Final Impact

Final Impact
Chapter 4 : Gatetouniv



Setelah sekian lamanya menunggu, Lylia pun akhirnya tertidur dikursi yang berada disamping ranjang yang dibaringi Ilyu.


Tengah malam, disaat Lylia telah tertidur nyenyak. Ilyu menyadarkan diri, Ilyu tiba tiba langsung duduk disaat dia sadar.


"Akh!...hah...hah...hah..apa..apa aku membunuh beruang itu?" Ilyu terbangun dan kangsung terduduk ketika dia sadarkan diri.


"Kak Lylia? Apa yang dilakukannya disini? Kenapa dia tidur di kursi itu?" Ilyu melihat sekeliling dan ia melihat Lylia yang sedang tidur.


Ilyu sadar bahwa rumah yang ditempatinya ini bukan rumah Lylia. Dia pun membangunkan Lylia yang sedang tidur lelap itu. Ilyu sudah mencoba membangunkan Lylia, tetapi Lylia tidak bangun bangun. Ilyu pun mencoba keluar dari kamar yang ditempatinya itu dan mencoba melihat sekitar.


"Rumah ini...adalah rumah dokter desa, kenapa aku bisa ada disini?" batin Ilyu kebingungan setelah melihat sekeliling.


"Oh, kamu sudah sadar?" ucap dokter desa terkejut karena melihat Ilyu yang sudah sadarkan diri.


"Apa...apa yang terjadi pada ku?" tanya Ilyu penuh kebingungan.


"Kamu tidak sadarkan diri dari tadi pagi, saya tidak menemukan apa penyebab dirimu tidak sadarkan diri, itu sangat membingungkan." ucap dokter desa sambil memegang dagunya.


"Aku tidak sadarkan diri?" ucap Ilyu sambil memegang kepalanya.


"Iy.." ucapan dokter desa terhenti.


"Ilyu!" teriak Lylia.


"Tenang tenang, dia ada disini" ucap dokter desa menenangkan Lylia yang baru keluar dari kamar.


"Kakak..."


Lylia pun lega karena Ilyu sudah sadarkan diri. Perasaan khawatir yang dirasakan Lylia tadi, kini sudah mereda.


"Apa keadaanmu sudah pulih?" tanya Lylia kepada Ilyu.


"Sudah." jawab Ilyu.


Lylia pun menyuruh Ilyu untuk berbaring diranjang. Dokter pun kembali mengecek keadaan Ilyu, dokter merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi dengan keadaan Ilyu ini, dokter pun meninggalkan kamar yang ditempati Ilyu dan Lylia dan kembali ke kamarnya untuk istirahat, karena ini masih malam.


"Apa yang terjadi padamu saat berburu tadi?" tanya Lylia kepada Ilyu setelah dokter desa pergi meninggalkan mereka.


"Aku..." ucap Ilyu dengan gugup.


"Ada apa?"


"Aku membunuh hewan." jawab Ilyu dengan nada sedih.


"Apa? Kamu kan sedang berburu jadi itu adalah hal yang wajar. Jadi apa yang kau bunuh?" ucap Lylia dan melontarkan beberapa pertanyaan kepada Ilyu.


"Itu...dua ekor beruang dewasa." jawab Ilyu dengan singkat.


"Apa!" teriak Lylia karena terkejut dengan jawab yang diberikan Ilyu.


"Tidak mungkin. Katakanlah yang sejujurnya, aku tidak mengajarkanmu untuk berbohong." ucap Lylia dengan nada kecewa.


"Itu benar. Saat itu, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena kelaparan, jadi aku bangun dan pergi untuk mencari makanan, saat itu masih awal. Para pemburu lain belum terbangun dari tidurnya"


"Aku pun berkeliling di hutan untuk mencari makanan, tapi siapa tahu, aku melihat dua ekor beruang besar yang sedang bertimpa tubuh"


"Itu namanya bersetubuh...bodoh." batin Lylia sambil mendengar penjelasan Ilyu.


"Aku tidak tahu, jika ingin mendapat uang apa harus membunuh ataupun membawa beruang itu hidup hidup. Aku bingung jadi aku berniat untuk membawa beruang itu hidup hidup. Aku pun mulai menyerang mereka dengan tangan kosong."


"Beruang beruang itu sadar akan kehadiranku, jadi mereka melakukan perlawanan kepadaku. Siapa sangka, tenaga kedua beruang itu sangat kuat, setelah itu aku terjatuh dan tidak ingat apa apa lagi, yang aku ingat aku sudah berada di rumah ini."


"Jadi, apa yang terjadi kepada dua ekor beruang itu?" tanya Lylia setelah mendengar cerita Ilyu.


"Aku tidak tahu, yang aku tahu aku terjatuh ketika diserang oleh beruang itu." jawab Ilyu.


Tadi Bao bercerita kepada Lylia bahwa mereka melihat mayat dua ekor beruang itu yang tergeletak dibawah kaki Ilyu yang sedang berdiri dan diam membeku pada saat itu.


Ini membuat Lylia makin tambah bingung. Lylia berpikir apa yang terjadi pada Ilyu saat melawan dua ekor beruang itu dan kenapa Ilyu bisa pulang dengan selamat, itu mustahil bagi anak yang baru berumur 12 tahun seperti Ilyu.


Setelah itu, mereka berdua pun beristirahat karena ini masih tengah malam, rasa kantuk pun masih terasa di mata Lylia. Lylia pun menyuruh Ilyu untuk tidur hingga lukanya sudah pulih total.


Keesokan paginya, setelah mereka berdua bangun, mereka pun pulang kerumah mereka dan tidak lupa untuk berterimakasih kepada dokter desa yang telah mengizinkannya untuk menginap dirumahnya itu.


Setelah sampai dirumahnya, Bao terlihat sedang duduk di teras rumah mereka. Bao ingin bertemu dengan Ilyu, Bao khawatir dengan keadaan Ilyu.


"Apa kau baik baik saja, nak Ilyu?" tanya Bao penasaran dengan keadaan Ilyu.


"Iya paman, aku baik baik saja." jawab Ilyu.


"Hah syukurlah kalau begitu, sudahlah paman ingin pulang dulu, sampai jumpa lagi nak Ilyu" ucap Bao berjalan meninggalkan rumah Lylia.


Setelah itu, Ilyu dan Lylia pun masuk kerumah mereka.


Beberapa hari kemudian, setelah kondisi tubuh Ilyu telah pulih total, Lylia pun melatih Ilyu teknik teknik bela diri yang dimilikinya supaya Ilyu bisa bertambah kuat agar dia bisa melindungi dirinya sendiri ketika dalam bahaya.


Lylia belum mengajarkan Ilyu tata cara mengendalikan energi spiritual. Lylia ingin mengajarkan dasar dasar teknik bela diri kepada Ilyu setelah itu Lylia berencana untuk mengajarkan Ilyu tata cara mengendalikan energi spiritual.


Melihat Ilyu yang semakin pandai dalam berlatih teknik teknik yang diajarkannya, Lylia berpikir inilah saatnya untuk mengajarkan Ilyu cara mengendalikan energi spiritual.


"Yu! Kemari!" teriak Lylia memanggil Ilyu yang sedang berlatih.


"Ada apa?" jawab Ilyu sambil berjalan mendatangi Lylia.


"Kakak akan mengajarkanmu cara mengendalikan energi spiritual." ucap Lylia dengan serius.


"Energi spiritual?" ucap Ilyu kebingungan.


"Energi spiritual adalah energi alam yang ada sebelum adanya manusia di planet ini." ucap Lylia.


"Apa gunanya untukku?" tanya Ilyu.


"Kau akan bertambah kuat dengan itu, bodoh!" teriak Lylia dengan kesal.


"Ahhh baik baik" ucap Ilyu sambil mengusap telinganya.


"Hal pertama yang dilakukan adalah mengecek warna dari energi spiritualmu." ucap Lylia.


"Warna?" Ilyu kebingungan.


"Pada dasarnya, energi spiritual ada disekitar kita bahkan sudah seperti udara bagi kita. Warna dari energi spiritual yang ada ini tidak kelihatan, setelah kau menyerap energi spiritual ke dalam tubuhmu, energi spiritual itu akan menjadi berwarna, tergantung bakatmu." ucap Lylia.


"Energi spiritual terbagi menjadi 6 warna yang telah diketahui saat ini. Warna warna itu adalah biru, hijau, ungu, abu abu, merah, dan emas. Warna biru adalah warna dari energi spiritual yang paling lemah sedangkan yang berwarna emas adalah warna energi spiritual yang paling kuat." Lylia memberi penjelasan kepada Ilyu supaya Ilyu paham.


"Jadi bagaimana cara ku supaya bisa mendapat warna dari energi spiritual?" tanya Ilyu setelah Lylia selesai menjelaskan.


"Kau harus menyerap energi spiritual dan kakak punya teknik rahasia untuk menyerap energi spiritual." ucap Lylia tersenyum tipis.


"Apa menyerap energi spiritual itu bisa memakai teknik juga?" tanya Ilyu.


"Iya, banyak orang diluar sana yang bertarung menggunakan energi spiritual, energi spiritual yang ditampung tubuh juga punya batasnya, jika sudah mencapai batasnya energi spiritual didalam tubuh orang itu akan habis dan orang itu pun harus menyerap energi spiritual yang ada." Lylia menjelaskan.


"Ibarat pelita, jika minyaknga habis, pelitanya akan padam. Begitulah tubuh manusia, jika energi spiritualnya habis maka dia harus menyerapnya lagi supaya bisa di gunakan, proses menyerap energi spiritual lumayan lama jadi banyak petarung diluar sana yang menghemat energi spiritual mereka dalan pertarungan" Lylia menjelaskan.


"Tapi, aku mempunyai teknik rahasia yang berguna untuk mempercepat dalam menyerap energi spiritual, teknik ini aku pun tidak bisa memakainya aku menyimpan teknik ini supaya aku bisa menemukan orang yang bisa menggunakan teknik ini, dan aku ingin mencoba dirimu, apakah kamu bisa menggunakan teknik ini atau tidak, jika bisa maka masa depanmu pasti akan sangat cerah." Lylia menjelaskan.


"Apakah sebegitu hebatnya?" tanya Ilyu.


"Iya tentu saja!, nama teknik ini adalah Gatetouniv." ucap Lylia dengan penuh keyakinan.