Help Me, Doctor...

Help Me, Doctor...
Earth 23 – Kesempatan Bertemu Ibu



Hingga tengah siang Calvin Adam masih belum beranjak keluar dari rumah. Mom Delia sempat kawatir karena perubahan yang sangat drastis seolah anaknya mendapatkan pencerahan dan syaraf nakalnya terputus satu saat pagi tadi terbentur.


“Apakah kau merasa tak enak badan Nak?”


Calvin Adam hanya menjawab singkat tanpa melepaskan pandangan dari buku yang dipegangnya, “I am okey mom.”


Mom Delia menggaruk kepalanya yang tak gatal terlalu heran dengan keseriusan yang terlihat dari Calvin Adam membaca buku Farmakologi Dasar dan Klinik tulisan Bertram G. Katzung. Buku yang sudah berada di rumah ini selama empat tahun terakhir dan masih tampak baru karena memang Calvin Adam tidak pernah terlihat meluangkan waktu untuk membaca meskipun demikian dari cerita teman sekampusnya, Mom Delia tahu bahwa Calvin Adam adalah anak yang cerdas dan genius.


“Apa jangan-jangan karena terbentur anakku menjadi lupa semua yang dipelajarinya? Tapi itu tak mungkin,”lirih Mom Delia bermonolog dengan dirinya sendiri.


Teringat akan laporan yang diberikan oleh Oscar dan Lydia bahwa Calvin Adam selalu berhasil setiap ujian praktek dan jarang gagal pada ujian teori hanya saja masalah yang di hadapi adalah anaknya itu kerap kali membolos sehingga kendala absensi membuatnya terhambat dan belum segera dapat menyelesaikan kuliahnya.


“Mom, kenapa kau bilang aku sudah berada di tahun ke empatku. Apakah kalau aku bisa menguasai semua buku yang ada di kamarku maka aku sudah bisa resmi menjadi dokter dan mengobati orang-orang?” sekali lagi pertanyaan Calvin Adam membuat Mom Delia merasa aneh dan pening karena seharusnya anaknya sudah paham dengan informasi dasar seperti itu.


“Calvin Adam, apakah kau tak pernah mendengarkan informasi dari dosenmu sejak awal perkuliahanmu?”


Perhatian Calvin Adam akhirnya teralih dan mengamati Mom Delia, bukan karena tidak terima dengan pertanyaan tapi karena ada kata baru yang harus dia mengerti.


“Dosen… Perkuliahan,”eja Calvin Adam dalam hati.


“Mom, anggap saja otakmu mengalami kerusakan setelah terbentur pagi tadi. Semoga kau mengerti mom, aku berjanji akan segera menyelesaikan pembelajaranku sehingga aku bisa segera menyelesaikan semua misiku di dunia ini.”


Mom Delia tak habis pikir seakan Calvin Adam sudah memiliki tujuan hidup dan hanya memiliki sedikit waktu berada di dunia ini.


“Mom tidak bisa menjelaskan secara detail Nak, kau temui saja Oscar dan Lydia, mereka teman-teman sepermainanmu kalau kau amnesia juga pada mereka.”


Asklepios benar-benar berusaha mengingat siapa dua nama itu dan berharap ada ingatan tersisa dari seorang Calvin Adam agar dirinya dapat lebih mudah melanjutkan kehidupan tanpa perlu menjadi orang tolol yang tak mengerti apa-apa. Namun percuma seolah tak ada ingatan Earth 23 yang bisa dia baca.


“Apakah mereka juga temanku setiap malam untuk pergi menikmati minuman keras, Mom?”


Kesabaran seorang Ibu memang seluas Samudra namun kekhawatiran seorang Ibu juga sebanyak air yang mengisi Samudra tersebut.


Mom Delia berusaha bersabar dalam menjawab dan menganggap bahwa Calvin Adam sedang bermain drama dengan dirinya untuk bersenang-senang meskipun di dalam pikirannya sempat mempertimbangkan untuk segera membawa Calvin Adam memeriksakan otaknya kalau saja dia memiliki cukup uang.


“Tidak Nak, Oscar dan Lydia teman yang baik dan cukup perhatian denganmu dan Mom. Semua buku yang kau miliki sebagian besar dari mereka. Mom tiap hari bekerja menjadi buruh di rumah mereka berdua, mereka menyayangi Mom seperti keluarga sendiri, dan melupakan ketidaksopananmu pada mereka. Mom berharap sikapmu yang buruk sebelumnya juga ikut hilang setelah kepalamu terbentur!”


Calvin Adam bangkit dari duduknya, “Aku ingin menemui mereka Mom, apakah Mom ke rumah mereka hari ini?”


Mom Delia menggeleng, “Hari ini minggu Nak, aku libur di akhir minggu. Kalau kau mau menemui mereka pergilah ke dua blok dari rumah kita. Sedari pagi kau juga belum keluar dari rumah. Bangunan besar berwarna terakota adalah rumah Oscar dan di seberangnya terdapat bangunan minimalis namun memiliki taman dengan bermacam-macam bunga di sanalah Lydia tinggal.”


Dalam perjalanan menuju rumah Oscar dan Lydia, Calvin Adam berusaha menjalin komunikasi dengan Bibinya Artemis, dia merasa hanya Bibinya yang dapat membantu menyelesaikan masalahnya. Di mata Asklepios Bibi Artemis lebih dari seorang Ibu dan tempat dia bergantung itulah yang membulatkan tekatnya untuk memperistri Bibi Artemis.


“Jangan berharap kau dapat berkomunikasi dengan Bibimu sebelum perasaan cinta dan ingin memiliki hilang dari pikiran dan hatimu,” tegur Apollos to the point.


Calvin Adam berhenti berjalan dan bersandar pada sebatang besar pohon flamboyan yang ada di tengah taman pemisah blok kawasan rumahnya.


“Pa, kenapa kau buat aku linglung? Kenapa aku tak memiliki ingatan akan kehidupan Calvin Adam di Earth 23 ini? Seolah aku seperti lahir menjadi bayi tak memiliki kenangan namun berukuran dewasa,” Calvin Adam merajuk pada Ayahnya.


“Mana bisa orang yang sudah mati memiliki ingatan.”


“Apa maksudmu Pa?”


“Kau menggantikan Calvin Adam di Earth 23 yang sudah meninggal karena overdosis semalam. Kami di Chronos 299 melihatnya sebagai kesempatan untuk menempatkanmu di Earth 23 secara alami dan tidak terlalu mencolok. Sepertinya Zeus juga sudah tahu bahwa akan ada seorang yang cocok untuk kau gantikan.”


Masih dengan keluhan dan ketidaksukaan Asklepios memprotes ayahnya,


"Kenapa harus Calvin Adam? Tidak adakah pemuda yang lebih baik yang bisa kugantikan? Misalnya Oscar sahabat Calvin Adam yang sepertinya hidup sangat berkecukupan dan berlimpah akan kemewahan. Apa sengaja kau tempatkan aku di gubug reyot bersama dengan wanita tua beraroma rempah itu?”


“Asklepios, tak bisakah kau belajar untuk menjalani hukumanmu dengan sikap yang lebih baik? Apakah kau mau dilempar ke Earth 23 sebagai kambing yang mencari kambing betina agar kau bisa kembali ke Chronos 299??? Jika itu yang kau inginkan, aku yakin bahkan sebelum misimu selesai kau sudah berakhir menjadi rib eye steak medium rare dengan saus white mushroom!!”


“Ini canggung Pa, selama ini aku hanya dekat dengan Bibi Artemis sebagai pengganti Ibu dan pastinya wanitaku lalu..”


“Hentikan Asklepios!! Kau tak ingat kenapa kau ada di sini?? Belajarlah lupakan perasaanmu pada adikku, untuk kebaikanmu sendiri. Jangan sebut dia sebagai wanitamu, anggap saja Artemis sebagai pengganti Ibumu. Dan kalau kau saat ini merasa canggung dengan wanita tua yang saat ini menjadi Mom dari Calvin Adam… menurutku, kau harus bersyukur, “ ucap Apollo yang cukup terbata di akhir kalimatnya.


Calvin Adam masih tak dapat menerima dan meninju pohon flamboyant di belakangnya hingga beberapa bunga berwarna merah gugur di atas kepalanya, “Katakan padaku apalagi yang harus ku syukuri Pa.”


Menunggu beberapa detik hingga Apollos memutuskan untuk membuka satu rahasia Earth 23 tempat puteranya berada, “Karena wanita tua itu adalah Coronis. Wanita yang pernah kucintai tapi mengkhianatiku bahkan sebelum kau lahir.”


Informasi yang cukup mencengangkan dan membuat Asklepios di dalam tubuh Calvin Adam meremang karena pada akhirnya tangan yang dia sentuh dan rasakan ada kehangatan adalah Ibu yang harusnya tidak meninggalkan dia di Chronos 299.


“Kenapa dia ada di sini?” tanya Calvin Adam dengan menahan rasa terbakar di dadanya.


“Jasadnya terbakar di Chronos 299, tapi karena dia dapat menjagamu dalam rahimnya maka aku meminta Zeus untuk memberikannya kesempatan hidup dan sekaligus hukuman sudah berani berkhianat dengan hidup di Earth 23.”


“Jangan katakan bahwa..”


“Ya, Asklepios… Mom Delia ada Coronis yang mendapatkan hukuman dengan menikahi Winson yang adalah seorang bajingan. Hukuman sebenarnya adalah melahirkan seorang Calvin Adam yang juga memiliki sikap brengsek ayahnya. Tapi ketulusan seorang Ibu membuat Zeus dan aku memutuskan untuk mengampuni Coronis dan membuat kalian bisa bertemu, meskipun dia tak akan menyadarinya. Serta sudah cukup dia mengurus anaknya Calvin Adam yang brengsek, biarlah di sisa hidupnya dia mendapatkan kebahagiaan dengan melihat seorang Calvin Adam berhasil menjadi orang yang berguna.”


Asklepios mengangguk menangkap informasi yang sangat penting itu, “Terimakasih Pa sudah memberitahuku, membuatku paling tidak akan lebih menghargai kedekatanku dengan Mom Delia. Kesempatan kedua untuk dapat mengenal dan merasakan kasih sayang seorang Ibu. Aku akan membuatnya bangga pada seorang Calvin Adam yangs udah dirawatnya”