
Ilyu keluar dari rumahnya dan menuju tempatnya berlatih. Ilyu ingin melatih kembali teknik Gatetouniv yang diberikan Lylia kepadanya. Ilyu mengingat sedikit mantra mantra yang telah dilihatnya dibuku teknik Gatetouniv tadi, Ilyu pun duduk bersila dan melafalkan kalimat teknik Gatetouniv itu.
"Gerbang semesta, terbuka!" ucap Ilyu saat bermeditasi.
Energi spiritual pun terserap ke dalam tubuhnya, terlihat sebuah aura berwarna hitam pekat mengerumuni tubuh Ilyu.
"Apa ini!" teriak Ilyu saat dia melihat aura hitam pekat yang mengelilingi tubuhnya itu.
Ilyu belum terbiasa dengan adanya aura itu, bahkan aura itu membuat dirinya mual.
Ilyu pun kembali berfokus bermeditasi untuk menyerap energi spiritual. Tak butuh waktu yang lama, dengan bantuan teknik Gatetouniv, kecepatan Ilyu menyerap energi spiritual sangat cepat. Ilyu merasa tubuhnya telah dipenuhi oleh energi spiritual dan rasanya seperti ingin meledak.
Ilyu masih tidak bisa mengendalikan energi spiritual dengan baik. Dia hanya melakukan gerakan asal asalan, tanpa menunggu Lylia pulih untuk mengajarinya, Ilyu mencari cara untuk bisa mengendalikan energi spiritual dengan baik.
Ilyu mengangkat tangannya kedepan dan mengalirkan energi spiritualnya ke ujung jari telunjuknya. Tanpa ia sadari, energi spiritual berwarna hitam keluar dari ujung jari telunjuknya dan melesat menembak pohon.
Alhasil, pohon yang terkena serangan dari energi spiritual Ilyu tiba tiba tumbang. Ilyu tidak tahu dengan apa yang dilakukannya, setelah dia melakukan serangan itu, tubuh Ilyu tiba tiba merasa lemas dan terasa tidak sanggup untuk berdiri. Ilyu pun bergegas kembali kerumahnya dan memberi tahu Lylia tentang hal ini.
"Kak!" teriak Ilyu saat membuka pintu rumahnya.
Lylia terkejut dengan teriakan Ilyu dan dia pun keluar dari kamarnya dan segera menghampiri Ilyu.
"Ada apa yu?!" teriak Lylia kepanikan setelah keluar dari kamarnya.
"Tubuhku...lemas" Ilyu pun tiba tina terjatuh.
Lylia terkejut dengan keadaan Ilyu yang tiba tiba terjatuh. Lylia pun mengangkat Ilyu dan membawanya ke kamar Ilyu. Lylia sebenarnya belum pulih total dari kejadian tadi, istirahatnya belum cukup dan tubuhnya juga masih merasa lemas tapi setelah melihat keadaan Ilyu dia mengabaikan kondisi tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih itu.
Lylia pun mengantar Ilyu kekamarnya dan meletakkan Ilyu dikasur. Ilyu hanya terjatuh karena badannya terasa lemas, ia merasa tidak sanggup untuk berdiri.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Lylia setelah meletakkan Ilyu di kasur.
"Aku tidak tahu, aku hanya mengalirkan sebagian besar energi spiritualku ke ujung jari dan menembakkannya" ucap Ilyu dengan lemas dan wajah yang pucat.
"Kenapa kau tidak menungguku saja? Kalau terjadi apa apa denganmu bagaimana?" teriak Lylia dengan nada marah karena Ilyu yang membuat dirinya khawatir.
"Aku..ingin cepat cepat menjadi kuat, supaya aku bisa berburu dan mendapat uang.." ucap Ilyu dengan nada yang lemah.
Lylia semakin kesal mendengar ucapan Ilyu dan dia pun meninggalkan kamar Ilyu dan membiarkan Ilyu sendirian dengan keadaannya.
Setelah meninggalkan Ilyu dikamarnya, Lylia pergi ke suatu tempat dan tempat itu adalah toko pandai besi yang di kelola oleh Asta.
"Apa yang kau inginkan." ucap Asta karena dia merasa aura keberadaan Lylia.
"Aku ingin membeli pedang." ucap Lylia dengan nada dingin kepada Asta yang sedang duduk menempa.
"Oh untuk anak itu ya.." ucap Asta sambil tersenyum tipis.
"Aku telah mendengar kabar bahwa dia diserang dua ekor beruang raksasa dan dia masih hidup. Itu adalah hal yang mustahil bagi anak yang baru berusia 12 tahun. Itu membuktikan tekadnya untuk memiliki pedang itu." Asta berkata dan berdiri dari tempat duduknya dan berhenti menempa.
"Uang itu kau simpan saja, pedang ini akan kuberikan kepadanya atas kegigihannya." ucap Asta sambil mengambil suatu barang dan barang itu adalah Pedang Greeneye.
"Apa kau serius? Pedang itu kan.." ucap Lylia setelah melihat Pedang Greeneye.
"Yah..anak itu mengingatkan tentang diriku saat masih muda. Tekad anak itu sama sepertiku." ucap Asta sambil memberikan Pedang Greeneye kepada Lylia.
"Sungguh keajaiban dengan sikapmu yang baik ini, Asta." ucap Lylia dengan nada dingin sambil meninggalkan toko pandai besi itu.
"Hah...ini memanglah sebuah keajaiban." Asta berkata sambil memalingkan wajahnya dan kembali duduk untuk melanjutkan pekerjaannya.
Lylia pun pergi meninggalkan toko pandai besi itu dan pulang kerumahnya untuk memberikan pedang yang telah didapatnya kepada Ilyu.
Seperti yang telah diketahui, mendengar percakapan antara Asta dan Lylia, mereka berdua memiliki hubungan yang tidak di ketahui. Lylia baru 5 tahun berada di desa ini, 5 tahun yang lalu, Lylia datang ke desa ini dengan lumuran darah yang ada ditubuhnya. Tidak diketahui apa yang terjadi pada Lylia saat itu.
Saat datangnya Lylia dengan lumuran darah ditubuhnya ke desa ini, kehebohan pun muncul. Para penduduk desa merasa panik dan berlari ketakutan. Satu satunya orang yang tidak berlari dan datang menghampiri Lylia yang terlihat lemah dan pucat pasi itu adalah Asta.
Tanpa sedikitpun rasa takut, Asta mendekati Lylia dan berkata
"Aku memiliki hutang budi pada ayah mu, jadi jangan salah sangka."
Setelah itu Asta pun menolong Lylia dan mengobatinya, setelah kejadian itu Lylia pun tinggal dan menetap di desa ini, para penduduk menerima keberadaan Lylia dan menyambutnya dengan sangat baik.
Para penduduk desa tahu kalau Lylia adalah orang yang kuat jadi mereka menghormatinya. Terlihat, hubungan antara Asta dan Lylia tidak terlalu baik.
Setelah mendapat Pedang Greeneye dari Asta, Lylia pun pulang kerumahnya dan berniat ingin memberikan pedang itu kepada Ilyu sebagai hadiah dan juga agar Ilyu tidak bertindak ceroboh seperti tadi lagi.
Sesampainya dirumah, Lylia pun masuk kerumahnya dan langsung masuk ke kamar Ilyu dengan membawa Pedang Greeneye itu.