Help Me, Doctor...

Help Me, Doctor...
Chronos 299 – Artemis



Artemis masih tak menyadari saat Asklepios memasuki dimensi keabadian, seolah selubung memisahkan dan dia pun tak terlalu berminat untuk mencari tahu kabar keponakannya yang selalu saja mengekor aktifitasnya namun beberapa waktu terakhir seolah Asklepios berhenti dengan kebiasannya.


Masih teringat bagi Artemis kali terakhir bertemu dengan Asklepios yang masih menunggu di depan ruang otoritas Artemis dan berkata-kata konyol dan tak masuk akal. Artemis tipe wanita yang tidak terlalu feminis sehingga perasaannya kurang sensitive dan cenderung tidak peka jika menyangkut lawan jenisnya. Bagi Artemis tindakan Asklepios adalah hal lucu dan kekanakan yang kadang kala mengganggu namun baginya itu tak lebih dari sekedar hiburan.


Rasa kasih sayangnya pada Asklepios sudah seperti sayang kakak kepada adik atau juga terkadang kasih sayang ibu pada anaknya. Artemis terlalu cuek dan tak memikirkan tentang pasangan abadi untuk menemaninya melewati waktu di Chronos 299. Waktu Keabadian.


Artemis bukan tipe wanita yang bisa menyaingi kecantikan Aphrodite tapi juga memiliki keanggunan dan kecantikan di atas rata-rata warga Chronos 299. Namun jiwa petualang, gigih, dan ketangguhannya sebagai seorang wanita menampakkan sosok wanita yang lebih terlihat seperti pendekar dibanding Dewi. Sikapnya yang suka memberikan pertolongan dan penuh empati menjadikannya banyak dikagumi bahkan tak sedikit pria di Chronos 299 yang berusaha mendapatkan perhatiannya.


Jawaban yang diberikan Asklepios pada beberapa pengagum Artemis tentunya pernah terdengar sampai telinga Artemis yang hanya menanggapi dengan tawa dan gelengan kepala merasa keponakannya melakukan hal konyol.


Tapi semakin memikirkan prihal pasangan abadi, Artemis semakin mempertimbangkan untuk tetap hidup tanpa pasangan atau selibat. Artemis menyukai petualangan dan kebebasan, dia tak suka diatur dan dikekang. Tak dapat dibayangkan olehnya jika sampai memiliki pasangan yang mungkin akan memasungnya di ruang otoriter dan hanya boleh berjalan di dalam labirin Chronos 299 dan dimensi keabadian. Terlalu membosankan.


“Kau tahu Kak, tiba-tiba aku merasa butuh hiburan karena anakmu itu tak lagi mengikutiku,” kata Artemis pada Apollos melalui sorot mata mereka yang bertatapan.


Apollos hanya mendengus karena merasa menjadi penengah antara saudari kembar dan anaknya. Apollos tahu sejauh apa Artemis menganggap Asklepios namun yang terlarang adalah perasaan Asklepios kepada Artemis yang tentunya tak dapat diabaikan.


“Jangan katakana kau mulai memandang keponakanmu itu sebagai seorang pria,”jawab Apollos masih dengan tatapan tajam pada mata saudarinya.


Artemis tertawa membuat bentuk matanya yang indah sedikit menyipit, “Jangan gila Kak, dia selalu jadi bocah lucu dan menggemaskan bagiku. Tak lebih. Bahkan kalau pria di Chronos 299 hanya tinggal dia aku pun tak dapat melihat dia sebagai seorang pria.”


Apollos spontan memandang di tengah dimensi keabadian tempat Asklepios mendengarkan hukuman yang akan diberikan oleh Zeus, hal yang tak dapat dilihat oleh Artemis yang sudah diberikan selubung pembatas untuk memisahkannya dari semua hal yang terkait dengan Asklepios.


Apollos menatap saudari kembarnya, “Dan sekarangpun kau tak dapat menatapnya meskipun saat ini Asklepios sedang berada di tengah dimensi keabadian.” Penuturan Apollos menghasilkan kekagetan Artemis yang hampir saja bersuara namun berhasil ditahan saat melihat Zeus menatapnya.


Zeus paling tahu dan mengerti bahkan saat dia sedang mengurus Asklepios, dia tak ketinggalan percakapan antara Apollos dan Artemis yang dilakukan melalui telepati tatapan mata.


“Tapi kenapa aku tak dapat melihat Asklepios yang ada di tengah dimensi keabadian ini?”


Bukan Apollos tetapi Zeus yang menjawabnya, “Karena aku sedang ingin memberikan dia pelajaran. Rasa cintanya kepadamu tak dapat diabaikan dan sudah saatnya untuk Asklepios bertemu dan menumbuhkan rasa cinta pada wanita yang akan menjadi pasangan abadinya. Bukan kau Nak. Aku tak rela memiliki menantu yang adalah cucuku sendiri.”


Artemis tertawa mendengar penuturan ayahnya, “Pa, bocah itu mungkin saja sedang pubertas dan seharusnya cukup kau pasang tabir penghalang padanya tak perlu padaku juga. Aku merasa menjadi satu-satunya yang buta di sini karena tak dapat melihat dia di tengah dimensi keabadian.”


“Semua yang kulakukan beralasan Nak, tabirmu akan terbuka saat Asklepios sudah memiliki ikatan dengan wanita pendamping abadinya dan tabir penghalang Asklepios akan terbuka saat dia sudah dapat mengendalihan hatinya dengan tak lagi mencintaimu.”


“Kalau kau tak memasang tabir penghalang ini padaku, tentunya aku dapat menolongnya untuk segera menemukan wanita pendamping abadinya Pa, dengan begitu semua akan berjalan lebih cepat dan mudah bukan?”


“Justru itulah alasan kenapa tabir itu kupasang padamu juga! Aku tahu jiwa penolongmu pasti akan tergerak untuk menolong Asklepios, tapi bukan itu inti hukuman Asklepios. Dia harus dapat menyelesaikan tugas ini sendiri dengan begitu kultivasinya akan sempurna karena harus merasakan lelahnya mencari, serunya menebak, sakitnya saat tak dapat mencintai, juga indahnya saat menemukan cinta sejati.”


Apollos melihat saudarinya mendapatkan teguran dari Ayahnya, dia tahu ada ikatan antara Artemis dan Asklepios yang membuat Apollos selalu senang dan tenang yaitu karenaA Artemis menyayangi puteranya menggantikan Coronis, ibu Asklepios.


“Aku tetap akan mengawasinya, jadi kau tenang saja keponakanmu akan baik-baik saja,” seru Apollos yang kemudian mendapatkan pengingat dari Zeus,


“Aku tak melarangmu mengawasinya tapi jangan sekali-sekali membantunya. Hanya Artemis yang boleh membantu Asklepios, itu peraturan tak tertulis pada hukuman Asklepios kali ini.”


Apollos dan Artemis 299. dimensi keabadian dan menuju keluar dari gerbang Chronos. Artemis sudah siap untuk melakukan perjalanannya namun masih tak habis pikir dengan aturan tak tertulis yang dibuat ayahnya.


Apollos menyerahkan panah yang kali ini diminta oleh Artemis untuk menemani petualangannya, “Ya..kau tepat sekali. Namun semakin aku berpikir Zeus pasti memiliki pemikiran dan rencana yang terbaik. Mungkin dengan hanya kau yang dapat membantunya akan membuat Asklepios teruji antara perasaannya padamu yang sudah benar-benar sembuh atau aka nada cinta lama bersemi kembali.”


Artemis mengencangkan busur yang di pasang pada bagian depan pelana kuda, “Ya Kak, memang pesonaku terlalu kuat dan entah aku harus senang atau sedih sepertinya memang sulit untuk terlepas dari pesonaku…” Artemis tertawa lepas dan bangga, tak ambil pusing apa yang di alami oleh keponakannya.


Derap kuda yang ditungganginya mulai melaju sebelum dia melihat Caleb yang hanya seorang diri.


“Dimana Josh?”


“Josh sedang melakukan perjalanan ke.. Earth 23.”


Jiwa analisa Artemis memperhitungkan apa yang mungkin sedang direncanakan oleh Zeus dengan mengirim Josh ke Earth 23.


“Kak, apakah kau tahu Josh juga pergit ke Earth 23? Apakah dia menemani Asklepios?”


Apollos yang sudah menjauh berteleport melesat mendekati Artemis.


“Kau siap pusing dengan penjelasanku ha?”


Artemis tertawa karena dia menyukai hal rumit seperti permainan yang sedang dilakukan Zeus pada hukuman dan syarat tak tertulis untuk Asklepios.


“Katakan Kak, aku menerima dengan bahagia.”


“Apa kau ingat Epione?” kalimat Apollos mengingatkan Artemis pada gadis cantik yang dia temui di seberang ladang Mary gold, Rosemary, dan Dandelion lalu seketika ingatannya menyibak waktu saat Epione memasuki dimensi keabadian dan menerima hukuman.


“Aku ingat… aaaahhh gotcha…. Jangan-jangan… sesimple itukah ending permainan ini??”


Apollos sudah lama tak melihat Artemis terlalu riang saat seolah sudah berhasil menyelesaikan sebuah teka-teki.


“Tak perlu berspekulasi, tapi bisa jadi kau benar.”


Artemis masih berpikir apa hubungannya dengan Josh, hingga dia teringat bahwa mungkin karena dialah Josh dan Epione saling mengenal, “Baiklah, kerumitan belum terurai dan akan cukup seru kalau Asklepios dapat melewati Josh dan menemukan Epione. Kak kapan Asklepios menuju Earth 23? Atau sudah berapa lama dia di sana?”


Apollos mencoba melakukan perhitungan karena terdapat perbadaan waktu yang sangat jauh antara Chronos 299 dan Earth 23.


“Untuk saat ini, Asklepios sudah dua tahun berada di Earth 23 dan dia baik-baik saja, sudah beberapa kali aku berkomunikasi dengannya tapi sayangnya dia masih saja merindukan adik ayahnya”


Apollos menghilang setelah selesai menjawab karena tak mau lagi memberikan ruang terlalu banyak untuk Artemis menganalisa scenario yang sudah dituliskan oleh Zeus.


Artemis memacu kudanya dengan riang. Dia masih mengingat pertemuannya dengan Epione, gadis cantik yang Josh kenalkan padanya melalui bayangan pandang. Bayangan pandang seperti kaca yang dapat menembus ruang dan waktu untuk melihat seseorang yang di bayangkan oleh si pemanggil bayang pandang.


“Kau harus menghadapi Josh yang sepertinya juga mencintai Epione, Asklepios… menyenangkan sekali…”seru Artemis penuh tawa dan melanjutkan petualangannya di Chronos 299 sambil menunggu suara Asklepios yang pasti akan berhasil membuka tabir penghalang dan meminta bantuan padanya.