
Nama Calvin Adam terlalu menarik untuk dibicarakan di rumah sakit. Berita penyalahan prosedur di hari pertamanya menjadi dokter internship sekaligus menangani operasi menjadikan dia menjadi buah bibir. Terbagi kelompok pro dan kontra juga kelompok yang hanya semakin penasaran seperti apa penampakan Calvin Adam.
“Terlalu berani dia sebagai dokter internship menangani operasi besar dan bahkan menandatangani surat sebagai wali, kalau hal ini dibiarkan akan menjadi pengabaian terhadap aturan rumah sakit.”
“Bukankah pasien berhasil diselamatkan? Jadi seharusnya Calvin Adam menjadi penyelamat bukan malah seolah dia menjadi pelaku kejahatan.”
“Peraturan ada untuk ditaati bukan untuk di langar, kalau adanya pelanggaran atas peraturan hanya dibiarkan menunjukkan tak ada gunanya peraturan diadakan!”
“Kita dokter, menyelamatkan nyawa adalah yang utama, toh dia melakukannya juga karena situasi yang terdesak.”
Riuh pembahasan oleh managemen rumah sakit sambil menunggu dipanggilnya Calvin Adam.
Di luar ruangan, Calvin Adam ditemani oleh Lydia dan Oscar serta Nana yang siap untuk menjadi saksi.
“Kau menjadi terkenal di sini dalam semalam bro,” ucap Oscar yang juga mengetahui setiap detail masalah dari penuturan Lydia.
“Kalau saja kau malam itu bersama dengan Lydia, mungkin namamu yang akan menggantikanku di sini,” canda Calvin Adam menanggapi dengan santai. Bagi Calvin Adam hukuman adalah hal yang hal sepele yang biasa dia terima bahkan keberadaannya di Earth 23 pun juga adalah dalam rangka melakukan misi pengampunan dari hukuman.
Lydia mengamati kekasih dan temannya bergantian, “Setidaknya aku bersyukur kau bisa menyelamatkan Roberto, meskipun sebenarnya aku tak menyukainya tapi dengan berhasilnya operasi yang kau lakukan tak ada yang menyinggung nama dokter anastesi yang ikut menanganinya.”
Calvin Adam tersenyum pada sahabatnya yang cantik dan cekatan, “Kalau tak ada kau, pasti Roberto juga tak akan dapat diselamatkan. Kalau kau mau namamu disebut, aku dengan senang hati bisa ingatkan para dokter senior kalau semua yang kulakukan karena dukungan Dokter Lydia yang sudah membantu proses anestesi.”
Oscar dan Lydia tak dapat menanggapi canda tawa yang diberikan oleh Calvin Adam, bagi mereka ini adalah masalah serius karena kalau mereka mendapatkan teguran bisa saja akan berpengaruh pada kemungkinan gagalnya promosi mereka tahun ini.
Nana yang melihat Calvin Adam bisa bercanda merasa pria yang sejak tadi dipandangnya memiliki karisma menawan yang tak tertahankan bahkan hanya menatapnya membuat inti kewanitaannya merasa hangat dan nyeri.
“Dokter Calvin, apa anda tidak kawatir dengan status anda saat ini?” tanya Nana formal mengingat mereka sedang tidak berdua.
“Aku lebih kawatir saat tidak mengambil keputusan segera dan nyawa pasien dipertaruhkan.”
Usah Calvin Adam menjawab, ruang meeting di belakangnya terbuka dan keluar seorang pria menggunakan setelan jas lengkap dengan dasi,
“Dokter Calvin Adam, silahkan masuk.”
Calvin Adam memasuki ruangan dan pintu tertutup setelahnya meninggalkan Lydia, Oscar, dan Nana yang lebih merasa cemas dan berharap tidak ada teguran berat yang didapatkan oleh Calvin Adam.
“Kau menyukai Calvin Adam?” tanya Lydia to the point kepada Nana yang lalu membenarkan rambut yang tidak berantakan.
Oscar memeluk Lydia dan berbisik, “Kau terlalu blak-blak an sayang… jangan bilang kau sedang mengeluarkan jurus posesif agar Calvin Adam tetap seorang diri dan hanya memiliki kita?”
Lydia menyingkirkan tangan Oscar dan menggenggam jemarinya agar tak berkelana ke tempat yang tak seharusnya,
“kau masih saja belum mempercayaiku? Di hatiku sudah ada kamu seorang, justru aku sedang meyakinkan bahwa Calvin Adam memiliki seseorang untuk dia bisa lebih berpikir penuh tanggungjawab bukan asal-asalan semaunya.”
Oscar masih saja tak dapat menerima alas an Lydia, “Masih ada Mom Delia yang sudah berhasil merubah Calvin Adam lebih bertanggung jawab.”
“Ehm..” Nana yang merasa terlupakan berdehem sengaja membuat Lydia dan Oscar kembali menyadari keberadaannya,
“Maaf dokter, aku mendengar semua yang anda berdua katakan dan aku menjadi gadis buta kalau aku tak jatuh hati padanya bahkan setelah semua yang dia lakukan semakin membuat dia keren di mataku,” tatapan Nana menerawang dengan betapa tegas dan tepatnya tindakan yang dilakukan oleh Calvin Adam.
Melihat dan mendengar respon yang Nana berikan, Lydia dan Oscar tak yakin bahwa Nana akan mampu mengendalikan Calvin Adam untuk dapat lebih jernih berpikir karena sudah ada kebucinan yang terlihat dalam diri Nana.
Tak lama kemudian ada beberapa perawat muda datang dan melihat ke arah pintu ruangan yang tertutup. Mereka berbisik-bisik dan salah satu diantara mereka memberanikan diri bertanya pada Oscar.
“Dokter Oscar, apa Dokter Calvin Adam sudah masuk ke dalam? Dokter Calvin Adam tidak akan di scores atau dipindah tugaskan bukan?”
Lydia menatap perawat yang memanggil kekasihnya dan menatap Oscar untuk mendengarkan jawabnnya, “Kau sepeduli itu pada Dokter Calvin Adam, Suster Meri? Apakah kau akan sedih kalau Dokter Calvin Adam tidak lagi internship di rumah sakit kita ini?”
Tatapan Oscar menunggu jawaban Suster Meri yang tampak kebingungan dan lanjut berbisik dengan Suster muda di belakangnya.
“Kami menyayangkan kalau Dokter Calvin Adam yang memiliki jiwa kemanusiaan tinggi dan juga sangat berbakat harus keluar dari rumah sakit ini, meskipun beliau baru saja bergabung dan aku belum terlalu mengenalnya tapi… ya tapi sangat disayangkan kalau Dokter Calvin Adam harus pergi..”
Lydia dan Oscar saling berpandangan melihat dukungan yang diberikan oleh beberapa suster pada Calvin Adam. Tak lama kemudian Dokter Ericson datang dan menyapa semua orang yang ada di sana dengan menggangguk kemudian mengetok pintu dan masuk setelah pintu dibukakan.
“Untuk apa Dokter Ericson kemari?” tanya Nana yang terdengar oleh beberapa orang disana.
Salah satu suster menjawab, “Suster Koordinator yang bertugas tampaknya berhasil membujuk Dokter Ericson untuk menjadi saksi dan berargumen pada meeting putusan tindakan yang tengah dilakukan.”
“Ericson harusnya tahu bahwa posisinya juga akan dipertaruhkan karena terlambat datang.”
“Tidak ada aturan Dokter harus tiba dengan waktu tertentu, dokter juga manusia yang butuh waktu untuk melakukan perjalanan jadi harusnya petinggi yang ada di dalam dapat lebih bijaksana.”
Lydia melihat ponsel dan berjalan meninggalkan Oscar, Nana, dan para suster.
...***...
Lydia sudah tiba di selasar rumah sakit dan menjumpai kakak laki-lakinya. Pria tinggi dengan rambut keemasan dan tatapan teduh menenangkan.
“Hai Edmon, kau sudah pulang ke rumah?” yang ditanya hanya menggelengkan kepala dan menyerahkan kotak hadiah.
“Aku masih jetlag dan langsung kemari, maaf sudah melewatkan ulangtahunmu Lyd,” Edmon memeluk sekejap adiknya dan menepuk kepalanya lembut.
Lydia menerima kado dan menikmati dada bidang kakak tersayangnya. Mereka berdua sangat dekat tapi terasa agak berbeda setelah Edmon mengalami kecelakaan dan sempat mengalami amnesia ringan dua tahun yang lalu.
“Selain mengunjungiku, sepertinya kau juga menemuinya kan?”
Edmon mengangguk lesu, “Sepertinya masih ada perkembangan berarti dan dua puluh hari lagi putusan kalau masih tetap sama akan di putuskan mati otak dan semua peralatan akan dilepas.”
Lydia mengangguk dan menepuk lengan Edmon di sebelahnya, dia tahu benar ini akan sangat mempengaruhi kakaknya. Bahkan panasnya siang ini tak bisa mencerahkan raut wajah Edmon yang penuh dengan awan gelap yang menggantung sendu.