Eqlima

Eqlima
Merubah yang Tetap




(Ilustrasi gambar Emina Besima)


Setelah Eqlima mengadukan hal tersebut, Team principal memanggil Emina ke ruangan khusus di Paddock BWT dan memberitahu sesuatu


"Emina, kamu memang Juara, tapi juara tidak seharusnya bertingkah seperti itu kepada reserve driver, kan dia kelak akan bantu kamu" Ujar team principal itu dengan bahasa Inggrisnya.


"Tapi bapak tahu saya lelah dan balapan itu tidak main-main, saya tahu saya memang kadang sembrono, tapi untuk sekarang seakan-akan dibesarkan" Tukas Emina dengan nada kesal nya itu.


"Iya Bapak ngerti, tapi saya harap kamu tidak melakukannya lagi ya, kamu itu driver, bukan drunker" Ujar Team principal itu menutup percakapan di ruangan tersebut.


Sementara Eqlima yang sempat diluar dan keluyuran disekitar paddock pun masuk ke paddock BWT lagi dan sempat bertemu dengan Emina yang mukanya agak serius dan terkesan marah.


"Hey anak baru!" Panggil Emina dengan keras kepada Eqlima.


Eqlima terdiam sementara Emina mendatangi nya dengan agak emosi dan mendorong Emina sambil berkata dengan bahasa Inggris "Lo ngomong apa barusan ke Team principal, huh?".


Setelah beberapa detik saat Eqlima justru terdiam, Emina meneruskan perkataannya lagi " Lo kalo misalkan lo bukan rookie, ya gak gitu cara ngungkapin nya! Cuma timbang gak diajak salam kek apa aja!"


Eqlima pun bingung dan bertanya "Kamu bahkan gak tau kalo aku gausah ikut Rookie test? Kan aku juga langsung masuk paddock nya disini, gak harus nunggu ke Berlin!"


"Ya gue ngerti maksud lo, tapi dengan lo kek gitu, ngadu karena gak diajak salam, itu membuat lo berfikir kalo gue sombong?"


"Gak juga, gue mau lu supaya bisa sedikit respect setidaknya sama siapapun, sama Daphne aja kamu sombong kan?."


Setelah Eqlima agak sedikit marah, mata Emina pun langsung mengarah ke Daphne dan mendekati nya.


"Lu kalo mau ngajak ribut gausah pake perantara dia! Hasil lu emang buruk, dan gue gak berfikir lu bisa stay disini!" Ujar Emina sambil menampar Daphne dengan pelan dan memegang bagian depan mukanya.


Dan setelah itu, Emina pun langsung mendatangi Eqlima dan meninggalkan Daphne dengan muka kusut bercampur agak sedih.


"Hey bocah, kalo kau mau kursinya dia besok dan kau ingin buktikan kalau kau bukan produk gagal FML Series, besok datang ke sirkuit Magny-Cours!"


Setelah Emina mengatakan hal itu, Eqlima langsung meninggalkan paddock dan mencoba mencari transportasi umum untuk ke hotelnya lagi.


Setelah sampai di tempat penginapan, dia pun langsung mencuci kaki dan tangannya itu di kamar mandi dan langsung ke kasur.


"Heeeuh, aku harus ke Magny-Cours besok? Aku harap kenangan buruk di Perancis tidak menghantuiku lagi besok" Ujar Eqlima sambil rebahan di kasur.


Belum berapa lama, HP Eqlima pun berdering karena ada panggilan video.


"Halo Bestie, kemana aja kamu? Aku sempat video call kamu tadi". Ucap Alara membuka percakapan itu


" Yah, maaf Alara, sekarang aku dah masuk lagi ke tim Motorsport, kemarin aku baru aja jadi bagian reserve driver"


"Wah bagus dong kalo kamu dapet kerja, kita juga kemaren sempet khawatir soal kamu!"


"Kita? Kita siapa? Kamu sama pembantu dirumah?"


"Hahaha, aku mana punya pembantu! Kan kamu kemaren balapan sama....mereka!" Ucap Alara sambil mengarahkannya HP nya ke kolega nya yang ada di rumahnya, yaitu Bai, Alice dan Ince.


"Apa? Yaampun! Kalian disini ternyata." Ucap Eqlima dengan senyum dan sedikit tertawa kecil


"Kita semua kangen kamu, terutama pas di malam itu kita balapan, kita pikir kamu ngurung di rumah." Ucap Alice dengan suara temannya yang mengiyakan kata-kata nya.


"Iya sih, maaf gak ngasih tau kalian soal ini, tapi kuharap kita bisa ketemuan ya ntar, kapan-kapan" balas Eqlima dengan nada polos nya.


"Oke, aku balikin lagi ke...." Ucap Alice yang ingin memberikan HP nya ke Alara, tapi direbut sama Bai


"Eeeh! Aku juga mau! Aku juga fans nya lho" Ujar Bai sambil merebut HP tersebut karena ingin bicara dengan Eqlima


"Halo Eqlima... I miss U so much, do you?" Lanjut Bai sambil melakukan gestur cium telapak tangannya dan meniup nya.


"Jangan sok bahasa Inggris deh!" Ujar Alice dan Alara sambil mengeplak badannya.


Eqlima yang melihat justru merespon mengalihkan mukanya sebentar sambil tertawa kecil.


"Iya iya, makasih kalian semua perhatian sama aku, tapi untuk saat ini aku belum bisa pulang sih, balapannya pasti padat makanya aku gabisa pastikan kapan aku pulang" Respon Eqlima yang diselingi dengan menghela nafas nya.


"Oke kalo gitu, kita juga mau nelfon doang kok, gak yang lainnya, kita cuma mau tau kabar kamu, jaga kesehatan kamu sebagai mana kamu jaga uang kamu ya, kita semua kangen kamu lho" Ucap Alara sambil melambaikan tangan tanda selesai nya panggilan video itu, dan tidak lupa diselingi oleh suara "See you, dadaaah!" dari koleganya.


Eqlima pun hanya bisa tersenyum dan melambaikan tangan juga.


Tak lama kemudian, karena kamar Eqlima dan Pasutri Fadil dan Rita terpisah, maka Fadil pun mengetuk pintu kamar yang dihuni sementara oleh Eqlima dan Eqlima pun merespon dengan membuka pintunya.


"Hai nak, bagaimana hari kamu? Mengecewakan?" Ujar Fadil didepan pintu kamarnya


"Entahlah, tapi yang harus aku beri tahu, aku besok disuruh datang ke sirkuit Magny-Cours"


"Magny-Cours? Dalam rangka apa?"


Sambil menghela nafas, Fadil pun hanya bisa bilang oke dan berlalu sembari mengatakan "Nanti jika kau ingin makan malam, kontak ke kita aja ya."


Di tengah malam, Eqlima sengaja mencari kiblat dengan aplikasi kompas nya untuk bisa melaksanakan Tahajjud, selain itu, disaat doa, dia pun meminta kepada Tuhan nya (Allah)


"Ya Tuhanku, aku tahu aku belum ingin memakai hijab, tapi tolong bantu hamba supaya hamba bisa di mudah dalam pekerjaan hamba, hamba tau hamba banyak salah, terutama karena tidak berhijab, tapi ampuni dosa hamba jika hamba punya banyak dosa sebelumnya"


Begitulah ucapan do'a nya saat ia tahajjud dengan diselingi air mata yang membasahi mukanya yang tertutup oleh mukena itu.


...****************...



(Ilustrasi sirkuit Magny-Cours, yang menjadi tempat nya Eqlima akan test drive dan menentukan nasibnya di Formula E)


Hari yang ditunggu pun tiba, Eqlima langsung ke Magny-Cours bersama dengan Fadil yang memakan waktu hampir 7 jam, dan mereka mulai berangkat jam 5 pagi supaya bisa mengejar waktu, sesampainya disana, dia masuk ke paddock dan langsung ke ruang ganti untuk mengganti bajunya dengan baju balapan yang sudah diberikan oleh kru tim BWT waktu itu.


"Hey anak baru, siap untuk hari ini?" Ucap Emina dengan tatapan sinis nya itu.


"Ya, aku siap apapun yang terjadi!" Balas Eqlima dengan muka dan perawakan seriusnya.



(Ilustrasi penampilan Daphne Volta)


Lalu datanglah Daphne dan langsung jabat tangan dengan Eqlima, namun tidak ke Emina.


"Aku tau ini hari terakhir kamu disini! Ada kata-kata lain? Atau pede bisa bertahan?" Sindir Emina ke Daphne.


"Wah, jangan karena bapak aku bangkrut kamu bisa seenaknya berfikir demikian!" Balas Daphne dengan tegas.


"Kurasa anak ini bisa jadi sedikit teguran kamu supaya lebih baik di race selanjutnya, atau tidak sama sekali!" Ucap Emina lagi dengan pandangan berbalik ke arah belakang nya.


Tidak lama kemudian, Emina menyuruh mereka berdua untuk bersiap-siap untuk duel penentu kursi untuk perlombaan selanjutnya di Berlin.


"Kalian berdua, persiapkan diri kalian untuk penentu nasib kalian disini!"


Lalu tidak lama mobil Eqlima dan Daphne pun keluar dari Pitstop, dan mereka berdua melakukan uji trek tersebut selama 3 putaran sebelum akhirnya mereka disuruh berhenti di grid.


"Oke kalian, saya memantau kalian lewat radio! Inget, gaada ngeluh, gaada bacot!" Ujar Emina lewat radio dari pitstop.


Tidak lama kemudian saat mereka ancang-ancang, lampu aba-aba pun mulai mendekati lampu merah terakhir menuju lampu merah hijau.


Lampu pun berubah jadi hijau dan balapan selama 10 menit pun dimulai untuk mereka, dimana di sanam mereka dipantau oleh Emina dan Team principal nya dari pitstop.


Di menit pertama yang sudah berlangsung satu putaran nampaknya Daphne justru menguasai trek tersebut, sementara Eqlima masih berada di belakang dengan jarak 0,968 meter.


Tidak lama berselang, Eqlima coba cari celah di tikungan Grande Courbe, namun sialnya dia masih saja disalip oleh Daphne, dan dia masih dibelakangnya Daphne selama 4 menit yang sudah menghasilkan 3 putaran.


"Hey Kru, apakah ini waktunya box box untuk undercut?" Ujar Eqlima lewat radio di mobilnya ke tim.


Bukannya direspon baik, dia malah diketawain lantaran di Formula E, pitstop adalah hal yang jarang bahkan gak mungkin dilakukan karena ban satu saja sudah cukup.


"Kau masih belum move on juga ternyata, bodoh" Ucap Emina lewat radio kepada Eqlima dengan sedikit tertawa kecil


Hingga menit yang tersisa tinggal 2 menit lagi, Daphne seakan-akan sulit disalip oleh Eqlima, karena selain jarak nya yang beda 1 meter, Eqlima pun masih kesulitan untuk mencari celah untuk menyalip nya.


Namun di akhir-akhir balapan yang menunjukkan detik ke 45, Daphne justru melebar saat melewati tikungan Chatea d'ea, yang akhirnya memberi kesempatan Eqlima untuk menyalip nya.


Dan di detik terakhir itulah, Eqlima akhirnya mampu memenangkan race tersebut saat bendera finish pun dikibarkan.


"Alhamdulillah, waaahahaha yeah!" Ucap Eqlima di radio mobilnya setelah Eqlima mampu finish didepan Daphne, sementara Daphne justru jadi terpaut agak jauh sekitar 2 meter karena Eqlima mampu comeback dengan baik.


Setibanya di Pitstop, Eqlima pun keluar mobil dengan perasaan cerianya yang sulit dibendung, Daphne pun berjabat tangan di paddock saat mereka berdua sedang masuk sambil berkata "Semoga kau beruntung musim ini nak".


Lalu tiba-tiba datang lah Emina dengan muka serius nya dan mengangkat satu alisnya, Eqlima pun hanya terdiam karena melihat Emina dengan muka serius nya berdiri tepat didepannya.


Namun Emina justru langsung memberikan tangannya untuk berjabat tangan dan memperkenalkan dirinya.


"Emina Bukureshe, rekan setim kamu di balapan. selanjutnya" Ucap Emina sembari berjabat tangan dengan Eqlima sambil tersenyum.


Eqlima pun tersenyum dan mereka berdua pun berpelukan pertanda mereka sahabat, sedangkan Daphne justru meninggalkan paddock dengan muka kecewa.


Setelah Eqlima pamit untuk balik, Fadil yang menunggunya di paddock langsung mendatangi Eqlima yang baru selesai balapan.


"Bagaimana hari ini?" Ucap Fadil sambil berjalan bersua bersama Eqlima keluar dari paddock tersebut.


"Lumayan, aku belajar banyak." Jawab Eqlima dengan sedikit tertawa kecil.