
“Aku berhutang nyawa padamu.”
Matahari pagi berpendar memenuhi taman rumah sakit membangunkan rerumputan yang sudah terbasahi embun malam yang mulai menguap karena hangatnya sinar surya. Burung yang berkicauan bersautan menyadarkan sudah dimulainya keramaian menggantikan kesunyian malam. Calvin Adam berada di belakang kursi roda tempat Roberto duduk dan mendorongnya perlahan. Seorang polisi tanpa seragam mengikuti mereka dari jarak aman.
“Kau tak berhutang apapun, sudah tugasku berupaya untuk menyelamatkan nyawa pasien,”
Calvin Adam berhenti dan mengunci roda pada kursi agar tetap stabil dan dia melangkah duduk di bangku taman, “apa kau tetap tak mau buka mulut tentang kejadian malam itu?”
Roberto terdiam, sudah hampir satu minggu paska kejadian dan dirinya belum juga mau berucap kronologis kejadian bahkan saat polisi bertanya selalu saja dia bungkam.
“Kalau kau memaksa aku akan buka mulut, setidaknya itu akan menjadi permintaan terimakasih karena sudah memberiku kesempatan kedua untuk hidup lebih baik. Kudengar, karena menyelamatkanku kau jadi menjalani siding kode etik di rumah sakit ini? Apakah itu benar?”
Calvin Adam hanya tersenyum karena beritanya tersiar bahkan sampai ke telinga Roberto yang adalah pasien dengan kamar private bukan berada di bangsal. Perputaran informasi dari mulut ke mulut memang seperti penyebaran virus lewat udara, tak dapat terbendung dan tak dapat dicegah.
“Hanya menjalani sidang karena ada beberapa aturan yang terpaksa ku langar, tapi bukan hal yang perlu dikawatirkan. Justru aku senang bisa merasakan libur selama beberapa hari dan seorang professor yang mendengar apa yang kulakukan di kamar operasi justru mengangkatku menjadi dokter residen, hal yang sangat tidak masuk akal secara prosedur.”
Siang itu di dalam ruang sidang, Ericson bersaksi bahwa dia hampir masuk ke dalam ruang operasi namun melihat tindakan Calvin Adam yang cekatan dan seolah sudah berpengalaman, dirinya memutuskan untuk tetap berada di luar dan mengamati namun siap untuk masuk kalau kondisi membahayakan pasien.
“Saya yakin dan mengenal Calvin Adam mengesampingkan yang terjadi di awal beliau ada di kedokteran tapi di akhir tahunnya beliau menunjukkan keseriusan dan peningkatan keterampilan yang dapat dipertimbangkan. Saya rasa salah satu Profesor dapat mempertimbangkan untuk menjadikan Calvin Adam sebagai asisten atau resident untuk membantu dan melihat sendiri kapasitas kemampuan Calvin Adam. Jadi silahkan hukum Calvin Adam dengan menjadi seorang resident dengan 100 jam per minggu bertugas di rumah sakit,” ucap Ericson yang berusaha untuk tetap membela Calvin Adam tapi sekaligus membuat yang dibela merasa hukuman 100 jam per minggu terlalu cepat untuk dia terima.
“Aku merasa seperti di hukum seumur hidup tinggal di rumah sakit, memenuhi hukuman 100 jam per minggu di tambah kewajiban internship 80 jam per minggu bahkan masih ada 12 jam hutang meskipun 24jam kali tujuh aku berada di rumah sakit,” batin Calvin Adam.
Dari pertimbangan itu akhirnya diputuskan bahwa hingga masa internship selesai Calvin Adam juga melakukan tambahan menjadi resident di bagian bedah membuatnya akan selalu terlihat di rumah sakit seolah menjadi sukarelawan penuh waktu namun keuntungannya kini dia dapat tinggal di asrama resident dan dapat memiliki privasi bukan berbagi ruangan di transit room.
Oscar yang mendengar penderitaan yang akan dialami Calvin Adam justru melihat sisi positif dari kejadian ini,
“Bukankah kau harusnya bersyukur? Dengan begitu kau seperti mengejar ketertinggalanmu dari Aku, Lydia, Ericson, dan teman-teman seangkatan yang kini sudah jadi dokter spesialis. Anggap saja ini sebuat privilege yang memang perlu bayar harga dengan waktu yang sebelumnya kau buang untuk bersenang-senang.”
Tidak terbayangkan oleh Calvin Adam, kalau di Chronos 299 dia mendapat hukuman untuk berdiam di tabir dekat gerbang dan menerima setiap warga dengan keluhan sakit, kali ini di Earth 23 nyatanya tak jauh beda. Ingin rasanya dia bertemu dengan gadis pasangan abadi yang ditetapkan oleh Zeus dan kembali ke Chronos 299, dia merindukan berpetualang dengan Artemis.
Tepukan menyadarkan Calvin Adam, “Jadi hukuman apa yang kau dapatkan karena menyelamatkanku?”
Seolah merasa bahwa Calvin Adam memintanya mendekat, sang polisi berdiri di belakang kursi roda Roberto tanpa berbicara dan mempersiapkan recorder yang sudah tersimpan pada jam tangannya, saat Roberto mulai berbicara tangan kanan Pak Polisi menekan tombol jam dan mulai merecord semua yang diucapkan oleh Roberto.
“Kuharap kalian tetap selamat dan hidup setelah mendengar apa yang kuucapkan saat ini. Aku juga tak yakin saat ini aku aman dan dapat hidup lebih lama karena yang aku rasakan beberapa orang sudah bersiap untuk membunuhku.”
Calvin Adam dan polisi yang berada di sana menatap Roberto lekat, tampaknya ada rahasia besar yang Roberto simpan dan bukan masalah sepele yang akan di hadapi saat mereka berdua mendengar pernyataan Roberto.
Jauh dari tempat Calvin Adam dan Roberto berada, dari balik kaca jendela bertiraikan linen putih, seorang pria setengah baya meletakkan binocular yang sedari tadi dipakai untuk mengamati keberadaan Roberto.
Si pria menekan telepon dan memberikan instruksi melalui orang di seberang ponselnya , “Lakukan plan B! Kali ini tak boleh gagal, cecunguk itu harus mati atau kita semua akan mengalami masalah. Jauhkan dokter tampan yang sering sekali mencoba menggali informasi dari Roberto. Kurasa sore ini kita harus habisi Roberto sebelum dokter dan polisi yang menjaganya mendapatkan informasi kita!”
Kursi roda Roberto kini di dorong oleh perawat yang didampingi polisi, Calvin Adam memiliki panggilan darurat dari ruang bedah untuk mengamati operasi yang sedang dilakukan oleh Dokter Ericson dan Lydia sebagai dokter Anastesi.
“Jadi operasi apa kali ini Dokter Ericson yang terhormat?” seru Calvin Adam semangat menyapa Ericson yang sudah dia pandang sebagai teman yang menyelamatkannya dari hukuman dengan siksaan kerja yang lebih berat. Setidaknya yang Calvin Adam terima akan menjadi semacam akselerasi pendidikan kedokterannya, mengejar ketertinggalan dan dapat segera menjadi dokter spesialis.
“Hanya operasi apendisitis (usus buntu), aku melihatmu sudah mahir menggunakan pisau bedah jadi kali ini aku ingin kau melihat penggunaan laparoskopi. Karena lokasi pengangkatan sudah jelas dan untuk meminimalisir luka bedah kita akan gunakan metode laparoskopi. Kau sudah pernah mempraktekkannya kan?”
Calvin Adam tersenyum, “Ya… aku sudah pernah melakukannya mengambil apendiks (usus buntu) dari cadaver.”
“Dan Calvin Adam kebingungan saat ada cairan bukan darah yang keluar, dia muntah, dan meninggalkan ruang praktek,” Lydia menimpali dan menertawakan masa perkuliahan itu.
“Kau tahu, tak hanya aku yang mual..aroma busuk itu terlalu…”
Ericson memutus obrolan mereka dan mencoba untuk kembali berkonsentrasi pada pasien yang ada di hadapan mereka, “kita akan lanjutkan cerita itu nanti di kantin rumah sakit, setelah operasi ini selesai..”
Ericson meminta pisau bedah pada suster dan mulai membuat sayatan kecil untuk memasukkan beberapa titik alat dan memasukkan suntikan gas karbon dioksida pada perut pasien untuk memperjelas gambar yang diambil oleh kamera alat laparoskopi dan terlihat di monitor.
Kurang dari satu jam operasi sudah berakhir dan dokter Ericson, Calvin Adam, Lydia meninggalkan ruang operasi. Pasien sudah ditangani oleh perawat untuk dipindahkan ke ruang pemantauan untuk pengamatan paska operasi. Belum sampai di kantin rumah sakit tempat mereka bertiga berencana meneguk kopi untuk menambah stamina, telepon Calvin Adam sudah berdering dan suara seorang suster membuat Calvin Adam berlari.
“Roberto mengalami kesulitan bernapas,” seru Calvin Adam yang terdengar oleh Ericson dan Lydia yang terdiam dan menatap punggung Calvin Adam menghilang dari pandangan mereka.