
Di dunia ini banyak orang yang berambisi untuk memiliki harta, kehormatan, kekuasaan, dendam yang terbalaskan dan cinta. Tapi adakah orang yang memiliki ambisi yang melebihi itu semua?, apapun yang kamu inginkan, berdoa dan berusahalah untuk mendapatkanya.
Disuatu tempat yang dingin dan sangat gelap, terlihat seorang anak yang tidak memakai pakaian dan sedang terbaring lemas
"Ah....Siapa aku?, dan dimana aku?"
"Aku ini apa?"
"Krakk" suara ranting yang di injak.
"Apa ada orang disana?" seorang gadis yang membawa obor berjalan mendekati anak yang terbaring lemas tersebut.
"Hah!, ada seorang anak!" gadis itu terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Si..siapa kau?" anak itu ketakutan karena datangnya gadis yang membawa obor tersebut.
"Aku?, namaku Lylia, siapa namamu?, dan apa yang kamu lakukan di tempat seperti ini?" Lylia mengulurkan tangannya kepada anak itu yang sedang ketakutan.
"Namaku?, apa itu nama?, aku dan kau terlihat sama, kita ini apa?" anak tidak merasa takut lagi karena dia merasa Lylia itu bukan ancaman.
"Hm...hahahaha, kita ini manusia, dan nama itu adalah panggilan orang kepadamu hmm mungkin seperti itulah" Lylia tertawa dengan pertanyaan yang diberikan anak itu.
"Aku...aku tidak punya nama."
"Apa?, dimana orang tuamu?" Lylia bertanya kepada anak itu.
"Orang tua?" anak itu tidak tahu apa itu orang tua dan dia bertanya tentang itu kepada Lylia.
"Anak ini..." batin Lylia.
"Orang tua adalah orang yang telah membawamu ke dunia ini dan orang yang memberimu nama, kalau tidak ada orang tua berarti kamu pun tidak ada" jawab Lylia atas pertanyaan anak itu.
"Aku...tidak punya orang tua, kalau seperti itu siapa yang membawaku ke dunia ini?" anak itu bertanya kembali.
"Itu...mungkin orang tuamu ada disuatu tempat. Sudah ayo kita keluar dulu dari tempat ini nanti akan kakak bantu untuk mencari orang tuamu" jawab Lylia.
"Baik."
Lylia pun menggendong anak itu sambil memegang obor yang tadi dan segera keluar dari tempat yang gelap gulita ini. Tempat gelap yang dimaksud adalah goa, Lylia menemukan anak itu di bagian goa yang dalam yang tidak terkena sedikit pun cahaya.
Saat mendekati mulut goa, anak itu menutup matanya karena cahaya yang menyilaukan dirinya, dan anak itu pun kembali bertanya kepada Lylia.
"Ahh!, benda apa yang membuatku tidak bisa melihat ini?" tanya anak itu.
"Benda?, oh maksudmu cahaya ini?, ini adalah cahaya matahari, cahaya matahari berguna untuk semua makhluk hidup yang ada didunia ini" jawab Lylia sambil berjalan menuju keluar.
"Makhluk hidup itu apa?" tanya anak itu penuh kebingungan.
"Hah..aku rindu adikku." batin Lylia.
"Makhluk hidup adalah benda hidup yang bisa bertumbuh besar, berkembang biak, dan berinterakasi sesama makhluk hidup yang lain, anggap saja begitu.
Anak itu terdiam dan mereka berdua pun keluar dari goa tersebut. Setelah sampai di luar, anak itu heran dengan apa yang dilihatnya, dia melihat padang rumput yang hijau, pepohonan yang rindang dan banyak hewan hewan yang ada disekitar mulut goa tersebut.
"Jadi mereka semua ini makhluk hidup...sama seperti diriku.." batin anak itu.
"Kamu kerumah ku saja dulu, kamu harus memakai pakaian dulu." Lylia berkata.
"Pakaian?" tanya anak itu kepada Lylia.
"Arrggghhh sudahlah, ayo jalan." melihat anak itu sudah lumayan baik, Lylia pun menurukan anak itu dari punggungnya dan menyuruhnya berjalan menuju rumahnya.
"Kenapa dia seperti itu?" batin anak itu setelah diturunkan Lylia dari punggunya.
Rumah Lylia tidak jauh dari goa itu, Rumah Lylia berada di sebuah desa kecil yang tidak jauh dari hutan yang terdapat goa didalamnya tadi.
Sesampainya di desanya, Lylia disambut hangat oleh para penduduk desa. Anak yang dibawa Lylia menjadi pusat perhatian penduduk, banyak yang bertanya tanya darimana anak itu, tetapi Lylia langsung pergi kerumahnya dan mengabaikan pertanyaan pertanyaan itu.
"Ini rumahku, aku tinggal sendirian disini, tunggu sebentar aku akan mencarikan baju untukmu."
Tak lama kemudian, Lylia pun datang membawakan baju untuknya. Lylia menyuruh anak itu memakai baju dan alhasil anak itu tidak tahu memakai baju, Lylia pun memakaikan baju untuknya.
"Jadi, apa kamu tahu dimana orang tuamu?" tanya Lylia kepada anak itu setelah memakaikannya baju.
"Aku..tidak tahu dimana orang tuaku" jawab anak itu.
"Hm?, kamu berasal dari mana?" Lylia bertanya lagi kepada anak itu.
"Aku juga tidak tahu, aku hanya tahu aku berada di tempat yang gelap." jawab anak itu.
"Ini aneh. Apa anak ini lahir karena alam?, aku merasakan energi yang asing dari anak ini." batin Lylia.
"Apakah aku akan terus hidup?, apakah aku tetap tidak punya nama dan orang tua?" tanya anak itu kepada Lylia.
Lylia terdiam mendengar perkataan anak itu, Lylia terlihat sedih dan akhirnya meneteskan air mata.
"Itu..benda apa itu?" anak itu bertanya setelah melihat air mata yang keluar dari mata Lylia.
"Ahh...ini adalah air mata, biasanya air mata keluar di saat orang sedih dan ada juga air mata yang keluar karena bahagia." jawab Lylia.
"Sedih?, bahagia?, apa itu?" tanya anak itu.
"Itu semua adalah emosi." jawab Lylia.
"Emosi itu apa?" anak itu bertanya lagi. Anak itu terlihat sangat kebingungan.
"Arrgghh sudahlah." jawab Lylia dengan kesal.
"Ya tuhan..aku benar benar rindu adikku.." batin Lylia.
"Baiklah. Karena kamu tidak tahu orang tuamu dimana, kamu akan tinggal disini bersamaku" Lylia berkata kepada anak itu.
"Aku tinggal disini?, apa aku tidak tinggal di tempat gelap itu lagi?" tanya anak itu kepada Lylia.
"Iya!"
"Ahh baiklah, aku tidak suka tempat gelap itu." berkata anak itu ketakutan.
"Kamu tidak punya nama..sekarang namamu adalah Ilyu, mulai sekarang namamu Ilyu ya" Lylia memberikan Ilyu nama.
"Kau memberiku nama?, kau kan bukan orang tuaku, kenapa memberiku nama?" tanya anak itu penuh kebingungan.
"Anak ini...sangat bodoh." batin Lylia.
"Kalau begitu aku akan menjadi keluargamu dan aku akan memberimu nama" Lylia berkata.
"Kau menjadi keluargaku?, apa itu keluarga?" tanya anak itu.
"Keluarga adalah pengganti orang tua untuk menjagamu, jika orang tuamu tidak ada maka keluargamu lah yang menjagamu" Lylia berkata sambil mengelus kepala Ilyu.
"Aku keluargamu?" tanya Ilyu.
"Iya!, dan sekarang namamu adalah Ilyu."
"Aku punya nama. Aku punya keluarga." batin Ilyu merasa gembira.
"Baiklah." Ilyu berkata pelan.
"Sekarang namamu adalah Ilyu!" Lylia berkata.
"Perutku kenapa?, aku seperti ingin memasukkan sesuatu kesini." Ilyu bertanya sambil menunujuk mulutnya.
"Itu namanya lapar, bodoh!. Ayo kita makan dulu" Lylia berkata kepada Ilyu.
"Bodoh?" batin Ilyu kebingungan.
Lylia pun mengajak Ilyu ke dapur untuk menyantap makanan.