
“Sampai kapan kau akan mengikutiku Asklepios?” seru Artemis yang sudah merasa selalu dikuntit kemanapun pergi oleh Asklepios keponakannya.
Asklepios tersenyum dan memandang sang Bibi dengan penuh kekaguman, “Sampai kau bisa memandangku sebagai seorang pria Bibi.”
Sudah seabad berlalu Asklepios menjadi ekor bagi Artemis. Semua itu bermula saat Apollo, saudara kembar Artemis yang adalah ayah Asklepios harus pergi menjalankan misi dari Zeus bersama istrinya.
Asklepios yang masih terlalu muda tak mungkin ikut serta sehingga jadilah Artemis menjadi nanny pengasuh keponakannya. Artemis yang memilliki jiwa petualang menganggap keberadaan Asklepios sebagai kesenangan baru karena berarti akan banyak keseruan yang dia akan lewati tak lagi sendirian.
Perhatian dan kepedulian Artemis sebagai seorang Bibi dan berusaha menunjukkan sikap keibuan justru diterima berbeda oleh Asklepios yang justru jatuh hati memandang Artemis yang memiliki keanggunan dan bijaksana seorang dewi sebagai wanita yang pantas untuk menjadi pasangan abadinya. Asklepios lupa bahwa dirinyalah yang tak layak untuk bersanding disamping Artemis.
“Hati-hati dengan perkataanmu Nak, kau dapat membuat masalah dengan kata-katamu,”ucap Artemis dengan terus melangkah berjalan menuju bukit batu untuk kembali memasuki gerbang agung Chronos 299.
Mendengar teguran dari Bibinya, Asklepios mendengus sebal merasa cintanya masih saja bertepuk sebelah tangan.
Tanpa sepengetahuan Artemis, Asklepios sudah menyingkirkan para pria pemuja Artemis. Setiap pemuda yang ingin mendekati Artemis harus berhadapan dengan Asklepios dan menerima informasi palsu bahwa Artemis memutuskan untuk hidup selibat atau tidak memiliki pasangan.
Tingkah laku Asklepios sudah menjadi perhatian Zeus, kakeknya namun Zeus masih memberi Asklepios berubah dan hal tersebut juga sekaligus merupakan ujian bagi Artemis, Anak Zeus untuk dapat menyelesaikan masalah dengan ‘memotong ekor’ yang terus mengikutinya.
Zeus memberi mereka waktu karena kedekatan mereka juga merupakan kebaikan bagi Chronos 299, Asklepios yang memiliki kemampuan pengobatan menjadi rajin pergi berpetualang mengikuti Artemis dan menyembuhkan banyak orang serta binatang yang ditemuinya.
Dari kejauhan Artemis melihat ilalang yang bergerak-gerak, langkahnya terhenti dan tangannya mencegah Asklepios untuk maju, “Sssstt ada sesuatu di sana, biar aku periksa dulu.”
Bukannya menurut, Asklepios yang merasa sudah menjadi seorang pria yang harus dapat menjaga wanita tersayangnya justru menyingkirkan lengan Artemis dan maju mendekati ilalang yang bergerak itu.
Setelah mendekat terlihat oleh Artemis dan Asklepios seekor kelinci abu-abu dengan telinga berwarna coklat. Kelinci tambun besar namun kakinya tampak terluka.
“Sepertinya dia butuh pertolonganmu,”ucap Artemis melihat tangan Asklepios dengan cekatan memeriksa tubuh kelinci.
“Tulang kakinya patah, aku harus menyambungnya. Bisa tolong kau ambil akar tanaman di dekatmu Bi? Rosemary lebih baik atau Marigold,” Asklepios meminta bantuan sambal berusaha memberikan pengobatan pada kelinci.
Setelah Artemis menyerahkan akar tanaman pada Asklepios, dengan cekatan Asklepios memasang akar tanaman sebagai balut untuk menyambung tulang kaki kelinci.
“Kelinci yang malang, kau harus menahan dirimu untuk melompat,”kata Asklepios sambal mengeratkan simpul akhir akar tanaman di kaki kelinci.
“Berapa lama dia akan sembuh?”
Asklepios menimbang, “Seharusnya tak sampai dua minggu dia sudah bisa berjalan dengan baik Bi, tempat ini penuh dengan makanan setidaknya dia bisa duduk atau sedikit bergeser dan memakan Rosemary, Marigold atau Dandelion yang akan menjadi obat kesembuhannya juga.”
Artemis mengambil kesempatan untuk dapat lepas dari Asklepios, “Kalau begitu kau harus memeriksanya secara berkala kau tak perlu mengikutiku lagi.”
Langkah Artemis terhenti dengan lengan yang dicengkeram oleh Asklepios, “Sebegitu inginnya kau menjauh dariku Bi? Aku janji tak akan bercanda kelewatan lagi.”
“Hai Josh, kau berjaga sendirian?” tanya Artemis ramah pada penjaga gerbang Chronos 299.
Asklepios yang melihat keramahan Bibinya menatap Josh dengan tatapan permusuhan.
Josh tak menghiraukan perbuatan Asklepios karena semua yang ada di Chronos 299 sudah tahu bahwa Artemis memiliki keponakan yang terlalu posesif.
“Caleb masih menghadap ke Panglima Besar Chronos 299 Nona. Dan selesai berpetualang kemana Nona hari ini?”
Josh mencoba ramah, dia sudah mengenal Artemis dan meskipun strata mereka berbeda tapi Artemis pernah menjadi teman bermainnya selagi mereka masih kanak-kanak.
“Mengitari Chronos 299 tentu saja. Ow ya Josh, di balik batu ada kelinci yang terluka, ponakanku berkata dua minggu lagi kelinci itu akan sembuh. Mungkin saat kau berkeliling kau bisa melihat kondisi kelinci itu karena sepertinya Asklepios lebih memilih mengikutiku daripada memeriksa pasiennya,” seru Artemis pada Josh yang dijawab dengan anggukan dan senyum saat melihat Asklepios yang merasa tersindir terlihat bergumam sebal.
Asklepios melewati gerbang tanpa sikap ramah pada Josh, baginya sangat sulit untuk memisahkan kedekatan Artemis dengan Josh karena mereka sudah sangat lama mengenal dan tak mungkin untuk Asklepios memberikan informasi palsu tentang bibinya.
Di dalam gerbang Chronos 299 terdapat labirin yang menghubungkan ruang satu dengan yang lainnya. Tak ada pintu ataupun jendela namun ada tabir yang akan terbuka bagi pemilik ruangan dan tamu tak dapat menembus tabir tanpa seijin pemilik ruangan.
“Cukup sampai di sini Asklepios, aku tak akan mengijinkan kau masuk ke ruanganku. Apollo menunggumu, “ tanpa menunggu jawaban, Artemis masuk ke dalam ruang otoritasnya dan meninggalkan Asklepios di depan tabir.
Wajah Asklepios muram menatap tabir yang saat dia sentuh hanya akan terasa seperti aliran air namun saat tangannya menekan mencoba menembusnya akan terasa sengatan listrik tanda dia tak diijinkan untuk masuk.
“Haruskah aku tetap memendam rasa ini padamu Bi. Bukankah Kakek Zeus saja dapat menikah dengan Nenek Hera yang adalah kakaknya sendiri??? Tak bisakah aku….”
Kata-kata Asklepios tak dapat diteruskan, tangan yang kokoh dan kuat menutup mulutnya erat dan menariknya membawa menjauh dari ruang otoritas Artemis.
Asklepios berakhir masuk pada ruang otoritas keluarga Apollo yang di dalam ruangan itu terbagi menjadi kamar untuk Asklepios serta adik-adiknya yang belum memiliki pasangan abadi.
Apollo menatap anaknya dengan tajam,
“Dasar anak nakal apa yang kau katakan di sana tadi?? Tak ingatkah kau bahwa di labirin Chronos 299 suara pelan sekalipun dapat terdengar terlebih lagi kalimatmu yang sangat tabu aku yakin mereka yang ada di dimensi keabadian juga sudah mendengarnya!!”
“Aku hanya bercanda Ayah,”Asklepios mencoba mengelak.
Kebohongan di Chronos 299 merupakan salah satu pelanggaran yang memiliki nilai hukuman namun perkataan Asklepios sebelumnya yang menyinggung soal pernikahan Zeus dan Hera sangatlah tabu dan dapat berakibat fatal.
Dalam dimensi keabadian, Zeus dan Hera saling melemparkan pandangan.
“Perkataannya benar dan mungkin cucu nakal itu memiliki turunan sifatmu Zeus,”ucap Hera tanpa ekspresi.
Afrodit yang melihat pasangan senior dimensi keabadian tersenyum dengan sangat cantik hingga mendatangkan kelopak mawar bertaburan, “Kalian sungguh sangat manis.”