Final Impact

Final Impact
Chapter 7 : Gill Kallavan



Ilyu terlihat sedang tertidur pulas, Lylia tidak tega untuk membangunkannya. Lylia pun menaruh Pedang Greeneye di meja yang berada disebelah kasur Ilyu, setelah itu Lylia pun pergi meninggalkan kamarnya.


Saat ingin kembali ke kamarnya, Lylia merasakan hawa dari keberadaan seseorang yang sangat dikenalnya yang menuju mendekat ke desa ini.


Lylia pun pergi keluar rumahnya dan memeriksa keadaan. Tak lama kemudian, Asta pun datang menghampiri Lylia. Asta merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Lylia.


"Dia akhirnya menemukanmu ya.." ucap Asta terengah engah karena berlari dari tokonya ke rumah Lylia.


"Ini gawat disini banyak penduduk, untung saja aku selalu menyiapkan energi spiritualku siapa tahu saja ada kejadian seperti ini." ucap Lylia sambil meregangkan badannya.


"Aku tidak ingin mencampuri masalahmu, tapi disini banyak penduduk jadi aku ingin melindunginya. Masalahnya adalah energi spiritual yang tersisa pada tubuhku tidak terlalu banyak. Jadi aku membutuhkan waktu untuk menyerapnya, mudah mudahan itu cukup sampai orang itu sampai ke sini" ucap Asta sambil mencari tempat yang cocok untuk bermeditasi.


"Karena itu maumu aku tidak mempermasalahkannya karena aku juga menyayangi penduduk desa." ucap Lylia.


"Jadi berapa lama waktu yang kau perlukan? Aku bisa mengulur waktu beberapa menit melawan orang itu." tanya Lylia kepada Asta.


"Selama yang kau bisa." ucap Asta meninggalkan Lylia karena telah menemukan tempat yang cocok untuk bermeditasi.


Asta pun meninggalkan Lylia.


"Disini ada Ilyu aku khawatir pertarungan ini akan berdampak kepada Ilyu, aku harus mencari tempat yang lebih luas lagi untuk bertarung dengan orang itu." batin Lylia.


"Orang itu pun pasti kemari karena dia merasakan hawa keberadaanku." batin Lylia sambil bergerak meninggalkan desa.


Tak lama kemudian, hawa yang dirasakan Asta dan Lylia pun semakin mendekat, makin dekat dan akhirnya orang yang ditunggu Asta dan Lylia sampai ke desa.


Lylia yang sedang berlari menjauh dari desa yang bertujuan untuk memancing orang yang mencarinya itu mengejarnya.


Asta merasakan keberadaan orang itu yang sedang berada di desa. Saat ini Asta berada tidak jauh dari desa, Asta khawatir orang itu akan merasakan hawa keberadaan Asta. Jadi Asta menggunakan teknik yang berfungsi untuk menyembunyikan hawa keberadaan.


Terlihat orang itu memakai baju yang berwarna putih dan rambut pendek yang berwarna perak. Orang itu tidak merasakan hawa keberadaan Lylia di desa itu dia merasakan hawa keberadaan Lylia sedang berlari menjauh dari desa.


Tanpa banyak basa basi, orang itu pun berlari sekuat tenaga untuk mengejar Lylia.


Di sisi lain, Asta yang sedang bermeditasi, Ilyu yang sedang tidur pulas dan Lylia yang sedang memancing orang yang mengincar dirinya agar menjauh dari desa.


Ingin menghemat stamina, Lylia pun berhenti disebuah padang rumput yang luas dan bersiap bertarung dengan orang yang mengejar dirinya.


Dengan kecepatan penuh, orang itu mengejar Lylia hingga akhirnya sampai. Orang itu pun bertemu dengan Lylia di padang rumput yang luas itu.


"Tak kusangka kau sendiri yang pergi mencariku, Gill." ucap Lylia dengan nada dingin kepada orang yang bernama Gill itu.


"Yah...aku tidak bisa membiarkanmu terus bersantai selama lima tahun ini, tuan putri dari Klan Gatetohven, Lylia Gatetohven." ucap Gill kepada Lylia.


Orang yang mengejar Lylia itu bernama Gill. Gill adalah orang yang termasuk musuh besar bagi Lylia. Selama ini Gill terus mencari keberadaan Lylia.


"Kau memiliki ribuan bahkan jutaan bawahan, tetapi kau sendiri yang mengejarku, itu menandakan bahwa kau mewaspadaiku, Gill Kallavan." ucap Lylia tersenyum tipis.


"Aku tidak bisa membiarkan bawahanku mati sia sia karena melawan orang sekuat kau, Lylia Gatetohven." ucap Gill kepada Lylia.


"Lagipula, aku ingin membalaskan dendam bawahanku yang paling setia padaku yang terbunuh ditanganmu pada saat perang itu. Jadi aku sendirilah yang akan memenggal kepalamu, tidak peduli apa kata keluargamu, aku tetap akan membunuhmu!" teriak Gill sambil mengeluarkan energi spiritual berwarna emas miliknya.


"Sepertinya ini akan sulit. Ini adalah pilihan yang tepay dengan menjauhkan orang ini dari desa, kalau tidak desa akan rata dengan tanah karena pertarungan ini." batin Lylia.


Melihat Gill yang sudah mengeluarkan energi spiritualnya duluan, itu menandakan pertarungan akan dimulai. Lylia pun mengeluarkan energi spiritual berwarna emas miliknya.


"Oh, jadi kau meningkatkan energi spiritualmu dari warna abu abu ke warna emas...lumayan" ucap Gill kepada Lylia.


Gill pun mengangkat tangannya, langit langit mulai gelap dan petir pun turun menyambar Lylia, tetapi petir itu berhasil dihi dari Lylia.


Lylia bergerak seperti orang yang sedang menari, kelincahannya dan kecepatannya sulit dilihat oleh Gill karena itu sasaran yang dituju Gill meleset.


Gill terus menerus menyerang Lylia dengan petir miliknya itu. Gemuruh petir dan angin ribut terasa di area tempat Gill dan Lylia bertarung.


Asta yang sedang bermeditasi merasakan energi yang dahsyat itu. Lylia tidak memberi tahu Asta bahwa dia akan memancing Gill ke tempat yang jauh supaya pertarungan yang terjadi diantara mereka tidak berdampak kepada desa dan penduduk penduduknya.


"Selama lima tahun ini, kau memiliki kemajuan, Lylia." ucap Gill sambil terus menerus melancarkan serangannya kepada Lylia.


"Orang ini benar benar merepotkan" batin Lylia sambil bergerak menghindari serangan petir Gill.


Gill pun menyadari taktik Lylia yang mencoba mendekatinya dengan cara menghindari serangannya itu. Gill pun mengubah pola serangannya.


"Spiritual Lighting cube!"


Gill pun membuat serangan baru. Petir tersebar menjadi sebuah area yang ada disekitar Gill. Selain Gill, orang yang memasuki area ini akan tersentrum dengan derasnya arus listrik.


Serangan kali ini, tidak dapat dihindari Lylia. Lylia yang sudah terlanjur mendekati Gill, terkena serangannya. Lylia masuk ke dalam area listrik milik Gill dan Lylia pun tersentrum arus listrik yang menyakitkan itu.


"Akh!" teriak Lylia kesakitan setelah gerakan lincahnya terhenti karena jurus yang dikeluarkan Gill.


"Hmph!, orang seperti mu berniat melawanku?! Apa kau lupa siapa aku?!" teriak Gill kepada Lylia yang sedang berteriak kesakitan.


"Ternyata tidak sampai sepuluh menit...sisanya kuserahkan kepadamu...Tuan...Asta Zillian." batin Lylia.


Lylia pun jatuh pingsan karena serangan yang diterimanya dari Gill.


Di sisi lain, Asta telah selesai bermeditasi dan Asta pun melacak keberadaan Lylia. Tetapi hawa keberadaan Lylia telah hilang dan hawa keberadaan Gill juga hilang.


"Apakah...bocah Lylia itu berhasil dikalahkan?" batin Asta bersedih.


"Maafkan aku Zeath. Aku tidak bisa menolong anakmu, jika aku keluar dari desa ini, maka aku akan terkena masalah yang jauh lebih besar dari ini." batin Asta.


Asta pun terduduk dan bersedih. Asta merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Lylia. Dulu sekali, Asta memiliki hutang budi kepada ayah Lylia yang seorang pemimpin klan yaitu Zeath Gatetohven.


"Aku ini sampah...air susu ku balas dengan air tuba...aku memang sampah..." batin Asta merasa sedih.


Tak lama kemudian, terlihat Ilyu yang sudah bangun dari tidurnya yang melihat Asta yang sedang duduk ditanah didepan rumahnya.


"Ah...paman pandai besi?" ucap Ilyu sambil menguap setelah melihat Asta di depan rumahnya.


"Anak ini...anak yang dibawa Lylia kan?" batin Asta bertanya tanya setelah melihat Ilyu.


"Apa yang anda lakukan disini paman? Oh iya apakah anda melihat kak Lylia? Dia tidak ada dikamarnya padahal kondisi nya sedang tidak baik." tanya Ilyu kepada Asta.


"Benar! Masih ada harapan!" batin Asta, kesenangan.


Asta pun menceritakan tentang apa yang terjadi pada Lylia kepada Ilyu. Awalnya Ilyu tidak mempercayai perkataan Asta, tapi Asta membuat Ilyu yakin sepenuhnya dengan ceritanya.


"Tidak mungkin!, kak Lylia sangat kuat! Dia tidak mungkin kalah!" teriak Ilyu karena dia tidak terima bahwa Lylia telah dikalahkan.


"Itu salahku..aku tidak bisa melindunginya.." ucap Asta dengan nada kesal dan sedih.


Ilyu pun meninggalkan Asta dan masuk kerumahnya lalu Ilyu mengurung dirinya di kamar. Melihat Ilyu yang sangat sedih, Asta sangat tidak tega melihatnya, dia pun masuk kerumah Lylia dan berdiri di depan kamar Ilyu yang pintunya di kunci.


"Nak...aku yakin Lylia masih hidup, jadi jangan bersedih." ucap Asta yang sedang berdiri di depan pintu kamar Ilyu.


Ilyu tidak berhenti menangis, bahkan suaranya terdengar sampai keluar kamar. Asta berpikir bahwa ini adalah kebenaran yang sangat menyakitkan bagi Ilyu yang masih berumur 12 tahun. Asta pun berniat untuk memunculkan harapan bagi Ilyu.


"Nak, Lylia masih hidup. Aku yakin itu. Mungkin Lylia telah dikurung atau disandera oleh orang yang mengalahkan Lylia itu. Jadi apakah kau mau menyelamatkannya?" ucap Asta dengan penuh keyakinan kepada Ilyu.


"Aku tidak kuat...orang yang melatihku telah pergi...jadi aku tidak akan bisa menyelamatkannya..." Ilyu membalas perkataan Asta sambil menangis.


"Kalau begitu, aku akan melatihmu...aku adalah orang yang jauh lebih kuat dari kakakmu itu! Aku akan membuatmu menjadi orang yang kuat supaya kau bisa menyelamatkan kakakmu!" ucap Asta dengan nada yang menyemangati.


Tetapi Ilyu tidak menjawab perkataan Asta. Ilyu berdiam diri tanpa bicara sepatah kata pun, Asta berpikir bahwa Ilyu tidak ingin di ajar olehnya dan itu membuat hati Asta sakit, dulu saat Asta masih muda, puluhan ribu krang yang memohon padanya untuk dijadikan murid, tetapi semuanya ditolak oleh Asta.


"Jadi gini rasanya ditolak.." batin Asta.


"Baiklah, nak. Kalau kau berubah pikiran, datanglah ke tokoku." ucap Asta meninggalkan kamar Ilyu dengan rasa sedikit kecewa.


Asta pun pergi meninggalkan Ilyu dan kembali ke rumahnya dengan perasaan yang sangat sedih.