Help Me, Doctor...

Help Me, Doctor...
Earth 23 – Pesan dari Chronos 299



Angin yang bertiup kencang dan sekilas melewatinya seolah berlari melawan waktu. Tak ada jendela terbuka yang memungkinkan udara luar dapat memasuki ruang transit malam itu.


Calvin Adam kembali duduk dan mengamati sekelilingnya. Di Earth 23 dia belum pernah melihat penampakan kaum Chronos 299, hanya suara dari Apollos lah yang sesekali dia dengar namun tanpa wujud.


Berbalutkan kain putih berkilauan yang menjadi penutup badan seolah selesai membungkus tubuh dengan sprai panjang dan tanpa motif hanya kilauan terpisah seolah terdapat gliter kemerlap halus yang beterbangan disekeliling sosok itu. Wajah yang tampan dan penuh dengan pesona dan charisma namun tatapannya tajam menatap cucu kesayangan yang sedikit nakal.


“Kau tak merindukanku Asklepios?”seru sosok yang adalah Zeus.


Calvin Adam hanya melengus, “Kalau suaramu lebih keras dan memiliki echo lebih besar maka seisi rumah sakit akan jadi saksi percakapan kita Kakek.”


Zeus hanya tertawa tanpa suara menunjukkan gigi putihnya, pemandangan yang tak pernah terlihat saat berada di Chronos 299. Entah mengapa Earth 23 selalu dapat memberikan suasana hati menyenangkan bagi Zeus padahal aura dengki, permusuhan, dosa, kemunafikan, dan hawa napsu terlalu lekat di Earth 23.


“Kenapa kau tertawa? Apa kau sedang menertawaiku karena masih belum bisa menyelesaikan misi di sini?”


Zeus menggeleng, “Nope, tak perlu tergesa-gesa menemukan gadis itu Nak. Percuma kau menemukannya kalau hatimu masih terpasung pada sosok Artemis. Belajarlah untuk sesuai jalurmu, jangan menginginkan seseorang atau sesuatu yang memang bukan milikmu.”


“Kau harusnya memahamiku Kek karena kau juga…”


GLEEERRRR


Kata-kata Calvin Adam yang akan membahas prihal Hera terhenti dengan bunyi petir yang menyambar. Zeus menatap keluar jendela dengan serius dan memandang Calvin Adam,


“Haruskah selalu kau samakan dirimu denganku. Meskipun kau cucuku, tak harus kau mengulang pernikahan tak umum yang terjadi padaku. Dan kau tak perlu tahu sebab dan ceritanya karena aku bukanlah novelis atau pencerita.”


Lampu ruang transit berkedip dan sesaat kemudian bunyi sirine terdengar diikuti dengan getar panggilan pada ponselnya,


“Sepertinya aku harus pergi Kakek, ada kondisi kritis di IGD,” pamit Calvin Adam sembari bangit bersiap dan mengambil jas dokter yang semula tersampir.


“Tunggu dulu Nak, perlu kau ketahui. Keberadaanmu di Earth 23 bukan sekedar suatu hukuman agar kau jera dan berhenti mencintai bibimu. Selain itu aku ingin kau juga memiliki karakter seorang tabib atau dokter yang memberikan pengobatan dengan sebaik-baiknya dengan penuh kesungguhan dan tanpa keterpaksaan. Akan ada pengenalan karakter juga atas manusia Earth 23 yang sangat kompleks yang akan membuatmu semakin dewasa dan bijaksana. Itulah harapanku. Selain itu kau akan butuh bantuan Artemis untuk menemukan pasangan abadimu. Jadi lakukanlah tugasmu sebagai dokter di sini dengan sepenuh hari, pulihkan kewarasan hatimu agar dapat mengembalikan perasaan cinta sebagai pasangan menjadi perasaan sayang hanya sekedar keponakan kepada bibinya. Dan ketahuilah Nak mencintai seseorang yang membutuhkanmu dan merasakan hal yang sama lebih indah daripada sensasi menikmati mengejar cinta. Kau juga tak perlu khawatir karena aku akan pastikan gadis yang akan menjadi pendamping abadimu bukanlah tipe wanita yang mudah jadi kau pasti juga akan mengalami sulitnya memenangkan hatinya.”


Calvin Adam menerima petuah yang disampaikan dengan penuh perenungan serta perlawanan karena masih tak yakin dia dapat menemukan wanita yang menarik seperti Bibi Artemis, “Tak mudah untuk menemukan wanita tipeku… terlalu banyak gadis yang terlalu agresif dan memaksakan perasaannya dengan terus terang ditambah lagi mereka tidak memiliki kemandirian. Bibi Artemis masih tetap yang sesuai tipeku Kakek,”


Sedikit merajuk Calvin Adam berharap permintaan untuk tetap dapat mencintai Artemis mendapatkan restu dari calon mertua yang juga adalah Kakeknya tapi ternyata bukan empati yang didapatkan Calvin Adam melainkan perasaan sakit yang dia dapati pada dadanya. Zeus menatap jantung Calvin Adam mencoba meyakinkan bahwa cucunya sekarang bisa merasakan rasa sakit,


“Kau akan merasakan rasa sakit yang seperti saat ini saat melihat pendamping abadimu menolak perhatianmu atau berdekatan dengan pria lain. Perasaan yang belum pernah kau rasakan saat bersama dengan Artemis. Karena perasaanmu pada Artemis sebenarnya adalah sebuah rasa posesif yang ingin mendominasi kepemilikanmu terhadapnya. Aku tahu semua itu karena kau merasa mendapatkan kasih sayang Coronis Ibumu melaluinya. Seperti yang Apollos katakana padamu, saat ini kau diberikan kesempatan untuk merasakan kasih sayang Coronis, seharusnya kau dapat segera sadar bahwa perasaanmu pada Artemis bukanlah cinta yang cocok untuk pasangan abadi.”


Angin berhembus kencang seolah menyedot semua udara dalam ruangan keluar. Zeus sudah menghilang dari dalam ruangan transit meninggalkan Calvin Adam yang masih mencengkeram nyeri di dada yang secara perlahan berkurang.


Pintu ruangan transit di ketok dua kali sebelum akhirnya terbuka dan nampak Dokter Nana berdiri di sana,


“Hai Dokter Calvin, ku pikir kau masih tertidur. Apakah kau tahu ada situasi darurat di sana? Kenapa kau masih berdiri diam di sini?”


Tanpa menjawab pertanyaan Calvin Adam setengah berlari melewati Dokter Nana yang juga mengikuti di belakangnya.


“Bukankah masih ada kau dan tiga dokter koas lainnya? Kenapa harus menungguku?”


“Bagaimana kondisi pasien saat ini?”


Mereka berjalan dengan cepat memasuki ruang IGD dengan suasana lenggang namun di balik bilik tirai sudut ruangan terasa suasana yang sangat mencekam dengan beberapa suster keluar masuk mempersiapkan transfuse darah dan dokter Harrington yang berdiri di luar tirai namun tak ikut serta menangani pasien.


Dokter Nana menjawab sesuai informasi singkat yang dia dengar saat masuk ke IGD setelah mendengar suara urgent panggilan dari ruang transit wanita, “Korban luka tusuk di beberapa area, di bagian dada dan perut. Pendarahan masih terjadi. Ada luka pukul di kepala yang membuat wajahnya sama penuh darah seperti tubuhnya.”


Suster kepala yang sudah ada di sana dan mendengar penjelasan Dokter Nana ikut menambahkan, “Kami sudah berusaha membersihkan tubuh pasien Dok dan dari penangangan Dokter A, kami sudah mempersiapkan kantong darah tambahan untuk transfusi.”


“Apa kalian sudah menelepon Dokter Bedah untuk segera tiba di rumah sakit?” tanya Calvin Adam sambil memakai sarung tangan karet.


Bukan suster kepala namun Dokter Harrington yang menjawab, “Aku sudah menelepon Ka..Dokter Ericson untuk segera datang mungkin butuh 30-40 menit untuk dia tiba di sini.”


Calvin Adam menyibak tirai dan masuk untuk melihat kondisi pasien seiring dengan suara monitor jantung yang tidak berirama dan teriakan Dokter A, “Decompensasi cordis!!! Pasien hilang kesadaran.”


“Minggir, pompa lebih cepat darah transfusi,” perintah Calvin Adam pada Dokter A yang segera dilakukan dengan sigap tanpa menunggu perintah lanjutan.


Suster kepala mendorong masuk defibrillator bersamaan dengan teriakan Calvin Adam meminta alat tersebut untuk mengembalikan denyut jantung pasien, “terimakasih suster..kau sangat cekatan dan sigap, tolong sterilisasi area beri aku 200joule.”


Pasien di hadapannya harus dapat diselamatkan karena Calvin Adam yakin bahwa luka pada tubuh Roberto bukanlah luka biasa namun percobaan pembunuhan. Kalau saja siang sebelumnya Roberto tak datang menemuinya mungkin Calvin Adam akan lupa dan tak terpikirkan bahwa dia harus menangani pasien yang dia kenal.


Dokter Harrington melihat jam dan keluar dari IGD untuk menghubungi Dokter Ericson yang adalah kakaknya, dia sengaja menyembunyikan status sibling agar tidak dibanding-bandingkan dengan kepiawaian Dokter Ericson.


“Sial, Kau dimana? Pasien mengalami gagal jantung,” seru Harrington.


“Aku sedang di jalan agak terlambat karena aku harus mencari kacamataku,” berbeda dengan Harrington yang selalu mempedulikan penampilan, Ericson tipe kutu buku yang antisosial dan tak peduli pada penampilannya dia bahkan dengan sigap tanpa berbenah diri untuk segera tiba di rumah sakit setiap ada panggilan darurat namun satu kelemahannya terlalu selebor dan mudah lupa untuk meletakkan barang seperti saat ini adalah kacamata.


Sirine polisi terdengar dan beberapa orang polisi turun mendatangi Harrington, “Apa ada pasien dengan luka tusuk datang ke rumah sakit ini?”


Harrington mengangguk, “Baru saja pasien mengalami gagal jantung dan saat ini sedang menunggu dokter bedah untuk segera melakukan penanganan.”


Polisi menerima informasi dan melihat kesibukan yang terjadi di sudut ruang IGD. Calvin Adam selesai melakukan kejut listrik dan terdengar monitor jantung kembali berirama menandakan Roberto sudah dapat diselamatkan untuk sementara.


“Pasien harus segera dioperasi, tak dapat menunggu waktu lagi, “ Calvin Adam mencari Harrington untuk menanyakan kapan dokter bedah akan tiba dan pandangannya menatap keberadaan dua pria berseragam kepolisian. Semakin yakin bahwa yang dialami Roberto adalah sesuatu kasus yang akan melibatkan pihak berwajib.


“30 menit atau 40 menit lagi, “ jawab Harrington lemas.


Suster kepala yang sudah sangat lama berada di rumah sakit mengenal betul kondisi pasien butuh penanganan segera tak dapat menunggu waktu hingga 30 menit.


“Suster,” seru Calvin Adam


“Apakah ada dokter anastesi yang dapat segera hadir kurang dari lima menit? Aku akan melakukan dan bertanggungjawab atas operasi pasien ini!!