Help Me, Doctor...

Help Me, Doctor...
Earth 23 – Misi Penyelamatan Pertama



“Apakah ada dokter anastesi yang dapat segera hadir kurang dari lima menit? Aku akan melakukan dan bertanggungjawab atas operasi pasien ini!!”


Teriakan Calvin Adam membuat semua orang yang ada di sana bergerak dengan seketika mempersiapkan segala sesuatu dengan tatapan apparat kepolisian yang mengikuti tak menyadari bahwa yang memberikan instruksi hanyalah dokter koas yang belum dapat melakukan tindakan berbeda jika memang statusnya sudah menjadi dokter residen.


Dokter Harington mencekal lengan Calvin Adam, “Kau jangan bermain-main Bung. Ini menyangkut nyawa manusia dan perbuatanmu dapat saja membuat karir dokter yang sedang akan kau mulai berakhir naas.”


Cengkeraman Calvin Adam melepas tangan Harrington, “Justru karena ini menyangkut nyawa manusia maka aku harus segera bertindak. Lebih baik aku mempertaruhkan karir dokterku daripada melihat nyawa melayang di depan mataku.”


Seorang suster menyela pembicaraan mereka, “Dokter maaf untuk melakukann tindakan operasi kita memerlukan persetujuan dari walinya dan kami belum mendapatkan kontak wali yang bisa dihubungi.”


Banyaknya regulasi yang harus dilewati membuat Calvin Adam mengacak rambutnya kesal, tak menyangka saat hidup dan mati berkejaran dengan waktu masih harus melewati regulasi protocol yang mempersulit keadaan.


“Baiklah, aku walinya.”


Suster yang mendengar Calvin Adam menjawab masih tak yakin, “Maksud Dokter, anda yang akan melakukan tindakan operasi? Dan walinya juga dokter?”


“Ya suster, bawa kemari berkas itu,”


Calvin Adam mengambil berkas dan menandatangani dengan segera lalu melangkah menuju ke ruang operasi melakukan sterilisasi dan menimbang kondisi Roberto dan beberapa tindaka yang harus dilakukan.


Dokter Nana menghalangi Calvin Adam yang sedang berjalan, “Kau sudah memikirkan tindakanmu Dok? Kita tak seharusnya boleh melakukan tindakan.”


“Dan kau lebih memilih kita melihat pasien itu menghembuskan napas terakhir dan Dokter senior yang tiba hanya dapat menyebutkan nama dan waktu kematiannya? Sorry Nana, aku lebih memilih mencoba menyelamatkannya.”


“Tapi ini…”


Emergency bed pembawa pasien sudah terdengar suaranya dari kejauhan di belakangnya etrdapat dokter anastesi yang kemudian berdiri menatap Calvin Adam.


“Jangan katakan kau yang akan melakukan operasi ini Calvin!”


Calvin Adam hanya mengangguk dan meminta Lydia untuk segera bersiap, “Aku memerlukan asisten untuk membantu saat operasi, apakah Oscar datang bersamamu?”


Lydia menggeleng dan tak habis pikir dengan yang dilakukan oleh Calvin Adam, terlebih lagi dia tak bertanya lebih dahulu pada suster yang sudah menghubunginya untuk datang prihal dokter yang bertanggungjawab untuk melakukan operasi.


“Di mana Dokter Ericson, Suster?”


Suster yang akan masuk ke ruang operasi mempersiapkan peralatan berhenti dan menjawab dengan tatapan pasrah, “Dokter Ericson baru dapat tiba sekitar 20 menit lagi Dokter dan…”


Belum selesai ucapannya terdengar teriakan panik seorang suster di dalam ruang operasi beserta bunyi alat monitor jantung yang hanya satu nada panjang.


Roberto mengalami gagal jantung berulang yang berarti kondisi pasien benar-benar mengkawatirkan dan harus segera diambil tindakan.


“Waktu kita tak banyak Lydia tolong bantu aku dan semua dia ruangan ini tenang saja semua resiko yang terjadi di dalam ruangan ini akan jadi tanggung jawab saya. Tolong kita prioritaskan saja nyawa pasien.”


Dua suster, satu dokter anastesi dan Calvin Adam berkutat dengan peralatan dan setiap detik tindakan menjadi penentu bertahan ataukah berlalunya nyawa pasien.


Sementara di ruangan IGD kedua petugas kepolisian menggali informasi dari perawat dan dokter yang masih berada di sana.


“Saya tidak tahu menahu Pak, karena saya dari ruang transit dan segera berlari kemari saat melihat ada pasien gawat dengan luka tusukan cukup parah,” keterangan Dokter Nana dicatat oleh petugas dengan seksama.


“Lalu apa anda dapat menerangkan apa yang tadi sedang terjadi? Kenapa beberapa orang terkesan tidak dapat melakukan pertolongan pada pasien yang membutuhkan operasi segera?”


“Karena tak seharusnya dokter koas menangani operasi besar, seharusnya dia dapat menunggu 15 menit lagi kedatangan dokter bedah senior untuk melakukan penanganan.”


Seorang petugas polisi menangkap ada pelanggaran prosedur yang terjadi, “Jadi maksud anda bisa saja tindakan yang terjadi di dalam dapat membahayakan pasien?”


Melihat Harrington yang berlaku seolah sumber informasi valid terpercaya dan semakin memojokkan posisi Calvin Adam, Dokter Nana mencoba untuk mengambil alih jalannya pembicaraan,


“Kita lihat saja nanti Pak, kami sudah di sumpah sebagai dokter untuk berusaha yang terbaik demi pasien dan jika harus menunggu dokter bedah tiba maka sudah dapat dipastikan pasien tidak dapat bertahan. Jadi lebih baik kita melihat hasil tindakan penanganan yang sedang dilakukan daripada berasumsi yang belum berdasarkan fakta,” Nana melirik Harrington dengan tatapan sebal yang dibalas gerutuan Harrington.


“dan apakah Bapak Polisi dapat menjelaskan siapa pasien yang sedang ditangani oleh tim kami di ruang operasi?” lanjut Nana.


Kedua petugas saling memandang dan memutuskan untuk memberikan informasi guna kebaikan bersama,


“yang sedang ditangani dalam ruang operasi adalah saksi kunci sindikat perdagangan obat bius. Kebetulan pria itu memang sudah kami amati lama tapi sepertinya dia hanyalah pesuruh saja. Naasnya saat kami berusaha untuk mengikuti dan melakukan penggrebegan seseorang melakukan penusukan. Petugas kami terlalu jauh untuk dapat menyelamatkannya dan hanya dapat mengantarkan ke rumah sakit ini setelah pelaku memberikan beberapa tusukan.”


Harrington menyimak dan antusias dengan kejadian kriminalitas yang terjadi, “lalu bagaimana dengan pelaku?”


“Melarikan diri, jadi tugas kami dan juga tugas anda sekalian di sini untuk dapat menjaga korban agar tetap hidup dan dapat memberikan kesaksian jalur perdagangan obat bius.”


Ingin rasanya Nana menyumpal mulut Harrington dengan stateskop saat mendengar tanggapan yang diberikan, “Asal pasien bisa keluar hidup dari ruang operasi kita dapat menjaganya agar tetap hidup.”


Pintu ruang IGD terbuka dan semua mata mengarah pada Dokter Ericson yang sudah datang dengan dandanan lusuh acak-acakan dan langkah yang terburu-buru. Tanpa menyapa petugas atau staff yang ada di sana, Ericson menghampiri adiknya untuk memastikan.


“Di mana pasien sekarang? Bagaimana kondisinya?”


Harriongton hanya menjawab dengan anggukan kepala yang mengarah ke jalur ruang operasi.


“sudah empat puluh menit berjalan pasien sedang dioperasi Dok, barangkali anda bisa bergabung karena…” lagi-lagi Nana tidak dapat meneruskan kata-katanya.


“Karena dokter koas yang menanganinya. Kalau kau mau masuk, kau harus pastikan kondisi pasien yang sudah ditangani oleh Calvin Adam tidak merugikanmu sebagai dokter bedah yang seharusnya menangani…Aduuuh,” Harrington mengaduh saat cubitan kecil dia terima dari Nana.


“Dokter Harrington, bisakah anda berusaha untuk berlatih berbicara dengan baik dan optimis mendoakan operasi pada pasien berjalan dengan baik???”


Tanpa mempedulikan Harrington, Nana, dan dua petugas polisi yang ada di dekat meja perawat, Dokter Ericson berjalan masuk ke arah ruang operasi, mengganti baju, melakukan sterilisasi pada tangan dan sebelum masuk lebih jauh, Ericson menatap dari jendela untuk melihat yang terjadi di dalam ruang operasi.


Ericson mengamati dengan cekatan Calvin Adam melakukan simpul pada bagian abdomen perut pasien yang tampak terluka dengan menggunakan simpul ganda dengan dua simpul pada satu tangan secara bersamaan. Terlalu indah gerakan tangannya seorah menari seusai melakukan pekerjaan yang penuh dengan resiko dan kerumitan.


Nama Calvin Adam sebagai dokter genius namun rebel (pemberontak) sudah terkenal di Universitas Kedokteran tempat mereka bersekolah namun Ericson tak menyangka bahwa Calvin Adam sekarang sudah menjadi anak yang serius untuk menjadi dokter.


Lydia yang melihat keseriusan dan ketelitian Calvin Adam semakin yakin bahwa temannya itu sudah berubah menjadi pria dengan jiwa dokter sejati bukan pria dengan jiwa kebas sesukanya. Ericson menatap Lydia yang berada di dekat kepala pasien dan mengamati kondisi pasien.


“Sepertinya keberadaanku di dalam sudah tidak diperlukan,” Ericson melepas kan baju scrub suits (seragam ruang operasi yang memiliki warna bervariasi, merupakan jenis pakaian sanitasi yang dikenakan oleh dokter ataupun perawat sebelum memasuki ruang operasi) dan melangkah keluar dengan senyum terkembang menghampiri Harrington yang sedang berdiri di depan meja perawat.


“Operasinya terlihat berhasil, aku akan ke ruang transit dan bangunkan aku kalau ada kondisi mendesak. Empat jam lagi akua da jadwal operasi,” tanpa menunggu jawaban Ericson melangkah meninggalkan Harrington yang tampak kecewa.


Tentu saja Harrington kecewa, karena dia berharap Calvin Adam akan gagal dan terdepak secara alami dari rumah sakit ini. Harrington melihat Calvin Adam sebagai rival bukan partner yang dapat saling membantu untuk melakukan tugas penyelamatan pasien.


Kondisi IGD kembali senyap, tapi hanya untuk beberapa saat saja karena beberapa jam kemudian fajar menyingsing dan aktifitas pagi yang sibuk akan segera memenuhi rumah sakit dengan setiap permasalahan dan pertukaran informasi yang sangat cepat seperti menyebarnya virus melalui udara.


Berita mengenai Dokter Koas, Calvin Adam, yang melakukan operasi besar di hari magang pertamanya menjadi topik hangat hari itu di rumah sakit.