
Matanya terbuka dan menatap langit-langit yang terasa sangat menyesakkan, merasa wajahnya hampir saja dapat menyentuh atap di atasnya.
Asklepios pengerjapkan mata dan mengangkat tangan mencoba menyentuh atap di atasnya ternyata masih lebih tinggi dibanding penglihatan netranya. Telapak tangannya kembali diletakkan di samping tubuh yang masih terlentang. Perlahan dia merasakan alas tidur yang kainnya terasa kasar, jelas bukan sutra linen berkualitas tinggi yang pernah dia rasakan saat di Chronos 299.
Terlempar dari Chronos 299 ke Earth 23 tidak membuat Asklepios lupa siapa dan dari mana dia berasal.
“Kau akan tetap mengingat siapa dirimu sebenarnya dan dari mana asalmu berada supaya kau tetap memiliki ikatan untuk segera kembali ke Chronos 299,” ucap Zeus sebelum akhirnya mengusir Asklepios dari Chronos 299 dan sekarang berubah menjadi Calvin Adam.
Keadaan sekitarnya terasa gelap dan pengap, sangat berbeda dengan Chronos 299 yang sangat segar dan gemerlap. Asklepios mencoba untuk duduk dan terkaget saat terdengar bunyi berderit dari tempat dia berada.
Krriieeeekkkkkk
Telinganya terasa ngilu mendengar suara yang sangat asing dan tak memiliki nada. Di Chronos suara derap langkah kaki pun terasa memiliki nada yang indah dan tak mengganggu pendengaran.
Setelah menatap sumber suara, Asklepios melihat tempat dia semula berbaring adalah kasur dengan dipan kayu tua. Tempat dimana dia beradapun jauh dari kata layak untuk seseorang yang cukup diagungkan di Chronos 299.
Asklepios mendengus kesal, ”Pa, kenapa tak kau tempatkan aku di kendang binatang saja dari pada tempat yang sangat reyot ini?”
Ucap Asklepios mengeluh yang ternyata di jawab oleh Apollo, “Semula aku pun berpikir kau harus memulai dari awal di Earth 23 sebagai gelandangan saja tapi Ayahku cukup baik padamu jadi saat ini nikmatilah kebaikannya.”
Belum keluar suara dari Asklepios untuk berkomentar suara kamarnya diketuk perlahan.
Knock…knock…
“Calvin Adam… apakah kau sudah bangun Nak?”
Asklepios bergumam dalam hati, “Calvin Adam? Siapakah Calvin Adam? Akukah Calvin Adam?”
Pintu diketuk kembali dan terdengar bunyi BRAAAK… Calvin Adam terbentur pada pintu yang tidak dia kenal di Chronos 299.
Pintu terbuka tampak wanita tua yang segera memeriksa yang terjadi padanya, “Ada apa dengan dahimu? Kau terbentur pintu? Efek alkoholmu masih belum hilang?”
Berondong pertanyaan membuat Calvin Adam merasa kepalanya semakin ngilu selain terbentur dan berpikir bahwa tirai di Earth 23 sangat keras dan tak dapat tertembus seperti Chronos 299, dia juga berusaha menangkap pertanyaan wanita tua dihadapannya serta berpikir harus menjawab apa.
Wanita itu menggandeng Calvin Adam keluar dari kamar dengan perlahan karena dipikir anaknya terbentur pintu karena masih pusing akibat konsumsi alkohol berlebih malam sebelumnya.
“Duduk di sini Calvin, Mom akan siapkan sup pengar untuk menyegarkan tubuhmu,” ucap Wanita tua yang ternyata Mom dari Calvin Adam.
Ditatapnya wanita yang ternyata adalah Mommy nya di Earth 23, terlalu tua dan renta jika dibandingkan dengan wanita yang pernah dia jumpai di Chronos 299, ada aroma rempah-rempah pada tubuhnya yang sangat khas dan lagi-lagi belum pernah dia dapatkan di Chronos 299.
Wanita itu menuju ke meja makan dan menyajikan mangkuk berisikan sup yang masih hangat beraroma gurih dan segar.
“Apakah kau tak akan lelah selalu berakhir dengan mabuk setiap malam Nak? Ibu sudah tua dan tak yakin masih kuat untuk bekerja membiayai sekolah kedokteranmu yang sudah empat tahun berjalan. Bukankah teman seangkatanmu sebagian besar sudah mulai melakukan internship (magang), kapan giliranmu?”
“Mom…” ucap Calvin canggung dan dijawab dengan tatapan penuh kehangatan dari wanita dihadapannya dan alis yang terangkat tanda bertanya tanpa kata. Tiga huruf yang terangkai menjadi kata singkat namun baru kali ini Calvin mengucapkannya karena di Chronos 299 dirinya hanya sempat mengenal Ibunya bahkan sebelum dia dapat mengenal wajahnya.
Coronis, Ibu Asklepios wafat karena dibunuh akibat kesalahannya yang berani berselingkuh dari Apollo. Coronis meninggal dan jasadnya dibakar namun Asklepios yang berada di dalam rahimnya diselamatkan oleh Apollos.
“Ada yang ingin kau katakan Nak? Kenapa berhenti?” Mommy Delia, nama mommy Calvin Adam, bertanya karena bingung melihat anaknya yang nampak tak seperti biasanya.
Dengan tertatih Calvin Adam kembali berucap, “Mom…”
“Hm.. bagaimana? Apa kau bisa berjanji berhenti mabuk tiap malam dan segera menyelesaikan sekolah kedokteranmu? Aku sudah letih dan ingin melihatmu berhenti bermain-main dan bisa membanggakanku dengan menolong banyak orang.”
Calvin Adam meletakkan sendok sup disampingnya, reflek menyentuh jemari wanita di depannya, merasakan kehangatan dan telapak tangan kasar yang terasa sudah sering berjibaku dengan kesulitan di Earth 23.
“Mom… apakah kau selalu seperti ini?”seru Calvin sendu memandang wanita dihadapannya merekam dan mencoba membayangkan jika Coronis masih hidup apakah dia juga akan menjadi Ibu yang banyak bicara seperti mommy nya saat ini.
Bukan jawaban kata yang didapatkan, Mom Delia justru memukul tangan Calvin yang menggenggamnya,
“Dasar anak nakal…apa maksud pertanyaanmu? Semua orang disini tahu bahwa aku Delia tak banyak bicara tapi ternyata dihadapanmu aku selalu memiliki banyak hal untuk kutanyakan dan kunasihatkan. Apa kau sudah lelah memiliki mom sepertiku?”
“Delia… Mom Delia,”Ingat Calvin Adam dalam hati,
Calvin Adam menggeleng dan menangkap tangan Mom Delia yang memukulnya jadilah saat ini tangan mereka tergenggam menjadi satu.
“Aku sedang mendengar suaramu Mom dan aku bahkan belum cukup mengenalmu untuk bisa merasa lelah memilikimu. Tolong bersabarlah untukku Mom, sepertinya aku akan bermasalah dengan ingatanku benturan tadi pagi terlalu keras,” hanya itu yang dapat diungkapkan Calvin Adam karena semua keluhan dan perkataan dari Mom Delia sama sekali tidak dia pahami.
Delia yang mendengar kalimat panjang Calvin yang sangat santun menjadi sangat bingung seolah yang dihadapannya bukanlah anak yang selama ini dia rawat.
“Kalau benturan di kepalamu dapat membuatmu lebih tenang seperti ini, seharusnya dari dulu aku membenturkan kepalamu Nak.”
Calvin Adam yang mulai meminum jus tomat di hadapannya tersedak dan terbatuk, Mom Delia menepuk-nepuk punggung untuk mengurangi batuknya.
“Pelan-pelan minum dan makannya, aku tak akan membuatmu terburu-buru pergi kuliah karena ini hari kau taka da jadwal kuliah. Oscar tadi pagi datang yang memberitahukannya kepadaku.”
Satu nama lagi terucap dan pastinya Calvin tak mengenal siapa itu Oscar namun yang lebih membuatnya penasaran sebenarnya seperti apa Calvin Adam di Earth 23 sampai Ibunya tampak lelah dan kerepotan.
“Mom, bagaimana aku di matamu?” bukan langsung menjawab, Mom Delia justru meletakkan punggung tangannya menyentuh dahi dan wajah tampan anaknya kawatir Calvin Adam mengalami demam atau tidak enak badan.
“Kau tampak tidak sakit, tapi kenapa pagi ini kau aneh sekali Nak? Hm.. mungkin sudah saatnya kau berubah, jawaban untuk setiap doaku untuk kebaikan anakku,”tulus kata terucap dan Mom Delia menjawab pertanyaan Calvin Adam,
“Kau bagiku adalah penyemangat hidupku meskipun banyak masalah yang kau timbulkan tapi kau sama seperti almarhum Daddy mu. Salahku jatuh cinta pada Winson, almarhum Daddymu yang sudah punya pamor naughty boy hasilnya aku punya anak yang tak kalah nakal namun yang kuyakini adalah kau memiliki kecerdasan jauh lebih baik makanya aku ingin kau bisa segera serius dan dewasa dengan masa depanmu Nak.”
Calvin Adam mendengarkan perkataan itu dengan seksama. Diedarkannya pandangan disekelilingnya, rumah yang sangat sederhana, wanita tua yang penuh kehangatan menyayanginya, makanan yang enak sepertinya dia bisa bertahan di Earth 23 hingga saatnya tiba kembali ke Chronos 299.