Help Me, Doctor...

Help Me, Doctor...
Earth 23 – Usaha untuk Berteman



Usai melakukan telepati yang terasa seperti panggilan telepon jarak jauh menggunakan microchip yang tertanam dalam telinga, Calvin Adam melanjutkan perjalanan menuju ke rumah dua orang yang dikatakan oleh Mom Delia sebagai teman-teman yang memiliki kepedulian padanya.


Memasuki blok yang dimaksud, Calvin Adam melihat perbedaan yang sangat signifikan dibandingkan blok tempatnya tinggal. Perbedaan tatanan komplek rumah, ornament terpasang di pinggir jalan dan pastinya ukuran dari setiap rumah yang sangat jauh berbeda dengan rumah tinggal Calvin Adam yang sepintas seperti kotak-kotak kardus yang di susun berjejer kalau diamati dari kejauhan.


Kemegahan bangunan terpancar di blok tersebut, tidak ada keseragaman dari setiap bangunan yang ada membuat pemandangan beragam yang menyenangkan dengan ciri khas sama di setiap bangunan yaitu mewah, besar, dan memiliki gazebo taman di bagian depan rumah.


Rumah megah berwarna terakota tampak mencolok diantara rumah lainnya yang lebih memilih warna soft dan lembut. Calvin Adam berjalan dan berhenti di depan rumah megah tersebut tanpa menyadari bahwa terdapat dua pasang mata yang menatapnya dari gazebo taman penuh bunga di seberang rumah Oscar yang berwarna teracota.


“Apa yang kau cari bung?” tanya seorang pemuda di belakang Calvin Adam.


Pemuda yang cukup tinggi dengan rambut berwarna dark brown dan jambang halus yang terlihat menghiasi wajahnya terlihat sangat maskulin dengan tatapan tajamnya dan samar nampak luka sepanjang tiga centimenter di atas dahinya.


“Aku mencari Oscar,” jawab Calvin Adam dan berbalik mengamati rumah di hadapannya, mengabaikan pemuda yang bertanya.


Yang merasa diabaikan mengacak rambut dan menatap teman wanitanya yang masih menunggu di gazebo, “untuk apa kau cari Oscar? Apakah kau mau buat keributan dengannya?”


Calvin Adam menatap pemuda dihadapannya dan berspekulasi apakah pemuda itu adalah Oscar, melirik ke belakang pemuda itu tampak seorang gadis duduk pada gazebo menatap mereka berdua.


Di belakang gazebo tempat gadis itu berada terlihat perpaduan tanaman marigold, rosemary, dandelion yang sangat tidak asing bagi Calvin Adam. “Apakah gadis itu Lydia?” tanya Calvin Adam dalam hati.


Tangan pemuda menepuk bahu Calvin Adam menyadarkan bahwa masih ada pertanyaan yang harus dijawabnya, “Apakah aku tampak seperti orang yang suka membuat keributan?”


Pemuda dihadapannya tertawa, “Seolah kau sudah melupakan seperti apa dirimu Bung. Hentikan candamu, kenapa kau mencariku?” jawab Oscar yang sudah tidak sabar melihat Calvin Adam bertingkah polos tanpa dosa.


Sorot mata Oscar yang tidak bersahabat dan Lydia yang tetap di tempatnya tidak memberikan sambutan hangat layaknya seorang teman. Suasana pertemanan yang sangat berbeda tak seperti yang dijelaskan oleh Mom Delia jika mereka bertiga adalah teman dekat.


“Oscar, apakah kau membenciku?” tak ada kata lain yang terpikir untuk diucapkan.


Oscar semakin gemas melihat tingkah laku Calvin Adam setelah semalam dia dan Lydia dibuat repot olehnya menjemput Calvin Adam yang terlihat hampir overdosis di bar dan mengembalikan ke rumahnya dengan sambutan histeris Mom Delia penuh dengan tangis dan bahkan bersujud berterimakasih kepada Oscar dan Lydia.


“Apakah pengaruh obat semalam membuatmu linglung hah?? Tentu aku membencimu, kapan kau akan berubah menjadi pemuda normal yang berempati pada kesulitan dan derita Mommy mu?”


Calvin Adam masih belum menangkap arah pembicaraan Oscar, synopsis yang diberikan Apollo pada dirinya tak cukup detail hingga dia mencoba memahami arah pembicaraan Oscar.


“Anggap saja kejadian semalam membuatku sadar Os, aku akan berubah mulai sekarang dan dimana Lydia?”


Oscar mengangakan mulutnya tanpa sadar, tak percaya segampang itu Calvin Adam menyerah dan menurut untuk berubah, kondisi yang sangat langka dan belum pernah terjadi. Terlebih lagi terlihat bahwa Calvin Adam sudah melihat ada Lydia yang sedang duduk di gazebo namun dia seperti tidak mengenalinya.


Terlalu lama Oscar dan Calvin Adam berbicara berdua membuat Lydia bergabung memastikan orang yang pernah merebut hatinya tidak melukai Oscar yang sudah menjadi kekasihnya.


“Kenapa kalian berdiri di sana sejak tadi? Ingin berjemur agar tanning hah?” hanya untuk berbicara seperti itu dan Lydia kembali ke gazebo nyaman di depan rumahnya.


“Lydia..“ bisik Calvin Adam pelan namun masih terdengar oleh Oscar.


Pandangan Oscar tajam pada teman sekampusnya yang sangat beruntung dapat mendapatkan beasiswa penuh dengan otaknya yang encer dan selalu saja berhasil luput dari masalah. Oscar bersyukur Calvin Adam adalah pemuda ugal-ugalan dan tak punya hati yang pernah secara terang-terangan bermain bibir bersama teman wanitanya di depan Lydia yang sehari sebelumnya mengunggapkan rasa sukanya.


Calvin Adam yang hendak berjalan menuju ke arah Lydia tiba-tiba tertarik ke belakang karena kerah t-shirt nya, “Jangan coba merayu Lydia, gadis itu sudah menjadi kekasihku.”


Ucapan Oscar hanya didengarkan sambilalu oleh Calvin Adam yang melepas cengkeraman tangan Oscar pada t-shirt nya dan berjalan bergabung masuk ke gazebo bersama Lydia dan di susul oleh Oscar.


Keberadaan Oscar dan Calvin Adam tak menghentikan aktifitas Lydia membuat presentasi tugas pada notebooknya.


“Apa aku mengganggu kalian?” tanya Calvin Adam dengan sopan memancing Oscar dan Lydia mengamati anak dari asisten rumah tangga mereka dengan seksama.


Lydia segera meraih thermometer infrared dari dalam tas dan mengarahkan pada dahi Calvin Adam.


“36.6 C, dia sehat Osc…”


“Aku pun merasa sepertinya ada masalah dengan dirinya Lyd. Apakah mungkin kejadian di bar merusak syarafnya hingga menjadi Calvin Adam yang nampak terlalu berbeda di hadapan kita?”


Merasa dibicarakan secara terbuka seolah-olah dia adalah orang tolol yang tak akan mengerti pembicaraan di depannya , Calvin Adam memutuskan menjelaskan dengan cara yang dia yakini terbaik,


“Gaes, aku mendengar pembicaraan kalian dan aku minta maaf untuk kesalahan yang aku buat karena…”


Belum selesai kalimatnya terucap, Oscar dan Lydia menampakkan wajah yang terheran dan bahkan Oscar yang sedari tadi menahan rasa penasarannya mencoba menarik wajah Calvin Adam yang tampak lebih bersinar dan penuh keagungan.


“Aaaawwwww,” teriak Calvin Adam saat Oscar menarik wajahnya.


“Apa yang kau lakukan Osc? Apakah kau berpikiran sama denganku?” Lydia dan Oscar saling bertukar pandang dan Oscar mengangguk,


“Aku berharap dia adalah orang asing yang menggunakan topeng badung Calvin Adam.”


Hampir habis cara untuk Calvin Adam memulai komunikasi dan menggali prihal kehidupan kuliahnya melalui Oscar dan Lydia hingga akhirnya Calvin Adam menyentil Oscar dan Lydia dengan cukup keras dan sebelum keduanya membalas Calvin Adam sudah memengang kedua tangan Oscar dan Lydia.


“Dengarkan aku, bisakah kita berteman?? Mulai sekarang kalau memang sebelumnya aku teman yang buruk, mulai saat ini aku akan menjadi teman yang baik. Dan kalau kalian masih ragu pada kesungguhanku tanyalah pada Mom Delia… sepertinya dewa menghukumku dan aku merasa amnesia sejak pagi tadi bangun tidur.”


Kedua calon dokter dihadapannya nampak sulit untuk mempercayai perkataan Calvin Adam.


Akhirnya Lydia memecah keheningan setelah melihat keseriusan pada sorot mata Calvin Adam,


“Apakah kau perlu melakukan CT Scan? Tampaknya memang kau mengalami masalah otak serius.”


Calvin Adam menggeleng, “Tak perlu karena sepertinya ini adalah doa Mom Delia dan kalian untuk aku bisa menjadi anak yang baik.”


Oscar menatap Lydia yang masih melihat Calvin Adam dengan intens, tangan Oscar melepaskan genggaman tangan Calvin Adam pada Lydia takut jika kekasihnya akan mengalami cinta lama bersemu kembali.


Tanpa dipersilahkan, Calvin Adam mengambil botol air soda yang ada di tengah mereka menegak sampai tandas membutuhkan cairan untuk membasahi kerongkongan yang sudah terasa kering karena berjalan, berjemur, dan memberikan penjelasan pada kedua orang yang diharapkan dapat segera membuatnya memulai misinya di Earth 23.