Help Me, Doctor...

Help Me, Doctor...
Chronos 299 - Epione



Kilat menyambar-nyambar tanpa henti , suara tangis bergema di setiap penjuru Chronos 299.


“Apa ini yang sebenarnya terjadi? Kenapa kekacauan tiba-tiba muncul?” tanya seorang pemuda berbaju zirah yang mengamati langit dan sesekali tampak petir menyambar pohon di sekitarnya.


“Kalau ini dibiarkan, Chronos 299 akan hancur dan hanya tersisa puing-puing manusia yang sudah tersambar petir,” ucap pemuda satunya yang memiliki perawakan sama dan memakai baju zirah keemasan.


Dari arah berlawanan tiba-tiba muncul gerombolan manusia yang berlari dengan kencang, beberapa tersandung dan terinjak oleh yang lainnya, tak ada yang menolong karena tak mungkin untuk berhenti. Jika berhenti, menolong yang terjatuh maka akan dapat menjadi korban terinjak Bersama.


“Lihat, kenapa manusia selatan dating kemari dengan berlari? Apakah sedang terjadi peperangan atau mereka menyerbu benteng kita?”


“Rapatkan barisan dan panggil semua pasukan untuk berjaga di gerbang!!!!”


Kedua pemuda yang ternyata adalah panglima penjaga gerbang Chronos 299 bersiap sedia menerima rombongan tamu tak diundang yang nampak berlari dengan sangat tergesa-gesa.


Seorang di antaranya meniupkan Oboe dengan nada tinggi berulang yang berarti situasi penting yang butuh perhatian dan lebih menyiratkan kekacauan. Tiupan bunyi yang sudah nyaris tidak terdengar selama ribuan tahun terakhir.


“IJINKAN KAMIII MASUUUKKKK,” Kelompok orang yang berlarian mendekat semua berteriak meminta masuk gerbang.


Semua orang berjatuhan dan terangkat akibat seorang Panglima Besar Chronos 299 mengayunkan pedang dari atas Menara gerbang ke arah kerumunan yang akan menjadi dinding bertumpuk jika dibiarkan.


Dari kejauhan nampak gelombang bening mengalir mengikuti gelombang manusia yang sebelumnya datang.


“Caleb, Josh… cek segera apa yang menyusul di belakang manusia-manusia ketakutan ini,” Seru Panglima Besar Chronos 299 kepada dua Panglima yang berjaga di depan gerbang.


Caleb memasukkan Oboe ke dalam baju zirahnya dan alat music tiup itu seolah menghilang bersatu dengan gambar motif yang nampak pada lamellar (sejenis baju besi yang digunakan oleh masyarakat kuno).


Dengan sekali lompatan Caleb dan Josh mendekat ke arah cairan bening dan hingga ke arah hilir cairan bening berhenti seolah sudah mencapai tepi pantai.


“Josh, bukankah kawasan ini sebelumnya adalah area lapang penuh dengan bunga Marigold, Dandelion, dan Rosemary?” Caleb memandang padang di depannya yang sudah terendam air tanpa tampak dasar di bawahnya hanya pantulan warna kuning, putih, kehijauan hasil dari bias warna tanaman yang terendam.


Josh mengangguk dan berusaha berjongkok, mengulurkan telunjuk ke arah cairan putih bening di dekatnya. Ibu jari dan jari telunjuknya mengatup mengukur kekentalan cairan dan mencoba mengendus aroma yang keluar, “Tidak lengket dan tak berbau, dari mana ini datang”


Kedua panglima menatap langit yang tak lagi mengeluarkan kilat yang menyambar-nyambar.


“Apakah kilat tadi berasal dari deru kaki manusia selatan yang berdatangan? Mereka sepertinya ketakutan dan penuh dengan amarah hingga kilat dapat tercipta,” Caleb mengangguk menyetujui analisa rekannya.


Gelombang cairan begitu tenang dan tak tampak riak hingga akhirnya terlihat seorang gadis yang bangkit berdiri usai mengambil cairan dan berlari bersembunyi pada balik bukit.


“Josh apakah kau melihatnya? Aku seperti melihat peri berambut panjang dan bergaun putih menerawang bersembunyi dibalik bukit itu.”


“Dia memang memang rupawan Caleb, aku tahu siapa dia,” jawab Josh dengan yakin dan tatapan yang tak lepas dari bukit bebatuan di hadapannya.


Sebelum cairan bening ini menutupi hamparan tanaman penuh bunga Marigold, Dandelion, dan Rosemary, Josh sering untuk berkeliling dan berjalan melintasi padang hingga melewati bukit di seberang padang. Ada Istana sederhana di sana.


“Kau mengobati kelinci itu?” perhatian Josh teralihkan pada kelinci berwarna abu-abu dengan telinga berwarna kecoklatan.


Gadis itu menggeleng tetap terdiam, membenarkan posisinya agar terlepas dari tangan Josh, dan kembali berkutat pada kaki kelinci yang sudah mulai terlepas dari akar tanaman yang seolah mengikat terlalu erat.


“Tolong jawab aku nona, apa yang kau lakukan di sini?” Josh mengulang pertanyaan dan berusaha tidak terpancing kecantikan gadis di depannya.


Si gadis menjawab tanpa melirik Josh, “Seperti yang kau lihat, aku sedang melepaskan kelinci ini dari rasa sakit karena terlilit akar dandelion. Pasti ada pemburu yang memasang perangkap. Seharusnya Panglima penjaga sepertimu bisa mencegah hal ini terjadi!”


Situasi berbalik, kali ini justru Josh yang mendapat teguran dan dia masih tak habis pikir karena tak mungkin ada pemburu liar di kawasan Chronos 299 yang menjadi penjagaannya.


Tak mempedulikan gadis asing di depannya, Josh masih berusaha untuk mengenal siapa gadis yang sudah selesai dan melepaskan kelinci yang awalnya nampak terpincang namun kemudian bisa melompat seolah tak pernah terluka.


“Epione,” Jawab gadis itu kemudian berlari dan seolah menghilang bersama kabut pekat pergantian musim kala itu.


“Ini sepertinya hanya air Josh,” ucapan Caleb mengalihkannya.


Terlihat Caleb sedang mencecap cairan yang sudah dikonfirmasi bahwa itu adalah air yang tak tahu dari mana datangnya.


Keduanya mencicip kembali dan berkata,


“AIR MATA!!!"


Josh dan Caleb melompat kembali ke depan gerbang utama Chronos 299 melaporkan kondisi yang mereka lihat pada Panglima Besar Chronos 299.


“Padang Marigold, Dandelion, dan Rosemary di sebelah selatan gerbang sudah terendam oleh cairan yang setelah kami cek itu adalah airmata. Terlalu banyak hingga seperti membentuk danau, ” Jelas Caleb dengan terperinci.


Panglima Besar Chronos 299 menatap Josh dan meminta penjelasan lebih lanjut, “Apakah kalian sudah melihat kondisi dibalik bukit batu?”


Keduanya menundukkan kepala dan menggeleng.


“Urus manusia dari Selatan yang tadi berdatangan, panggil bagian pengobatan untuk segera memberikan kesembuhan dan datangkan juga bagian sentral untuk menyiapkan makanan untuk mereka. Mereka berlarian dan penuh dengan ketakutan. Sepertinya ada seseorang yang sudah melakukan pelanggaran besar di sini,” Seru Panglima Besar Chronos 299 kemudian beranjak pergi masuk ke dalam ruang utama pusat Chronos 299 untuk melapor.