
Panglima Besar Chronos 299 memasuki tabir tipis yang merupakan pemisah dimensi keabadian dan kefanaan di Chronos 299, hanya orang-orang tertentu yang dapat masuk menembusnya dan hanya orang terpilih yang dapat tingga di dalamnya.
Mereka yang dapat tinggal dalam dimensi keabadian adalah pencipta Chronos 299 dan menyeimbang tatanan keseimbangan pada Chronos 299.
Di dalam dimensi keabadian pergerakan seakan melambat. Tak ada ketergesa-gesaan, tidak ada emosi yang meluap-luap, tidak ada rasa lelah, tidak ada rasa lapar, seolah itu semua adalah sesuatu yang tidak berarti untuk dilakukan oleh mereka yang sudah mencapai titik keabadian.
Panglima Besar Chronos 299 harus memberikan laporan secara terperinci dan tidak bertele-tele karena dia memiliki batasan untuk dapat berada di dalam dimensi keabadian. Jika melebihi batas waktu maka lambat laun bagian tubuhnya akan dapat menghilang dan kalau tetap dipaksakan maka dia akan lenyap.
“Tuan, di luar terjadi kekacauan, Manusia dari selatan berbondong-bondong masuk meminta untuk diselamatkan karena ketakutan mereka akan cairan yang memenuhi ladang Marigold, Dandelion, dan Rosemary. Josh dan Caleb sudah pastikan cairan itu adalah airmata dan dari sorot mata Josh hamba melihat terdapat campur tangan Epione untuk masalah ini.”
Penguasa dimensi keabadian sudah bisa mengetahui peristiwa yang terjadi sebelum dan setelah Panglima Besar Chronos 299 datang menghadap.
“Tangkap Epione dan bawa kemari. Anak itu sudah tak dapat di didik dengan cara Chronos 299,” perintah Zeus segera mengantarkan Panglima Besar Chronos 299 keluar dari dimensi keabadian dan sampai di gerbang bertemu dengan Josh dan Caleb yang siap mencari Epione dan mengantarkannya pada Zeus.
“Kita harus cari gadis itu sekarang dan kau Josh, jangan coba untuk berpikir menyembunyikan gadis itu dari Chronos 299,” perintah Panglima Besar Chronos 299 yang dijawab dengan anggukan patuh Caleb dan Josh.
Di dalam dimensi keabadian perwakilan Sang Agung yang berjumlah dua belas dimensi kekuatan merundingkan hal yang terjadi pada dimensi kefanaan.
“Katakan padaku Pa siapa yang merusak ladang indah penuh bunga itu,” Seru Aphrodite yang menyesalkan tempat bermain semasa kecilnya harus terendam oleh airmata.
“Dan air mata siapa itu yang tertumpah sangat banyak hingga bisa menenggelamkan taman kesayangan wanita tercantikku?” tanya Ares menyambung rasa penasaran Aphrodite.
Zeus berdiri dari singgasananya dan membuat gelombang udara wantu seolah bergetar menyesuaikan pergerakan pada dimensi keabadian, “Dia yang memiliki anugerah sebagai Dewi penenang rasa sakit tampaknya sedang bermain-main dengan kekuatannya. Tampaknya dia perlu diberi pelajaran untuk dapat merasakan seperti apa rasa sakit yang harusnya dia sembuhkan bukan ciptakan.”
Mereka yang berada di sana mendengarkan dengan seksama, aura dan charisma Zeus tak dapat dielakkan lagi dapat menarik perhatian dan menjadi pusat persetujuan setiap keputusan yang dikeluarkan.
“Jadi airmata siapa itu Pa?”
“Air mata dari mereka yang sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang mengganggu. Pengobatan tak dapat membantu mereka untuk menahan rasa sakit dari proses kesembuhannya. Itulah kenapa anak nakal itu ada karena Chronos 299 membutuhkan seorang Dewi untuk menjadi penenang rasa sakit.”
“Epione, diakah itu Pa?” Giliran Arthemis yang gemar berburu dan berpetualang mengemukakan spekulasi pemikirannya.
Zeus mengangguk dan Arthemis kembali bercerita,
“Meskipun kau sudah tahu apa yang akan kuceritakan tapi menurutku Epione adalah gadis yang baik hanya saja tak ada yang membimbingnya. Dia memiliki tanggungjawab yang terlalu besar dan sepertinya dia belum siap Pa. Aku pernah melihat dia memandang seekor kelinci yang kesakitan usai Asklepios menyembuhkannya.”
“Dia mampu,” ucap Zeus dan mengerti yang dimaksud oleh Arthemis adalah saat Josh menemukan Epione mencengkeram dan melepas ikatan akar yang digunakan oleh Asklepios untuk menyambung tulang kaki kelinci yang patah.
“Kelinci itu sudah sembuh dan Epione sudah dapat menenangkan rasa sakit tapi dia masih belum merasa perlu melakukan pertolongan pada manusia.”
“Apakah dia melakukan itu karena kurang percaya diri atau masih terselimuti akan kebencian?”
Epione lahir dari pasangan Panglima Chronos 299 dan Peri Hutan hingga suatu hari terjadi peperangan dengan bangsa malam menyebabkan Ayah Epione terluka parah. Ibu Epione memohon Zeus untuk diberikan kebaikan hati agar suaminya dapat terlepas dari rasa sakit yang terlihat sangat tak tertahankan.
Ibu Epione tetap berharap agar Epione diberikan anugrah kekuatan supaya tidak merasakan derita yang dirasakan ayahnya. Namun kekuatan bukanlah sesuatu yang hanya dapat menguntungkan satu orang saja.
Zeus akhirnya memberikan Epione kekuatan untuk dapat menenangkan rasa sakit dan kekuatan pertamanya digunakan saat harus melepaskan sang Ibu pergi dengan tenang karena luka tusuk salah seorang kerabat Zeus yang sedang berlatih memanah.
Sejak itu Epione seakan membenci Zeus dan Chronos 299 yang sudah merenggut nyawa orangtuanya. Dia menunjukkan perlawanannya dengan mengabaikan seluruh permintaan warga Chronos 299 untuk mendapatkan penenangan akan rasa sakit.
Epione ingin pergi dan lenyap karena kesepian terapat dalam dirasakan setelah orangtuanya meninggal. Namun semua yang mendapatkan anugrah kekuatan Zeus tak dapat mati begitu saja karena secara otomatis sudah menjadi manusia setengah dewa.
Tabir dimensi keabadian terbuka membawa masuk Panglima Besar Chronos 299, membawa serta di belakangnya Josh dan Caleb yang memegang Epione di kanan dan kirinya.
Epione tampak lemah dan kacau, gaun putih yang digunakan sudah setengah kering namun masih terlihat menerawang menunjukkan ramping dan kencang tubuhnya yang mulus namun berbeda dengan hatinya yang masih memiliki banyak luka menganga.
“Lama kita tak bertemu Epione,” Zeus menyapa dari atas singgasananya. Lekat pekat atmosfir keabadian menambah kekuatan penenang rasa sakit yang ada di dalam tubuh Epione dan secara otomatis tubuhnya yang sempat terluka karena pengejaran dan pukulan cambuk Panglima Chronos 299 sembuh tanpa meninggalkan segores luka pun.
“Ijinkan aku lenyap supaya kita tak perlu bertemu lagi, Tuan,”jawab Epione ketus namun tak memiliki kekuatan untuk marah. Semua tutur kata seolah teredam dalam ruang dimensi keabadian mengubah nada marah menjadi nada penuh kesabaran dan ketenangan namun tampaknya dimensi keabadian tak dapat merubah wajah Epione yang penuh dengan kebencian menjadi wajah penuh kelembutan.
Ares yang melihat wajah kurang ajar Epione memberikan ide yang sudah diketahui oleh Zeus, “Mungkin Epione perlu waktu untuk belajar menghargai kehidupan di Earth 23, Pa.”
Semua yang berada di sana menatap Zeus, Ares, dan Epione terkhusus Josh. Mereka tahu apa artinya Earth Time di Earth 23, hanya setingkat lebih baik dibandingkan Dapur Api milik Hades.
Epione tak bergeming, dia sudah siap dengan keputusan apapun yang diberikan oleh Zeus karena dia merasa di Chronos 299 hidupnya seolah sudah melayang antara kehidupan dan kematian.
Zeus mulai bertitah, “Kau akan kutempatkan di Earth 23 Epione agar kau bisa mengenal apa itu rasa sakit dan seberapa pentingnya penenang sakit dibutuhkan. Setidaknya tangis orang di Earth 23 tak akan menyebabkan banjir seperti yang terjadi di Chronos 299. Namun berhati-hatilah, masyarakat Earth 23 dapat lebih kejam dan mungkin kau akan mudah terluka hanya dengan tatapan atau ucapan pedas mereka. Aku akan memberimu kesempatan untuk belajar dan memperoleh kebijaksanaan di sana. Kalau saatnya tiba dan seseorang yang kuutus menemukanmu maka kau akan kembali ke Chronos 299 dan menjadi Dewi Penenang Sakit yang lebih bijaksana.”
Seketika Epione terlepas dari cengkeraman tangan Josh dan Caleb terhempas ruang dan waktu terlempar ke Earth 23.
Panglima Besar Chronos 299 sudah keluar dari dimensi keabadian, tersisa Josh yang sedang mendengarkan jawaban dari Zeus akan pertanyaan yang bahkan tidak dia ucapkan,
“Bukan kau Josh yang akan mengembalikan Epione ke Chronos 299 tapi kalau kau mengkhawatirkan dia, aku dapat mengirimmu ke Earth 23 untuk sekedar menjaganya hingga orang yang kuutus dapat menemukannya.”
Josh berpikir sejenak dan mengangguk dengan persetujuan tulus, “Hamba bersedia Tuan.”
Zeus menambahkan, “Tapi ingat jangan sekalipun kau memandangnya sebagai wanita yang dapat kau jadikan pasangan abadimu karena dia bukan untukmu. Kalau kau melanggarnya maka selamanya kau akan tinggal di Earth 23.”
Penuh dengan keyakinan tanpa ragu Josh menjawab, “Hamba bersedia menerima syarat dan aturan yang Tuan tetapkan. Saya undur diri dan permisi.”
Usai berpamitan, Josh menghilang menyisakan tatapan sedih Aphrodite, “Aku melihat ada ketulusan cinta pada matanya. Pa, bisakah dia tetap kembali ke Chronos 299 meskipun dia melanggar aturanmu dan berusaha menjadikan Epione menjadi wanitanya?”
Zeus menggeleng tegas dan kembali duduk di atas singgasana.