya bertugas di IGD.
Ucapan Oscar terngiang kembali, “Pastikan kau cukup istirahat dan bawalah kopi karena hari pertama bertugas di IGD bisa menjadi hari terberat dan menyibukkan untuk dokter magang baru.”
Bayangannya akan Chronos 299 kembali membuatnya membandingkan keadaan, “Apakah akan lebih melelahkan bertugas di IGD Earth 23 dibandingkan dengan hukuman yang kudapatkan mengobati rakyat di depan gerbang Chronos 299 selama beberapa hari??”