
Setelah acara Meet and greet yang sedikit ganjil tersebut, Eqlima dan Emina akan melanjutkan perjalanannya ke Inggris supaya mereka sampai duluan di sana sebelum rivalnya datang.
Karena mereka mempunyai Motorhome yang dirental suaminya Emina saat di Belanda, tidak mungkin jika mereka memakai jalur udara, mereka akan memakai kapal Ferry untuk sampai ke Inggris meskipun balapan masih ada waktu sekitar 1 minggu lagi.
Pemesanan tiket ferry itu dilakukan lewat Online dan itu hanya bisa dilakukan di Handphone Emina dan suaminya karena keduanya bisa memakai apk Seluruh Eropa, Emina pun memesan untuk 3 penumpang, satu untuknya,dan sisanya untuk Eqlima dan Suaminya.
Tak butuh waktu lama untuk masuk ke Pelabuhan itu, setelah pengecekan dan Motorhome mereka dimasukkan ke kapal, mereka pun akhirnya keluar dari kendaraan itu dan langsung menaiki lift ke lantai atas yang dimana itu adalah Kabin utama.
"Hei Emina" Ucap Eqlima didalam lift itu dengan lirih
"Aku mau minta maaf soal ta...."
Emina langsung menatap ke Eqlima yang berada dibelakang nya "Tidak perlu, itu memang kejadian yang seharusnya tak perlu kau ulangi lagi"
Emina kembali melihat kearah depan "Aku tahu kau merindukan nya, tapi mungkin itu sesuatu yang bisa ku maafkan karena itu tidak disengaja"
Emina pun melanjutkan katanya dikala pintu lift terbuka dan semua keluar dari lift "Oiya, Maaf saja tidak cukup untuk mengampuni apa yang kamu lakukan, cukup jangan pernah lakukan lagi dan aku bisa memaafkan mu"
Di lobby, mereka dibantu oleh petugas untuk dicarikan kamar yang mereka telah pesan sebelumnya, dan setelah ketemu, mereka pun masuk ke kamar itu dan merapihkan barang bawaan mereka.
Waktu menunjukkan pukul 4 sore waktu setempat, Eqlima dan Emina pun melakukan aktivitas yang berbeda didalam kapal itu, Eqlima berkeliling Kapal dan dia pun memakai masker agar kejadian sebelumnya tak terulang lagi, sementara Emina di kamar menemani suaminya Istirahat.
"Hei sayang, apa kamu ada waktu dengan aku?" Ujar Suaminya, Eidel yang duduk di kasur bersebelahan dengan Emina.
"Tentu, kan aku istri kamu" Respons Emina dengan tertawa kecil dan memeluk Eidel.
"Ada apa dengan kamu? Kenapa kamu memperlakukan Eqlima tak seperti kamu memperlakukan Volta dulu?" Ujar Eidel membuka percakapan dengan bahasa Bosnia
"Jujur ya, selain karena dia sesama Indonesia, aku melihat dia itu adalah tipikal pembalap yang Fast learner, yang dimana dia itu selain cepat adaptasi, dia juga mengetahui betul dan mempelajari situasi di trek hanya dengan Free Practice"
Eidel berfikir tentang hal itu lalu memberi contoh dengan pembalap lain "Oh, aku mungkin tahu tipikal siapa yang kamu maksud, pasti Vitaly Petrov, ya kan?"
"Iya, tapi dia juga bisa menang hanya beberapa balapan setelah debutnya, dia seperti manusia langka"
"Benar, sangat sedikit pembalap yang bisa seperti ini, mungkin seperti Lucas Di Grassi."
Emina mengubah arah duduknya ke arah Jendela "Iya, tapi dia itu sudah mencoba mobilnya saat pertama kali diluncurkan, bukan seperti Eqlima yang dimana Formula E sudah 11 musim"
Eidel lalu mendekati Emina lalu mendengar apa yang dikatakan Emina, namun dirinya bertanya lagi soal Eqlima "Tapi, kenapa dia sangat buruk di FML Series sementara di Formula E justru bagus?"
"Mungkin karena kita di mesin yang sebanding dan nasib berpihak ke aku"
Suara Eqlima yang berada di belakang Emina dan Suaminya itu sontak membuat mereka berdua kaget dan sempat beristighfar.
"Eqlimaaaa! Kenapa kamu kagetin kita huh?!" Ujar Emina yang kesal sambil kelitik Eqlima dan mencubit pipinya
"Hehehe, maaf, abis kalian ngomongin aku sih, terus pintu kalian kebuka" Balas Eqlima sambil tertawa kecil
"Oiya, kalian mau ke lantai atas? Disana ada layar lebar dan ada restoran lho, atau ke dek kapal dan menikmati udara disana?" Lanjut Eqlima menghentikan tertawa nya itu
"Kamu aja, aku akan menyusul dengan Suamiku"
Setelahnya, Eqlima keluar lagi dan menutup pintu itu dan obrolan antara Emina dan Eidel pun berlanjut
"Dia masih terlalu kekanak-kanakan kulihat, apakah dia remaja?" Ujar Eidel memulai lagi percakapannya
"Kurasa tidak, dia sudah mau beranjak 20 tahun di tahun 2025"
"Mungkin bisa, asal tidak kecelakaan saja, Oh Ya Ampun! Aku juga mengkhawatirkan nya." Ujar Emina yang merasa khawatir dengannya.
Di sisi lain, Eqlima sedang menonton siaran langsung sepakbola di lantai atas, namun dirinya lupa jika dia buka masker, dirinya akan diketahui orang, dia pun malah melakukan hal yang tidak terduga yang membuat maskernya putus.
Saking senang nya dia, Eqlima meluapkan kesenangan nya dengan membuka masker dan kegirangan sendiri
GLEK!
Eqlima menelan ludah saat dirinya dilihat oleh para penonton disekitarnya dan coba mengingat siapa dia.
...****************...
"Huh, kuharap anak itu tidak buat ulah yang tidak-tidak!" Gerutu Emina saat dirinya berjalan keluar dari kamar menuju lift bersama suaminya.
Emina pun menaiki lift dan dia pun menuju lantai atas dimana Eqlima itu berada, dan sesampainya disana, terlihat oleh Emina semua sedang berkerumun dan salah satu dalam kerumunan tersebut terlihat Eqlima didekat mereka sedang menandatangani beberapa dari fans.
"Oh Astaga, anak ini, kupikir dia melakukan sesuatu yang tidak-tidak" Ujar Emina sambil tertawa tipis melihat Eqlima sangat ramah dan merasa senang dengan fans nya.
Eqlima pun lalu melihat Emina yang sedang pergi ke tempat lain, dan saat itu juga Eqlima memanggilnya, dan Emina hanya meresponnya dengan melambaikan tangan sambil tersenyum karena tidak ingin merusak momen nya dengan fans nya.
...****************...
Setelah semua hal yang terjadi di lantai atas, Eqlima, Emina dan suaminya pun kembali ke kamar mereka, Eqlima langsung merebahkan tubuhnya di kasur sambil berkata "Aaah, betapa banyak hal yang terjadi hari ini, kuharap ini meninggalkan kesan yang baik untuk aku selanjutnya"
Eqlima pun sempat menunggu Emina, namun karena tak kunjung datang, dia pun menutup pintu kamar nya karena tidak ada orang yang akan masuk, "Hmmm, kira-kira kemana Emina ya? Kok dia gaada disini? Aku curiga akan terjadi sesuatu dengannya"
Sementara itu, Emina dan Eidil pun menikmati makan malam di restoran dan sempat berbincang soal Eqlima.
"Kau masih bisa mengandalkan dia untuk jadi rekan mu? Apakah itu akan memberikan dampak yang signifikan?" Ujar Eidil yang membuka obrolan hangat di malam itu
"Kenapa tidak? Dia seharusnya mendapatkan tempat itu, dia sangat potensial"
Sambil mengunyah, Eidil pun tersedak karena mendengar omongan Emina itu, namun hal itu bisa diatasi oleh air putih yang diminum nya.
"Kurasa kau harus menstabilkan emosinya terlebih dahulu, karena anak baru terkadang mengkhawatirkan" Ujar Eidil melanjutkan obrolan itu
Tapi Emina hanya merespons santai akan hal itu "Tak perlu takut, aku bisa mengatasi semua itu"
Dan setelah obrolan itu, Emina dan Eidil mencoba menyelesaikan makan malamnya itu karena di restoran mulai sepi.
Mereka berdua pun kembali ke Kamar mereka setelah menyelesaikan pembayaran makan malam itu, dan sekembalinya mereka ke Kamar, teringat jika mereka tidak membawa kartu itu dan kamar otomatis terkunci tanpa kartu yang sebagai kunci tersebut.
Sementara itu, Eqlima yang sedang tertidur di kamar pun mendengar sesuatu yang mencurigakan disaat ada yang mengetuk pintu, dan ia pun mencoba membawa bantal yang bisa ia gunakan untuk memukul.
Namun ketika ia membuka pintu tersebut, ia langsung refleks membuka pintu dan langsung memukul agar tidak menyerangnya
BOING!
Dan ternyata yang dipukul nya justru bukan orang tidak dikenal, melainkan Emina!
"EQLIMAAAAAA!" Teriak Emina sambil mengejarnya
"Maafin aku Eminaaaa!" Ujar Eqlima sambil kabur dari kejaran Emina.
Eidil pun menepuk jidat dan berkata "Huh, dasar anak ini"