
Sejak kejadian Asklepios yang meracau di depan ruang otoritas Artemis, Apollo mengurung Asklepios dan memberikan banyak tugas padanya.
Dengan sengaja Asklepios di tempatkan di dekat gerbang Chronos 299 dan Apollo meminta Josh dan Caleb memanggil semua warga yang butuh pengobatan untuk datang.
Berhari-hari Asklepios disibukkan dengan antrian warga yang meminta pengobatan dengan berbagai macam keluhan. Semakin banyak keluhan dan masalah kesehatan yang membutuhkan keterampilan dan kekuatan Asklepios untuk menyembuhkan ternyata semakin menambah kekuatan Asklepios dalam teknik pengobatan.
Apollo melakukan hukuman sekaligus pengajaran yang berguna untuk Asklepios serta warga Chronos 299.
Saat hari ke tiga belas dan jumlah pasiennya tak sepadat sebelumnya, Asklepios menyadari bahwa ada satu bagian dirinya seakan hilang dan hampa. Di saat yang sama dia melihat bayangan Artemis melintas. Bibi tercintanya berjalan memulai petualangannya hari itu menuju bukit berbatu melewati hamparan lahan Rosemary, Marigold dan Dandelion.
Asklepios ingin mengikuti Artemis namun tubuhnya seolah terikat medan magnet tempatnya berdiri, sekuat apapun Asklepios berusaha dia tak dapat pergi dari sana.
Asklepios menyadari kejanggalan lain yaitu kenapa Artemis bahkan tidak menyapa dan melihatnya, “Apakah Bibi mendengar perkataanku? Apakah dia marah padaku dan mengabaikanku sekarang?”
Di pertengahan hari, bayangan Artemis kembali mendekati Chronos 299. Asklepios melihat Artemis berbincang pada Josh dan tangannya menunjuk ke arah bukit batu. Artemis melewatinya seolah Asklepios tak ada di sana.
“Bibi… sebegitu marahnya kah kau padaku hingga enggan menyapaku?” Artemis berhenti melangkah saat Asklepios mengajaknya bicara.
Tetapi bukan jawaban yang didengar oleh Asklepios. Terlihat olehnya Artemis tampak kebingungan seolah mencari sesuatu, tubuhnya berputar, kepalanya melihat ke segala penjuru.
“Bibi… candaanmu tak lucu sekarang. Aku merindukanmu, aku ingin pergi berpetualang bersamamu.”
Ucapan Asklepios tidak mendapatkan tanggapan dari Artemis bahkan Artemis melangkah pergi.
Asklepios berteriak menghentikan langkah Artemis, “BIBIIIII ARTEMISSS!!!”
Artemis menggaruk hidung dan telinganya, “Ada apa ini sepertinya seseorang sedang membicarakanku..” ucapan pelan Artemis terdengar oleh Asklepios dan dia tahu bahwa semua ini pasti ada hubungannya dengan ayahnya Apollo dan akibat dari ucapannya tempo hari.
“Josh..Caleb… apa kalian mendengarku?” Asklepios berusaha mencoba berkomunikasi dengan penjaga gerbang yang selama ini tidak pernah dia sapa.
Caleb datang menghampirinya, “Tak kusangka kau tahu namaku Nak, aku cukup terharu.”
“Kau bisa mendengarku?” tanya Asklepios tak percaya.
“Dasar anak nakal, kau pikir aku tuli??”
Saat Caleb hendak pergi Asklepios memanggilnya lagi, “Maafkan aku, bukan itu maksudku. M..apakah kau melihat Bibiku Artemis tadi?” Caleb hanya mengangguk malas.
“Apakah kau dengar aku memanggil dan berbicara dengan Bibi Artemis?”
Caleb menggeleng karena malas untuk banyak berbicara dengan putera Apollo yang sedang menjalani hukuman.
Dari kejauhan terlihat Josh datang dengan wajah yang sulit untuk diucapkan. Tampak ada gurat senyum bahagia, “Josh…Josh…apakah kau mendengarku?”
Caleb melangkah menjauh dan berdecak, “dasar gila. Josh anak itu membuatku pusing.”
Josh mendekat ke arah Asklepios, “Kau memanggilku?”
“Ya..ya.. apa kau tadi bicara dengan Bibiku Artemis? Apakah dia membicarakan aku?”
Josh menggeleng bingung apa yang dimaksudkan oleh pemuda di depannya.
“Josh, sepertinya Bibi Artemis tak bisa melihat dan mendengarku, apa kau bisa sampaikan pesanku?”
[Josh sedang bersuka hati karena sebelumnya dia pergi bersama Artemis ke bukit bebatuan dan dia melihat seorang gadis belia yang sangat menarik hatinya, kepolosan, keanggunan, dan aura empati kuat terpancar.]
Josh merasa iba melihat Asklepios yang seolah sedang sakit rindu pada bibinya tapi dia tak boleh terlalu ikut campur karena yang dia tahu Asklepios melakukan beberapa pelanggaran.
Entah karena Asklepios merasakan lelah selama hampir dua minggu belajar dan mengobati banyak orang atau karena sudah merasa putus asa tak ada lagi yang dapat diandalkan untuk membantunya, Asklepios akhirnya melakukan pelanggaran yang sangat berat.
Asklepios mengambil pisau pengobatannya dan menusuk lengan dan nadi Josh. Darah Josh mengucur deras dan meskipun dia memiliki kekuatan tapi pisau pengobatan Asklepios bagai benda pusaka yang kekuatannya mewakili ribuan pedang.
Caleb berlari dan meminta pertolongan yang dalam seketika datang Panglima Besar Chronos 299 melihat Josh yang sudah sangat parah terluka.
“Obati dan sembuhkan dia sekarang!!” Perintah Panglima Besar Chronos 299 segera dituruti oleh Asklepios tanpa bantahan.
Ditariknya tangan Josh yang terluka dan dengan cepat Asklepios menjahit menutup luka dan menyembuhkannya.
“Sudah,” ucap Asklepios meletakkan semua peralatannya dan terduduk lesu siap menerima hukuman.
Melukai panglima penjaga gerbang merupakan pelanggaran serius karena dianggap memberontak ditambah lagi Asklepios adalah seorang penyembuh namun menggunakan alat penyembuhnya untuk melukai.
“Ikut aku!!” Panglima Besar Chronos 299 masih murka dan menarik tangan Asklepios menuju ke dimensi keabadian.
Di dalam dimensi keabadian semua mata menatap Asklepios yang terlihat sendu dan layu.
“Tuan, aku ingin melapor..” Zeus mengangkat tangan menghentikan laporan yang akan terucap dari Panglima Besar Chronos 299.
Zeus menatap Apollo yang hanya tertunduk dan menyerahkan semua pada ayahnya, “Aku sudah mengupayakan didikan untuknya sekarang terserah padamu Pa.”
“Asklepios…” suara Zeus menggema menarik kepala dan tatapan Asklepios untuk memperhatikan Kakeknya berkata.
“Chronos 299 sudah tak dapat melakukan didikan untukmu. Aku akan melemparmu ke Earth Time. Kau perlu mendapatkan pelajaran di Earth 23 apa itu cinta dan temukan cinta sejatimu disana.”
Asklepios berusaha mengelak, “Tapi Grandpa, aku sudah memiliki cinta sejati.” Asklepios menatap Artemis yang tampak tak bergeming bahkan seperti menjadi manekin tak bereaksi akan kehadirannya.
“Dia Bibimu dan dia bukanlah cinta abadimu. Jangan sekalipun samakan kasusmu dengan hubunganku dan Hera..hm!!” tatapan tajam Zeus seolah menghunus mata Asklepios yang tak dapat berkata-kata.
Zeus melanjutkan,”Kau dapat kembali ke Chronos 299 setelah menemukan cinta abadimu yang juga berasal dari Chronos 299. Lakukanlah bakti di Earth 23 dengan kemampuan pengobatan yang kamu miliki. Dan jika kau bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Artemis maka jawabannya adalah aku melindungi putriku darimu. Selama kau masih memiliki perasaan dengannya maka dia tak akan dapat melihat atau mendengarmu.”
Asklepios tak memiliki pilihan lain selain menerima keputusan Zeus.
Angin berhembus mengantarkan Asklepios menjadi Calvin Adam di Earth 23.
Panglima Besar Chronos 299 tiba di gerbang dan melihat Josh sudah tak ada di sana.
“Kemana Josh?”
Caleb menunjuk bukit batu, “Mungkin dia ingin bersembunyi untuk menangis karena kesakitan yang dia rasakan.” Panglima Besar Chronos 299 hanya mengetok kepala Caleb yang seringkali memiliki pemikiran di luar nalar. Setelah melakukannya, tinggalkah Caleb seorang diri menunggu Josh temannya kembali.
Josh berjalan melewati padang, tangannya masih terasa sakit meskipun darah tak lagi mengalir. Josh mendatangi tempat sebelumnya dia melihat gadis ayu yang memandang seekor kelinci dengan wajah penuh hari dan ngeri.
Saat melangkah di balik bukit batu, Josh menangkap sosok gadis berambut panjang tergerai menutupi punggungnya, rambut panjang itu turun hingga menyentuh ke tanah. Sang gadis tampak sedang bersimpuh di tanah dan entah apa yang dilakukan, tangannya tampak sibuk memegang sesuatu, dan tak menyadari bahwa ada orang lain di belakangnya.
“Apa yang kau lakukan? Ini perbatasan Chronos 299,” Hardik Josh kala itu yang mendapatkan perhatian gadis yang terkaget dan hampir terjungkal ke belakang namun berhasil ditopang oleh Josh yang dengan sigap berlutut menangkap pundak dan lengan gadis itu.
Gadis belia yang sebelumnya dia lihat, gadis belia yang ingin Josh temui lagi. Dari dekat Josh dapat melihat mata gadis itu hijau emerald sangat indah dan terasa mistis, tatapannya begitu tajam dan wajahnya cantik meski tanpa senyum yang menghiasi.
Saat tangan Josh yang terluka menopang punggung gadis itu, tanpa disadari luka sakit paska pengobatan yang dilakukan Asklepios terasa tak sakit lagi.
Josh selalu mengingat nama itu, "Epione"..